The Designer

Posted in GOOD NEWS on November 19, 2009 by bayu primasanti

Saya sedikit tertegun menemukan fakta bahwa 8 dari sepuluh remaja putri yang saya temui menggunakan produk kecantikan yang sama. Ketika saya menanyakan kepada mereka, apa tujuan menggunakan produk tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka sudah terlanjur cocok. “Kalau yang lain sih gak cocok kak”, “Kalau aku takut mukaku rusak, yang ini kan sudah terjamin”, “Agak mahal sih, tapi terpercaya”, dan jawaban-jawaban yang serupa. Saya semakin harus bertekur merenungkan fenomena ini ketika mbak yang membantu bersih-bersih di kos saya menanyakan, “Mbak Prima, di mana ya saya bisa beli ‘teeeeet’ (nama produk), saya sudah nabung neh supaya bisa memakai ‘teeeet’ seperti mbak-mbak yang lain. Jadi kan bisa tambah putih dan mulus”. Bahkan, di suatu pertemuan saya dengan beberapa adik remaja putri, terjadilah suatu perdebatan mengenai produk kecantikan apa yang paling baik, dan malaikat juga tau, produk ‘teeeet’ kan jadi juaranya. Fakta yang cukup membuat saya bergidik; dari mana mereka memiliki opini yang seragam tentang suatu produk, siapa yang membentuk hasrat konsumsi yang bergitu rupa? Ketika saya mencoba melakukan survei sederhana kepada orang-orang ini, serempak mereka menjawab: IKLAN di televisi.

IKLAN disinyalir menjadi tersangka utama kasus konsumerisme di media ini. Iklan merupakan salah satu produk media yang fungsinya secara sederhana adalah mempersuasi khalayak secara kognisi, afeksi, sampai behavior. Bagaimana terbentuknya efek ini tergantung pada tujuan iklan tersebut. Ada iklan yang bertujuan mulia, seperti mengkampanyekan kesehatan, program pemerinta, dan kegiatan yang berkait dengan hajat hidup orang banyak. Namun, iklan juga punya potensi besar untuk menjadi boom destruktif yang merusak tatanan moral, etika, dan keuangan dengan konstruksi hiper nya. Sebagai contoh, iklan yang sarat akan hasrat konsumtif, seperti iklan kecantikan atau  iklan diskon belanja yang salah satunya diiklankan oleh seorang artis komedi wanita sebagai endosernya. Di belahan bumi lain, ditemukan beberapa iklan yang lebih tepat disebut film porno pendek. Iklan berjenis ini menampilkan sensuality and sexuality taste. Semua imej yang ditampilkan oleh iklan diupayakan untuk bisa menjadi tongkat ajaib yang akan menyihir khalayak sehingga mau menuruti apa saja kata iklan itu. Imej-imej inilah yang disebut dengan citra iklan.

Citra iklan yang berada di perusahaan iklan komersial tentu mengalami nasib baik. Dia akan didandani begitu rupa, begitu cantiknya sehingga memiliki daya pikat yang kuat bagi khalayaknya. Salah satu contoh nyata serperti yang telah saya uraikan di atas. Endoser yang mulus, putih, ganteng, dll dibayar mahal untuk memainkan satu episode kehidupan yang konon adalah realitas. Setelah realitas konstruktif ini ditayangkan, berikut bumbu-bumbu pemikat lainnya, jadilah orang berbondong-bondong mencari produk X, berapa pun harganya, bagaimana pun caranya. Dengan demikian, secara sengaja, iklan mengkonstruksi hasrat belanja khalayaknya.

