Archive for September, 2008

Tentang Impian

Posted in DIARY on September 24, 2008 by bayu primasanti

Mimpi. Aku suka bermimpi dan aku ingin engkau juga suka akan hal itu. Kata orang, jika kita bisa bermimpi, otomatis kita juga bisa mendapatkannya. Hal ini selalu memotivasiku dan memaksaku untuk bermimpi, dan aku pun memaksamu untuk melakukannya. Seperti biasa, engkau setuju dan kita mulai bermimpi. Aku adalah orang yang punya banyak mimpi dan semuanya terkesan pasti, jelas, seolah-olah aku sudah menuliskan semuanya pada kertas sesuai urutan waktu; sementara engkau dengan rendah hati selalu bilang, “aku belum bisa bermimpi dengan jelas. Itu dan itu saja cukup”. Tapi aku bangga kau bisa melakukan hal sederhana itu; sedangkan aku terlalu muluk dengan mimpi-mimpi itu.

* * *

Kadang kita menciptakan dialog sebagai intermezzo dalam impian kita. Aku menanyakan padamu, “apa saja yang kau impikan? Sampai di mana mimpimu itu?”, dan mulai bercerita tentang ini itu mimpiku sendiri. Lalu kau menjawabnya dengan ketulusanmu, “Aku hanya berharap ini…dan berharap kita bisa bersatu selamanya”. Pada titik ini aku kesulitan membedakan antara marahku dengan bangga dan rasa terima kasihku, semuanya bersetubuh, menyatu. Lalu kita lanjutkan lagi impian kita.

* * *

Kau hafal sekali kalau aku tengah lelah dalam bermimpi, aku akan menjadi sepertim mayat hidup, bangkai yang frustrasi. Lalu kau hanya melembar sepucuk senyum, dia bilang jangan khawatir, kita hadapi bersama semua ini. Aku juga hafal – walaupun sedikit ragu – kapan kau mulai letih. Jika saat itu tiba, kau akan diam seribu bahasa, berjalan tertunduk, tanpa keluhan atau rintihan. Tapi aku akan sangat marah dengan hal itu. Aku bertanya dan bertanya seolah esok dunia akan berhenti berputar. Aku menggigil mencari jawaban kediamanmu itu. Tapi, jika saat ini datang, aku ingin engkau tahu, aku sangat menyayangimu dan ingin kau tahu, aku ada di dekatmu ketika hatimu hancur.

Setelah waktu mengobati luka-luka kita, kita kembali bermimpi…

* * *

Aku sangat ingin menjadi wanita yang punya pengaruh. Aku suka mengajar dan berhadap bisa membagikan prinsip-prinsip hidupku kepada orang lain. Aku ingin terlalu sederhana untuk dikatakan kaya; tapi terlalu kaya untuk membagikan apa yang aku punya. Aku ingin setiap detil dalam hidupku bisa dinikmati banyak orang. Aku berkata-kata, mengajar, berkreasi, berjalan, menari, bernyanyi untuk semuanya…dan mereka bahagia…dan anak-anak kecil yang tak berorang tua itu tertawa, anak-anak yang tak pernah dididik itu senang dengan cerita-ceritaku, orang-orang pandai dan berjabatan itu memalingkan muka dari harta dan kuasa, orang-orang miskin itu menjadi kaya akan kasih, dan para tawanan itu bisa merasakan kebebasan abadi. Dan pada waktu itu semua terjadi, aku ingin mereka tidak melihatku.

Kau, aku tahu kau punya impian. Kau ingin suatu saat hidupmu bisa menjadi seperti pipa. Dari dirimulah mengalir kasih yang tanpa batas, terus dialirkan kepada jiwa-jiwa yang kehausan, jiwa-jiwa yang tertolak oleh dunia, jiwa-jiwa yang pernah menjadi identitas kita dahulu. Kau ingin pergi jauh untuk belajar dan mengabdi, dan pada waktu yang tepat, kau akan kembali untuk membagikan semua yang telah kau dapat. Kau akan memberikan hidupmu untuk keluargamu dan para pemakai itu, ya orang-orang yang tertawan, seperti kita dulu. Lalu dengan gayamu yang rendah hati, kau akan mendemonstrasikan kasih yang pernah dan selalu kau dapat secara berkelimpahan itu untuk orang lain. Kau akan menjadi ayah bagi mereka yang tak berayah ibu, kau akan menjadi kakak bagi mereka yang sedang frustrasi, kau akan menjadi terang dimana kegelapan memekat di sekelilingmu. Di antara orang-orang berbaju coklat itu, kau berdiri dan mengatakan tidak – seorang diri – untuk perbuatan perjabat yang tidak pantas. Kau akan dimaki dan dicibir, tapi kau akan setia dengan itu semua. Kau tetap berjalan ke depan dengan hati yang teguh dan percaya bahwa engkau diciptakan berbeda dari mereka. Dan kau harus mendemonstrasikan kasih yang tanpa batas itu untuk dunia yang sangat terbatas ini. Dan ketika itu terjadi, kau tidak ingin seorang pun melihatmu.

