Di Sudut Kantin

Posted in DIARY on December 10, 2009 by bayu primasanti

“Buat apa, buat apa kami isi kulkas ini lagi. Toh bulan depan kami sudah di PHK”. Demikian Bapak itu menjawab saat saya menanyakan kenapa isi kulkas di kantinnya kosong. “Kasih itu sudah mulai sirna, Bu. Kami akan di-PHK per Bulan Desember ini”. Inilah sebuah celoteh sederhana yang saya dengar kemarin, di sebuah sudut kantin. “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Bagaimana juga dengan nasib orang-orang yang punya keluarga dan dua anak”. Nadanya ‘melas’ menuturkan isi hatinya. “Sudah 15 tahun saya bekerja di sini. Bahkan, Ibu X sudah 24 tahun. Tapi tahun ini adalah tahun terakhir kami”. Inilah kisah singkat yang kami dengar mengenai Pemutusan Hubungan Kerja para pegawai kopreasi di salah satu perguruan tinggi.

Saya dan seorang teman saya tidak berani berkomentar apa-apa. Tapi kami harus mendengar cerita itu lebih lengkap lagi. Teman saya duduk, saya masih berdiri, ikut berempati. “Lalu, apa rencana Bapak?”, akhirnya saya berani menanyakan sesuatu, berharap bisa sedikit melegakan hatinya. “Yah, saya tidak tahu. Lihat pesangonnya lah. Kalau lumayan, kami bisa buka usaha sendiri atau ‘patungan’ dengan teman-teman”. Baiklah, tampaknya sudah cukup lama kami berpura-pura tidak sakit hati. Buru-buru saya mengajak teman saya pergi. Dan mulailah saya mengomel, “Kenapa bisa begini sih? Apa yang salah dengan mereka? Apakah hanya karena menginginkan sebuah citra yang lebih ‘menjual’ akhirnya konter-konter sederhana itu harus digusur dan pegawainya dirumahkan? huh….”. Teman saya mengangguk setuju sembari memberikan opsi lain, “Mungkin ada kebijakan khusus yang tujuannya lebih baik. Kita tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu”. Dalam hati saya bertanya-tanya, baik untuk siapa dan apa arti kebaikan itu sendiri. Ah, semua tampak tidak jelas waktu itu.

Saya bertirakat untuk melupakan kejadian itu. Sial. Malam harinya saya justru tidak bisa tidur memikirkannya. Saya tidak pusing tentang nasib Bapak itu, itu bukan bagian saya; tetapi saya gelisah mengenai apa yang bisa saya perbuat. Sial. Saya tidak bisa tidur sampai pagi. Wajar memelas Bapak itu dan rekan di sebelahnya. Ah…Sial. Setelah pagi pun saya masih dihantui.

Saya harus bertanya kepada seseorang mengenai hal ini. Saya tidak boleh membiarkan pikiran saya mengelana sendiri dan menemukan jawabannya sendiri yang biasanya selalu keliru.

Siang ini, saya bertemu seseorang yang sudah lama saya pikirkan cukup kapabel untuk memberikan konfirmasi tentang kegelisahan saya. Buru-buru saya menemui beliau. “Pak, saya dengar dari para pegawai kopreasi bahwa mereka akan di PHK. Benarkah, Pak?”, saya tidak mau basa basi. “Ya, begitulah. Yayasan memiliki kebijakan tersendiri untuk merumahkan mereka”. “Tapi kenapa, Pak? Adilkah bagi mereka?”, saya tidak sabaran. “Ini termasuk kebijakan rasionalisasi, jadi wajah di lakukan sebuah Yayasan”. “Dengan merumahkan pegawainya sendiri, apakah layak disebut rasionalisasi, Pak?”. “Bukan, Nak. Mereka bukan pegawai Yayasan, mereka pegawai koperasi yang merupakan lembaga yang terpisah dari Yayasan”. “Maksudnya?”, sama sekali tidak sabar. “Begini, Yayasan dengan koperasi itu dua lembaga yang berbeda yang dua-duanya berelasi dengan perguruan tinggi. Karena sebuah perguruan tinggi tidak boleh menjalankan bisnis, maka dipeganglah usaha itu oleh koperasi”. “Hmmmm”, saya sedikit mendapat pencerahan. “Lalu, Pak?”. “Akhirnya, mereka harus kembali ke lembaga mereka, lembaga koperasi; dan yayasan akan menentukan perangkatnya sendiri untuk menjalankan rodanya”.

Dari keterangan singkat ini, saya menarik kesimpulan, sesungguhnya secara struktur hal ini wajar terjadi. Jika Anda berbisnis, Anda tentu akan mencari partner.  Anda tentu memiliki otonomi dan otoritas dalam menentukan siapa yang akan menjadi partner Anda. Jika–dengan alasan apa pun–partner Anda tidak dapat mengimbangi atau memenuhi tujuan hidup Anda, wajar jika Anda memutuskan untuk menyudahi relasi Anda. Itu sangat wajar dan tidak salah.

Sampai di sini, saya bisa menerima argumen yang saya coba rajut sendiri ini. Tetapi, ada beberapa hal yang tersisa yang masih menggelisahkan saya. Saya tidak tahu mana yang benar;  saya pun terus memikirkan apa yang terjadi pada kehidupan orang-orang yang akan kehilangan pekerjaan ini; dan saya tidak tahu, apa yang bisa saya lakukan bagi mereka. Tetapi Bapak itu telah mengajarkan saya satu hal. “Kami sudah berdoa, Bu. Semua pegawai pria dan wanita di tempat ini sudah sama-sama berdoa, Bu”, itu kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulut pegawai koperasi itu. Kita mungkin tidak bisa melakukan apa saja tetapi kita bisa berdoa. Saya jadi membayangkan, nanti, kalau saya lewat sudut kantin itu, saya pasti selalu teringat kata-kata Bapak itu, “Kami sudah berdoa”.

Wanted: A Dangerous Leader for The Crisis

Posted in GOOD NEWS on December 10, 2009 by bayu primasanti

Oleh: K.B. Primasanti, SIP[1]


[1] Penulis adalah staf pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra, Surabaya. Penulis juga seorang peneliti yunior di bidang komunikasi dan media.