Saya mengkategorikan beberapa efek negatif dari iklan komersial. Yang pertama,  menimbulkan kebutuhan semu atau yang sering disebut pseudo need. Sesungguhnya jika tidak ada iklan X yang menyatakan bahwa wanita memerlukan kaplet vitamin untuk membuatnya awet muda, khalayak tidak akan begitu merasa membutuhkan produk X tersebut. Ke dua, sebagai konsekuensi logis dari akibat yang pertama adalah terkonstruksinya hasrat belanja massal. Iklan yang wara wiri di seluruh stasiun televise dan dilihat oleh jutaan orang di belahan daerah mana pun membuat sebagian dari khalayaknya serempak kompak berbelanja produk X karena alasan yang sama. Mereka bisa merasa tidak berharga jika tidak membeli produk X sama dengan temannya. Yang ke tiga, dan cukup tiga ini saja saya paparkan (karena masih banyak yang lain), adalah membuat khalayaknya berpikir endoser yang dipakai adalah model yang terbaik untuk ditiru. Khalayak mulai mengidentifikasi dirinya dengan penampilan endoser. Jika cantik itu direpresentasikan dengan wanita berambut hitam panjang kurus, maka khalayak yang tidak berkriteria sama akan berupaya sekuat tenaga untuk menjadi sama dengan endoser. Ke tiga konsekuensi ini berjalinkelindan membentuk masyarakat baru yand bernama masyarakat konsumtif media. Masyarakat yang hidupnya dikontrol oleh otoritas media. Iklan hanyalah salah satu contoh. Masih banyak produk media lainnya yang berperan dalam terbentuknya masyarakat konsumtif ini. Jam-jam penting ibu-ibu menemani belajar anaknya harus dikorbankan demi dewa sinetron yang bisa menyuntikkan haru dalam hati; atau ayah yang tidak bisa mengantar anaknya karena melihat tayangan sepak bola sampai pagi; atau mahasiswa yang lupa tugas belajarnya karena film, dll. Jika demikian hebat media mengontrol setiap sendi kehidupan khalayak, apakah masih bisa khalayak disebut orang-orang yang merdeka?

Sesungguhnya siapa yang bertanggung jawab atas tidak merdekanya orang-orang masa kini ini? Saya juga tidak tahu dan tidak berhak menyalahkan. Yang bisa kita lakukan sebagai konseptor atau designer dari media adalah mengerti sedalam-dalamnya mengenai kebenaran yang harus kita beritakan melalui media, iklan sekalipun. Maksudnya? Kita bisa belajar dari bangsa Israel dan beberapa tokoh di alkitab mengenai hal ini.

Konsumerisme di media ternyata sudah terjadi sejak jaman Israel. Di suatu kisah di kitab Hakim-Hakim (17: 1-13) diceritakan betapa orang-orang pada waktu itu bertindak menurut kebenarannya masing-masing. Mikha, salah satu tokoh di dalamnya dibuatkan patung oleh ibunya untuk tinggal di dalam kuil mereka. Patung ini menjadi media yang dianggap dapat menjaganya dan membuatnya hidup dan terjamin seperti manusia lainnya. Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (17: 6).             Merenungkan cerita ini, ternyata yang berperan penting dalam penciptaan media adalah seorang creator atau designer. Lalu, sebagai seorang designer, apa yang harus diperbuat di tengah-tengah kontrol media yang sangat kuat ini?

Bukankan Allah juga adalah seorang designer? Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Kita bisa belajar menjadi designer yang baik dari proses penciptaan. Yang pertama adalah visi. Allah memiliki visi dalam menciptakan langit, bumi, tumbuhan, hewan, dan manusia. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef 2:10). Sebagai seorang designer di media pun, kita juga harus punya visi. Tidak apa-apa jika tujuan iklan itu memang komersial, tetapi konsep realitas yang ditampilkan baiklah merfleksikan kebenaran firman Tuhan. Yang ke dua adalah misi. Jadilah terang (Kej 1: 3). Setelah kita memiliki konsep yang sudah kita renungkan, selanjutnya adalah melakukan dengan cara yang benar. Yang ke tiga adalah honesty atau kejujuran. Memang terlampau sulit untuk jujur ketika menjual sesuatu, tetapi kita bisa meminimalisir itu dengan meminta Tuhan menyelidiki motivasi kita setiap waktu. Selanjutnya, menjadi designer yang benar jangan terpatok oleh kualitas yang terbatas. Dalam proses penciptaan pun, Allah selalu melengkapi dan melengkapi apa yang kurang untuk mencapai suatu kualitas ciptaan yang lengkap. Selanjutnya, sebagai designer pun kita memiliki tugas untuk melakukan literasi kepada khalayak. Yang paling penting dari semua ini adalah menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. Saat Dia akan memakai kita sebagai designer- designerNya, Dia akan mencurahkan hikmat yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia bagi karya kita seperti yang tertulis di Yakobus 3: 13. Selamat menggoncang masyarakat konsumtif media dengan menjadi designer yang membebaskan.