* * *

Aku tahu, aku tahu kita akan disalib ketika mengejar dan melakukan impian itu. Salibnya tinggi, besar. Aku takut, engkau juga. Tapi kita tetap akan bermimpi dan mewujudkannya. Karena itulah tujuan kita berdua diciptakan. Ketika engkau pandang mataku, dan aku memandang kedalaman hatimu, dan kita berdua memandang kepadaNya, kita menjadi kuat. Itulah kekuatan kita di tengah kelemahan yang nyata.

Itulah kekuatan untuk menggapai impian. Dan impian itu bukan lagi menjadi impianmu, atau impianku, tapi impian kita.

Kita akan melakukannya…bersama Dia sehingga ketika semuanya terjadi, tidak seorang pun melihat kita, tetapi melihat Dia.

Tentang Perbedaan

Posted in DIARY on September 24, 2008 by bayu primasanti

Tentang perbedaan ini memang tak dapat disangkal oleh siapa pun juga. Bahwa, kau dan aku berbeda itu adalah fakta. Tapi dengarlah…apa kata cinta.

Dua orang yang berbeda terlalu takut untuk berjumpa

Sampai getaran dalam hati itu berdetak mencari pasangannya

Di kehidupan bawah mentari

Keduanya menari di antara angin-angin

Meliuk-liuk di sela awan-awan

Keduanya tetap dua dan menari dengan gaya yang berbeda

Lalu muncul suara flute dan harmonika, rebana, juga kecapi

Mereka tetap menari dan memberi ruang satu sama lain

Ketika satu hati memandang kepada yang lain

Semua ketakutan akan penghianatan, kegagalan, dan dusta seketika sirna

Ketika yang lain melakukan hal yang sama

Mereka menjadi lebih kuat dari pada sebelumnya

Walaupun demikian, mereka tetap dua hati yang berbeda

Yang menari-nari di antara flute dan harmonika

Yang tidak pernah berharap dan berusaha untuk menjadi sama, serupa

Tapi menjadi satu, setubuh, dan sejiwa….

Tentang Kamu

Posted in DIARY on September 24, 2008 by bayu primasanti

Pria, kamu adalah matahariku. Aku sering sekali membayangkan, bagaimana jika kamu tak ada, pastilah aku berkabung untuk diriku sendiri. Itulah kamu. Tentang kamu adalah tentang makhluk yang membawa perubahan dalam hidupku, pengantar terang, dan karena sayapku hanya satu, hanya kaulah yang bisa membawaku terbang dengan satu lagi sayapmu.

* * *

Kamu yang pertama kukenal

Adalah kamu yang memikirkan tentang dirimu dan teman-temanmu, kesukaanmu, segala sesuatu yang membuatmu nyaman dan bahagia. Sudah.

Sekarang aku tidak bisa melihatmu, cahaya apa yang menutupi dirimu itu? Tolong jelaskan padaku dari mana datangnya? Cahaya itu begitu kuat, sehingga aku tak berani menyentuhmu. Sinarnya menyelubungimu dan menutupi muka lamamu…membuatnya hilang dari hadapanku dan menggantikannya dengan wajah, tubuh, dan jiwa yang baru. Pria yang baru…Pria sejati itu.

Kedewasaan itu tampak nyata. Swear! Aku belum pernah mendapatinya dalam diri pria manapun, entah itu kakek, ayah, adek, teman, atau actor favoritku. Aku mendapatinya dalam dirimu (hanya memang mirip seseorang, kurasa kita berdua mengenal siapa itu). Caramu berbicara dan teduh tatapan matamu membuat siapa pun yang memandangmu menjadi tenang. Caramu menghadapi masalah itu juga yang membuatku belajar keras untuk menirumu. Kesabaran dan ketangguhanmu menantang badai membuatmu menjadi pria terhebat yang pernah kukenal. Ketenanganmu membuatku lupa akan ambisi-ambisiku. Memang suatu saat aku masih menemui dirimu tampak lemah. Tapi justru aku semakin tertantang untuk membuktikan bahwa kamu tidak akan kalah dengan dengan dagingmu. Aku suka caramu bertahan dalam kelemahan itu.

Kamu sudah berubah…kamu benar-benar menjadi matahari, yang tanpamu, tanpa kesabaran, kehangatan, ketenangan, kelembutan, dan kasihmu, aku tidak dapat melakukan “tugas”ku.

Walaupun ada seribu pria di sana….bagiku, kamu adalah yang sejati…kamu mirip denganNya.