Menjadi keasyikan tersendiri bagi penulis ketika membaca slogan, moto, atau visi para caleg (calon legislatif) pada papan-papan kampanye akhir-akhir ini. Tulisan yang mereka sebut sebagai slogan, moto, visi itu berbunyi senada: “Dukung saya, saya papanya artis x”, “Pilih Saya, Asli Daerah Lho”, “Saya Mantan Lurah X, Pilih Saya”, “Aja klalen kiye wonge dhewek, pilih wonge dhewe caleg X asli putra daerah Y”. Jika pembaca merasa geli dengan kalimat-kalimat tersebut, silakan membaca yang berikut: “Setelah Pengangkatan PNS, Kini Giliran Nasib Pegawai Tidak Tetap Diperhatikan. Pilih Saya!” atau “Pilih saya. Memimpin dengan Memerhatikan Nasib Kaum Rendah dan Buruh[1]. Isu “putra daerah dan kesejahteraan” kali ini diangkat untuk menggambarkan personal maupun party branding yang bertujuan untuk mengubah persepsi masayarakat. Namun, alih-alih mengakomodasi fungsi “merubah persepsi”, iklan-iklan kampanye saat ini sebagian besar justru terkesan absurd. Visi dari calon legislatif tersebut sulit terbaca khalayak melalui iklan yang mereka tampilkan. Fakta menunjukkan, sebagian besar porsi iklan-iklan ini justru digunakan untuk menjual wajah dan latar belakang para caleg sembari meyakinkan khalayak akan antusiasme mereka untuk menduduki posisi “terhormat” yang tengah ditawarkan.

Merenungkan fenomena di atas, penulis menjadi bertanya-tanya tentang apa yang mempengaruhi orang-orang ini begitu berhasrat untuk menjadi calon legislatif atau calon pemimpin. Padahal, bukan rahasia lagi bahwa dunia sedang dijangkiti krisis multidimensi: krisis ekonomi, pangan, iklim dan lingkungan, bahkan krisis kepemimpinan. Ironi ini memunculkan berbagai spekulasi dalam perbincangan di ruang-ruang publik mengenai motivasi para calon legislatif untuk memimpin di tengah krisis ini. Pra observasi yang dilakukan penulis menunjukkan beberapa pendapat mengenai hal ini. Pandangan pertama menganggap bahwa motivasi para calon pemimpin ini adalah sekadar untuk investasi kehidupan mereka di masa mendatang, baik dalam hal materi maupun kekuasaan[2]. Para calon wakil rakyat atau pemimpin ini hanya ingin memanfaatkan situasi krisis untuk memenuhi pundi-pundi mereka sendiri. Golongan lain melontarkan pendapat ideal, seperti, bahwa para calon-calon ini muncul karena visi mereka yang kuat untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Sementara itu beberapa orang lainnya mengatakan bahwa ada atau tidaknya calon pemimpin tidak akan merubah keadaan, jadi golongan ini mengganggap pencalonan diri para caleg hanya untuk menggenapi peluang yang ada.

Jika ditelusuri lebih mendalam, mungkin masih banyak pendapat lainnya, namun beberapa contoh di atas cukuplah untuk menggambarkan kegamangan dan skeptisisme masyarakat atas konsep seorang pemimpin. Fakta menunjukkan, sebagian besar para pemimpin melakukan penyelewengan sehingga membawa masyarakat lebih jauh masuk ke dalam penderitaan. Dunia telah menyaksikan bagaimana para pemimpin seperti Hitler, Sadam Husein, bahkan Soeharto memimpin dengan karismanya selama bertahun-tahun sembari menghasilkan keterpurukan yang lebih parah. Tidak dapat dipungkiri, fakta ini menjadikan masyarakat sebagai saksi hidup atas beroperasinya pemimpin-pemimpin palsu. Wajar jika kemudian masyarakat merasa skeptis atas munculnya seorang pemimpin yang menawarkan pembaharuan. Pada titik inilah terkonstruksi krisis yang paling berbahaya, yakni saat para pemimpimpin tidak menyadari apa makna kepemimpinan dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap sosok pemimpin mereka. Jika demikian, pemimpin yang seperti apa yang dibutuhkan di tengah krisis ini.

Dicari: Seorang Pemimpin yang Berbahaya

Skeptisisme masyarakat terhadap sosok pemimpin ideal di tengah krisis salah satunya karena masyarakat menyaksikan kepalsuan para pemimpin mereka. Sendjaya, dalam bukunya Kepemimpinan Kristen Konsep, Karakter, Kompetensi (2004: 16) menyebut bahwa mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam bidang pemerintahan, bisnis, universitas, bahkan gereja, acapkali mengecewakan. Para kepala institusi tersebut, menurut Sendjaya, tidak tepat disebut sebagai pemimpin karena sebagian besar dari mereka tidak melakukan fungsi kepemimpinan dengan semestinya. Kepemimpinan saat ini cenderung dimaknai sebagai posisi bukan fungsi.