Semalam: Aku dan Air Mata Sahabatku

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Semalam, aku dan sahabatku berjumpa. Pertemuan yang jarang namun selalu mengesankan. Aku selalu menantikan pertemuan ini. Namun, seperti biasa, waktunya tak banyak. Dua sampai tiga jam kesempatan kami menumpahkan perasaan masing-masing. Semalam, kami tak banyak bicara. Dia meraih tanganku seolah tidak ingin aku pergi. Lalu, dia membuka mulutnya. Dia bercerita. Agak janggal karena biasanya aku yang cerewet. Aku bersyukur untuk kesempatan itu, aku menyediakan telinga dan hati terbaikku untuk mendengar kisahnya. Dia mulai bicara. Kira-kira seperti ini, “Aku tidak tahan melihat tatapan Ibuku. Aku tidak tega”. Ini soal dia tidak bisa memenuhi permintaan ibunya. “Aku segera ingin pergi jauh dari rumah”, dia mengatakannya dengan hancur hati. Aku bisa merasakannya, pedih sekali. “Aku memang sedang tidak punya. Apa lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya tidak tahan dengan responnya”, aku tahu dia sedang sangat sendu. Lalu, air mata silih berganti mengalir dari pelupuknya. Betapa sakit hatinya, aku bisa merasakan walaupun tak sebaik dan senyata dia, pedih sekali. Pria ini, yang tidak pernah meneteskan air mata, dapat juga hancur hatinya. Aku ingin menahan air mata itu dengan apa pun yang aku miliki. Tapi aku tidak memiliki apa pun. Air mata itu terus menetes. Aku mengusapnya pelan dengan jemari yang bergetar. Aku hanya bisa berkata, “It’s oke, semua akan baik-baik saja”. Ingin rasanya menggantikan posisimu saat itu, biar aku yang merasakan luka itu. Tapi tidak bisa, siapa aku. Dalam hati aku berkata, Dia sanggup menghapus air matamu, sahabat. Hanya Dia yang sanggup.

Aku dan Lautan

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Rasanya seperti berada di tepian lautan, di antara keinginan untuk mengarunginya atau lari darinya. Pilihan yang tidak mudah. Jika mengarunginya, besar konsekuensi yang harus kutanggung. Perahunya, energiku, belum bahaya mengancam di tengah lautan. Sebaliknya jika aku lari, aku aman, nyaman, kembali ke duniaku, namun harus merelakan perpisahan dengan lautan kesayanganku. Apakah aku sendiri yang harus memutuskan hal ini? Akan sanggupkah lautan memberi jawab bagi kegelisahanku ini? Paling tidak, dia memberikan opsi berdasarkan argumentasinya. Aku yakin dia bisa, walaupun dia lambat, walaupun dia penuh pertimbangan, tapi aku bisa membaca kedalaman hatinya lewat debur dan gulungan ombaknya yang tiap detik menyentuh ujung jari kakiku. Aku harus memutuskan segera, Lautanku, waktuku tidak banyak.

A.L.O.N.E

Posted in DIARY on October 30, 2009 by bayu primasanti

This morning, my office room was crowded by people. Some students and some lecturers had their own discussion. They laughed, they talked, they yelled. Unfortunately, i could not hear anything. I raised my head up of my cubical, perfectly seeing their lips, body, head, hands moved. But i could not hear them all.  I felt, i am alone.

So, what is the meaning of alone? i asked myself. Is ‘alone’ can describe what i feel?

SALIBKU, BELUM TIBA

Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasanti

Tidak sanggup memikirkan salib itu
Rasanya semakin dekat
Semakin kuat aromanya
Tapi belum jelas rupanya
Siluetnya pun belum teraba
Jauh tapi terasa sangat dekat
Kapan salib itu datang
Aku menanti dengan kegelisahan
Aku bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan
Inikah, itukah, biar segera kupanggul
Tentu dengan ketidakmampuanku
Tapi bukan ini, bukan itu pula
Semakin kuat kuberlari menyongsongnya
Semakin aku merasa bodoh karena kerap keliru mengira
Salib itu, salib yang kunanti dengan cucuran air mata
Aku tidak sanggup memikirkannya
Kecuali oleh kasih karuniaMu
Untuk itulah, kumohon

Aku Punya Pena untuk Menulis

Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasanti

Mengapa aku tidak bisa berbicara dengan bebas mengenai Engkau di tempat yang baru ini?
Belum ada kesempatan? Kurasa tidak
Atau memang sudah terlalu banyak yang mengerti?
Tapi aku tidak akan diam begitu saja
Aku tidak akan diam
Aku punya pena untuk menulis
Maka, sama seperti aku tidak akan berhenti berbicara tentang Engkau di tempat lama, aku tidak akan berhenti menulis tentang Engkau di sini
Hanya saja, bebaskan aku dari kultur ini
Mereka memenjara kebebasanku bercanda denganMu, Inspirasiku, pusat hidupku…..