Tentang Aku

Posted in DIARY on September 24, 2008 by bayu primasanti

Aku gadis biasa saja, setidaknya menurutku. Secara fisik aku tidak cantik, tubuhku bulat pendek, ehmm…orang menyebutku bantat; pipiku bulat menutup seluruh tulang-tulangnya; bibir tebal (sudah agak berubah sejak kecelakaan itu); gigiku tidak beraturan, bahkan jumlah dan strukturnya tak sempurna (setelah kejadian yang sama); hidungku apalagi, kalau sudah bicara tentang bagian ini, orang-orang mengusik kePDanku, si hidung lebar besar atau terkenal dengan Mbendol; tidak berpinggang, paha besar, rambut hitam bergelombang (syukur, bekas-bekas keriting masa kecil sudah tidak kentara lagi); pokoknya tidak terlalu menarik, cukupan lah kalau untuk dilihat dengan mata telanjang; lagi pula aku juga tidak pintar berhias diri (bahkan cenderung tidak memperhatikan diriku). Tapi taukah Anda, aku sangat bangga dengan diriku ini. Aku akan dengan senang hati menolak jika suatu saat ada orang yang akan membiayai operasi plastic untuk pipi, hidung, bibir, dll yang mereka anggap tidak sempurna, kurang pas. Anda tahu, bagiku, tubuh ini paling sempurna…aku sangat bangga memilikinya.

Secara mental aku tergolong orang yang bermental baja. Hmmm…yah, mungkin ini pengaruh didikan ibu dan ayahku yang juga dididik orang tuanya ala militer. Aku ingat semasa kecil, kalau aku tidak mau naik ke atas penggung untuk menyanyi atau melakukan hal-hal yang waktu itu aku benci! – Swear! Aku benar-benar benci melakukannya – aku akan mendapat dampratan dan cubitan mematikan di pahaku. Kuceritakan pada Anda, aku juga pernah ikut lomba synopsis dan karena tulisanku jelek, aku diminta ibu mengulang sebanyak 100 kali lembar folio…sampai tulisannya bagus (setelah air mata semalam suntuk itu, paginya aku mendapat juara I). Hah….Hfiuuuhhh…baru-baru ini aku sadar, semua itu membentuk mentalku sekuat baja. Prinsipku adalah tidak akan menyerah pada apa pun juga sebelum mencoba semua usaha yang aku bisa. Begitulah, aku menjadi gadis dengan segudang ambisi. Keras kepala. Nekat. Berani berbuat bodoh dan menanggung segala resikonya, termasuk dengan peluh, tangis, dan darah. Risk Taker. Suka mempelajari hal baru; dan kalau sudah tertarik terhadap sesuatu aku akan kejar sampai ke ujung bumi. Aku memegang teguh prinsipku dan tidak bersedia menukarkannya dengan apa pun juga.

Dulu semua karakter itu membawaku pada sebuah tujuan: keberhasilan cita-citaku, kemegahan diri. Tapi setelah aku mengenal Bapaku dan hidup bersamanya, tujuanku digantikan dengan tujuanNya. Dia membuat tujuan hidupku berubah dan mengubah karakter itu menjadi seperti karakterNya. Begitulah aku saat ini dan sampai selama lamanya adalah milikNya…dan hubungan ini tidak akan kutukar dengan apa pun.

Nah, soal perasaan, aku memang termasuk orang yang sangat perasa. Tunggu, biar kuilustrasikan untuk Anda. Ehm…seumpama Anda sedang menggunakan sabun, Anda tiup sabun itu, pasti akan menggelembung, jika Anda menjaganya, dia tetap pada bentuknya, namun jika Anda sentuh agak keras, dia akan pecah. Atau selembar tisu, jika Anda menggosokkannya terlalu keras, Anda akan mendapati tisu itu robek. Aku agak alergi dengan bentakan, kata-kata kasar dan kotor (misalnya: wedus, asu, bajingan, bajigur, sialan, kampret, dan teman-temannya), kalau mendengar orang mengatakannya, seperti merasakan pisau yang ditarik tipis diatas telapak tanganku, perih…

Yah, inilah aku, aku yang bodoh tapi selalu ingin belajar. Aku yang adalah milikNya seutuhnya.

Randezvous

Posted in DIARY on September 24, 2008 by bayu primasanti

Malamnya aku tidak bermimpi, tidak mendapat wahyu, wangsit, atau tanda-tanda bahwa hari itu aku akan bersua dengan sesuatu yang menjadi anak tangga untukku naik lebih tinggi; makhluk yang dikemudian hari meruntuhkan seluruh prinsip keakuan yang selama ini aku bangun; dan mensenyawakan dua ambisi menjadi satu zat, zat penting yang membuat hatiku hidup.

Aku tak menyangka sama sekali bahwa hari itu adalah hari istimewa Tapi hari itu adalah harinya…Hari aku bertemu dengannya. Dia.

Setelah pagi berlalu, aku baru tahu bahwa namanya adalah pria. Cukup. Kupikir cukup saja sampai disitu. Toh aku adalah anak disiplin yang tidak akan membiarkan perasaan-perasaan aneh, yang selayaknya dirasakan oleh remaja sesusiaku, mampir di kehidupanku. Stop! Tidak akan kubiarkan!

* * *

Tapi aku tak bisa tidur.

Tapi aku jadi malas melakukan kewajibanku: makan, tidur, mandi.

Justru aku jadi rajin melakukan hobi baruku: bertanya kepada teman-temanku tentang siapa dia, apa yang dia lakukan, di mana dia menuntut ilmu, bagaimana orangnya.