Krisis multidimensi yang terjadi terkadang justru memicu para pemimpin untuk meninggalkan fungsinya yang sesungguhnya untuk memimpin rakyat keluar dari krisis. Alih-alih melaksanakan fungsinya, mereka justru bertransformasi menjadi pribadi tendensius untuk kepentingan mereka sendiri. Dari beberapa literatur, penulis merangkum beberapa golongan pemimpin yang berbahaya bagi rakyatnya. Pertama, golongan investor. Mereka ini terlena dengan visi berinvestasi untuk masa depan mereka sendiri. Dengan demikian, ketika sudah tidak menjabat sebagai pemimpin, mereka tetap bisa hidup dalam zona nyaman yang telah dibangun. Sebagai contoh, sebut saja seorang raja yang demi status quo nya rela membunuh bayi-bayi yang berusia kurang dari 2 tahun hanya karena terancam oleh lahirnya Mesias. Perkenalkan, nama raja ini adalah Herodes[3]. Ada juga golongan pemimpin ‘suam-suam kuku’. Artinya, pemimpin ini memang melaksanakan tugas sebagai pemimpin dengan sewajarnya namun tidak memiliki visi dan misi yang kuat sehingga rakyat yang dipimpinnya tidak jua beranjak dari krisis. Penulis Amsal mencatat, orang yang tidak memiliki arah yang jelas dalam hidupnya masuk dalam kategori orang liar (Amsal 29: 18). Ada juga tipe pemimpin populis. Golongan ini berpandangan bahwa posisi pemimpin adalah posisi yang populer. Dengan menduduki posisi ini, popularitas mereka meningkat berbanding lurus dengan terpenuhinya kepentingan-kepentingan pribadi lainnya. Golongan lain adalah pemimpin otoriter yang seringkali disebut sebagai pemimpin yang menakutkan. Niccolo Machiavelli dalam karyanya yang terkenal The Prince, menulis bahwa manusia senantiasa memiliki ambisi terhadap kuasa, dan setelah memiliki kuasa cenderung menyalahgunakan kuasa tersebut untuk kepentingan diri sendiri (Sendjaya, 2004: 89). Mudah saja menyebutkan contoh dari golongan ini, perkenalkan: Adolf Hitler dan Soeharto. Beberapa golongan pemimpin ini bisa disebut sebagai pemimpin yang berbahaya. Namun, perkenankanlah penulis mengajukan suatu rahasia, yakni bahwa untuk mengatasi krisis, diperlukan pemimpin yang lebih berbahaya dari mereka ini.

Pemimpin yang paling berbahaya adalah pemimpin yang dapat membahayakan posisi golongan pemimpin—yang telah disebutkan—di atas. Pemimpin ini akan menggelisahkan orang-orang yang berada dalam posisi nyaman; dan menyamankan orang-orang yang gelisah. Hanya ada satu golongan pemimpin yang dapat dikategorikan pemimpin yang paling berbahaya, yakni pemimpin yang datang dan dibentuk oleh Allah sendiri (Yeremia 1: 5). George Barna (1997: 27) mencetak dengan huruf besar bahwa seorang pemimpin Kristen yaitu seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk memimpin dengan karakter seperti Kristus. Jika pemimpin ini datang dari Allah sendiri, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat membantah karyanya dan mengkudeta kedudukannya. Pemimpin inilah yang disebut sebagai pemimpin yang paling berbahaya. Pemimpin golongan inilah yang dapat melakukan pekerjaan kepemimpinan sejati di tengah krisis.

Dangerous Leader for The Crisis: One Idea Man

Ketika penulis mencoba mengetikkan kata “karakter pemimpin Kristen” dalam search engine google ada 136.000 artikel yang muncul. Sebagian artikel menyebutkan lebih dari 10 karakter untuk menjadi pemimpin kristen. Namun, penulis terkesima dengan salah satu kalimat yang dikutip oleh Sendjaya dalam tulisannya (2004: 39), Nothing is more dangerous than an idea, when a man has only one idea. Sederhananya, orang yang berbahaya adalah orang yang hidup dengan satu ide saja. Menurut Sendjaya, orang yang hidup dengan satu ide bukan hanya mengejar ide tersebut sampai ia menguasainya melainkan ide tersebut menguasai dia, lalu menular bagai epidemi, dan menguasai orang lain (Sendjaya, 2004: 40). Meminjam istilah Sandjaya, salah satu karakter penting yang harus dimiliki pemimpin Kristen yang ‘berbahaya’ untuk melayani di tengah krisis adalah one idea man atau “manusia dengan satu visi”.

George Barna mendefinisikan visi sebagai gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang lebih baik, yang disampaikan Tuhan kepada para pemimpin yang adalah juga hamba-hamba pilihanNya, yang didasari pemahaman yang tepat mengenai Tuhan, diri sendiri, dan situasi (Barna, 1997: 55). Pesan terakhir Yesus sebelum naik ke surge dalam Matius 28: 19-20 secara jelas memberikan penjelasan mengenai visi orang Kristen secara umum: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Namun demikian, untuk menjadi pemimpin yang visioner, tidak bisa hanya berhenti pada perenungan atas ayat ini. Pemimpin yang visioner harus menghidupi visinya secara kongkrit. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yakni memahami konsep, memahami arti visi, memiliki visi, menjadikan visi itu sebagai kenyataan, menyebarluaskan visi, membuat orang tertarik pada visi ini, mewujudkan visi dalam tindakan, kemudian memurnikan visi, dan memiliki visi itu dalam hidupnya (Barna, 1997: 64-72).

Bagaimana dengan premis bahwa pemimpin “satu visi” atau one idea man saja yang dapat melayani di tengah krisis? Pengalaman penulis berinteraksi dengan seorang gembala komunitas anak-anak jalanan memberikan gambaran mengenai hal ini. Bapak gembala ini adalah mahasiswa sastra inggris yang sangat berprestasi dari suatu universitas negeri paling terkemuka di Indonesia dan Master of Theology dari suatu universitas swasta. Suatu saat, beliau mendapat panggilan untuk melayani di tengah krisis bangsa Indonesia ini. Kegamangan sempat mampir dalam proses hidup beliau. Prestasinya terlampau mengagumkan untuk hanya menjadi seorang pemimpin rumah singgah bagi anak-anak jalanan seperti yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya. Beliau mulai bergumul untuk melepaskan jas almamaternya yang bergengsi itu dan mulai berkarya bersama Yesus. Setelah melakukan karya ini selama beberapa tahun, tanpa menginginkan posisi lainnya, beliau menyaksikan beberapa anak jalanan bertobat dan mengalami hidup baru di tengah-tengah krisis yang kian parah. Bahkan, beberapa dari anak-anak jalanan ini sudah mulai terjun dalam pelayanan untuk melayani sesamanya. Sampai saat ini pelayanan beliau sudah meluas sampai ke Jogjakarta dan tengah merintis di Surabaya. Bapak gembala ini setia dengan satu ide, satu visi yang datang dari Tuhan. Walaupun kedudukan dan prestasinya gilang gemilang, beliau tidak pernah ‘melirik’ posisi lain yang di mata dunia lebih agung. Beliau benar-benar menghidupi visi dari Tuhan melalui karya nyata di dunia. Tidak ada visi lain dalam hidupnya selain membimbing anak-anak jalanan ini mengenal Kristus dan mengalami pembaharuan pikiran mereka.

