Raja Bijaksana

Posted in KARYA SENI on June 14, 2011 by bayu primasanti

Dengan terengah-engah dan ketakutan, si miskin menemui temannya yang terlebih dahulu menjadi punggawa di kerajaan Bijaksana.

“Apa yang harus aku bawa menghadap raja pada pertemuan nanti. Aku tidak memiliki apa pun yang bisa kupersembahkan. Konon jika dengan tangan hampa maka tamatlah riwayat kami.”, Si Miskin kebingungan. Dia mendapat undangan dalam pertemuan Rakyat-Raja minggu esok. Pertemuan ini memungkinkan raja memilih pegawai istanyanya dari golongan rakyat biasa. Maklum, namanya juga kerajaan bijaksana, selalu ada porsi untuk orang tak punya. Begitu katanya. Biasanya, pada pertemuan khusus itu, Si Terundang harus membawa semacam ‘persembahan’ untuk Sang Pengundang. Biasanya lagi, Si Terundang yang seringnya adalah rakyat jelata sampai harus hutang sana sini untuk membawa persembahan kepada raja. Kali ini Si Miskin kebingungan, kerbau tidak punya, lembu sudah dijual, rumah dia menumpang, apa lagi yang mau digadaikan.

Punggawa kerajaan itu menjawab bijak, “Kenapa engkau ingin sekali bertemu raja? Sudah berapa kali kubilang, kerajaan itu bobrok. Raja itu busuk”, respon si punggawa.

“Ah, bilang saja kamu iri. Kamu tidak bisa seperti dia yang begitu bijaksana dan dicintai rakyatnya. Kamu iri, bukan?”, tantang Si Miskin.

“Kenapa aku harus iri, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa tidak adilnya dia terhadap rakyat yang tidak empunya. Tembok istana itu jadi saksi. Hanya, fakta selalu tidak pernah sampai pada kalian, rakyat jelata. Emas permata selalu menyumbat mulut orang-orang yang keluar dari istana untuk mengabarkan kebenaran itu”, jelas si punggawa.

“Lalu kenapa dengan dirimu? Kenapa dirimu tidak seperti mereka saja? Jika benar raja begitu buruknya, kenapa kamu memilih menceritakannya padaku? Tak taukah kamu bahwa aku tidak percaya? Kenapa? Karena kau seorang diri, sedang ribuan orang yang lain berkata sebaliknya”.

“Sulit sekali mengatakannya. Tapi Kawan, kembali pada kebingunganmu, sesungguhnya kau tidak perlu membawa apa pun. Justru ketika kau tidak membawa apa pun, itu bisa membuat penilaian raja kian obyektif. Kadang ‘hadiah’ atau pemberian apa pun bisa menyilaukan mata, membuat keputusan tidak logis. Kamu bisa menilik hati raja dari hal ini”.

“Kamu tidak ingin mencelakakanku kan, kawan?”, begini Si Miskin bertanya lagi.

“Untuk apa? Setiap hari aku melihat di istana, raja dan punggawanya berlaku curang culas hanya karena melihat kilau ‘hadiah’. Sekarang saatnya kita melihat, kalau benar dia raja yang arif, dia akan membebaskanmu dan memberi kesempatan bekerja. Katanya kan ini Kerajaan Bijaksana, masakan hanya karena hadiah Raja paling Bijaksana itu tidak bisa melihat pegawai yang benar dan baik sepertimu?”, jawab punggawa itu penuh kepastian.

“Ah, betul juga perkataanmu itu. Bukankah beliau raja yang selama ini mengaku bijaksana”

“Dan lagi, apa hubungannya hadiahmu itu dengan kesempatan bekerja yang akan dia berikan. Bukankah dia mencari orang yang jujur? Seharusnya dia tahu benar, rakyatnya tidak akan mampu membeli hadiah-hadiah itu. Seharusnya dia tahu benar bahwa rakyatnya pasti berhutang. Dan seharusnya dia tahu benar kalau rakyatnya berani berhutang, itu menunjukkan usaha yang sangat lemah sekali untuk melayaninya. Bukan begitu, kawan?”.

“Betul juga apa katamu. Aku semakin yakin dengan keputusanku. Aku tidak akan berhutang. Aku akan menunjukkan diriku sebagai calon pegawai yang jujur. Akan kubuktikan kepada raja”.

Sampai hari pertemuan Rakyat-Raja itu tiba, Si Miskin benar-benar memegang keyakinannya bahwasanya raja yang bijaksana ini akan memilih orang yang benar-benar bersih, bebas dari hutang, dan siap melayani raja sepenuh hati. Si Miskin berbaris di urutan paling belakang. Bukan karena dia rendah hati, tetapi begitulah yang diatur oleh punggawa-punggawa istana. Dia mulai berpikir, kenapa dia berada pada barisan paling belakang. Dia memeriksa beberapa orang di depannya. Pada tangan mereka terletaklah sebingkisan hadiah, ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang serupa buah-buahan ranum dalam keranjang perak, ada yang emas berbongkah dalam anyaman rotan, atau ukiran kayu berusia ratusan tahun. Semua barang-barang itu sama sekali tidak mencerminkan siapa yang membawanya. Sebarisan rakyat lusuh, tidak berpendidikan, dan sangat miskin. Seolah-olah ada secarik tulisan di sela bingkisan-bingkisan itu, “Ini Hutang loh…”. Si Miskin spontan tertawa dalam hati memikirkan rasa syukur bahwa dia tidak termasuk barisan orang malang seperti orang-orang di depannya. Si Miskin mulai berandai-andai, raja bijaksana akan memilihnya, dan mengatakan kepada seluruh negri itu,

“Selama bertahun-tahun aku menerima bingkisan dari orang-orang yang akan kujadikan pegawai istana, belum ada satu pun yang berani maju dan membawa dirinya yang bersih sebagai persembahan. Mereka membawakanku ‘hutang’ yang tak terbayar sekalipun mereka menjadi budak. Ah, aku mencari orang yang bersih dan jujur”.

Lalu Si Miskin terkekeh lagi. Pelan. Sambil sedikit-sedikit maju, mengikuti gerakan lambat orang-orang di depannya. Lima jam sudah berlalu, satu per satu mereka sudah menghadap raja. Kini tiba giliran si miskin. Seluruh bayangan keindahan menyergapnya tiba-tiba. Beginilah pertemua Si Miskin dengan Raja Bijaksana.

“Siapa namamu?”, tanya Raja dengan sangat bijaksana.

“Hamba Si Miskin, Raja”, sahutnya bangga.

“Oh, baik sekali kamu sudah mau datang menemuiku hari ini”.

“Hamba yang sedianya berterima kasih, Raja”, timpal Si Miskin. Raja dan punggawanya tampak mengamat-amati Si Miskin ini. Dari atas kepala sampai kuku kaki, kembali lagi dari atas, ke bawah, dan seterusnya, hingga muncullah pertanyaan ini.

“Hambaku yang setia, selama bertahun-tahun…”, belum selesai raja bicara, sudah muncul gumam dalam hati Si Miskin, “Nah, betul kan, diawali dari kata-kata yang sama…Selama bertahun-tahun…sebentar lagi dia akan memujiku sebagai hamba yang bersih, yang memberi teladan, yang menghadap raja dengan penuh keberanian”.

“…selama bertahun-tahun rakyat datang padaku dengan membawa hadiah. Kenapa kamu tidak membawanya?”. Raja diam sejenak. “Itu sangat melukaiku sebagai seorang raja. Kamu tidak menaruh hormat padaku, kamu sembarangan. Kamu pantas dihukum mati”. Kalimat terakhir raja ini mengakhiri hidup Si Miskin, sekaligus menyudahi kepercayaannya bahwa raja itu adalah raja bijaksana.

 

Originally created by Primasanti

Percayalah

Posted in KABAR BAIK on June 14, 2011 by bayu primasanti

Percaya pada hal yang belum tampak memang membutuhkan iman yang tidak tergoyahkan (Dikutip dari perbincangan dengan Ibu Ester, 2011).

“Apa kau percaya kalau aku mencintaimu?”, tanya Andre. “Ah, gombal. Buktikan dulu dong”, sergah Indah. Dari mana ya kepercayaan muncul? Apakah melulu dari sebuah bukti? Iya, seringkali orang berpikir untuk mempercayai sesuatu harus melihat buktinya. Padahal Tuhan berfirman bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang tidak melihat tetapi percaya. Beberapa hari yang lalu, mahasiswa bimbingan skripsi saya melakukan sidang. Sebelum masuk ruang sidang, dia minta didoakan. Lalau saya bertanya, “Apa kamu yakin bahwa Tuhan memberi kemenangan kepadamu?”. Dia menjawab dengan pasti, “Ya, saya sangat yakin”. Lalu saya menimpali, “Terjadilah sesuai imanmu. Ayo kita berdoa”. Selesai berdoa dia masuk ruang sidang dan mulailah pengujian itu. Setelah dicecar dengan berbagai kritik, dia tampak sangat lunglai. Tibalah saat pengumuman kelulusan. Tim penguji sudah memutuskan, dia masih layak untuk lulus walaupun banyak perbaikan. Namun, keputusan ini masih dirahasiakan darinya. Seorang dosen penguji bertanya, “Dengan segala kritik tadi, apa kamu masih yakin kalau kamu lulus?”. Spontan, dengan mimik ketakutan dia menjawab, “Tidak Pak, saya tidak layak lulus”.

Walaupun sudah tahu bahwa apa yang dia doakan itu ya dan amin, saat diperhadapkan dengan kenyataan yang menghimpit, kepercayaannya mulai bimbang. Kenapa? Karena dia tidak melihat bukti apa pun. Yang dilihatnya adalah kenyataan yang berkebalikan, yakni bahwa dia tidak bisa mempertahankan argumennya, tulisannya buruk, dll. Nah, dari kasus ini kita bisa belajar bahwa manusia itu lebih menyukai bukti daripada janji. Padahal, orang percaya hidup hanya oleh janji dan bukan bukti. Janji bahwa kuasa Tuhan yang membebaskan Bangsa Israel dari Mesir, menyeberangkan mereka melalui Laut Teberau, itu juga akan terjadi di masa ini. Janji bahwa kita akan hidup di tanah perjanjian. Janji bahwa kuasa yang diberikan pada kita untuk mengajar, menyembuhkan, membebaskan, itu sungguh nyata. KuasaNya tidak berubah dari dulu sekarang sampai selamanya. Namun, perlu iman yang tidak goyah untuk setia pada janji itu. Apakah untuk percaya pada janjiNya, kita masih membutuhkan bukti yang tampak? Setialah.

 

Kunci Penyembahan

Posted in Uncategorized on June 14, 2011 by bayu primasanti

Key of Worship[1]

I’m coming back to the heart  of worship, when its all about You…its all about You Jesus…

            Workshop kali ini sangat menantang. Dengan tema “Musik dan Pujian Gereja”, kita ditantang untuk mengenal makna penyembahan dan dapat melakukan panggilan pelayanan pujian di gereja yang berkenan di hadapan Tuhan. Perenungan yang sarat dengan kejutan saya alami sembari menyiapkan materi untuk workshop ini. Satu minggu menjelang wokshop ini, saya dan partner terlebih dahulu dibekali dengan seminar doa yang diadakan oleh GBI Shine di Jakarta. Melalui hambaNya, Bapak Ayub Bansole dan Bapak John, kami dibukakan mengenai kuasa doa. Sangat memberkati kami .Wah, Tuhan tau betul kebutuhan kami. Setelah itu, selama beberapa hari, buku-buku yang saya baca, Inside-Out Worship (Insight for Passionate and Purposeful Worship) oleh Matt Redman; Pelayan Musik oleh Mike and Viv Hibbert; Menyembah dalam Roh dan Kebenaran oleh Mat Redman, sangat menginspirasi lahirnya tulisan ini. Selain itu, refleksi sebagai pemimpin pujian selama ini juga menolong saya untuk menyaksikan walaupun kita sangat terbatas, jika Tuhan yang memanggil, Dia akan memperlengkapi  dengan ajaibNya. Tentu saja, Firman Tuhan yang dibaca menjadi dasar segala yang saya tulis.  Poin penting dalam tulisan ini adalah It is not firstly about song, voice, or music, but God alone.