Dan aku juga jadi rajin bersepeda lewat depan rumahnya.

* * *

Dua belas tahun usiaku saat itu. Dua belas tahun aku hidup, tinggal, dan mengenal desa itu. Dua belas tahun aku melewati jalan itu. Tapi hari itu, aku merasakan perasaan yang aneh ketika melewati jalan yang sama. Aku ingin memiliki dia, pria yang tinggal di jalan itu, aku sungguh ingin mengenalnya, menyentuhnya kelak, dan tinggal di hatinya.

Tiba-tiba aku mati dari kenyataan, dan kutemukan diriku tengah berada di suatu kerajaan, aku menjadi raja atas diriku sendiri, dan aku menjadi murka atas dia.

Lalu aku terbangun…Bodoh! Pikiran bodoh! Aku menyilangkan tanganku di dada, bertirakat agar semua percakapan di bawah kenyataan itu hanya kusimpan untukku sendiri saja. Jangan sampai seorangpun tahu, mencibirku….dan menolak perasaan ini. Oh, aku pikir aku akan mati kalau hal itu tiba!

* * *

Apakah angin menguping percakapan dengan hatiku hari itu?

Ya, pasti!…kurang ajar kau angin! Aku menunduhmu angin, engkau yang telah membongkar semua rasaku ini padanya. Mengaku saja kau, angin!

* * *

Dan dia tahu….

Dan dia setuju denganku…

Refleksi (Kita dan Orang Tua)

Posted in GOOD NEWS on September 24, 2008 by bayu primasanti

(Dibawakan di Malam Refleksi Retreat SMA 2 Klaten 230908)

Teman-teman, tema retreat kali ini “Dia Ubah Hidupku Jadi Baru”. Kalau merenungkan sekilas, tampaknya untuk berubah itu kok enak sekali ya.sepertinya, Dia yang aktif bertindak mengubahkan kita jadi manusia baru. Hehehe…tapi mmang demikian adanya teman-teman. KasihNya kasih yang memberi tanpa meminta balas. Namun, semua itu tidak akan indah jika kita tidak merespon anugerahNya.

Sejauh ini sudah ada yang berubah? Coba kita check cirri-ciri manusia yang sudah diubahkan ini di Efesus 4: 17-32.

Bagaimana? Sudah ada yang berubah? Atau ada yang merasa tidak bisa berubah?

Oke, di sini adakah mereka yang tukang bunuh? Bandar narkoba? Yang hidupnya jauh dari Tuhan? Orang-orang dari jalanan yang tidak mengenal keluarga dan tidak kenal Tuhan?

Kalau ada, percayalah, Paulus lebih keras dari itu semua, tapi dia merespon pertolongan Tuhan dan sembuh.

Saudaraku, ada seorang pekerja yang setiap pagi mengeluh karena sarapannya hanya dengan roti isi. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan keluhan, “Ah, hari ini roti isi lagi deh”, hari berikutnya, “Yah, roti isi lagi”, dan seterusnya. Karena jengkel mendengar keluhan temannya setiap hari, seorang teman datang dan berkata kepadanya, “Hei, kamu setiap hari mengeluh, mengapa tidak mencoba bilang sama ibumu untuk tidak membawakan roti isi, membawakan makanan yang lain gitu kek. Memang siapa yang membuat sarapan itu?”. Lalu si karyawan ini menjawab, “Aku sendiri yang membuatnya setiap hari, karena aku sudah tak memiliki ibu”.

Teman-teman, saat ini kita diberi kesempatan untuk merenungkan salah satu aspek yang harus benar-benar kita perhatikan ketika kita mau berubah atau menuju perubahan itu: pemulihan hubungan kita dengan keluarga, khususnya orang tua kita. Karena mereka juga merupakan komunitas yang sangat penting untuk mendukung perubahan dan pertumbuhan kita.

Lalu Siapa Orang Tua di Mata Tuhan

Saya sampai tercengang ketika merenungkan hal ini. Ternyata, Tuhan memberikan penghargaan yang luar biasa kepada orang tua. Ingat, kepada orang tua, semua orang tua, bukan hanya orang tua yang baik. Coba kita buka di Keluaran 20: 12 “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu, kepadamu”. Lalu kita buka lagi di Efesus 6: 1 “hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalah Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. Lalu kita lihat di Kolose 3: 20 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalams egala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.

Dalam ketiga ayat ini, kita temukan bahwa Tuhan ingin sekali kita menghormati dan menaati orang tua kita—karena Dia ingin demikian, dan dipandangnya hal itu indah—bahkan Dia memberikan janji lanjut umur kita dan berbahagia. Dan hal ini dituliskanNya serupa dalam perjanjian lama dan baru dituliskanNya. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah sangat konsiten dengan perintah untuk taat dan hormat kepada orang tua kita.

Allah sendiri, dalam rupa Yesus, juga menunjukkan ketaaatan itu. Kita bisa ingat-ingat, betapa Yesus sangat menghormati BapaNya sampai Dia taat untuk mati di kayu salib (ingat kan bahwa sebenarnya Dia ingin, kalau bisa, derita itu lalu daripadaNya). Karena apa ketaatan itu Dia lakukan? Karena Yesus tahu siapa BapaNya. Bapa yang, apapun yang diputuskanNya, itu karena Dia mengasihi anakNya.