Ilustrasi yang senada dapat disaksikan dari perjuangan Romo JB Mangunwijaya dalam mengatasi krisis pendidikan di Indonesia. Romo Mangun, demikian beliau akrab disapa, merupakan seorang arsitektur lulusan Belanda. Kecerdasannya luar biasa. Karya-karyanya mengagumkan banyak orang. Namun, Romo Mangun menanggalkan jubahnya dan turun ke bantaran-bantaran sungai untuk mengajar anak-anak girli atau pinggir kali dalam menemukan tujuan hidup mereka. Visi memperbaiki pendidikan di Indonesia  diusung Romo Mangunwijaya hingga akhir hidupnya. Beliau tidak memiliki tujuan atau ide lain dalam hidupnya walaupun ada peluang yang sangat potensial untuk menjadi tokoh politik, sastrawan ternama, atau arsitek terkenal. Beliau hanya ingin melakukan satu visi yang Tuhan telah taruh di dalam hidupnya.

Kisah serupa juga mewarnai kehidupan tokoh sepanjang masa, seperti: Bunda Theresa, Martin Luther King Jr., sampai Paulus. Nasihat-nasihat Paulus bagi jemaat-jemaat yang dipimpinnya sungguh menggambarkan bahwa kehidupan Paulus hanya untuk menggenapi satu visi. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi (I Korintus 9: 24-25). Tujuan Paulus berlari hanya untuk meraih satu hal, yakni suatu mahkota yang abadi, tidak ada yang lain.

Pemimpin-pemimpin dengan satu visi ini membayar harga dengan sangat mahal untuk menghidupi visi itu dalam diri mereka. Mereka tidak jarang ditolak oleh dunia, dikucilkan, dicaci maki, bahkan tidak dianggap karena idenya atau visinya yang bertolak belakang dengan yang visi dunia. Contoh yang paling menarik dalam catatan sejarah adalah kisah Tuhan Yesus sendiri. Sejak sebelum Dia dilahirkan hingga masa kematiannya tiba, Dia telah dianggap sebagai manusia yang berbahaya bagi stabilitas negara. Kelahirannya menggusik ketentraman Herodes yang selama itu memerintah dengan sangat kejam. Kehidupan dan karyanya pada waktu dewasa pun mengganggu kenyamanan para pemimpin agama pada masa itu dengan ide tunggalnya mengenai Kerajaan Allah (Sendjaya, 2004: 41). Alhasil, Yesus ditolak karena dianggap sangat berbahaya. Bahkan, mereka (para pemimpin agama itu) mengantarkan Yesus sampai di kayu salib. Kehidupan Yesus menjadi contoh yang nyata bahwa pemimpin yang berbahaya adalah pemimpin dengan satu ide tunggal yang datang dari Allah dan berani membayar mahal atas tercapainya visi itu.

Melayani di Tengah Krisis: Memimpin dengan Kain dan Basi

Secara pribadi, penulis sangat tertarik dengan tema jurnal kali ini: Mencari Pemimpin 2009: Melayani di Tengah Krisis. Konsep kepemimpinan Kristen memang tidak pernah lepas dari konsep pelayanan. Melalui Markus 10: 45, Yesus secara jelas menerangkan bahwa kedatanganNya ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Sendjaya menggambarkan keadaan ini dengan mengatakan bahwa esesnsi pemimpin Kristen bukan pada pangkat, gelar, dan posisi, melainkan pada “kain dan basi” (2004: 29). Artinya, alih-alih sebagai seseorang populer, pemimpin Kristen sejati justru akan menganggalkan jubahnya, mengikat kain lenan di pinggangnya, lalu membasuh kaki orang lain seperti yang dilakukan Yesus.

Memimpin dengan Kain dan Basi. Inilah konsep kepemimpinan yang paling tidak populer namun sangat efektif. Kepemimpinan seperti inilah yang dikehendaki dan dilakukan oleh Yesus. Yesus benar-benar memberikan contoh yang riil di masa hidupnya. Bahkan, Dia berkali-kali menasihati para murid atas apa makna pemimpin yang sesungguhnya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kami, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Matius 20: 26-28). Yesus memilih untuk melakukan pelayanannya secara pragmatis dengan kain dan basi, bukan hanya dengan sintesis pemikiran, ide-ide brilian, atau kata-kata manis. Jangan salah sangka dahulu, penulis tidak mengatakan bahwa berkotbah itu tidak perlu atau kurang baik, namun dari contoh ini, Yesus ingin menekankan bahwa setiap pemimpin harus memiliki sikap praktis, bukan inklusif. Dia harus mencari dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi visi hidupnya dan menghidupi visi itu melalui karya nyata di dunia ini.

Bunda Theresa dan JB Mangunwijaya, seperti disebutkan di atas, merupakan dua di antara sedikit pemimpin Kristen yang meneladani hidup Kristus. Bunda Theresa rela melepaskan jubah biarawatinya dan turun ke rumah-rumah warga miskin di India. Bunda Theresa bersentuhan dengan mereka untuk membantu masyarakat secara praktis keluar dari krisis mereka. Untuk menggambarkan tujuan hidupnya, Bunda Theresa menulis, “By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus”[4]. JB Mangunwijaya pun dikenal sebagai pejuang pendidikan yang handal. Beliau tidak hanya menulis banyak buku dan kritik tentang pendidikan tetapi secara praktis turun ke bantaran-bantaran kali dan turut mengajar anak-anak yang membutuhkan. Saat ini telah berdiri sekolah JB Mangunwijaya bernama SD Eksperimental Mangunan yang terletak di Kalasan, Yogyakarta. Sekolah ini, sampai sekarang, telah menampung ratusan siswa yang tidak mampu membayar sekolah. Bahkan, ada beberapa siswa berprestasi dari sekolah ini yang adalah anak jalanan. Begitu pula dengan kolega yang dipimpin Mangunwijaya. Kini, ratusan orang telah menyatakan diri bergabung dengan visi Mangunwijaya dan berjuang untuk pendidikan di Indonesia melalui sekolah-sekolah eksperimental. Masih banyak kiranya contoh lain mengenai pemimpin yang diharapkan untuk melayani di tengah krisis. Beberapa tokoh-tokoh ini mewakili premis bahwa pemimpin yang dirindukan saat ini adalah pemimpin dengan satu ide dan menghidupi ide itu dalam karya nyata dalam melayani di dunia.