Pertanyaan Sepele

Posted in DIARY on April 15, 2009 by bayu primasanti

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri. Baru kali ini aku merasa dipasung dalam pergumulan yang pelik. Pergumulan yang tidak hanya melibatkan imanku sebagai pengikut Kristus tetapi juga logikaku. Yang membuat geli yakni bahwa pertanyaannya terlalu sepele untuk membuat seorang – yang menurut rekan-rekanku termasuk golongan militan – sepertiku bimbang. Pertanyaan sepele ini menghantuiku selama berminggu-minggu dan tidak membiarkanku bebas melakukan pekerjaan pelayananku. Hanya sebuah pertanyaan sepele yang berbunyi apakah aku harus berangkat ke acara Pemahaman Alkitab kelompok ‘itu’ atau tidak. Anda pasti tertawa.
Aku seorang dosen muda fakultas ilmu komunikasi di salah satu universitas Kristen swasta di Indonesia. Tapi di luar status itu, aku hanya percaya bahwa diriku ini segambar dan serupa dengan Allah. Tapi justru kepercayaan inilah yang menggiringku untuk – acapkali – menuntut semua pekerjaan dan pemikiran harus perfect. Semua tindakan harus didasari ungkapan syukur kepada Tuhan dan dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Tapi kedangkalan kepekaanku akan suara Tuhan justru membuatku terjebak pada stigma itu. Semua pekerjaan yang baik, semua kegiatan yang benar dan mulia tidak boleh ditolak, harus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.
Prinsip ini menyala-nyala dalam diriku sejak aku terima Kristus. Aku berupaya dan berdoa untuk tidak pernah mengatakan tidak pada pekerjaan pelayanan. Saat orang datang kepadaku dan mengajak untuk melakukan pelayanan ini dan itu aku dengan sigap bersedia. Jangan salah sangka kalau aku ini seperti Marta yang sibuk dengan pelayanan yang tampak sehingga melupakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Bukan. Aku memahami betul hati Maria, hati yang selalu ingin duduk diam di hadapan Tuhan. Jika aku merasa bimbang, segera aku datang pada Tuhan dan mohon jawabannya. Aku tahu, aku paham itu semua. Tapi sekarang aku bingung dengan satu pertanyaan ini: haruskah aku datang?
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengajakku pergi ke suatu kelompok Pemahaman Alkitab. Dari awal aku sudah tidak sreg. Hanya aku tidak tahu apa alasannya. Tidak adanya alasan yang tepat ini menjadi argumen kuat bagi diriku untuk memposisikan persoalan itu sebagai pergumulan berat dengan konsekuensi menyita energy dan waktu. Aku bergumul hebat hari itu, akankah aku berangkat? untuk apa? apakah ini akan menyenangkan hati Yesus? Ah, aku dibuatnya gelisah. Aku bertanya-tanya kepada Tuhan, tetapi telingaku tak cukup tajam untuk mendengarkan suaraNya. Entahlah, aku gelisah sekali. Sampai akhirnya, aku meminta tanda seperti yang dilakukan Gideon. Jika benar aku harus berangkat, biarlah hatiku damai sejahtera ketika berada di tempat itu.
Semakin mendekati waktunya semakin aku menjadi gelisah. Tidak seperti ketika akan berangkat ke persekutuan-persekutuan lainnya, walaupun aku belum tahu apa yang akan terjadi di tempat itu, tapi aku sungguh enggan untuk datang. Kegelisahan memuncak beberapa jam sebelum acara itu. Aku memutuskan untuk tidak usah pulang dan berganti baju. Aku menunggu dan merenung agar dapat langsung berangkat ke tempat itu.
Aku sampai di sana dengan dua orang temanku yang lain. (oh, bahkan aku tidak sanggup menuliskan hal ini). Aku mendengarkan pembukaan dari pemimpinnya. Dia mengajak kami menyanyi sambil membuka handphone, kutak kutik sana sini. Lalu menyuruh kami share mengenai perubahan hidup kami ketika sudah menerima Kristus. Dari jawaban-jawaban mereka, aku tahu, mereka sudah lama mengenal Kristus dan telah banyak belajar dibandingkan aku. Tapi aku tetap merasa tidak nyaman. Lalu, kami mendengarkan kotbah. Salah seorang membaca pertanyaan di buku panduan dan pemimpinnya mengupasnya. Setelah itu menyanyi lagi dan selesai. Tampaknya sebentar, tapi dengan haha hihi –nya tak terasa sudah 3 jam kami berkumpul. Hatiku benar-benar bertarung ketika berada di dalam kelompok itu. Aku mencoba mengalahkan perasaan memberontak dan tidak damai sejahtera yang muncul dan meledak-ledak dalam diriku. Aku merasa tempatku bukan di sini, tapi aku takut menolak jika itu melukai Bapaku, jika itu hanya untuk memuaskan diriku sendiri. Aku juga takut tidak bisa menjawab ketika mereka tanya mengapa aku tidak mau berangkat. Apa yang harus kujawab? Haruskah kujawab bahwa aku tidak damai sejahtera di tempat itu? Egois sekali. Atau, bukankah esensi persekutuan adalah bertemu Tuhan, jika aku tidak bisa menemukandi tempat itu, untuk apa? Atau, maaf, aku banyak kerjaan (ah, bukan aku ini)? Atau apa? Pertanyaan sepele ini menggugah imanku. Ada hal-hal subtil yang terkadang tertutup oleh gemerlapnya pelayanan fisik yang kita lakukan. Konsekuensinya, untuk menjawab pertanyaan sepele ini saja sulit minta ampun. Jadi, bagaimana? Apakah aku harus berangkat?