Ilustrasi

Di sebuah kerajaan besar, ada seorang raja yang sangat bijaksana, dia memiliki seorang putra mahkota satu-satunya dan sangat disayanginya. Suatu kali, kerajaan bingung, karena setiap kali harta simpanan kerajaan di gudang hilang oleh orang yang tidak diketahui. Hal itu terjadi hingga berkali-kali sampai akhirnya raja memutuskan untuk mencari siapa sebenarnya yang melakukan pencurian itu dan memutuskan bahwa pencuri nakal itu akan digantung di depan rakyat. Seluruh pasukan dikerahkan secara gerilya. Dan berhasil! Mereka berhasil menangkap seorang pencuri itu. Sebelum dibawa ke pengadilan kerajaan, para prajurit meminta raja untuk melihat siapa pencuri itu. Dan raja pun sangat terkejut karena pencuri itu ternyata putra mahkotanya sendiri.

Bagaimana pun raja tidak dapat mengingkari sabdaNya. Dia sangat mengasihi putraNya, tapi dia juga harus adil dalam putusanya. Akhirnya dia berkata kepada rakyat, bahwa putranya bisa digantung di lapangan setelah lonceng kerajaan yang besar itu dibunyikan. Keesokan harinya, semua upacara penggantungan sudah disiapkan di lapangan, tinggal menunggu lonceng kerajaan dibunyikan oleh raja. Sampai tengah hari, lonceng belum juga berbunyi, raja pun tak tampak ada di mana. Rakyat dan punggawa kerajaan menunggu hingga malam, dan hukuman mati belum juga bisa dikerjakan karena lonceng belum juga berbunyi. Sampai keesokan harinya tiba, seorang prajurit berinisiatif untuk memaksa penasihat raja membunyikan lonceng sebagai wakil raja. Ketika rombongan berjalan ke lonceng kerajaan dan mencoba membunyikan lonceng besar itu, ternyata tidak bisa, bandul lonceng tampaknya terlilit sesuatu sehingga tidak berbunyi. Di coba berulang-ulang, justru mereka melihat ada darah yang menetes dari atas lonceng. Dan ketika mereka melongok ke atas, ternyata raja ada di atas sana, melilitkan tubuhnya, agar bandul lonceng tidak berbunyi. Raja mati.

Itulah gambaran kasih Bapa kita, orang tua kita, adil namun tetap kasih. Ada yang bisa membantah kasih yang seperti itu?

Atau ada yang berpikir itu hanya dongeng belaka? Di antara teman-teman ada yang merasa diperlakukan kejam dan tidak adil oleh orang tua kita?

Ilustrasi

Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payah-nya selamabeberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.

Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya.

Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.

Diapun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.

Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci !

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.

Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? “

Lalu dia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu.

Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu.

Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu.

Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu, dan mulai membuka halamannya.

Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, masakan Bapa-mu yang di sorga tidak akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya?”

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil !

Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati……..(Sumber: berbagai sumber)

Ketika suatu saat kita berpikir bahwa orang tua kita melakukan kesalahan fatal buat kita atau bertindak tidak sesuai dengan keinginan kita, atau sikapnya membuat kita malu, kita harus mengerti bahwa mereka juga manusia. Dan kita harus kembali kepada kehendak Tuhan, untuk kita menghormati orang tua kita seperti yang tertulis dalam sabdanya. Coba kita lihat lagi di Kolose 3: 20 Kolose 3: 20 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalams egala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”. Kita baca sampai ayat yang ke 23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Teman-teman, mereka adalah orang tua kita. Mari kita mengasihi mereka seperti dalamnya kasih Bapa mengasihi kita, bagaimanapun keadaan mereka.

Dia ubah hidupku jadi baru. Iya, Dia sudah menganugerahkan hidup baru buat kita, jadi mari meresponnya dan mengerjakan kepulihan hubungan dengan orang tua yang sudah kita terima ini. Tuhan memberkati ya…

Jogja

Yang Selalu Kangen Keluarganya Dipulihkan

Bergaul dengan Kasih

Posted in GOOD NEWS on September 22, 2008 by bayu primasanti

(Dibawakan dalam Persekutuan Effata Sanata Dharma 12 Sept’08)

Bergaul dengan Kasih

Coba kita renungkan, biasanya kalau kita melihat pada nisan orang yang sudah meninggal, di situ akan tertulis tahun hidup – tahun meninggal. Otomatis, perhatian kita tertuju pada seberapa lama dia hidup. Kita melupakan satu tanda yang tercetak di antara kedua tahun itu, yakni tanda strip (-). Tanda strip inilah yang sebenarnya menentukan akan berada di kehidupan mana kita nantinya (mati kekal atau hidup kekal). Nah, salah satu hal yang kita kerjakan di dunia ini untuk mengisi tanda strip itu adalah bergaul.