Tulisan ini pun diawali dan diproses berdasarkan satu ide bahwa untuk memimpin bangsa atau dunia ini keluar dari krisis, diperlukan pemimpin yang berbahaya. Pertama, Posisi dan jabatan pemimpin ini tidak dapat disanggah atau digulingkan oleh pihak manapun karena dia berasal dari Allah sendiri. Selanjutnya, pemimpin ini hidup hanya dengan satu ide atau satu visi yakni untuk menggenapi panggilan Tuhan yang telah ditaruh di dalam hidupnya. Dia akan hidup dengan visi itu dan visi itu akan menghidupi dia sehingga menjalar dengan pengaruh yang sangat luas kepada orang lain. Visi inilah yang membuat orang tidak akan memikirkan hal lain namun mencurahkan tenaga, waktu, hati dan konsentrasi untuk membuat visi itu hidup dalam dunia nyata.

Di atas semuanya, pemimpin yang tengah dibutuhkan dunia yang mengalami krisis ini adalah pemimpin yang melayani, yang memikul salib, dan mau mati di atas kayu itu agar dunia dipulihkan dari krisis. Seperti tertulis dalam Yohanes 12: 24, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan matim ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Walaupun pemimpin-pemimpin ini menderita dalam hidupnya atau ditolak oleh dunia, mereka akan membangkitkan lebih banyak pemimpin-pemimpin dengan visi serupa. Di tengah krisis ini, dunia sedang membutuhkan pemimpin yang berbahaya, yang akan menggelisahkan manusia di zona nyamannya; namun menyamankan orang banyak yang tengah gelisah.

Referensi:

Sendjaya. Kepemimpinan Kristen (Konsep, Karakter, Kompetensi). Yogyakarta: Kairos Books. 2004

Meyer, Joyce. Pemimpin yang Sedang Dibentuk: Hal-hal Penting untuk Menjadi Pemimpin yang Berkenan di Hati Allah. (Lukas Eklopas Weni, penerjemah). USA: Access Sales International, Inc. 2000. Jakarta: Immanuel. 2004.

Barna, George (Ed.). Leaders on Leadership (Pandangan Para Pemimpin tentang Kepemimpinan). Malang: Penerbit Gandum Mas. 2002

Wofford, Jerry C. Kepemimpinan Kristen yang Mengubahkan. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 1999

Mangunwijaya, JB. 2004. Pendidikan Pemerdekaan. Jogjakarta: DED dan Misereor/ KZE

Terpanggil Bagi Kaum Miskin: Kisah Singkat Pelayanan Bunda Theresa oleh R.S.Kurnia http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

Artikel Masih Caleg sudah Terlibat Kriminalitas oleh Prija Djatmika dalam http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=56319

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29518&Itemid=62


[1] Berdasarkan observasi penulis pada papan-papan iklan di sepanjang jalan Yogyakarta, Solo, Surabaya. Observasi juga ditambah dengan melakukan surfing data melalui internet. http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29518&Itemid=62

[2] Ada yang mengatakan bahwa dengan menjadi wakil rakyat, modal yang digunakan untuk berkampanye akan kembali berkali-kali lipat. Salah satu pendapat ini ditulis dalam artikel Masih Caleg sudah Terlibat Kriminalitas oleh Prija Djatmika dalam http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=56319

[3] Cerita Raja Herodes diambil dari Matius  2: 3-12

[4] Diambil dari artikel berjudul Terpanggil Bagi Kaum Miskin: Kisah Singkat Pelayanan Bunda Theresa oleh R.S.Kurnia dalam http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

The Designer

Posted in GOOD NEWS on November 19, 2009 by bayu primasanti

Saya sedikit tertegun menemukan fakta bahwa 8 dari sepuluh remaja putri yang saya temui menggunakan produk kecantikan yang sama. Ketika saya menanyakan kepada mereka, apa tujuan menggunakan produk tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka sudah terlanjur cocok. “Kalau yang lain sih gak cocok kak”, “Kalau aku takut mukaku rusak, yang ini kan sudah terjamin”, “Agak mahal sih, tapi terpercaya”, dan jawaban-jawaban yang serupa. Saya semakin harus bertekur merenungkan fenomena ini ketika mbak yang membantu bersih-bersih di kos saya menanyakan, “Mbak Prima, di mana ya saya bisa beli ‘teeeeet’ (nama produk), saya sudah nabung neh supaya bisa memakai ‘teeeet’ seperti mbak-mbak yang lain. Jadi kan bisa tambah putih dan mulus”. Bahkan, di suatu pertemuan saya dengan beberapa adik remaja putri, terjadilah suatu perdebatan mengenai produk kecantikan apa yang paling baik, dan malaikat juga tau, produk ‘teeeet’ kan jadi juaranya. Fakta yang cukup membuat saya bergidik; dari mana mereka memiliki opini yang seragam tentang suatu produk, siapa yang membentuk hasrat konsumsi yang bergitu rupa? Ketika saya mencoba melakukan survei sederhana kepada orang-orang ini, serempak mereka menjawab: IKLAN di televisi.