 

 

Letakkan Dasarnya

            Worship always born from revelation. Penyembahan selalu merupakan respon dari sebuah pewahyuan (Redman, 2005). Acapkali dalam ibadah-ibadah, penyembahan diposisikan di nomor dua setelah firman. Penyembahan dianggap kurang penting maka mempersiapkannya pun seadanya. Namun, karena penyembahan itu datangnya dari pewahyuan, penyembahan sebenarnya sama pentingnya dengan firman Tuhan. Sejak jaman Abraham, Musa, hingga Raja Daud, penyembahan selalu mengiringi setiap perjumpaan mereka dengan Tuhan. Bagi kita orang percaya, penyembahan berarti ungkapan syukur kita kepada Allah. Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya (Kejadian 24: 48). Inilah ungkapan syukur hamba Abraham ketika mendapati janji Tuhan digenapi atasnya. Kisah lain di alkitab mencatat, sebagai Allah yang telah mengeluarkan umat Israel dari tanah Mesir, Allah ingin bangsa Israel menyembah Tuhannya dengan cara yang berkenan. Karenanya, Allah memerintahkan Musa untuk membuat kemah suci beserta segala perlengkapan dan peraturannya untuk umat Israel melakukan penyembahan (Keluaran 25). Masih ingat juga kan bagaimana runtuhnya tembok Yeriko ketika Allah memerintahkan Yosua dan pasukannya meniup sangkakala dan mengelilingi tembok itu sampai tujuh kali dengan bersorak sorai (Yosua 6). Cerita lainnya adalah betapa sukacitanya Raja Daud menyanyi dan menari di hadapan Tuhan saat tabut Allah dipindahkan ke Yerusalem (II Sam 6:5). Bukti lain dari dasyatnya penyembahan adalah saat Daniel dengan gagah berani menghadapi Nebukadnezar karena tiga kali sehari dia menyembah Tuhan. … Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya (Daniel 6: 10). Penyembahan  selalu datang dari pewahyuan. Dia tidak datang sendiri namun bersumber pada kemahabesaran Tuhan. Oleh karenanya, penyembahan selalu merupakan ungkapan syukur dan ekspresi dari hubungan kita dengan Allah.

            Penyembahan juga merupakan sarana bagi Allah menyatakan kekudusannya. Bagaimana mungkin kita manusia yang bercela ini dapat melihat Allah dengan seadanya saja. Allah menuntut banyak hal dari kita, termasuk penyembahan, sebagai salah satu cara supaya kita mengetahui betapa besarnya Allah kita dan betapa kecilnya kita. Penyembahan dengan demikian berarti sebuah penghormatan akan kekudusan Allah. Jika penyembahan berarti ekspresi ungkapan syukur kita kepada Allah dan penghormatan atas kekudusan Allah, maka penyembahan harusnya menjadi gaya hidup kita sehari-hari, bukan hanya saat di gereja saja.

            Nah, jika penyembahan sesungguhnya adalah gaya hidup orang percaya, kenapa ya tidak semua orang bisa menikmati penyembahan dan kuasanya? Sebelum kita belajar lebih banyak mengenai bagaimana melakukan penyembahan serta panggilan pelayanan dalam pujian dan penyembahan, kita akan membahas terlebih dahulu apa saja yang bisa menjadi penghalang kita melakukan penyembahan.

Penghalang Penyembahan

            Sekalipun memiliki suara indah, jika sedang sakit tenggorokan, suara indah tersebut pasti tidak bisa dinikmati. Nah, penyembahan pun demikian. Sekalipun penyembahan itu besar sekali dampaknya, jika penghalang-penghalangnya tidak disingkirkan maka akan menjadi tidak bermakna. Beberapa hal ini menjadi penghalang untuk kita dapat melakukan penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan:

  1. Tidak memahami arti penyembahan
  2. Ingin dipuji
  3. Terlalu agamawi
  4. Berpuas diri
  5. Memikirkan kata orang
  6. Hati yang tertutup

Tidak Memahami arti penyembahan. Di dalam 2 Korintus 3: 14, Paulus mengatakan Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Karena tumpulnya pikiran manusia, terkadang sulit untuk memahami bahwa penyembahan itu sangat penting dalam hidup orang percaya. Di atas sudah dijelaskan bahwa penyembahan sama pentingnya dengan firman Tuhan. Penyembahan merupakan ungkapan syukur dan ekspresi hubungan manusia dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa memuja orang yang sangat kita kasihi kalau kita tidak mengenal dia. Nah, begitu juga dengan penyembahan pada Tuhan, kalau pikiran kita tumpul terhadap kebenaran maka kita tidak akan dapat melakukan penyembahan sesuai dengan seharusnya.

Ingin dipuji. Lucifer, malaikat pemimpin pujian di sorga pun akhirnya dibuang oleh Allah ke bumi karena motivasinya dalam melayani Allah yang keliru, yakni untuk kepentingan diri sendiri, mencari pujian. Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! (Yesaya 14: 12). Tanpa kita sadari, terkadang kita melakukan penyembahan supaya dilihat orang, untuk mencari pujian semata. Nah, hati-hati dengan hal ini karena iblis biasanya memakai kelemahan kita ini untuk menjatuhkan kita, para penyembah  Allah.

Terlalu Agamawi. Ini juga bahaya loh. Kadang-kadang penyembahan harus mengikuti gaya atau ekspresi tertentu sehingga membuat para penyembah Allah tidak bebas berekspresi. Padahal tiap orang punya ekspresi yang berbeda-beda dalam menyembah Tuhannya. Misalnya aja pelukis, masakan gayanya sama? Bukankan firman Tuhan mengatakan bahwa kebenaranNya itu memerdekakan? Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka (Yohanes 8: 36). Jadi tidak perlu terkungkung oleh tradisi, adat, atau cara penyembahan tertentu namun tetap menghormati kekudusan Allah.

Berpuas Diri. Keberhasilan seseorang dalam mencapai target tertentu kadang mudah membuat orang mudah berpuas diri. Namun, karena penyembahan kepada Tuhan merupakan gaya hidup maka tidak bisa seseorang berpuas diri begitu saja. Seperti otot-otot jasmani kita dilatih untuk membentuk kekuatan tertentu, kedisiplinan rohani dalam penyembahan pun harus dilatih. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (I Timotius 4: 8).

Memikirkan apa kata orang. Jika kita tidak tahu tujuan kita dalam melakukan penyembahan, maka acapkali kita masih memikirkan apa kata orang. Ada salah satu rekan yang sampai sekarang tidak mau memimpin pujian karena takut dicela oleh orang lain yang mendengarnya. Kalau masih berpikir seperti ini, perlu dikoreksi lagi apakah sudah memahami arti penyembahan dengan benar.

Hati yang tertutup. Dalam Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Seorang penyembah yang benar selalu terbuka pada masukan dan memiliki hati yang ingin selalu diajar. Hati yang menutup terhadap pengajaran nantinya tidak dapat menikmati anugerah.

Kunci dalam Penyembahan

            Dalam mazmur 150: 6 dikatakan Biarlah semua yang bernafas memuji Tuhan! Halleluya. Semua manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menyembah Tuhan. Maka, seharusnya tidak ada yang berkata, “Aku tidak bisa memuji Tuhan”. Kunci dari penyembahan adalah hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Daud, Musa, Abraham, Yosua, sampai Paulus bisa menanggung karya Allah yang demikian hebat karena mereka hidup dalam penyembahan dan hubungan yang indah dengan Tuhan.

            Seringkali saya mendapat komentar seperti ini dari orang-orang, “Wah, hari minggu pasti kamu ga bisa pergi ya, kamu kan worship leader?”. Lalu saya bertanya dalam hati, “Tuhan, bukankah semua orang itu penyembah? Kenapa kalau worship leader tugasnya lebih berat Tuhan? Harus persiapan dulu, gak bisa main main”. Benar kawan, semua orang percaya adalah penyembah. Tapi, Tuhan memberikan kepercayaan kepada orang-orang tertentu untuk memimpin penyembahan dalam sebuah persekutuan atau ibadah. Orang-orang ini dipilih bukan karena mereka hebat atau punya talenta, namun semata-mata hanya karena anugerah Tuhan. Cerita bangsa Israel semoga bisa menjadi ilustrasinya. Bangsa Israel terdiri dari 12 suku. Tuhan memberikan tanah kepada masing-masing suku serta menyuruh mereka bekerja secara professional sesuai bidang masing-masing untuk kemuliaan Tuhan. Namun, tidak demikian dengan orang Lewi. Tuhan mengkhususkan orang-orang Lewi untuk menjadi pelayan altar. Pada waktu itu TUHAN menunjuk suku Lewi untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN, untuk bertugas melayani TUHAN dan untuk memberi berkat demi nama-Nya, sampai sekarang (Ulangan 10: 8). Orang lewi ini tidak diperkenankan memiliki pekerjaan seperti suku-suku lainnya, pekerjaan mereka hanya melayani Tuhan di tabernakel (kemah suci). Bahkan, Tuhan tidak memberikan tanah kepada mereka karena Tuhan sendiri yang menjadi milik pusaka mereka. Sebab itu suku Lewi tidak mempunyai bagian milik pusaka bersama-sama dengan saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti yang difirmankan kepadanya oleh TUHAN, Allahmu (Ulangan 10: 9). Tuhan sangat menghargai penyembahan, maka Tuhan benar-benar mengkhususkan orang lewi untuk memegang jabatan pelayan altar ini. Suatu saat, salah satu kepala pemimpin pujian bait Allah dari suku lewi, yakni Asaf, pernah berkeluh kesah (Mzm 73:1-4) , Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.
Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka…
Asaf khilaf dengan berpikir bahwa panggilan menjadi pemimpin pujian itu sangat mengungkung kebebasannya walaupun sebenarnya ada anugerah besar di balik panggilan itu.

            Nah, bagi kita yang akan atau tengah mengemban panggilan khusus sebagai pelayan altar ini, kita harus benar-benar mengenali panggilan itu. Panggilan pelayan altar adalah bukan sembarangan dan tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan juga. Biasanya dalam suatu persekutuan, akan beberapa tim yang dibentuk dan dikhususkan untuk melayani altar. Merangkum dari setiap perenungan mengenai pelayanan pujian dan penyembahan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan betul oleh pelayan pujian dan penyembahan. Saya menyingkatnya sebagai TRACH (artinya jalan nafas): Truth, bahwa setiap pelayan altar harus mengenal kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu; Relationships, seorang pelayan altar harus memiliki hubungan dengan Tuhan dan tim nya dengan baik; Act, seorang pelayan altar adalah orang yang berlaku seperti apa yang dia layankan; Creative, dia bukanlah orang yang kaku dan tidak bisa menerima perubahan, dia orang yang terus melatih dirinya untuk mempersembahkan korban terbaik; Holy Spirit, sumber pelayanannya adalah roh kudus semata. Intinya, penyembahan tidak dimulai dengan lagu, suara yang bagus, talenta yang luar biasa, tetapi dimulai dari pengenalan akan Tuhan sendiri. So,terimalah panggilan Tuhan, tanggunglah panggilan itu dalam kasih karuniaNya, dan nikmatilah anugrahNya yang menyingkapkan hikmat dan rahasia sorgawi setiap waktu kepada kita.

 

 


[1] Dibawakan dalam Workshop Pujian dan Penyembahan GKJ Susukan, Wonosari, 4 Juni 2011

Belajar dari “Mengecewakan”

Posted in KABAR BAIK on June 3, 2011 by bayu primasanti

            Hasil kerja kalian tidak bagus. Berantakan … ”. Penggalan kalimat ini terlontar dari mulut seorang teman mengenai kinerja event organizer (EO) saya. Memang ini debut pertama EO saya, mengerjakan sebuah pesta pernikahan. Seorang kawan dekat menjadi klien perdana kami. Namun hasilnya sangat mengecewakan. Kenapa ya? Padahal kami sudah bekerja sangat keras. 

            Beberapa minggu saya dan dua orang rekan dekat bekerja keras untuk survey dan mengurus perjanjian dengan klien yang adalah teman dekat kami. Semua tampak mudah, lancar. Bahkan, menurut perhitungan, kami telah mendapat harga yang terbaik. Rasanya puas sekali, seolah-olah kami sangat berbakat mengerjakan hal ini. Setiap kali mengobrol, impian kami yang muluk-muluk selalu muncul menyela. Bagaimana nanti kalau EO ini sudah besar? Kami memikirkan hal-hal yang indah.  