Renungan kali ini diberi judul “Bergaul dengan Kasih”. Kalau diuraikan, “bergaul” untuk menunjukkan “pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu”, “dengan kasih” menunjukkan cara untuk melakukan pekerjaan tersebut. Melakukan pekerjaan bergaul sih semua orang bisa, tapi bagaimana cara bergaul yang Allah mau (Mat 22: 37-40)? Cara bergaul yang tidak mudah membuat kita tumbang ketika badai hidup datang?

Kita akan mencoba memahami bagaimana bergaul dengan kasih melalui simulasi berikut ini.

Peserta akan dibagi dalam dua kelompok bangsa, yakni bangsa Alfa dan Victoria. Kedua bangsa ini sangat bertolak belakang dalam berbagai hal. Berikut ciri-ciri keduanya:

ALFA

VICTORIA

Primitif

Modern

Lemah lembut

Keras, bersemangat, ceria selalu, tapi suka marah-marah

Kalau berbicara ataupun bertindak sangat pelan sekali

Kalau berbicara atau bertindak sangat keras, langtang, cepat dan tangkas

Jika bertemu orang pasti salaman dan mengelus bahunya

Jika bertemu orang baru mengajak TOAST dan menepuk keras baunya

Selalu menawarkan makanan pada orang baru

Selalu mengajak menari orang lain

Agak sensitif dengan suara yang keras

Males kalau melihat kelambatan

Berencana membuat menara sesuai karakter mereka

Berenana membuat menara sesuai karakternya

Alat transportasi: kaki, sampan

Alat transportasi: mobil, pesawat

Makanan: langsung dari alam

Makanan: fast food

Pekerjaan: berburu dan bercocok tanam

Pekerjaan: profesional

Kedua kelompok bangsa dipisah di dua tempat yang berbeda. Salah seorang dari satu ditukarkan secara bergantian dengan kelompok lainnya. Ketika satu orang berada dalam satu kelompok yang lain, dia diharapkan bisa beradaptasi tetapi tetap mempertahankan adat budayanya supaya tidak terpengaruh oleh kelompok yang lain. Demikian, semua anggota kelompok bangsa ditukarkan secara bergantian sampai seluruh peserta merasakan berada di bangsa lainnya. Setelah semua mendapat giliran, simulasi pun selesai dan peserta kembali ke tempat duduk masing-masing.

Saudara, apa yang bisa kita pelajari dari simulasi tadi? (Sebutkan beberapa hal yang kamu dapat!). Apa yang anda rasakan ketika Anda dengan segala adat istiadat dan karakter yang Anda miliki harus beradaptasi dengan bangsa lain yang menawarkan sesuatu yang berbeda? Apa yang Anda akan perbuat ketika Anda harus tinggal dan bergaul dengan mereka? Mudahkah?

Ya, jawabannya bisa bervariasi. Pertama, mungkin kita merasakan sangat sulit sekali bergaul dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Walhasil, kita memilih untuk pergi dan meninggalkan lingkungan tersebut. Yang kedua, kita merasa sulit untuk beradaptasi, tapi karena beberapa factor (keterpaksaan, kewajiban, gengsi, dll) kita terpaksa merubah diri menjadi seperti mereka secara pelan-pelan. Ketiga, mudah, kalau kita termasuk tipe orang yang mudah berubah sesuai dengan keadaan lingkungan kita. Keempat, mudah, karena kita tidak memandang perbedaan itu sebagai penghambat, justru kita menguatkan karakter kita dan berupaya memberi dampak kepada lingkungan kita.

Seperti simulasi di atas, demikian jugalah kita. Mat 10: 16 a mengatakan “Lihat, Aku mengutus kamu, seperti domba ke tengah-tengah serigala”. (Mat 5: 16). Wah, dari ayat ini saja kita sudah bisa melihat kalau anak terang itu berbeda dengan dunia. Anak terang, yang memiliki prinsip hidup seperti Kristus, tidak jarang dipandang aneh oleh dunia. Mau bukti kuat, ingat-ingat saja cerita Yesus yang waktu itu dibenci orang farisi karena kelakuannya yang aneh. Tapi bagaimana pun juga, sabda tadi tetap berlaku. Kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Mau tidak mau, ya harus mau. Tapi bukan asal mau, melainkan melakukan yang terbaik dalam pergaulan kita.

Kita bisa belajar bergaul dengan benar dari Roma 12: 9-21.