IKLAN disinyalir menjadi tersangka utama kasus konsumerisme di media ini. Iklan merupakan salah satu produk media yang fungsinya secara sederhana adalah mempersuasi khalayak secara kognisi, afeksi, sampai behavior. Bagaimana terbentuknya efek ini tergantung pada tujuan iklan tersebut. Ada iklan yang bertujuan mulia, seperti mengkampanyekan kesehatan, program pemerinta, dan kegiatan yang berkait dengan hajat hidup orang banyak. Namun, iklan juga punya potensi besar untuk menjadi boom destruktif yang merusak tatanan moral, etika, dan keuangan dengan konstruksi hiper nya. Sebagai contoh, iklan yang sarat akan hasrat konsumtif, seperti iklan kecantikan atau  iklan diskon belanja yang salah satunya diiklankan oleh seorang artis komedi wanita sebagai endosernya. Di belahan bumi lain, ditemukan beberapa iklan yang lebih tepat disebut film porno pendek. Iklan berjenis ini menampilkan sensuality and sexuality taste. Semua imej yang ditampilkan oleh iklan diupayakan untuk bisa menjadi tongkat ajaib yang akan menyihir khalayak sehingga mau menuruti apa saja kata iklan itu. Imej-imej inilah yang disebut dengan citra iklan.

Citra iklan yang berada di perusahaan iklan komersial tentu mengalami nasib baik. Dia akan didandani begitu rupa, begitu cantiknya sehingga memiliki daya pikat yang kuat bagi khalayaknya. Salah satu contoh nyata serperti yang telah saya uraikan di atas. Endoser yang mulus, putih, ganteng, dll dibayar mahal untuk memainkan satu episode kehidupan yang konon adalah realitas. Setelah realitas konstruktif ini ditayangkan, berikut bumbu-bumbu pemikat lainnya, jadilah orang berbondong-bondong mencari produk X, berapa pun harganya, bagaimana pun caranya. Dengan demikian, secara sengaja, iklan mengkonstruksi hasrat belanja khalayaknya.

Saya mengkategorikan beberapa efek negatif dari iklan komersial. Yang pertama,  menimbulkan kebutuhan semu atau yang sering disebut pseudo need. Sesungguhnya jika tidak ada iklan X yang menyatakan bahwa wanita memerlukan kaplet vitamin untuk membuatnya awet muda, khalayak tidak akan begitu merasa membutuhkan produk X tersebut. Ke dua, sebagai konsekuensi logis dari akibat yang pertama adalah terkonstruksinya hasrat belanja massal. Iklan yang wara wiri di seluruh stasiun televise dan dilihat oleh jutaan orang di belahan daerah mana pun membuat sebagian dari khalayaknya serempak kompak berbelanja produk X karena alasan yang sama. Mereka bisa merasa tidak berharga jika tidak membeli produk X sama dengan temannya. Yang ke tiga, dan cukup tiga ini saja saya paparkan (karena masih banyak yang lain), adalah membuat khalayaknya berpikir endoser yang dipakai adalah model yang terbaik untuk ditiru. Khalayak mulai mengidentifikasi dirinya dengan penampilan endoser. Jika cantik itu direpresentasikan dengan wanita berambut hitam panjang kurus, maka khalayak yang tidak berkriteria sama akan berupaya sekuat tenaga untuk menjadi sama dengan endoser. Ke tiga konsekuensi ini berjalinkelindan membentuk masyarakat baru yand bernama masyarakat konsumtif media. Masyarakat yang hidupnya dikontrol oleh otoritas media. Iklan hanyalah salah satu contoh. Masih banyak produk media lainnya yang berperan dalam terbentuknya masyarakat konsumtif ini. Jam-jam penting ibu-ibu menemani belajar anaknya harus dikorbankan demi dewa sinetron yang bisa menyuntikkan haru dalam hati; atau ayah yang tidak bisa mengantar anaknya karena melihat tayangan sepak bola sampai pagi; atau mahasiswa yang lupa tugas belajarnya karena film, dll. Jika demikian hebat media mengontrol setiap sendi kehidupan khalayak, apakah masih bisa khalayak disebut orang-orang yang merdeka?

Sesungguhnya siapa yang bertanggung jawab atas tidak merdekanya orang-orang masa kini ini? Saya juga tidak tahu dan tidak berhak menyalahkan. Yang bisa kita lakukan sebagai konseptor atau designer dari media adalah mengerti sedalam-dalamnya mengenai kebenaran yang harus kita beritakan melalui media, iklan sekalipun. Maksudnya? Kita bisa belajar dari bangsa Israel dan beberapa tokoh di alkitab mengenai hal ini.

Konsumerisme di media ternyata sudah terjadi sejak jaman Israel. Di suatu kisah di kitab Hakim-Hakim (17: 1-13) diceritakan betapa orang-orang pada waktu itu bertindak menurut kebenarannya masing-masing. Mikha, salah satu tokoh di dalamnya dibuatkan patung oleh ibunya untuk tinggal di dalam kuil mereka. Patung ini menjadi media yang dianggap dapat menjaganya dan membuatnya hidup dan terjamin seperti manusia lainnya. Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (17: 6).             Merenungkan cerita ini, ternyata yang berperan penting dalam penciptaan media adalah seorang creator atau designer. Lalu, sebagai seorang designer, apa yang harus diperbuat di tengah-tengah kontrol media yang sangat kuat ini?

Bukankan Allah juga adalah seorang designer? Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Kita bisa belajar menjadi designer yang baik dari proses penciptaan. Yang pertama adalah visi. Allah memiliki visi dalam menciptakan langit, bumi, tumbuhan, hewan, dan manusia. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef 2:10). Sebagai seorang designer di media pun, kita juga harus punya visi. Tidak apa-apa jika tujuan iklan itu memang komersial, tetapi konsep realitas yang ditampilkan baiklah merfleksikan kebenaran firman Tuhan. Yang ke dua adalah misi. Jadilah terang (Kej 1: 3). Setelah kita memiliki konsep yang sudah kita renungkan, selanjutnya adalah melakukan dengan cara yang benar. Yang ke tiga adalah honesty atau kejujuran. Memang terlampau sulit untuk jujur ketika menjual sesuatu, tetapi kita bisa meminimalisir itu dengan meminta Tuhan menyelidiki motivasi kita setiap waktu. Selanjutnya, menjadi designer yang benar jangan terpatok oleh kualitas yang terbatas. Dalam proses penciptaan pun, Allah selalu melengkapi dan melengkapi apa yang kurang untuk mencapai suatu kualitas ciptaan yang lengkap. Selanjutnya, sebagai designer pun kita memiliki tugas untuk melakukan literasi kepada khalayak. Yang paling penting dari semua ini adalah menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. Saat Dia akan memakai kita sebagai designer- designerNya, Dia akan mencurahkan hikmat yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia bagi karya kita seperti yang tertulis di Yakobus 3: 13. Selamat menggoncang masyarakat konsumtif media dengan menjadi designer yang membebaskan.