KUIS PSS: Check It Out!!!

Posted in COMMUNICATION LECTURES on April 2, 2009 by bayu primasanti

Dear Mahasiswa PSS (A, B, C class) ,

Bagi mahasiswa yang belum sempat  mengikuti kuis di kelas PSS, berikut ini tugas yang harus dilakukan secara individu dan dikumpulkan paling lambat hari Selasa, 7 April 2009 jam 12.00 di ruang C 106 (di luar jam ini, tugas tidak diterima):

Membuat ringkasan materi yang sudah diberikan selama perkuliahan secara urut dan runut

(gunakan bahasa kalian sendiri, gunakan berbagai referensi — minimal 3 buku, tidak boleh menggunakan referensi modul perkuliahan, tulis sumber referensinya).

inga’-inga’ cheating means nol

(kalau ada pekerjaan yang sama, nilainya nol)

oke, tetap semangat dan bersukacita selalu ya….jangan lupa berdoa saat melakukan pekerjaan apa pun juga.

I love u all….God bless…..

Primasanti

Dream Catcher (Petualangan Sehari, Mencari Jawaban Kegelisahan tentang ‘Impian’)

Posted in DIARY on April 1, 2009 by bayu primasanti

Dreamer….
Saya termasuk dalam golongan ini: pemimpi ulung. Sejak kecil saya memiliki impian ‘muluk’ untuk melayani melalui pendidikan di Indonesia. Saya ingat benar bagaimana teman-teman saya mengekspresikan kegemasan mereka atas tingkah laku saya yang seolah-olah sudah menjadi pejuang pendidikan betulan. Teman-teman SMP saya sampai memanggil saya professor; teman SMA memanggil saya mentri pendidikan; di bangku kuliah, panggilan Bu Dosen sudah akrab di telinga saya. Saya jadi malu sendiri karena sesungguhnya saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai pertanggungjawaban status impian ‘pejuang pendidikan’ itu. Saya hanya punya impian dan sikap hidup seolah-olah saya telah menyandang status itu. Saya belajar, bekerja, berpikir besar seolah-olah saya memikirkan dengan sungguh-sungguh nasib pendidikan bangsa ini. Oh, sungguh, ini semua hanya sebatas impian. Saya benar-benar sadar bahwa saya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Saya tidak pintar, bukan penyusun strategi, politik juga tidak menguasai, science apalagi, wawasan kurang, bahasa inggris pas pasan. Yang bisa saya lakukan hanyalah bermimpi dan terus bermimpi.
Saya terharu dengan cara Tuhan mencelikkan mata saya mengenai impian ini. Sekarang saya sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Dulu, saya pikir, saya hanya hidup dalam impian itu; sekarang impian itu sudah berjumpa dengan secercah terang. Saya masih tetap sama, tidak sepintar rekan-rekan dosen yang lain, bukan penyusun strategi yang baik, pengetahuan politik dan science sangat minim, wawasan dan bahasa inggris masih juga tidak sebanding dengan dosen-dosen lainnya. Tetapi saya tahu, ada yang berbeda dalam hidup saya, yakni pembaharuan pola pikir saya atas impian itu. Yang tadinya saya pikir impian tinggal impian, sekarang saya tahu, selama kita hidup di dalam Tuhan, impian itu akan menjadi nyata sesuai waktunya. Karena ketika kita bergaul dengan Tuhan, kehendakNyalah yang menjadi kehendak kita, bukan kehendak kita sendiri lagi. (pokok anggur yang benar). Jika yang menjadi impian kita adalah kehendak Tuhan, badai topan pun tidak akan bisa