· Kasih itu jangan pura-pura à jujur dan terbuka

· Menjadi sahabat yang baik à suka duka bersama, mengutamakan orang lain, selalu berusaha memberi tumpangan, selalu membawa perdamaian

· Rajin dalam melayani, bukan dilayani

· Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. 12

· Jangan menganggap dirimu pandai à pikirkanlah hal-hal yang sederhana

Ternyata banyak sekali hal yang harus kita perhatikan ketika ingin belajar bergaul dengan kasih. Tapi yang lebih besar di antara itu semua adalah: Yoh 15: 13. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kalau kita ingin bergaul dengan kasih, sudah siapkah kita memberikan nyawa kita untuk sahabat-sahabat kita? Hehehe….serem ya? Jika suatu ketika kita merasa kesulitan dalam pergaulan kita, kecewa, marah, teraniaya, terancam, dikucilkan, dan semua kebaikan kita justru mendatangkan sakit hati sendiri, ingatlah bahwa Yesus juga mengalami semua itu. Yang paling penting, kita lakukan yang terbaik itu dengan dasar Kolose 3: 23. “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Menembus Batas

Posted in GOOD NEWS on September 22, 2008 by bayu primasanti

Kemarin malam, aku dan sahabatku berdiskusi mengenai bagiamana kami bertumbuh dan apa buahnya selama beberapa tahun ini (aku tinggal di Jogja dan dia di Bandung). Aku takjub sekali ketika dia bilang pertumbuhan imannya lebih cepat dibandingkan dengan temannya (Selama ini aku bingung, bagaimana cara mengukur pertumbuhan iman seseorang itu? Hehehe…mungkin aku ini yang malas belajar). Lalu kami berdiskusi tentang masalah teman hidup (yang kemudian kami sebut TH). Menurutku, ketika Tuhan mengenalkan kita pada TH kita, belum tentu mereka telah dalam posisi sepadan dengan kita (mungkin, dia masih dalam kegelapan, belum bertumbuh, atau bahkan orang yang tak kenal Tuhannya). Nah, pada saat dipertemukan dengan kitalah proses penempaan itu dimulai, hingga akhirnya menjadi teman yang sepadan dan dapat diberkati sebagai teman hidup. Dalam perspektifku ini, teman hidup mungkin lebih tepat disebut “calon teman hidup” (belum diwisuda dan menerima lencana, karena belum sepadan!). Kalau menurut sahabatku, Tuhan akan mempertemukan kita dengan TH kita, jika sudah sama-sama dalam keadaan sepadan dan kita hanya bisa menolong dia (saat dia belum sepadan) dengan doa, atau kita tolong secara langsung tapi dengan tidak menganggap dia sebagai calon pasangan hidup. Anehnya, berbeda dengan diskusi-diskusi idealisku yang lain, polemik yang kami munculkan berdua itu terjadi dengan sangat santai dan toleran (padahal kami sama-sama idealis). Sahabatku bilang, yah…karena kita tumbuh ditempat yang berbeda, jadi perspektif kita berbeda dalam memandang sesuatu. Aku setuju, lalu mencoba menghubungkannya dengan sebuah analogi mengenai banyaknya aliran dalam gereja kita. Ada aliran A, B, C yang terkadang berbenturan paham satu dengan yang lainnya (ingat kan, bentrok antara sebuah gereja dengan gereja lainnya beberapa waktu lalu?). Kenapa bisa terjadi? Bukankah kita satu iman dan satu Bapa dalam keluarga kita?
Owh, ternyata tidak Saudara-Saurara. Setiap gereja, aliran, lembaga pelayanan, memiliki visi strategisnya masing-masing dan hal itu melembaga dengan budaya yang dibangun oleh institusi masing-masing. Jadi, budaya, adat istiadat, tata cara, dogma, dan konvensi lainnyalah yang terkadang menjadi tembok yang paling sulit diruntuhkan. Akibatnya, setiap institusi, bahkan sampai atom yang terkecil sekalipun, yakni pribadi, mulai menggunakan kacamata institusi untuk mendemonstrasikan kasih kepada dunia, dan tak jarang justru saling berbenturan.
Berkaca dari sahabatku kemarin, dan dengan menganalisis sebab mengapa kami akhirnya tidak berdebat, saya simpulkan bahwa memang benar, melayani pun dapat dilakukan dengan banyak cara, pada berbagai golongan manusia, tempat, dan abad sesuai dengan profil pelayanan kita masing-masing. Benar juga bahwa setiap institusi pelayanan, atau setiap aliran, memegang iman dan dogmanya dengan caranya masing-masing sehingga jika menemui sesuatu yang berpotensi untuk mengundang debat, segera kita akan kembali ke undang-undang institusi kita sendiri dan menggunakannya sebagai rebuttal pada aliran atau institusi yang berbeda pandang dengan kita. Sayang sekali, sayang sekali!
Padahal kalau kita mereview kembali kisah Yesus, Dia berjalan tanpa mengenal batas, Dia menembus batas-batas budaya, adat istiadat, bahkan konstitusi yang paling tinggi sekali pun pada waktu itu: Hukum Taurat (Sekalipun ada tertulis mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi Aku berkata kepadamu…..).
Kemampuan menembus batas dalam berdialog inilah yang mungkin saat ini perlu kita pahami dan pelajari bersama. Sehingga ketika kita berbagi iman kita kepada saudara kita dan menemukan ketidakcocokan, kita kembali ke konvensi tertinggi kita: kisah hidup Yesus dan pertolongan roh kudus. Dengan demikian, proses mendemonstrasikan kasih itu sungguh dapat dilakukan dengan murni, tulus, dan sesuai dengan kehendak Bapa, bukan kepentingan sebuah institusi atau aliran semata.
Terima kasih sahabatku, kita belajar memahami hal menembus batas ini walau itu tidak mudah. Sungguh, terima kasih.