Semalam: Aku dan Air Mata Sahabatku

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Semalam, aku dan sahabatku berjumpa. Pertemuan yang jarang namun selalu mengesankan. Aku selalu menantikan pertemuan ini. Namun, seperti biasa, waktunya tak banyak. Dua sampai tiga jam kesempatan kami menumpahkan perasaan masing-masing. Semalam, kami tak banyak bicara. Dia meraih tanganku seolah tidak ingin aku pergi. Lalu, dia membuka mulutnya. Dia bercerita. Agak janggal karena biasanya aku yang cerewet. Aku bersyukur untuk kesempatan itu, aku menyediakan telinga dan hati terbaikku untuk mendengar kisahnya. Dia mulai bicara. Kira-kira seperti ini, “Aku tidak tahan melihat tatapan Ibuku. Aku tidak tega”. Ini soal dia tidak bisa memenuhi permintaan ibunya. “Aku segera ingin pergi jauh dari rumah”, dia mengatakannya dengan hancur hati. Aku bisa merasakannya, pedih sekali. “Aku memang sedang tidak punya. Apa lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya tidak tahan dengan responnya”, aku tahu dia sedang sangat sendu. Lalu, air mata silih berganti mengalir dari pelupuknya. Betapa sakit hatinya, aku bisa merasakan walaupun tak sebaik dan senyata dia, pedih sekali. Pria ini, yang tidak pernah meneteskan air mata, dapat juga hancur hatinya. Aku ingin menahan air mata itu dengan apa pun yang aku miliki. Tapi aku tidak memiliki apa pun. Air mata itu terus menetes. Aku mengusapnya pelan dengan jemari yang bergetar. Aku hanya bisa berkata, “It’s oke, semua akan baik-baik saja”. Ingin rasanya menggantikan posisimu saat itu, biar aku yang merasakan luka itu. Tapi tidak bisa, siapa aku. Dalam hati aku berkata, Dia sanggup menghapus air matamu, sahabat. Hanya Dia yang sanggup.

Aku dan Lautan

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Rasanya seperti berada di tepian lautan, di antara keinginan untuk mengarunginya atau lari darinya. Pilihan yang tidak mudah. Jika mengarunginya, besar konsekuensi yang harus kutanggung. Perahunya, energiku, belum bahaya mengancam di tengah lautan. Sebaliknya jika aku lari, aku aman, nyaman, kembali ke duniaku, namun harus merelakan perpisahan dengan lautan kesayanganku. Apakah aku sendiri yang harus memutuskan hal ini? Akan sanggupkah lautan memberi jawab bagi kegelisahanku ini? Paling tidak, dia memberikan opsi berdasarkan argumentasinya. Aku yakin dia bisa, walaupun dia lambat, walaupun dia penuh pertimbangan, tapi aku bisa membaca kedalaman hatinya lewat debur dan gulungan ombaknya yang tiap detik menyentuh ujung jari kakiku. Aku harus memutuskan segera, Lautanku, waktuku tidak banyak.

A.L.O.N.E

Posted in DIARY on October 30, 2009 by bayu primasanti

This morning, my office room was crowded by people. Some students and some lecturers had their own discussion. They laughed, they talked, they yelled. Unfortunately, i could not hear anything. I raised my head up of my cubical, perfectly seeing their lips, body, head, hands moved. But i could not hear them all.  I felt, i am alone.

So, what is the meaning of alone? i asked myself. Is ‘alone’ can describe what i feel?

SALIBKU, BELUM TIBA

Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasanti

Tidak sanggup memikirkan salib itu
Rasanya semakin dekat
Semakin kuat aromanya
Tapi belum jelas rupanya
Siluetnya pun belum teraba
Jauh tapi terasa sangat dekat
Kapan salib itu datang
Aku menanti dengan kegelisahan
Aku bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan
Inikah, itukah, biar segera kupanggul
Tentu dengan ketidakmampuanku
Tapi bukan ini, bukan itu pula
Semakin kuat kuberlari menyongsongnya
Semakin aku merasa bodoh karena kerap keliru mengira
Salib itu, salib yang kunanti dengan cucuran air mata
Aku tidak sanggup memikirkannya
Kecuali oleh kasih karuniaMu
Untuk itulah, kumohon

Aku Punya Pena untuk Menulis

Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasanti

Mengapa aku tidak bisa berbicara dengan bebas mengenai Engkau di tempat yang baru ini?
Belum ada kesempatan? Kurasa tidak
Atau memang sudah terlalu banyak yang mengerti?
Tapi aku tidak akan diam begitu saja
Aku tidak akan diam
Aku punya pena untuk menulis
Maka, sama seperti aku tidak akan berhenti berbicara tentang Engkau di tempat lama, aku tidak akan berhenti menulis tentang Engkau di sini
Hanya saja, bebaskan aku dari kultur ini
Mereka memenjara kebebasanku bercanda denganMu, Inspirasiku, pusat hidupku…..