            Melalui sebuah ayat, kami diingatkan untuk membawa proyek ini dalam doa. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3: 23). Firman ini membuat EO saya semakin bersemangat karena kami tahu untuk siapa kami bekerja. Semua tenaga, waktu, dana tercurah dalam acara ini. Kami mulai bercerita ke kanan dan ke kiri bagaimana asyiknya menjadi event organizer. Kami merasa sangat berbakat sesuai bidang masing-masing. Saya sebagai konseptor, rekan saya sebagai artist dan rekan satu lagi sebagai technician, dibantu beberapa rekan yang lain, wow…the dream team. Hal ini juga diakui oleh rekan yang menjadi klien kami. “Kalau EO nya kalian, aku sudah tidak ragu lagi. Kemampuan kalian sudah teruji lah”. Wah, kalimat ini semakin melambungkan kami.

            Satu malam sebelum hari H, kami mengecek persiapan gedung. Apa yang terjadi? Benar-benar di luar dugaan. Kami sangat kecewa sekali. Dekorasinya tidak seperti yang kami bayangkan. Warna, jumlah bunga, lighting, semua buruk. Walhasil, semalaman kami menunggui dan mencoba merombak sedikit sedikit. Tapi apa daya, semua sudah dipasang dan tidak bisa dirubah lagi. Rekan saya marah pada dekorator sewaan kami. Namun itu hanya membuang energi, tidak mengubah apa pun.

            Hari H tiba. Pengantin dan rombongan keluarga datang. Saya semakin gemetar, sangat gemetar. Sembari mengatur posisi pengantin untuk mulai prosesi, mata saya menyadari bahwa seragam yang digunakan orang tua pengantin keliru. Seragam ini tidak sama dengan yang ditunjukkan pihak salon kepada EO kami waktu itu. Saya marah. Spontan saya minta rekan untuk segera mencari sewaan seragam sebelum acara dimulai, atau kami akan mempermalukan keluarga klien dengan seragam butut itu. Salon itu benar-benar membuat saya naik pitam. Ketika masih mengatur, handy talkie saya tiba-tiba berbunyi. “Gawat, sound terbakar, mati semua. Gawat”. Suara di seberang sungguh membuat kaki saya lemas. Ingin pingsan rasanya. Namun, sebagai pemimpin, saya mencoba menenangkan semuanya. “Tidak usah kuatir, berdoa, tunggu beberapa menit lagi”. Lima, sepuluh, dua puluh menit berlalu dan belum ada perubahan. Tamu semakin banyak, waktu semakin molor, listrik tetap saja tak mau menyala. Saya berubah menjadi emosi. Bagaimana ini, Tuhan, keluh saya dalam hati. Ingin memarahi semua rekan yang tidak becus memegang tanggung jawabnya. Berulang kali firman Tuhan terngiang di telinga, “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Lukas 22: 26). Namun, kenapa semua itu tidak bisa menepis emosi saya. Sementara suasana semakin gaduh. Klien sudah mulai mengeluh. Saya semakin giat berdoa, “Tuhan, tolong kami…kami tidak sanggup”. Pada titik saya sudah hampir menyerah, seketika itu listrik menyala.     “Puji Tuhan”, teriak saya tanpa ada yang tahu.

Prosesi berlangsung lancar, sampai, saya yang sedang duduk kelelahan, dikagetkan oleh teriakan ibu pengurus catering. “Kerja kalian sangat lamban”. Dia berteriak bahwa EO kami sangat lamban sehingga catering terlambat dihidangkan dan itu merusak nama baik beliau. Kemarahan Ibu ini tertangkap oleh sebagian tamu. Rekan-rekan saya panik bukan kepalang. Saya mencoba tenang walau malu bukan kepayang.

            Akhirnya, acara itu usai. “Hasil kerja kalian tidak bagus. Berantakan. Terutama dekornya, hiburannya, keterlambatan waktu, riasan pengantinnya, ….”, protes seorang tamu. Saya semakin lemas saja mendengarnya. Kata teman yang lain, “Kalau sedang belajar memasak, pertama kali tidak enak itu lumrah kok..”, wadew, walaupun seolah-olah menenangkan, namun kalimat ini justru bagai halilintar yang menyambar malu-malu. Saya mencoba tetap tenang supaya rekan-rekan lain tidak ikut sedih.

            Beberapa minggu berlalu, satu per satu complain berdatangan atas kerja EO kami. Mulai dari pengaturan catering yang amburadul, dekorasi yang buruk, hiburan yang tidak profesional, rias pengantin yang acak-acakan, dll. Praktis, semua kesalahan ditimpakan pada EO kami. Yang benar-benar membuat kami terpukul adalah hasil foto dan video yang sama sekali tidak layak. Konon, fotografer yang kami sewa memberikan job tersebut pada seorang amatiran yang kami tidak kenal. Hasilnya? Tebak sendiri. Semua diluar perhitungan kami.

Saya memberanikan diri menelpon klien dan meminta maaf sebesar-besarnya. Mereka tidak bisa terima dan menuduh kami mengorbankan mereka karena kebodohan dan keamatiran kami. Kata-kata cacian berjam-jam saya dengarkan melalui telpon hari itu. Sakit dan perih sekali hati ini rasanya.  “Kalau saya bisa teriak, saya teriak ini. Kalian sungguh mengecewakan hati saya. Ini kan momen yang sangat berharga, kenapa kalian sembrono begitu …”. Bla bla bla….Setiap kalimatnya sangat membuat tertekan. Selama hidup, saya belum pernah dicaci maki orang seperti ini. Sakit sekali, Tuhan. Padahal, kami tidak bermaksud untuk sembrono. Bukankah kami sudah bekerja keras?  

            Saya merenung. Buntu. Semua ganti rugi yang kami tawarkan tidak jua membuat keluarga klien bergeming. Kami mau menyalahkan siapa? Dekorator? Catering? Sound system? Fotografer? Tidak ada gunanya. Semua tidak bisa mengembalikan momen itu. Saya berpikir panjang dan terus merenungkan hal ini. “Apakah saya memang tidak berbakat menjadi EO? Apakah saya begitu buruknya di mata orang? Apakah saya begitu bodohnya?”. Semua intimidasi sekonyong-konyong menyergap. Selama ini, jarang sekali saya mengecewakan orang lain sebagai klien saya, apalagi sampai seperti ini. Yang ada juga, saya yang dikecewakan. Ah, saya berkubang dengan kesombongan saya. Sampai saya ditegur hebat oleh firman Tuhan. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (I Kor 9: 27)”.

Kenapa ayat ini? Ya. Hari-hari ini saya sering sekali merasa dikecewakan. Saya sulit untuk marah. Semua ini tertumpuk lama sehingga saya merasa menjadi orang yang sangat malang karena terlalu sering dikecewakan. Dalam ayat tadi disebutkan bahwa Paulus melatih dirinya sendiri dan menguasainya sepenuhnya agar tidak ditolak dalam pemberitaan injilnya. Setelah merenungkan hal ini, saya benar-benar merasa terberkati. Melalui ayat ini saya menyadari bahwa menghadapi kekecewaan merupakan suatu latihan rohani.  Karena selama kita adalah manusia, rasa kecewa pasti ada; bagaimana menghadapinya? Itu yang membedakan kita dengan orang-orang dunia.

            Ternyata, Tuhan tidak mau saya berhenti berlatih menanggung kekecewaan saja. Melalui peristiwa di atas, Tuhan ijinkan saya belajar menanggung beban ketika mengecewakan orang lain. Waaaaaaaaa……yang ini terlampau sulit bagi saya, Tuhan….!!! Saya berseru kepada TUhan, “Kalau saya yang dikecewakan, bolehlah saya datang sama Tuhan. Tapi bagaimana kalau saya yang mengecewakan orang lain, Tuhan??? Apa yang harus saya perbuat?? Saya sudah menyakiti mereka!!!”. Dalam kasus ini, saya benar-benar terpuruk. Apapun yang saya lakukan, tetap saja tidak bisa mengembalikan keadaan. Saya takut sekali. Saya takut orang tua klien saya sakit karena kecewa, saya takut hubungan dengan klien saya yang adalah teman dekat saya menjadi rusak, saya takut mereka sedih, saya takut mereka tidak mengenang hari pernikahan mereka dengan indah, dll. Semua itu menghantui saya selama berminggu-minggu. Intinya adalah saya takut mengecewakan orang lain. Intinya lagi adalah, saya takut menjadi buruk di mata orang lain. Intinya lagi adalah saya masih terkungkung dalam kesombongan. Padahal, Rasul Paulus pernah mengajar, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (I Kor 9: 27)”, Paulus mengatakan “menguasainya seluruhnya”, bukan sebagian. Bukan hanya dilatih untuk menanggung kekecewaan melainkan juga menanggung rasa mengecewakan orang lain.

            Saya ingat kisah Yakub. Yakub, dengan segala ambisinya, pernah berbuat salah besar kepada kakaknya, Esau. Dia merebut hak kesulungan Esau dengan cara yang sangat licik. Ketika dia sadar, dia sangat ketakutan dan berusaha melarikan diri (Kejadian 27-28). Sampai berpuluh tahun pun Yakub Masih ketakutan kepada kakaknya ini (Kejadian 32). Selama tahun-tahun pelarian yang sukar itu, Yakub terpenjara oleh pikirannya sendiri, ketakutan, dan kelemahannya. Padahal, ketika bertemu dengan Esau, mereka justru berbaikan (Kejadian 33). Ada apa di balik peristiwa ini? Selama berpuluh tahun itu, Tuhan benar-benar mengelupas rupa Yakub yang tidak layak. Segala kesombongan, keserakahan, diruntuhkan oleh Tuhan. Yakub menyadari betul bahwa seperti apa pun rupa dirinya dan seberapa dalam dia mengecewakan orang lain, Tuhan tetap ada besertanya (Kejadian 28: 16-17). Peristiwa yang buruk ini memang bukan berasal dari Tuhan, tapi Tuhan mengijinkan hal ini terjadi untuk membentuk Yakub menjadi seperti yang Tuhan harapkan, yakni “menguasainya seluruhnya”. Yakub akhirnya mengetahui kelemahannya dan hidup dengan sangat bergantung kepada Tuhan.  

            Melalui hal ini, saya merenungkan bahwa selama ini saya selalu merasa tidak puas dengan apa yang orang lain lakukan untuk saya. Saya merasa punya talenta dan dapat melakukan segalanya dengan perfect. Bahkan, saya berhasil melalui ujian kekecewaan dengan gilang gemilang. Namun, semua kesombongan itu tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Dia ingin mengelupas rupa diri saya yang lama dan mengijinkan saya mencicipi rasanya mengecewakan orang lain, supaya saya tidak menjadi sombong, supaya saya benar-benar bergantung pada Tuhan. Seorang rekan saya bilang, “Apakah ketika kamu memulai pekerjaan ini kamu menginginkan yang terjelek? Bukan kan? Kamu pasti mendoakan yang terbaik kan? Nah, kalau yang terjadi di luar yang kamu harapkan, jangan kuatir, semua ada di dalam daulat Tuhan”. Sebuah ayat hafalan sekolah minggu sekonyong-konyong tertulis tebal di dahi saya, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (I Petrus 5: 7). Dia benar-benar melatih saya bukan hanya terampil menanggung rasa dikecewakan melainkan juga terampil menanggung rasa bersalah ketika mengecewakan. Dikecewakan atau mengecewakan, semua itu bersumber dari kelemahan kita, manusia yang terlampau sombong. Namun, kata Tuhan kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (II Korintus 12: 9). Ah, betapa indahnya Tuhan mengijinkan saya bukan hanya menikmati kemenangan dalam menanggung rasa dikecewakan tetapi juga kemenangan atas rasa bersalah ketika mengecewakan orang lain.  

Hari ini, sambil merenungkan firman dan mendengarkan lagu Grace, by Laura Story saya bisa kembali bangun dan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan yang menolong Yakub keluar dari rasa bersalahnya, cukup bagiku”.