Bahagia dan Cukup

Posted in DIARY on September 22, 2008 by bayu primasanti

Sebuah keprihatian bagi teman-teman dan keluarga ketika mereka tahu komitmenku dan dia sepuluh tahun yang lalu, 1998. Cibiran dan sindiran akrab sekali dengan hubungan kami saat itu. Wajar, sepuluh tahun yang lalu, dia orang yang tak tahu aturan, tak kenal Tuhan, hidup dengan jiwa jalanan, dan parahnya, tak bertujuan. Sebagai manusia biasa, terkadang kuping ini panas mendengar cemoohan dan inginnya melarikan diri walau akhirnya justru jalan di tempat.
Aku harus berusaha menafsirkan sikapnya dengan perspektif yang lain, bukan dengan kacamata yang digunakan orang-orang untuk menilai dan menghakimi. Sejujurnya, itu hal yang sangat sulit sekali. Perih…Pedih hatinya.
Pernah, satu dua kali kami tidak kuat, dan kami membatalkan komitmen itu. Hahaha…tepatnya pembatalan secara sepihak (yang tentunya juga hanya menguntungkan satu pihak saja. menguntungkan? justru belakangan aku renungkan itu sebagai kerugian fatal).
Suatu saat, entah itu aku bermimpi atau memberontak pada realita, ada seseorang yang mirip sekali dengannya menghampiriku. Pakaiannya lusuh, badannya kurus kering, sepertinya hatinya terluka parah, dan ada yang tidak beres pada pikirannya (kutebak, karena pengaruh obat-obatan psikotropika), dia membawa sebotoh minuman keras, bau rokok pula. Dia datang dan semakin mendekat padaku, lalu berbisik lemah, “Sahabat, seandainya sahabatmu dipenjara karena sesuatu yang tidak dia mengerti, apakah kamu akan meninggalkannya? Apakah kamu akan mencacinya seperti yang orang lain lakukan? Apakah kamu tidak ingin membantunya menghadapi pengadilan itu? Apakah kamu akan biarkan dia mati penasaran dengan tetap tidak mengenal siapa Tuhannya?”
Stop! Semua itu melukaiku. Lebih dari semua yang aku miliki, aku sangat mencintainya, aku sangat mengasihi sahabatku itu. Dan betul katamu, aku tidak akan membiarkan dia menghadapi kekejian ini seorang diri.
Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali pada komitmen kami….Hehehe…
Dia, Dia yang ingin kami saling menjadi penolong, Dia lah yang mempertemukan kami kembali.
2001…
Terjalin kembali ikatan yang pernah putus. Tak lagi dengan tampar, tapi rotan. Rotan yang kokoh dan baik kualitasnya.
Wajahnya berbeda, auranya merepresentasikan janji atas masa depan yang penuh harapan. Entah apa yang terjadi padanya. Dia berubah…
Dalam episode ke dua ini, aku yang perlu ditolong. Ambisi yang meluap dan kadang tak terkendali membawaku pada kemarahan ketika bertemu dengan aral. Diriku kini yang dipenjara oleh keserakahan dan nafsu atas penghormatan dan kekuasaan. Dan di antara kesesakan dan jeritan di atas ambisi itu, dia dengan setia menanti dan selalu tersenyum mendukung (dia, dia yang dulu orang seperti apa sekarang menjadi seperti apa).
Di antara kelelahan itulah aku melihat melalui matanya (walaupun dia sama sekali tak pernah berkata-kata dan tak pernah menasihati) bahwa jalan yang kutempuh ini salah. Jalan ini hanya berujung pada kematian kepribadian.
Aku mengerti sekarang. Paham benar mengapa dulu, walaupun sakit, aku tetap harus bersama dia. Karena kami sedang diproses, ditempa dengan keras untuk melihat wujud sejati masing-masing pribadi.
Sampai di sini, ketika sedikit selumbar itu tersingkap dan aku bisa melihat karya yang besar melalui perubahan hidup anak manusia; hingga muncul seorang partner hidup yang takut akan Tuhan, aku semakin yakin, aku sudah bahagia dan itu cukup. Tidak butuh apa-apa lagi selain kekuatan untuk mengalirkan kebahagiaan itu.

Sumonggo

Posted in DIARY on September 22, 2008 by bayu primasanti

Sumonggo, atau dalam bahasa indonesianya “silakan”, merupakan kata yang menempati strata tinggi dalam bahasa jawa yang bernama “Krama Inggil”. Kata-kata yang diambil dari strata ini khusus digunakan untuk berbahasa dengan orang-orang yang statusnya lebih tinggi, baik dari segi usia, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Dalam tulisan perdana ini, saya memilih judul “Sumonggo” untuk mempersilakan sahabat sekalian mampir ke blog ini sembari bersama merenungkan makna kehidupan. Dari saya: Selamat datang dan selamat berbagi kabar baik di lembar-lembar berikutnya.

Sumonggo….!