menggagalkannya. (Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya). Ini semua terjadi hanya karena satu faktor: Kasih Karunia. Lalu saya bertanya lagi, “Tuhan, lalu apa yang harus saya lakukan. Tidak ada ilmu yang berharga yang bisa saya berikan kepada mereka yang saya impikan ini? Masa’kan saya harus mengajar “statistik sosial dan audit komunikasi? Dua mata kuliah yang sangat bertolak belakang dengan saya sebagai orang kualitatif. Saya tidak mampu melakukannya seorang diri, Tuhan! Tolonglah!”. Dan inilah jawabannya, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”.
Pagi ini, saya bersaat teduh. Saya membaca Yohanes 18: 1-11. Surat ini menceritakan kisah Yesus setelah berdoa untuk murid-muridnya sesaat sebelum kematiannya. Dia berdoa di Taman Gesemani dan seolah-olah mengatakan kepada Bapa bahwa Dia tidak sanggup rasanya menahan beban yang begitu berat. Namun, penyerahannya yang sempurna kepada Bapa itulah yang menjadi kunci sukses pekerjaan terakhirNya di bumi. Jesus did it. Yesus benar-benar melakukan kehendak Bapa itu dengan kepasrahan dan ketaatan yang sempurna walaupun sesungguhnya Dia tidak sanggup. Bacaan ini sungguh merema dalam hati saya. Roh kudus benar-benar berbicara kepada saya melalui renungan ini.
Lalu saya pergi untuk mengikuti kebaktian di gereja perintisan Shine. Kami memuji, berdoa, dan mendengarkan firman. Menakjubkan, ayat firman di kebaktian itu sama persis dengan ayat renungan pagi saya Yohanes 18: 1-38. Masih berbicara tentang ketaatan Kristus dalam melakukan kehendak BapaNya. Baik, Tuhan, saya mengerti bahwa saya harus taat. Pertanyaan saya adalah dengan cara apa Tuhan, saya harus melakukan pekerjaanMu itu? Saya tidak sanggup dengan keterbatasan ilmu saya; saya tidak tahu bagaimana cara menceritakan Engkau kepada anak-anak ini. Tolonglah saya, Tuhan.
Setelah makan siang, saya melanjutkan kegiatan minggu ini dengan mengikuti kelas PA (Pemahaman Alkitab) di Shine juga. Bahan hari ini adalah kitab Roma. Surprised! Yang dibahas hari ini adalah kisah Paulus sebagai hamba injil. Paulus merasa sangat berhutang kepada injil. Dahulu, Paulus menjadi penghujat injil, penganiaya jemaat, tetapi oleh kasih karunia yang cuma-cuma, Paulus diselamatkan oleh Kristus dan hidupnya berubah. Paulus menganggap ini sebagai hutang yang dengan cara apa pun tidak bisa dia bayarkan, apa lagi jika ia hanya berdiam diri. Karenanya, dengan segenap kesetiaannya, Paulus bertekad mewujudkan impiannya untuk mengabarkan injil sampai ke Roma (walaupun akhirnya dengan cara yang menyedihkan secara fisik, karena Paulus pergi ke Roma sebagai tawanan). Paulus mengejar impian mengabarkan injil ini sampai kematiannya. (Paulus rindu menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya). Baik, baik, jadi, seperti Paulus, demikian juga saya harus setia dengan panggilan hamba injil ini, baik buruk keadaannya. Oke, hamba injil, lalu bagaimana cara saya mengabarkan injil itu? Di mana Roma saya? Saya mengungkapkan kepada gembala saya mengenai kegelisahan yang saya alami sepanjang minggu ini, sesungguhnya hal spesifik apa yang harus saya ambil menjadi bagian pekerjaan saya dalam pekabaran injil saat ini? (merasa terlalu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan. Ah…)