I ask you how many times will you pick me up when I keep on letting you down
and each time I will fall short of your glory
how far will forgiveness abound
and you answer my child I love you
and as long as your seeking my face
you’ll walk in the power of my daily sufficient grace

 

 

BEAUTY, BRAIN, BEHAVIOR

Posted in KABAR BAIK on June 3, 2011 by bayu primasanti

And the most important among all is “love”

By: Primasanti[1]

 

            Seorang wanita cantik berada di sebuah pesta perpisahan. Pakaian yang modis dan make up yang menakjubkan membuat orang lain menatapnya tak berkedip, tak satu pun berani mendekat. Di sudut sana, seorang gadis berkuncir, biasa saja, tengah dikerubuti banyak orang. Orang-orang tampak antusias berdiskusi dengan gadis sederhana ini. Manakah di antara mereka berdua yang bisa disebut beauty?

            Beauty, brain, and behavior merupakan konsep lama yang sering digunakan orang untuk mengukur performa individu. Maka, dalam setiap kontes beauty pageant, standar ini selalu menjadi acuan. Beauty, brain, and behavior merupakan konsep praktis aplikatif yang lebih banyak diterapkan dari pada dikaji secara ilmiah. Logikanya, alat ukur ini belum tentu valid untuk mengukur performa yang ideal. Tulisan ini ingin mengupas masing-masing konsep tersebut dan jalinan di antara ketiganya.

            Konsep beauty, brain, and behavior acapkali digunakan untuk mengukur kesempurnaan seseorang. Jadi, kita perlu tahu dulu apa arti “sempurna”. Di dunia ini, term sempurna digunakan untuk menggambarkan kondisi paling ideal yang bisa dicapai oleh seseorang. Lagu “Sempurna” by Andra and The Backbone misalnya, Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah. Sempurna diidentikkan dengan keindahan yang paling indah. Namun, dalam alkitab, sempurna atau perfect diterjemahkan sebagai holy atau complete. Nah, siapa yang mewakili standar holy ini? tentu saja Allah. Dalam Kejadian 1: 26, Allah berfirman “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …” Kabar gembiranya, kita semua diciptakan seturut gambar tersebut.  Di dalam alkitab dikatakan “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5: 48). Hmm…jadi, sempurna itu adalah hak yang sudah diberikan sekaligus perintah untuk selalu dijaga. Ingat ya, prinsip utamanya dalam pembahasan ini adalah bahwa kita diciptakan sempurna.

            Acapkali, dunia ini menggunakan standar beauty, brain and behavior untuk menggolongkan orang baik dan orang buruk. Maka, yang terpilih dalam beauty pageant biasanya adalah orang yang cantik secara fisik, model atau pernah menjadi foto model, dan memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Apakah ini salah? Tentu tidak, asal kita memandang konsep beauty, brain, and behavior dengan benar maka konsep ini akan menolong kita untuk mengembangkan diri. Lalu, apa itu beauty, brain, and behavior?

            Beauty. Menurut Edward de Bono (2004: 2), Beauty is something that can be appreciated by others. Dalam Cambridge dictionary, Beauty berarti the quality of being pleasing, especially to look at. Kata kunci dari beauty adalah ‘tampak oleh mata’. Dalam kehidupan berinteraksi, penampilan fisik itu penting sekali. Tapi bagaimana berpenampilan beauty yang benar? Mari kita tengok media kita, di koran, televisi, majalah, orang cantik digambarkan dengan tubuh yang indah, kulit putih yang mulus, rambut panjang, curly, dll. Saya pernah melakukan observasi di kelas. Iseng-iseng saya keliling kelas sambil melihat model rambut mahasiswi saya. Mungkin mereka kencan ke salon bareng-bareng ya, model rambutnya sama, warna cat nya sama, bahkan derajat curly nya tidak bisa dibedakan lagi (lebay…). Waduh, media telah berhasil mencetak anak-anak ini ibaratnya kaleng sarden yang keluar dari pabriknya. Semua sama, serupa.  

Kadang-kadang, supaya tidak dikatakan ketinggalan mode, kita memaksakan diri untuk tampil sama se-“cantik” yang ditampilkan oleh media-media. Walhasil, keunikan kita hilang, kita tak lebih hanya satu dari sekian ribu manusia yang sama. Berpenampilan beauty tidak harus mengikuti trend. Intinya adalah kita dapat membuat diri kita menarik. Nah, bagaimana bisa menarik? Berpenampilan menarik adalah berpenampilan yang sejujur-jujurnya namun bisa menempatkan diri. Misalnya, karena kita suka berpakaian santai, pergi ke mall juga dengan pakaian santai. Padahal, kita tidak tahu, mungkin kita akan berjumpa dengan presiden di sana, atau dengan kawan lama. Pasti tidak mau kan mendengar, “Wah, masih seperti yang dulu neh”. Yang artinya adalah tetap kumal seperti sekian tahun yang lalu.

Saya sendiri dulunya adalah volunteer di sebuah yayasan anak jalanan. Bisa bayangkan, kan seperti apa penampilan saya. Bertahun-tahun hidup dengan anak jalanan membuat saya canggung untuk berpenampilan resmi sebagai pengajar. Apalagi, belum tentu pantas. Namun, saya butuh beberapa lama untuk bereksperimen dan menemukan gaya yang tepat untuk mewakili diri saya. Nah, sekarang kalau orang menanyakan, yang mana sih diri saya, orang dengan mudah menyebutkan cirri-ciri saya. Atau kamu? Misalnya “Oh, yang pendek, gesit, suka pakai baju batik itu lho”. Bayangkan, kalau penampilan kita sama dengan orang lain, “Aduh, yang mana sih orangnya? Rambut panjang, curly, langsing, bercat coklat? Lha, kayaknya hampir semua mahasiswa begitu dewh…”. Haha…bingung kan? So, bereksperimenlah, temukan penampilanmu yang paling jujur dan tempatkanlah dengan benar sesuai situasi dan kondisi.

Brain. If you have natural physical beauty it is a tragedy to waste this beauty by having boring mind. It is like buying an expensive car and not putting fuel in the tank (Bono, 2004: 2). Wah, serem bener ya, ternyata cantik tak selamanya menarik. Mobil mahal pun tidak akan bisa jalan kalau tidak ada bahan bakarnya. Dialah brain.  Saya lebih setuju menyebut brain sebagai wisdom and experience dari pada kepandaian atau kemampuan menyelesaikan masalah. Wisdom adalah hikmat. Orang  yang menarik adalah orang yang ketika kita berbicara dengannya terasa nyaman karena orang ini memiliki hikmat, solusi, kebenaran untuk memecahkan suatu persoalan. Kadang, dia tidak perlu menjadi orang yang cerewet dan dominan atau ekstrimnya sok pintar dalam sebuah percakapan. Mungkin dia adalah seorang pendiam yang sekali waktu berbicara benar-benar bisa merobek-robek kesombongan orang yang diajak bicara. Nah, dari mana wisdom ini bisa didapat? Tentu saja dari takut akan Tuhan serta experience atau pengalaman hidup.  

Sepuluh tahun lebih menjadi seorang MC atau penyiar radio tidak membuat saya tidak gugup ketika akan bertugas. Namun, pernah, karena kesombongan dan rasa PD yang berlebihan saya berkali-kali tidak berhasil membawakan acara dengan baik sehingga mengecewakan klien. Sekarang, saya selalu berlutut di hadapan Tuhan sebelum mulai bertugas karena menyadari ketidakmampuan saya. Saya tidak tahu kenapa, tapi mereka selalu merasa nyaman dan meminta saya kembali menjadi MC. Sepuluh tahun pengalaman menjadi MC itu benar-benar mengajari saya untuk membawakan acara dengan smart.  

Bagaimana memperoleh hikmat dan pengalaman itu? Mudah saja, pergi saja minta sama Sang Empunya hikmat itu. Hikmat sudah disediakan bagi kita kalau kita mau hidup dengan mengenal Tuhan dan firmanNya setiap waktu. Lalukanlah, bersaat teduhlah setiap pagi atau malam agar hikmat Tuhan dicurahkan untuk kita. Soal pengalaman? Yang ini juga penting. Kita mau memiliki brain yang optimal, tetapi tidak pernah mau bersosialisasi, berorganisasi, oh … tidak bisa (gaya sule). Sebisa mungkin, tergabunglah dalam suatu komunitas atau organisasi terntentu sesuai dengan minat. Komunitas atau organisasi membantu kita untuk tumbuh dewasa.

Selain itu, milikilah minat yang unik. Beberapa mahasiswa saya tanyai, “Apa hobimu?”, jawab yang pertama, “Nonton, Miss”, yang ke dua, “Ehm…Nonton, Miss”, (Cuma tambah ehm…doang), yang ke tiga, “Iya Miss, Nonton”. Jiaaaaa….Wadewww …. Bagaimana kita bisa menjadi menarik kalau semua kembar begini? Minat yang spesifik dan unik serta dengan tekun kita dalami akan membuat kita bermanfaat bagi orang lain dalam bidang tersebut. Bukan berarti kita menekuni ituuuuuuuu saja, namun, minat “ini” menjadi spesifikasi atau keahlian kita. Sehingga teman kamu bisa bilang, “Kalau mau ngomongin soal musik jazz, Dhani tuh biangnya”.  

Behavior. Sebelumnya, saya sempat bertanya-tanya, kenapa ya, berdasarkan susunannya, behavior selalu ada di akhir? Kenapa susunannya tidak begini, Behavior, Brain, Beauty? Haha…pertanyaan yang aneh. Jawabannya kira-kira adalah karena hal ini yang paling tidak tampak dan jarang kita sadari. Kalau kita belum menyisir rambut, mudah sekali kita menyadarinya bukan? Atau kalau kita salah ucap, mudah juga kita menyadari dan meralatnya kan? Tapi kalau kita berlaku tidak sopan atau bersikap kurang ajar? O … oo… o… hanya orang lain yang bisa menilainya. Sulit sekali untuk menyadari dan mengevaluasi behavior kita sendiri.

Oya, sebelumnya, apa itu behavior. Behavior adalah sikap atau tingkah laku kita sehari-hari. Kadang-kadang, sikap ini dibentuk oleh latar belakang keluarga, budaya, pendidikan, media yang kita konsumsi, dll. Namun, lebih subtil lagi, behavior ini juga merupakan ekspresi dari karakter seseorang. Orang yang ‘selenge’an’ acapkali kurang memperhatikan cara berbicara, cara duduk, cara makan yang mungkin mengganggu orang lain tanpa dia sadari. Kenapa? Karena itu sudah melekat sekali di dalam hidupnya.

Lalu bagaimana membentuk behavior yang baik? Behavior yang baik dibentuk oleh hati yang baik juga. Manusia terdiri dari roh, jiwa (emosi, perasaan), dan tubuh kan? Nah, harusnya, apa yang dikehendaki roh itu terekspresikan pada perilaku kita. Kalau di dalam roh kita yang ada adalah hal yang jahat, ya begitulah perilaku kita. Tapi kalau roh kita adalah kasih, maka jiwa dan tubuh kita akan terlatih untuk menyesuaikannya. Jadi, untuk memiliki behavior yang baik harus dimulai dengan hati yang baik. Hati yang baik adalah hati yang selalu mau dibentuk dan dididik, bukan hati yang berontak dan menolak ajaran. Seperti tanah yang subur, hati yang baik perlu dipupuk, disiangi, dan disirami. Jangan diisi dengan sampah (baca: sakit hati, rasa kecewa, memendam kemarahan, dll). Kalau hati kita baik, pikiran, emosi, jiwa kita juga turut menjadi positif dan hal ini akan tercermin dalam perilaku kita.

Di atas sudah dijelaskan mengenai apa itu beauty, brain, and behavior, namun tanpa kasih semua itu tidak akan menjadikan kita menarik. Kasih yang berasal hari dalam roh kita akan memancar keluar dan menolong ketiga konsep itu untuk menjadi seimbang. Sekarang, saya ingin mengajak kita melihat cirri-ciri orang yang beauty, brain, and behaviornya terekspresikan secara seimbang dalam hidupnya.

