Randezvous

Malamnya aku tidak bermimpi, tidak mendapat wahyu, wangsit, atau tanda-tanda bahwa hari itu aku akan bersua dengan sesuatu yang menjadi anak tangga untukku naik lebih tinggi; makhluk yang dikemudian hari meruntuhkan seluruh prinsip keakuan yang selama ini aku bangun; dan mensenyawakan dua ambisi menjadi satu zat, zat penting yang membuat hatiku hidup.

Aku tak menyangka sama sekali bahwa hari itu adalah hari istimewa Tapi hari itu adalah harinya…Hari aku bertemu dengannya. Dia.

Setelah pagi berlalu, aku baru tahu bahwa namanya adalah pria. Cukup. Kupikir cukup saja sampai disitu. Toh aku adalah anak disiplin yang tidak akan membiarkan perasaan-perasaan aneh, yang selayaknya dirasakan oleh remaja sesusiaku, mampir di kehidupanku. Stop! Tidak akan kubiarkan!

* * *

Tapi aku tak bisa tidur.

Tapi aku jadi malas melakukan kewajibanku: makan, tidur, mandi.

Justru aku jadi rajin melakukan hobi baruku: bertanya kepada teman-temanku tentang siapa dia, apa yang dia lakukan, di mana dia menuntut ilmu, bagaimana orangnya.

Dan aku juga jadi rajin bersepeda lewat depan rumahnya.

* * *

Dua belas tahun usiaku saat itu. Dua belas tahun aku hidup, tinggal, dan mengenal desa itu. Dua belas tahun aku melewati jalan itu. Tapi hari itu, aku merasakan perasaan yang aneh ketika melewati jalan yang sama. Aku ingin memiliki dia, pria yang tinggal di jalan itu, aku sungguh ingin mengenalnya, menyentuhnya kelak, dan tinggal di hatinya.

Tiba-tiba aku mati dari kenyataan, dan kutemukan diriku tengah berada di suatu kerajaan, aku menjadi raja atas diriku sendiri, dan aku menjadi murka atas dia.

Lalu aku terbangun…Bodoh! Pikiran bodoh! Aku menyilangkan tanganku di dada, bertirakat agar semua percakapan di bawah kenyataan itu hanya kusimpan untukku sendiri saja. Jangan sampai seorangpun tahu, mencibirku….dan menolak perasaan ini. Oh, aku pikir aku akan mati kalau hal itu tiba!

* * *

Apakah angin menguping percakapan dengan hatiku hari itu?

Ya, pasti!…kurang ajar kau angin! Aku menunduhmu angin, engkau yang telah membongkar semua rasaku ini padanya. Mengaku saja kau, angin!

* * *

Dan dia tahu….

Dan dia setuju denganku…

Leave a Reply