Pertanyaan Sepele

Posted in DIARY on April 15, 2009 by bayu primasanti

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri. Baru kali ini aku merasa dipasung dalam pergumulan yang pelik. Pergumulan yang tidak hanya melibatkan imanku sebagai pengikut Kristus tetapi juga logikaku. Yang membuat geli yakni bahwa pertanyaannya terlalu sepele untuk membuat seorang – yang menurut rekan-rekanku termasuk golongan militan – sepertiku bimbang. Pertanyaan sepele ini menghantuiku selama berminggu-minggu dan tidak membiarkanku bebas melakukan pekerjaan pelayananku. Hanya sebuah pertanyaan sepele yang berbunyi apakah aku harus berangkat ke acara Pemahaman Alkitab kelompok ‘itu’ atau tidak. Anda pasti tertawa.
Aku seorang dosen muda fakultas ilmu komunikasi di salah satu universitas Kristen swasta di Indonesia. Tapi di luar status itu, aku hanya percaya bahwa diriku ini segambar dan serupa dengan Allah. Tapi justru kepercayaan inilah yang menggiringku untuk – acapkali – menuntut semua pekerjaan dan pemikiran harus perfect. Semua tindakan harus didasari ungkapan syukur kepada Tuhan dan dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Tapi kedangkalan kepekaanku akan suara Tuhan justru membuatku terjebak pada stigma itu. Semua pekerjaan yang baik, semua kegiatan yang benar dan mulia tidak boleh ditolak, harus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.
Prinsip ini menyala-nyala dalam diriku sejak aku terima Kristus. Aku berupaya dan berdoa untuk tidak pernah mengatakan tidak pada pekerjaan pelayanan. Saat orang datang kepadaku dan mengajak untuk melakukan pelayanan ini dan itu aku dengan sigap bersedia. Jangan salah sangka kalau aku ini seperti Marta yang sibuk dengan pelayanan yang tampak sehingga melupakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Bukan. Aku memahami betul hati Maria, hati yang selalu ingin duduk diam di hadapan Tuhan. Jika aku merasa bimbang, segera aku datang pada Tuhan dan mohon jawabannya. Aku tahu, aku paham itu semua. Tapi sekarang aku bingung dengan satu pertanyaan ini: haruskah aku datang?
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengajakku pergi ke suatu kelompok Pemahaman Alkitab. Dari awal aku sudah tidak sreg. Hanya aku tidak tahu apa alasannya. Tidak adanya alasan yang tepat ini menjadi argumen kuat bagi diriku untuk memposisikan persoalan itu sebagai pergumulan berat dengan konsekuensi menyita energy dan waktu. Aku bergumul hebat hari itu, akankah aku berangkat? untuk apa? apakah ini akan menyenangkan hati Yesus? Ah, aku dibuatnya gelisah. Aku bertanya-tanya kepada Tuhan, tetapi telingaku tak cukup tajam untuk mendengarkan suaraNya. Entahlah, aku gelisah sekali. Sampai akhirnya, aku meminta tanda seperti yang dilakukan Gideon. Jika benar aku harus berangkat, biarlah hatiku damai sejahtera ketika berada di tempat itu.
Semakin mendekati waktunya semakin aku menjadi gelisah. Tidak seperti ketika akan berangkat ke persekutuan-persekutuan lainnya, walaupun aku belum tahu apa yang akan terjadi di tempat itu, tapi aku sungguh enggan untuk datang. Kegelisahan memuncak beberapa jam sebelum acara itu. Aku memutuskan untuk tidak usah pulang dan berganti baju. Aku menunggu dan merenung agar dapat langsung berangkat ke tempat itu.
Aku sampai di sana dengan dua orang temanku yang lain. (oh, bahkan aku tidak sanggup menuliskan hal ini). Aku mendengarkan pembukaan dari pemimpinnya. Dia mengajak kami menyanyi sambil membuka handphone, kutak kutik sana sini. Lalu menyuruh kami share mengenai perubahan hidup kami ketika sudah menerima Kristus. Dari jawaban-jawaban mereka, aku tahu, mereka sudah lama mengenal Kristus dan telah banyak belajar dibandingkan aku. Tapi aku tetap merasa tidak nyaman. Lalu, kami mendengarkan kotbah. Salah seorang membaca pertanyaan di buku panduan dan pemimpinnya mengupasnya. Setelah itu menyanyi lagi dan selesai. Tampaknya sebentar, tapi dengan haha hihi –nya tak terasa sudah 3 jam kami berkumpul. Hatiku benar-benar bertarung ketika berada di dalam kelompok itu. Aku mencoba mengalahkan perasaan memberontak dan tidak damai sejahtera yang muncul dan meledak-ledak dalam diriku. Aku merasa tempatku bukan di sini, tapi aku takut menolak jika itu melukai Bapaku, jika itu hanya untuk memuaskan diriku sendiri. Aku juga takut tidak bisa menjawab ketika mereka tanya mengapa aku tidak mau berangkat. Apa yang harus kujawab? Haruskah kujawab bahwa aku tidak damai sejahtera di tempat itu? Egois sekali. Atau, bukankah esensi persekutuan adalah bertemu Tuhan, jika aku tidak bisa menemukandi tempat itu, untuk apa? Atau, maaf, aku banyak kerjaan (ah, bukan aku ini)? Atau apa? Pertanyaan sepele ini menggugah imanku. Ada hal-hal subtil yang terkadang tertutup oleh gemerlapnya pelayanan fisik yang kita lakukan. Konsekuensinya, untuk menjawab pertanyaan sepele ini saja sulit minta ampun. Jadi, bagaimana? Apakah aku harus berangkat?

KUIS PSS: Check It Out!!!

Posted in COMMUNICATION LECTURES on April 2, 2009 by bayu primasanti

Dear Mahasiswa PSS (A, B, C class) ,

Bagi mahasiswa yang belum sempat  mengikuti kuis di kelas PSS, berikut ini tugas yang harus dilakukan secara individu dan dikumpulkan paling lambat hari Selasa, 7 April 2009 jam 12.00 di ruang C 106 (di luar jam ini, tugas tidak diterima):

Membuat ringkasan materi yang sudah diberikan selama perkuliahan secara urut dan runut

(gunakan bahasa kalian sendiri, gunakan berbagai referensi — minimal 3 buku, tidak boleh menggunakan referensi modul perkuliahan, tulis sumber referensinya).

inga’-inga’ cheating means nol

(kalau ada pekerjaan yang sama, nilainya nol)

oke, tetap semangat dan bersukacita selalu ya….jangan lupa berdoa saat melakukan pekerjaan apa pun juga.

I love u all….God bless…..

Primasanti