Berpengaruh. Orang yang cantik mungkin akan menarik hati, namun belum tentu mempengaruhi. Males kan membeli produk kalau sales yang menawarkan menor dan cerewet minta ampun? Orang yang memiliki keseimbangan beauty, brain, and behavior selalu akan menjadi orang yang berpengaruh. Coba refleksikan pada diri kita, seberapa pengaruh kita terhadap lingkungan kita? Mungkin kalian adalah pendiam, tidak banyak bicara, tidak dominan, tidak suka mengikut. Tetapi begitu kamu tidak ada, keseimbangan kelompokmu akan sangatttt terganggu. Itu artinya kamu adalah orang yang berpengaruh. Orang tipe ini juga biasanya memiliki satu ide atau visi yang akan dia wujudkan sampai titik darah penghabisan. Sebut saja, Mother Theresa, Catherine Booth, Catherine Hicks, Fanny Crosby, Anne Hutchinson, Mahalia Jackson, dll. Ketika saya mencoba mem-brows wajah mereka melalui internet, mereka relatif bukan orang yang cantik, tapi pengaruh mereka terhadap dunia begitu besar. Puluhan orang cantik lain yang pernah saya temui sebagian besar mengatakan, “Aduh, apa ya tujuan hidupku, mengalir aja deh”, setiap kali saya bertanya apa tujuan hidup mereka.

Menghargai. Orang dengan 3B yang seimbang selalu menghargai orang lain, apa pun keadaan orang tersebut. Kenapa? Ya karena dia mengenal gambar dirinya dengan baik, yakni bahwa dirinya sebenarnya diciptakan sempurna, dan begitu juga orang lain. Bagaimana Anda memperlakukan pembantu Anda, ini sangat menunjukkan 3B Anda. Kalau selama ini Anda masih sembarangan memperlakukan pembantu Anda atau anak kecil yang minta-minta di pinggir jalan, bertobatlah. Hahaha…. (bercanda lho).

Perfect but Low Profile. Orang yang memiliki keseimbangan beauty, brain, and behavior selalu menjadi seseorang yang perfect dan tidak sembarangan dalam mengerjakan hal sekecil apa pun. Pernah suatu kali, karena merasa sudah terbiasa, ketika saya harus mengiringi pujian di suatu ibadah, saya tidak berlatih terlebih dahulu. Pikir saya, “Ah, kan udah biasa”. Tapi apa yang terjadi, semua berantakan karena saya tidak mempersiapkan yang terbaik. Jadi, jadilah sempurna namun tetap rendah hati.

 

Itulah Beauty, Brain and Behavior dan yang terbesar di antaranya adalah kasih.  Kasih menolong kita untuk menyeimbangkan beauty, brain, and behavior kita. Nah, bagaimana ya bisa memiliki karakter di atas? Yang harus kita lakukan adalah memberi diri dengan rendah hati untuk dididik dalam kasih. Soal penampilan fisik (Beauty), berekspresimenlah, temukan gayamu yang paling jujur namun tetap menghargai orang lain. Tentang Brain, wisdom and experience menjadi kuncinya dan keduanya berbicara tentang waktu, jadi bersbar untuk diproses ya. Tentang behavior, jaga hati dari hal-hal yang membusukkannya. Isi hatimu dengan hal-hal yang indah, berkomunitaslah dan berorganisasilah. Ini semua melatih perilaku kita.

You are born with a certain shape of face or body. There is only a certain amount you can do to make them more beautiful. But there is very much more that you can do to make your brain and behavior more beautiful (Bono, 2004)


[1] Communication Science Lecturer,  Trainner, Professional MC, Ambassador of God. Dibawakan dalam seminar 3B, UKM Pengembangan Diri UK Petra, Surabaya, 20 Mei 2011.

Impian Enok Belum Tamat

Posted in KABAR BAIK on May 17, 2011 by bayu primasanti

(Primasanti dalam Jurnal Trotoar, 2011)

 

 

Enok dan tema-temannya menghambur keluar ketika dilihatnya segerombol orang nyentrik di mata mereka, berjalan menuju sekolah kumuh itu. Enok berteriak-teriak seperti kesetanan, menampakkan takjub yang luar biasa seperti belum pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya. “Cik ayune….cik putihe….”, yang artinya “Betapa cantik…betapa putih”. Sembari bergumam, mata Enok dan puluhan anak lain tidak lepas dari ujung rambut sampai ujung kaki segerombolan gadis itu. Sepertinya tidak puas dengan hanya memandang, Enok dengan tanpa rasa malu mulai memegang-megang tangan gadis-gadis itu satu per satu. “Cik koyo boneka ta uwong-uwong iki….”, yang artinya “Kok kaya boneka sih orang-orang ini”. Mereka benar-benar takjub dan menegasikan kegiatan belajar di hari itu hanya untuk mengagumi para mahasiswa volunteer di Rumah Belajar.

Hari itu, Rumah Belajar kedatangan empat orang gadis cantik. Mereka mahasiswa. Naik mobil dan berpakaian nyentrik. Enok menyebutnya sebagai bintang film dan mulai teriak-teriak bahwa mereka sedang bertemu artis. Walhasil, kegiatan belajar hari itu harus stop karena hysteria anak-anak ini. Enok menanyakan berulang kali, dari mana makhluk-makhluk cantik ini berasal dan apakah dia bisa menjadi seperti mereka kelak. Seandainya mereka tahu untuk alasan itulah mereka mau belajar dan dilatih di Rumah Belajar ini.

Anak-anak di Rumah Belajar adalah anak-anak dari kampung nelayan. Soal pendidikan, mereka belajar seadanya di sekolah formal mereka yang ‘satu-satunya’ di kampong itu. Lulus SD, biasanya mereka langsung masuk pondok, setelah itu pulang ke kampong dan menikah, untuk yang wanita, atau menjadi nelayan untuk yang pria. Pernah, di sebuah sesi belajar ditanyakan kepada anak-anak ini, apa mereka punya impian? Sebagian besar tidak bisa menjawab. Saya jadi teringat iklan di TV atau di sekolah minggu yang saya ajar. Pertanyaan mengenai cita-cita mereka selalu paling asyik untuk dijawab karena melaluinya mereka bebas mengekspresikan diri mereka, membayangkan, dan memvisualisasikan seperti apa mereka 20 atau 30 tahun mendatang. Tapi tidak dalam kelompok anak-anak kampung nelayan ini. Bahkan, mereka tidak tahu apa yang disebut impian. Mereka jarang sekali, bahkan tidak pernah melihat kemewahan di dunia luar. Bagi mereka, makan ayam, bermain di laut, dan teman-teman yang sama-sama hitam legam adalah dambaan yang sudah terpenuhi. Sampai suatu saat, sebuah pertanyaan mengusik ketentraman mereka, “Apa impian kalian?”. Mereka tidak bergeming sampai ada yang menyeletuk, “Aku ingin jadi angkatan laut”.

 

Pengakuan salah satu bocah ini akhirnya menggiring anak-anak kampung nelayan untuk rajin mengikuti tiap sesi belajar yang difasilitasi oleh Rumah Belajar, sebuah komunitas yang mendukung pengajaran alternatif untuk kaum marginal. Entah apa motivasi mereka, yang jelas tiap minggu anggotanya semakin bertambah. Mereka asyik bertanya dan mengagumi setiap pengetahuan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka mulai berkenalan dengan teknologi, bahasa, orang-orang dari luar komunitas mereka, mahasiswa, para penyandang dana, komunitas pelayanan kaum marginal, dll yang menginspirasi mereka. Anak-anak senang dan mulai menikmati membayangkan seperti apa kehidupan mereka kelak.

Hari itu Enok bilang, “Sun pengen dadi kaya kae…putih-putih kulite kaya boneka berbi….nduwe mobil pisan…sekolah sing dhukur…cek sugihe…piye to Kak carane?”. Enok menyatakan dia ingin sekali seperti para mahasiswa tersebut, berkulit putih seperti boneka barby, bisa sekolah yang tinggi, dan punya mobil….bagaimana caranya bisa seperti itu. Lebih dari apa yang mereka tanyakan mengenai impian secara materi, mereka sesungguhnya layak untuk memiliki impian yang jauh lebih berharga, yakni perubahan karakter, menjadi percaya diri, dan mengetahui untuk apa mereka hidup. Bukan seperti sekarang, dikendalikan oleh kuasa adat istiadat yang selalu membelenggu mereka dan melarang untuk ini dan itu, bahkan tidak mengijinkan mereka untuk mengecap pendidikan yang laik.

Pertemuan di Rumah Belajar semakin hari semakin ramai. Anak-anak yang datang untuk sama sama bermimpi dan mewujudkan impiannya pun semakin banyak. Mereka belajar untuk merenda impian itu pelan pelan sekali. Sedikit demi sedikit semangat mereka tumbuh untuk bermimpi dan belajar. Mereka mulai menyukai sekolah, menulis, menggambar, menari. Ada yang ingin jadi penari, peternak, guru, dll. Sampai suatu saat, ada orang-orang kaya datang dan mengacaukan mimpi mereka. Orang-orang ini datang dengan membawa beragam hadiah dan menjanjikan ini itu kepada anak-anak kampong nelayan dengan harapan mereka dengan instan dapat melepaskan adat-istiadat mereka dan kekunoan mereka. Mereka memandang anak-anak ini dengan sebelah mata. Kata mereka, orang-orang dari luar lah yang harus menentukan impian mereka karena anak-anak ini tidak mengerti dan bodoh sehingga dengan cara koersif sajalah mereka bisa berubah. Walhasil, mengamuklah seluruh dayang kampong itu. Rumah Belajar disegel.  Impian mereka buntu. 

Enok berteriak-teriak, kapan belajar lagi? Ah Enok, apakah impianmu harus ikut disegel? Asal kamu tahu, kamu berhak, kamu punya kuasa untuk mengejar impianmu itu. Kamu sudah tahu apa arti sebuah impian, berlarilah sendiri, raihlah mimpimu itu, Nak.

 

 

 

 

 

 

Reality So…

Posted in KABAR BAIK on May 6, 2011 by bayu primasanti

               Semakin banyak menonton acara televisi yang konon genrenya adalah “reality show” seharusnya kita semakin sadar bahwa di media tidak ada satu pun hal yang riil. Ayo, sekarang coba kita cari reality show yang benar-benar tanpa proses pengeditan, yang benar-benar riil. Seorang menjawab, “Ada, acara Minta Tolong. Itu kan benar-benar riil, tanpa rekayasa”. Nah, sebagai mata awam memang sulit untuk mencari titik rekayasa, tetapi akademisi komunikasi harusnya peka dong. Tayangan di televisi dikatakan direkayasa bukan melulu saat tayangan tersebut mengalami perubahan atau pengeditan, namun tahap paling awal dari produksi sebuah tayangan pun sudah bisa dikategorikan sebagai tahap rekayasa. Waktu para kru sedang brain storming, memilih tema, bukankan itu sebuah rekayasa? Mengapa? Karena mereka memilih satu diantara ribuan tema yang ada, milyaran realitas yang disaksikan, triliunan kenyataan. Mereduksi yang ‘maha’ menjadi yang ‘super sederhana’. Nah lo, kok bisa gitu ya? Iya dong, kenapa mereka memilih tema yang ‘satu’ itu, bukan yang lainnya? Ehmmm….mungkin karena mereka anggap itu penting melebihi yang lainnya. Nah loh lagi…, jadi menurut siapa tuh sesuatu itu menjadi penting? Di siniliah letak awal mula rekayasa dalam produksi media. Ketika menyeleksi tema pun, media sudah menggunakan kacamata kepentingan mereka sendiri, yang acapkali adalah kapitalisme bin profit. Bagaimana dengan tayangan berita? Wah, sama sajalah, kan berita juga melalui proses seleksi. Owh, jadi kita benar-benar harus apatis dong dengan media karena semua yang ditayangkan adalah unreal? Bukan begitu juga, justru kita harus mengambil bagian dalam kondisi yang sudah carut marut begini. Bukankah Yusuf pernah berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej 50: 20).

Flash back pada konsep bahwa dunia ini adalah dunia yang berdosa maka wajarlah setiap hal yang dilakukan hanya ditujukan untuk mengejar kepentingan pribadi sehingga tidak memedulikan dampaknya kepada orang lain, termasuk reality show ini. Padahal kalau kita mau akui, reality show yang sembarangan ini bisa merusak tatanan yang sudah Allah buat. Misalnya, membuat orang merusak gambar dirinya, tidak bisa membedakan kehidupan nyata dengan kehidupan di layar kaca, dan yang lebih parah, reality show yang sembarangan dapat mematikan ekspresi individu yang unik yang demikianlah diciptakan Allah sejak semula. Apa itu reality show yang sembarangan? Mari kita lihat dari dampak-dampaknya berikut ini.