Keluar dari ruangan PA, saya bertemu dengan sebuah buku di rak Shine yang mengusik mata saya karena nama penulisnya sangat akrab sekali dengan kehidupan saya (walaupun beliau tidak mengenal saya. Hehehe). Perkenalkan: Bapak Ayub Bansole. Beliau adalah hamba Tuhan yang dikaruniai karunia pengelihatan dan beberapa tahun silam pernah menubuatkan sesuatu atas hidup saya (sebanyak 2 kali dengan nubuatan yang sama). Saya mengambil buku itu lalu pulang. Di dalam angkot, saya buka buku itu, judulnya Dream Catcher. Di dalam buku itu, Pak Ayub bercerita bagaimana pentingnya tulisan bagi seorang pemimpi. Ia memberikan banyak contoh: Jules Verne, seorang penulis yang biasa saja, yang kemudian mengispirasi orang-orang sehingga terciptalah satelit buatan pertama dunia (Sputnik 1); lalu John Kennedy yang memiliki impian gila mengenai misi Apollo; sampai kisah klasik yang paling terkenal Thomas Alfa Edison dengan lampu pijarnya. Wow….semua itu berangkat dengan satu pijakan: Impian yang dituliskan dan dilakukan. Dengan memahami pentingnya tulisan ini, Pak Ayub ingin menyampaikan bahwa kita juga memiliki pekerjaan pekabaran injil melalui tulisan. Pak Ayub mengingatkan kita untuk menulis perjalanan kesaksian iman kita dalam tulisan atau buku supaya orang lain bisa membacanya. Tulisan itu bisa menjangkau lebih banyak orang, melampaui masa ke masa. Contoh kongkritnya ya, Alkitab itu. Bayangkan jika dahulu Paulus tidak menuliskan firman Tuhan, kita tidak akan memiliki kitab-kitab dalam perjanjian baru yang begitu menguatkan iman. Oke, jadi intinya adalah Prima kamu harus mulai menulis kembali. Sepanjang jalan saya merenungkan tentang pekerjaan menulis ini. Rasanya tidak cukup ketrampilan saya untuk bekerja dalam bidang tulis menulis. Menulis buku saja sampai sekarang tidak jadi-jadi. Pernah sih menulis artikel dalam jurnal, namun belum ada kabarnya juga. Tapi, seperti Kristus yang taat, saya juga mau taat. (Hiks….tolonglah saya, Tuhan. Benar-benar tidak sanggup melakukan misi ini tanpa pertolonganMu).
Saya sampai rumah, makan, kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, sudah ada seseorang yang datang dan meminta foto saya. Saya kaget, untuk apa, ada apa ini? Rekan ini mengatakan, tulisan saya dipilih untuk masuk ke sebuah jurnal rohani. (Hmmmmm……gleg…gleg…gleg…..bagi saya ini anugerah yang sangat indah). Saya berjalan agak pontang panting karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tampaknya, Dia benar-benar ingin meyakinkan saya akan panggilan itu. Satu-satunya kalimat yang mengisi kepala saya selama menit-menit mengejutkan itu adalah, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”. Oh, Tuhan, itu sangat berlebih buatku. Kau terlalu baik pada orang hina yang hanya bisa bermimpi ini. Tuhan, orang ini akan bangkit dengan pertolonganMu dan mengejar impian yang Engkau karuniakan dengan setia dan taat. (sungguh tidak sanggup tanpa kasih karuniaMu, Tuhan).

20.23-290309
My devotion place

The One Idea Dreamer Wanna Be

Menembus Batas Psikologis

Posted in Uncategorized on March 20, 2009 by bayu primasanti