Gambar Diri yang Rusak

Banyak orang tidak menyadari eratnya hubungan reality show dengan gambar diri individu. Ada sebuah tayangan reality show yang dibuat dengan konsep charity, kemanusiaan, penegakan HAM, dll. Misalnya, sebuah reality show mengangkat perjuangan orang yang sangat miskin untuk bisa mendapatkan uang. Yang lebih mengharukan lagi, uang itu nantinya akan diberikan kepada, mungkin orang tua, anak, sanak sodara, teman, yang dianggap lebih membutuhkan dari mereka. Wow, keren adubilee. Tapi lihat lagi, bagaimana cara mereka membuat acara tersebut. Orang itu digambarkan sangat memelas, putus asa, tidak punya harapan, dan akhirnya bersandar pada belas kasih manusia lain, meminta-minta sampaaaaaiiiii dapat apa yang mereka inginkan. Hmmmm…..Padahal di Kejadian dikatakan manusia lah yang berkuasa untuk memelihara dan menaklukkan bumi (Kej 1: 28). Manusia memiliki misi penakluk, bukan peminta-minta dari orang lain.

Tidak Bisa Membedakan Kehidupan Nyata

Teori cultivation mengatakan semakin sering orang menonton sesuatu semakin kuat terpaan tayangan itu mempengaruhi perilakunya. Saya pernah berdebat dengan seorang kawan mengenai apakah tayangan TMHKMHK itu benar-benar riil. Dia sangat menyukai tayangan tersebut dan tidak mau sedetik pun beranjak dari televisi ketika menontonnya. Di situ dia melihat banyak orang digambarkan sebagai “orang kaya” namun tidak kelihatan mereka berjerih payah kerja. Semua bagus, semua tersedia. Guess what? Kawan saya ini juga menganggap tidak perlu bekerja di dunia ini. Walhasil, sampai sekarang dia benar-benar tidak bekerja karena dia sangat percaya, apa yang dialami orang dalam reality show itu juga akan dia alami. Wow.

Mematikan Ekspresi Individu

                Ketika Tuhan memanggil nabi Yeremia, dia mengatakan “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yer 1: 5). Setiap orang memiliki panggilan yang unik dalam tugas kehidupannya. Selain Yeremia, kita bisa menyaksikan kehidupan Nabi Musa, Abraham (yang memulai imannya dengan peristiwa-peristiwa aneh), Yusuf, Yakub, Debora, Ester, sampai Paulus, yang semuanya sangat unik. Kita bisa bayangkan, waktu itu belum ada televisi, apa ya hiburan mereka? Hahahaha….di Alkitab dikatakan, mereka hidup bergaul dengan Tuhan maka perkataan Tuhanlah yang menjadi laku mereka. Ingat Raja Daud kan, waktu dia mau berperang dia gak lihat TV dulu untuk mencari referensi, tapi dia datang pada Tuhan dan mendengar perintah Tuhan (I Samuel 24: 5). Jika Tuhan berkata, “Aku telah menyerahkan musuhmu dalam tanganmu”, maka Daud baru akan pergi. Tapi sekarang bagaimana? Setiap perilaku orang ditentukan oleh media, khususnya reality show. Setiap orang yang berbuat jahat harus dihukum, setiap orang yang ‘cantik’ pasti akan mudah kehidupannya, setiap menghadapi masalah silakan mengambil jalan pintas nan instan. Bahkan pernah, di jam yang sama, di beberapa stasiun televisi, disiarkanlah 4 program acara dengan tema yang sama, yakni anak muda dan gaya berpacaran mereka. Walhasil, apa yang terjadi pada konsep pacaran anak muda? Semua ditentukan oleh reality show, karena mereka menganggap ini yang rill, ini yang nyata, ini yang mereka dan teman-teman mereka alami, jadi apa salahnya selingkuh, apa salahnya berdusta, dll. Hmmmmm……seragam sudah remaja kita dengan segala atributnya.

Kok ngeri sekali ya membayangkan efek dari reality show yang memang tidak riil itu. Apa memang tidak ada yang bisa dikerjakan untuk melawan hal tersebut? Bukankah seharusnya pemerintah melarang tayangan-tayangan yang bisa merusak moral bangsa? Wah, sulit ya kalau bicara tentang peraturan. Dari pada mengutuki kegelapan mari menyalakan lilin sekecil apa pun nyalanya.

Mengenai keberadaan reality show memang tidak bisa diubah, namun kita dipanggil untuk mentransformasi setiap hal di dunia ini supaya menjadi sarana firman Tuhan diberitakan kan? Coba baca lagi amanat agung di Matius 28: 19-20. Tuhan menyuruh kita untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Artinya, mari kita emban amanat ini sesuai dengan profesi kita. Jika profesi kita adalah produser sebuah reality show atau pekerja media, adalah tugas dan kewajiban kita untuk membuat program tersebut sebagai sarana untuk memberitakan kabar baik, bukan malah merusak seperti yang di atas tadi.

Adalah Pat Robertson, seorang mantan senator di Amerika, bisnisman yang sangat kaya, yang dipanggil Tuhan dan mendapat visi khusus dalam dunia broadcasting. Dia mendapat misi untuk memberitakan firman Tuhan melalui media elektronik, baik televisi maupun radio. Dia belajar dan berusaha keras untuk menjawab panggilan tersebut. Sulit ya….kalau ikut perusahaan kan harus ikut orientasi perusahaan tersebut, yang kebanyakan adalah profit. Maka Pat Robertson membuat sendiri jaringan broadcastingnya dan mulai membuat program-program siaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dia adalah pemilik Christian Broadcasting Network.  Prinsipnya adalah membuat program yang bagus bagi kemuliaan Tuhan.

Nah, menjawab tantangan reality show saat ini, yang dapat kita lakukan yang pertama tentu mengangkap visi dari Tuhan dan setia melakukannya. Bisa kok membuat program-program yang mungkin memang itu rekayasa, so what, emang itu kan yang direpresentasikan di media. Tapi kita dapat mengisi yang rekayasa itu dengan konten yang bagus, tentang kebaikan dan firman Tuhan yang adalah kebenaran dan bukan rekayasa. Program itu hanyalah sebuah teks yang memiliki konteks, seperti Nabi Musa ketika menulis kitab pentateuh pun menggunakan teks dan konteks pada jaman itu, namun kebenaran yang diberitakan tidak bisa disanggah karena berasal dari ilham Tuhan sendiri. Tuhan bisa memakai segala cara dan media untuk menyatakan diriNya bukan? Soal apakah nanti merugi, apakah tidak disukai orang? Wah, jangan ragu dulu. Senior-senior iman kita sudah membuktikannya. Bahkan Paulus mengatakan, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Fil 3: 7). Tenang saja, kalau Dia yang memanggil untuk pekerjaan baik ini, Dia pasti akan membuka jalan bagi kita.

Nah, jika sekarang yang dikatakan paling berpengaruh bagi kehidupan manusia adalah media, ya, mari kita mengambil bagian kita di sini. Dunia ini sebenarnya sedang letih dengan berbagai tayangan yang merusak, menyesakkan, membuat khawatir. Orang sudah terlalu sering dibuat dag dig dug dengan berita-berita dan tayangan yang tidak senonoh. Ini saatnya anak-anak Tuhan menunjukkan terangnya melalui media. Jika kita mengaku kita ini pekerja media, jangan diam saja. Mulai sekarang, berlatihlah dan kerjakanlah.

Skripsi yang Berkemenangan

Posted in Uncategorized on September 23, 2010 by bayu primasanti

“Saya menuntaskan skripsi ini dengan gemilang bukan karena pembimbing saya yang termasyur dan sangat jenius itu; bukan karena saya sanggup; bukan pula kebaikan dosen penguji. Saya menuntaskan masa akhir saya di bangku kuliah dengan gemilang karena pertolongan Bapa semata” (Primasanti, March, 2008).

 

Mengingat dengan pasti setiap kata yang saya ucapkan setelah dinyatakan lulus kuliah sih tidak, namun penggalan kalimat di atas setidaknya menggambarkan perasaan saya kala itu. Pertama kali tahu bahwa saya dibimbing seorang dosen jenius yang baru saja pulang dari menjemput gelar doktornya di German membuat saya merasa sangat tenang ketika akan mengerjakan skripsi. Apalagi melihat IPK saya yang,  misalnya skripsi saya mendapat C pun, saya tetap akan cumlaude. Besar kepala saya semakin menjadi-jadi tatkala itu. Sama sekali tidak ada rasa takut dan gentar. Dengan rajinnya saya melahap puluhan buku setiap minggu. Akhirnya, skripsi itu selesai dengan super kilat.

Tiba waktunya untuk buah pikir kilat saya itu diuji. Persiapan semua matang. Baju sudah dipersiapkan, presentasi sempurna. Tidak ada yang kurang. Nilai A ++ sudah melayang-layang di hadapan dahi ini semenjak memasuki ruangan ujian itu. Saya sangat percaya diri.

Jauh dari yang saya bayangkan. Di ruang sidang itu juga kesombongan saya diruntuhkan hingga melebur bersama air mata penyesalan. Semua kata-kata saya rasanya hanya melayang-layang, baru mau menyentuh telinga penguji,  tanpa permisi berbalik, kembali menerpa saya dengan sekonyong-konyong. Bahkan menerkam saya berkali ganda. Saya tidak mampu bicara. Ruangan itu membiru. Kalimat-kalimat teoritik yang sudah saya susun semalaman merana. “I am dying”.

Belum puas dibuat meleleh di ruangan itu, saya masih harus menunggu keputusan penyidang mengenai kelulusan saya. Dari luar ruangan samar-samar terdengar perdebatan yang semakin lama membuat saya yang justru semakin samar mendengar, hingga akhirnya tidak kuasa mendengarnya lagi.

Saya masuk ruangan itu kembali ketika mereka memanggil saya–walau sesungguhnya ada trauma yang menyergap saat pertama menyentuh gagang pintunya lagi. Saya mencoba tegar mendengar setiap keputusannya–walaupun saya sebenarnya tidak ingin mendengar? Kenapa? Karena semuanya pasti, pasti jauh dari yang saya bayangkan. Saya tidak siap menanggung malu pada diri saya sendiri.

Saya masih belum percaya kalau saya lulus dengan nilai itu. Saya hanya terdiam dan sesekali menangis. Menyesal.

*    *    * 

Cerita ini aku alami beberapa tahun lalu ketika aku lulus sidang skripsi. Memang kala itu kekecewaanku pada diriku sendiri sangat kuat mengusik. Namun, sekarang, dengan kacamata yang baru aku belajar dan begitu bangga dengan peristiwa tersebut. Waktu itu aku sangat mengandalkan kekuatanku, siapa yang membimbingku, performaku, dan prestasiku yang idealnya akan menolong aku mendapatkan nilai yang sempurna. Namun, aku benar-benar keliru. Andai aku mendapat nilai sempurna dan IPK ku nyaris bulat, jadi apa aku sekarang? Aku pasti akan telah jatuh ke dalam kesombongan yang membabi buta dan itu mengerikan sekali. Aku tidak ingin membayangkannya.

Pagi ini aku duduk di ruang sidang dan menyaksikan empat mahasiswaku diuji. Kenangan itu terulang kembali. Sebelum sidang, beberapa dari mereka bertanya, siapa yang akan menguji mereka? bagaimana kesiapan mereka sampai saat ini? Bahkan, sebagian mahasiswa lain mengatakan, jika dibimbing Ibu X atau Bapak Y pasti lulus, atau, jika diuji Bapak A atau Ibu B pasti nilainya jelek. Makannya, beberapa dari mereka ingin aku memberitahukan siapa dosen penguji mereka, dengan maksud supaya mereka bersiap-siap. Tapi aku tutup mulut (mungkin mereka menganggap aku jahat dan tidak koopreatif). Dalam hati aku berkata, “Bukankah mental anak Tuhan bukan mental mengandalkan manusia? Mental anak Tuhan tau siapa yang berjuang bersama dengan dia dan menjadikannya pemenang, bahkan lebih dari pemenang, yakni Tuhan sendiri. Aku sudah mengalaminya adek-adek. Aku pernah keliru dengan mengandalkan keberhasilanku pada diri sendiri dan orang lain; dan aku rindu kalian tidak mengulangi kesalahanku itu”. Aku sangat lega sekali, meskipun hanya terucap dalam hati. Ah, aku sangat rindu mereka mengerti sukacita ini. Rema ini sungguh-sungguh menyadarkanku pada kesalahanku di masa lampau yang selalu mencari pegangan lain untuk berharap, padahal Bapaku sudah mengulurkan tangan untuk menolong.

Adek-adekk u mahasiswa, demikian, untuk meraih skripsi yang berkemenangan, ada dua kunci: pertama, kenali siapa Bapamu, bukan seberapa berat skripsimu, atau seberapa hebat kamu mengerjakannya, atau seberapa jenius dosen pembimbingmu, atau seberapa baik pengujimu. Semua itu hanya kenyamanan semu.  Dia tahu yang terbaik buatmu. Bahkan, bila dalam pandangan mata manusia hasilmu itu buruk; Dia mereka-rekakannya untuk kebaikanmu. Dia benar-benar telah merancangkan kehidupan yang baik untukmu bahkan sebelum dunia dijadikan, sebelum skripsimu dikerjakan. Ke dua, kerjakan yang terbaik. Ujilah dirimu selalu dengan bertanya, “Apakah aku sudah mengerjakan yang terbaik?”, jika belum, kerjakanlah.  Yang ini bagianmu. “Karena setiap pekerja akan mendapatkan upahnya”. Siapa pun dosen pembimbing, penguji, seberapa berat pun perjuangan yang harus kamu lalui, Dia ada dan akan memberimu kemenangan. Kemenangan yang tidak bisa diukur dengan nilai A atau B, tetapi kemenangan sejati yang memerdekakan.

Untuk kalian yang telah lulus dengan gemilang, sungguh, aku sangat rindu kalian lebih mengenal siapa Tuhan kalian yang sangat berkuasa itu. Hiduplah melekat padaNya, bersyukur, berdoa, dan bersukacita senantiasa. Perkatakanlah, “Aku hanya hamba yang bodoh, yang hanya melakukan apa yang ditugaskanNya padaku”.

Aku sangat bangga pada kalian. Jadilah inspirasi bagi adek-adek kalian nanti dan tetaplah rendah hati.

 

I love u, Guys. Jesus bless you. 

The Incredible

Posted in KISAHKU with tags on August 12, 2010 by bayu primasanti

Aku kembali lagi melihat deretan toko-toko mewah malam ini. Tidak terasa, baru tiga hari merantau, aku sudah kembali lagi ke tempat ini dan menyaksikan sebuah ironi. Ironi yang menggilas hatiku sehingga hancur berkeping-keping. Ironi yang tidak mampu aku hindari. Ironi yang membawaku kepada suatu pemikiran baru bahwa sebuah tujuan perjalanan bukanlah sekadar tempat yang baru namun sebuah kaca mata baru untuk melihat dunia. Ironi ini pula yang meningatkan aku pada kesombongan yang selama ini terpelihara dengan tentram di dalam hidupku. Bagaimana aku menyampaikan pengalaman ini dengan lugas? Rasanya sulit sekali. Berderet metafor berseliweran di pikiranku, tidak sabar menunggu giliran dituliskan dalam rentetan sejarah perjalanan singkat ini.  Ijinkan aku menuliskannya. Jika sulit dipahami, ingatanku siap memanggil memori dan menceritakannya langsung kepada siapa pun yang berkenan mendengar.

 

Permulaan perjalanan adalah sebuah pertanyaan, “Akankah aku berjalan?”; diikuti sebuah keputusan, “Aku mau berjalan”, atau “Aku tidak jadi berjalan”. Dalam kasusku, aku memutuskan untuk berjalan dengan mantap, super mantap. Kenapa? Ada dua kemungkinan untuk menjawabnya, pertama karena memang sifat bawaanku yang selalu tidak pernah pikir panjang, straight to the action; atau ke dua karena lama sudah aku menggumulkan tanda-tanda, merenda sinyal-sinyal, dan batinku memutuskan: inilah jawabannya. Kedua hal ini menjadi variabel penting yang memengaruhi keputusanku untuk terus berjalan dengan super mantap. Aku berjalan.

 

Dengan modal nekat – baru-baru seorang teman menyebut aku benar-benar nekat – aku pergi ke negri itu. Negri yang jika kubaca melalui media baru adalah negri yang kaya akan budaya, negri yang tersohor karena kekuatan local wisdomnya, negri yang selalu menarik hatiku untuk datang. Bahkan, sebagai promosi, mereka menambahkan adjective di depan namanya: incredible. Menyebutnya, aku merasa sangat bangga. Aku semakin tidak sabar untuk mencengkeramainya.

 

Dua hari cukup untuk mengucapkan perpisahan dengan tempat kelahiranku. Tempat yang panas dan penuh sesak manusia. Tempat di mana aku bisa melihat dengan jelas batas si kaya dan si papa. Negri yang indah namun gersang. Negri yang damai namun kering. Ah, tanah tumpah darahku. Aku pamit. Begitu saja mengalir frasa-frasa kekecewaan terhadap negri ini meluncur dari pikiranku mengiring perpisahan ini. Pikirku, aku akan segera bertemu dengan nuansa baru. Nuansa bening. Negri yang siap menjadi tumpahan keingintahuanku mengenai rahasia kehidupan dan kesantunan.

 

Incridible. Ajektiva ini benar-benar mengacaukan pikiranku sebelum kunaiki burung raksasa itu. Hatiku semakin tidak tahu malu untuk merasa tergesa-gesa bertemu dengan singasana rajanya, hijau rerumputannya, damai penduduknya, keramahan orangnya, teduh tutur katanya, kaya budayanya. Ah, incredible. It will be so incredible before and after my mind. Lalu aku mendaftarkan diriku dalam kendaraan raksasa itu. Aku siap terbang dan melihat betapa yang virtual di pikirku itu menjadi benar-benar bisa disentuh dan dibaui.

 

Aku telah berada di ruangan luas itu. Semua berkaca mewah, luas sekali. Namun, aku merasa sangat sesak. Ada aroma asing yang tidak bisa diterima oleh indra penciumanku. Aroma semacam dupa yang kuat menyengat, menutup pelan-pelan lubang hidungku. Sedang dari dalam mencoba merasuk dan mengagalkan transport udara dalam rongga dadaku. Sesak sekali. Kenapa ini?  Aku mencoba mencari udara segara, aku meraih kuat pegangan untuk keluar; tidak ada yang mengerti maksudku. Sebagian geleng-geleng, sebagian lagi geleng-geleng, sebagian lagi geleng-geleng, sebagian lagi sibuk dengan urusannya masing-masing, sebagian lagi geleng-geleng. Aku sungguh tidak mengerti. Tampaknya bahasaku tidak bisa mereka terima. Aku merasa di dalam ruangan manusia asing. Atau akulah manusia asing tersebut? Aku mencoba bertahan, ah, betapa aku membutuhkan oksigen.

 

Kami sudah berada di dalam burung raksasa itu. Aku duduk ‘menyempil’ di paling ujung dengan gaya paling nyentrik dan nafas yang terengah-engah karena sesak tadi. Tidak ada satu pun bisa kuajak bicara, kecuali senyum dan geleng-geleng yang aku tidak tahu apa artinya. Aku berharap ada yang mau mengajakku bicara. Kenapa tidak? Aku paling nyentrik dan pasti mereka ingin tahu sesuatu dariku. Sepuluh menit, satu jam, empat jam, sampai burung raksasa itu lelah dan masuk dalam sarangnya, tak ada satu pun yang menegur. Akhirnya aku keluar dengan lunglai. Inilah tahap pertama mengelupas kesombongan lapis terluar. Aku bukan siapa-siapa di tengah-tengah kumpulan manusia asing ini. Walaupun aku paling nyentrik, paling modern, aku tidak berarti apa-apa untuk mereka.

 

Kami menuju tempat pemeriksaan. Mereka melihatku dari atas ke bawah dengan teliti. Tepat seperti yang kubayangkan, akan terjadi sesuatu dengan proses ini. Semua sudah lalu, hanya aku yang tinggal dan menunggu mereka mengatakan, “Oke, kamu diijinkan masuk ke negri ajaib ini”. Namun kalimat itu tidak akan muncul jika tidak ada seorang dari negri singa menolong. Sesudahnya, dengan penuh rasa ingin tahu, dia bertanya sipu-sipu, ada urusan apa aku datang ke negri ini. Aku jawab saja, aku ingin menimba ilmu. Lalu sipu-sipunya seketika berubah menjadi peranjat yang hebat. Dia menanyakan dari mana asalku. Aku menjawab, aku dari negri seberang, “Itu, sebuah negri hijau yang tampak bak jamrud”. Menyebutnya demikian, dia segera mengerti dan peranjatnya berubah menjadi sinis. Kenapa dari negri agung itu kamu mau menimba ilmu di negri ini. Bukankah di negrimu kaya pengetahuan. Ganti aku yang mengalami peranjat hebat. Pikirku, negri ini sangat kaya ilmu, budaya, bahkan mereka menyebutnya incredible. Aku tidak mampu menjawabnya. Perpisahan singkatku dengan negriku, yang berarti juga pencarian singkat mengenai informasi di negri ini, membuatku hanya bisa tutup mulut dan tersenyum, seolah yakin dengan misiku ini. Dia mengantarku dan memastikanku dijemput dengan benar. Dia bertanya dalam bahasa aneh kepada orang yang menjemputku. Konon, dia mengecek apakah tidak ada kepalsuan pada orang yang menjemputku itu. Baru-baru aku tahu bahwa ada ribuan prasangka di sanubari negri yang baru kudatangi ini. Namun itu baik adanya, orang-orang akan lebih berhati-hati, detil dalam mengobservasi segala sesuatu, bijak dalam mencari dan menggunakan data dan fakta untuk memutuskan. Sementara di negriku, aku sempat dipaksa masuk ke ruang pendataan TKI ketika keluar dari sarang burung raksasa. Tanpa ditanya, tanpa diperiksa, mereka langsung memutuskan bahwa aku ini TKI. Dari mana keputusan itu berasal? Tentulah dari pandangan mata terhadap fisikku yang kumuh karena kelelahan waktu itu. Jahat sekali, berarti demikianlah TKI di mata mereka, kumuh. Ah, masa bodoh dengan pengalaman itu.

 

Aku mengitari kota itu. Panas, gersang, kumuh. Sepanjang perjalanan aku berdialog dengan angin dan debu. Apa saja yang keluar dari mulut sang sopir, tidak bisa kupahami. Aku sekarat. Incridible. Kota ini benar-benar memporakporandakan keangkuhanku. Aku bukan siapa-siapa.  

 

Beberapa hari aku mencoba bertahan. Di satu sisi aku muak dengan segala tawar menawar yang membudaya sudah. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, aku harus menawar penawaran orang karena mereka pun mencari keuntungan. Baru-baru aku tahu, itulah salah satu sangka mengapa mereka begitu berhasil. Negri ini tidak pernah membiarkan kesempatan sekecil apapun untuk meraih keuntungan, lewat begitu saja. Mereka akan mengejar dengan giat sampai dapat. Aku lelah hari itu. Aku lelah melakukan penawaran sepanjang waktu. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan di negriku. Mau ini, tinggal bayar. Mau itu, tinggal ambil. Di negri ini, semuanya butuh tenaga, waktu, dan misi yang tangguh untuk mendapatkannya. Aku K.O lagi. Incridible. Akankah aku mampu menjamai daya juang mereka ini?

 

Sehari berikutnya, aku mencoba diam dan merenda semua fakta yang aku temui di pinggir-pinggir jalan, di ceruk-ceruk pasar, di dalam gedung-gedung tinggi, di stasiun kereta kumuh, di dekat pintu bus kota reyot. Incridible, where are you? Negri ini sangat tampak miskin dalam kacamataku sama sekalit idak seperti yang terbaca dalam media baru. Kacamataku memberitahu bahwa kemiskinan dicirikan oleh pakaian yang kuno, percakapan yang tradisional, mental yang urakan, kendaraan yang tidak bermesin, rumah dan jalan-jalan nan kumuh, dan berbagai atribut di bawah standar rata-rata yang dikenakan manusia. Astaga, betapa miskin negri ini. Tapi lima menit kemudian, ketika aku melepas kacamata tua ku yang kubawa dari negriku, lalu menggantinya dengan milik tetangga sebelah kamarku, aku melihat sesuatu yang berbeda. Di balik pakaian, percakapan, mental, kendaraan, rumah, jalan-jalan nan kumuh itu, aku menyaksikan rahasia hidup yang berkilauan. Di sana terpancar persaudaraan yang kuat, tolong menolong yang hebat, ilmu yang mentradisi, kecintaan akan budaya sendiri yang begitu dalam, kerendahhatian yang indah dan inilah benteng dari serangan kapitalisme dan kemunafikan dari dunia luar. Semua itu jelas terlihat, tidak tertutup oleh kilau atribut-atribut fisik yang lain. Bayangkan, hampir semua orang di negri ini memakai pakaian tradisional mereka yang nota bene sangat kuno dan tidak fashionable. Tapi lihatlah, industri pakaian dalam negri mereka sangat berkontribusi bagi peningkatan ekonomi negri. Sementara, di negri ku, berita gulung tikar pengusaha pakaian tradisional santer terdengar. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Betapa selama ini aku masih memikirkan baju apa yang hendak kupakai, ke mana aku akan menghibur diri, siapa temanku, apa merk mobilku. Sementara negri ini sudah melesat jauh dengan ilmunya tanpa peduli pada hal-hal remeh seperti itu. Inikah yang mereka sebut incredible? Sungguhkah aku telah mengalaminya?

 

Aku merasa tidak layak di tempat ini. Aku harus pulang dan memberi tahu negriku tentang ini semua. Aku pulang dengan membawa kacamata baru untuk melihat segalanya. Sebuah kacamata baru yang menyibakkan ironi. Ironi yang menggilas hatiku sampai hancur berkeping-keping sembari memberi tempat untuk kesombonganku mengundurkan diri. Incredible.  

SAP PENYIARAN RADIO

Posted in Uncategorized on February 15, 2010 by bayu primasanti

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI – UNIVERSITAS KRISTEN PETRA

DESKRIPSI MATA KULIAH

NOVAK                                 :

MATA KULIAH                   : PENYIARAN RADIO

BEBAN KREDIT                   : 3 SKS

DESKRIPSI DOSEN PENGAMPU

NAMA                                   : K. B. PRIMASANTI, SIP

RUANG KERJA                    : C 106

EXT/ EMAIL                         : 3048/ primasanti@peter.petra.ac.id


DESKRIPSI MATA KULIAH

RADIO ANNOUNCING akan mengembangkan bakat suara  mahasiswa (students’ voice talent) untuk posisi kepenyiaran dalam industri komunikasi siaran radio. Wilayah kajian dan peningkatan kemampuan merupakan bentuk indoktrinasi dalam aspek  industri penyiaran, voice development, developing unique vocal styles, familiarization terhadap operational station radio dalam keberagaman formats. Mahasiswa akan dapat mengkreasikan secara auditif sampai langkah (final audition tape) agar dapat memenuhi persyaratan mendapatkan pekerjaan yang berkaitan dengan dunia penyiaran (broadcasting system).

KOMPETENSI YANG HENDAK DICAPAI

  1. Pemahaman dan penguasaan konseptual teoritik tentang apa dan bagaimana kategori profesionalisme itu (expertise, skillfulness, code of conduct) bagi penyiar radio itu.
  2. Keberhasilan memikat audience dengan performance (radio acting), membawakan program siaran radionya dengan menciptakan kepuasan audience dalam memenuhi kebutuhannya.
  3. Mahasiswa akan diajak untuk memahami, apa yang sesungguhnya menjadi orientasi target audience yang merupakan tolok ukur keberhasilan para anggota tim yang berkerja dalam bidang siaran (announcer, news reader, reporter, host, dan presenter pada umumnya).

MATERI POKOK

Materi pokok yang disajikan dalam perkuliahan ini adalah:

(RADIO ANNOUNCING OVERVIEW PHASES)

  1. 1. Commercial Delivery:

Introduksi terhadap pengertian broadcasting dan equipment.

Breathing techniques, articulation; voice projection; style, interpretation & delivery

2. Newscasting Delivery:

News delivery; news equipment; news writing; network news dan wire services

overview
3. Disc Jockey Delivery:

  • Belajar menjadi disc jockey; organizing dan timing a program; serta ad-libbing.
  • Program material; station layout, organization, equipment dan playlists;
  • DJ delivery; developing a personal style dan personality.

4. Sportscasting Delivery: Sports training; anchoring, play-by-play, gathering stats
5. Specialty Announcing: Skills of weather, traffic, business dan farm reporting; interviewing dan street reporting; ratings; job search including how to write a professional resume dan cover letter, how to conduct a fruitful job search;

6. Audition Delivery: Regulasi Penyiaran (Broadcast regulations), satellite communication dan cablecasting; station automation; production, dan editing; preparing the audition tape

SPECIALTY ENHANCEMENT  ASSIGNMENTS

Diterapkan sistem pembinaan terhadap para mahasiswa, agar memperoleh pemahaman dan kemampuan untuk memiliki ketrampilan:

  1. Announcing dan Voice Overs – rekaman iklan (scripted commercials utilizing voice techniques) perkuliahan dalam kurikulum guna memperbesar skills dan memperluas peluang dalam pekerjaan.
  2. Specialty News Reader- menulis dan membuat original script dalam topik favorite, seperti misalnya cuaca, business, computers & medical news.
  3. 3. Menjadikan seorang announcer, yang sebenarnya adalah seorang aktor suara (a voice actor) yang bekerja di radio atau televisi juga  film. Biasanya dibutuhkan narrations, news updates, station identification, atau suatu  produk dalam television commercials atau tamu dalam sebuah talk show.
  4. Perkuliahan akan meliputi kesiapan menulis serta membaca skrip; tetapi dalam kasus-kasus tertentu mereka membuat ad-lib commentary di udara ketika menyiarkan  news, sports, weather, time, dan commercials. Lazimnya announcers terlibat dalam penulisan skrip ketika hal itu diperlukan. Announcers juga menginterviu tamu dan moderator panels atau discussions. Mereka akan sanggup bertindak sebagai komentator bagi audience during sporting events, parades, dan other events.
  5. Akan diajarkan kesanggupan mahasiswa untuk menjadi announcers yang dapat menjadi spektator informasi tentang pemain olah raga, score, infraksi atau hasil sebuah events.

LITERATUR

Romli, Asep Syamsul M. 2009. Dasar-Dasar Siaran Radio: Basic Announcing. Bandung: Penerbit Nuansa

Hyde, Stuart. Television and Radio Announcing. New York: Houghton Mifflin Company

METODE PEMBELAJARAN

Metode yang akan digunakan dalam mata kuliah ini adalah:

  1. Seminar kelas
  2. Diskusi dalam kelas
  3. Penulisan makalah/ resume
  4. Case study
  5. Radio visite
  6. Proyek lapangan

EVALUASI

Taksonomi Bloom

Komposisi Nilai

Setiap unit evaluasi akan dinilai dengan menggunakan kriteria penilaian tertentu yang disebut rubrik (terlampir).

Unsur Penilaian Presentase

Kehadiran/ Partisipasi

Mengingat materi perkuliahan yang berkesinambungan dan membutuhkan partisipasi aktif para peserta baik individual maupun kelompok, kehadiran mahasiswa dalam setiap pertemuan sangatlah penting. Presentasi kehadiran ini akan berpengaruh pada diperbolehkan atau tidak mahasiswa mengikuti ujian dalam mata kuliah ini.

Jumlah Absensi Nilai Kehadiran
0 kali
1 kali
2 kali
3 kali
4 kali
5 kali
10 %
8 %
6 %
4 %
2 %
0 % dan Tidak boleh mengikuti ujian

KOMITMEN KELAS

  1. Mahasiswa berkomitmen untuk mengikuti perkuliahan dengan sungguh-sungguh
  2. Bersedia melaporkan segala bentuk persoalan yang menghambat perkuliahan
  3. Menaati aturan pengumpulan tugas sesuai kesepakatan bersama
  4. Mahasiswa TIDAK DIPERKENANKAN mengikuti aktivitas perkuliahan, tugas, dan ujian jika:
  • Terlambat hadir lebih dari 30 menit untuk tes dan ujian.
  • Memakai sandal (sepatu atau sandal sepatu diperbolehkan)
  • Tidak berpakaian sebagaimana ketentuan perkuliahan yang berlaku di UK Petra.
  1. Mahasiswa TIDAK DIPERKENANKAN mengikuti UAS jika kehadiran kurang dari 75% pertemuan matakuliah.
  2. Kecurangan dalam bentuk apa pun ketika tes dan ujian menyebabkan mahasiswa secara langsung memperoleh Nilai E.
  3. Pada saat perkuliahan berlangsung, handphone harus disilent atau dimatikan agar tidak mengganggu perkuliahan.
  4. Sesi-sesi perkuliahan menyesuaikan jadwal dalam kalender akademik dan situasi terkini (jika ada libur nasional, maka diadakan diskusi kelas untuk memutuskan pengganti kuliah)
  5. Toleransi keterlambatan 20 menit, selebihnya diperbolehkan masuk tetapi absen (tidak tanda tangan kehadiran)
  6. PRS 1, 2, 3 dihitung sebagai absen
  7. Surat ijin kepanitiaan dan surat ijin sakit dihitung absen dengan keterangan I (dengan memperhatikan prestasi kehadiran di kelas) atau diterima dengan tugas pengganti kehadiran.
  8. Tidak ada ujian susulan, kecuali bagi yang sakit dengan surat ijin dokter mendapat ujian pengganti.
  9. Peraturan lainnya yang muncul saat perkuliahan berlangsung akan didiskusikan dalam kelas.


RENCANA PERKULIAHAN

SESI KOMPETENSI DASAR MATERI KEGIATAN KELAS TAGIHAN BOBOT NILAI
1 Pemahaman pengertian dasar penyiaran
  • Pengertian penyiaran
  • Sejarah
Seminar kelas

Diskusi

Refleksi mengenai profesi penyiar radio 10%
2 Pemahaman dunia penyiaran
  • Penyiaran radio mula-mula
  • Profesi penyiar
Seminar

DIskusi

Memahami penyiaran radio mula-mula; mengerti profesi penyiar radio
3 Ragam penyiar
  • Presenter dan Radio Actor
    • voice development, developing unique vocal styles, familiarization
Diskusi Dapat menyebutkan ragam penyiar dan definisi pekerjaanna
4 Pemahaman Seni Pernafasan
  • Media Eletronik Radio dan TV.
  • Microphone dan dampak keprofesian
Praktik Melakukan teknik pernafasan tertentu untuk media tertentu 10%
5 Pemahaman Profesi Styles dalam Announcing
  • Teknik Vokal
Praktik Melakukan teknik vocal untuk beragam gaya siaran
6 Dasar Wawancara dan talkshow
  • Pelaksanaan Talkshow
  • Taklshow radio
Seminar Dapat melakukan wawancara dalam talkshow
7 Feature
  • Mengembangkan Cerita Human Interest
  • Karakteristik Feature/ Batasan
  • Struktur Feature
  • Tubuh dan Ekor Feature
  • Script feature dalam radio
Seminar Membuat feature
8 UJIAN TENGAH SEMESTER (tertulis – analisis kontekstual)                                                                                                                                                                                     25%
9 LEAD
  • Lead Sebagai Kunci
  • Teknik Menulis Lead
  • Jenis-jenis Lead
Seminar

Diskusi

Dapat mengaplikasikan lead dalam penyiaran
10 Mengenal siaran pers dan konferensi pers
  • Siapa yang menulis
  • Bagaimana Menangani Siaran Pers
Case study Memahmi siaran pers dan konfrensi pers
11 Kode etik penyiaran Case study Mengerti penerapan kode etik penyiaran
12 Praktik Penyiaran Radio Praktik Dapat melakukan praktik penyiaran radio ideal (news) 10%
13. Praktik Penyiaran Radio Praktik Dapat melakukan praktik penyiaran radio ideal (entertainment) 10%
14. Persiapan presentasi Praktik, diskusi Presentasi
15. UJIAN AKHIR SEMESTER Presentasi 35%

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.