Archive for December, 2008

Temukan Perbedaannya!

Posted in DIARY on December 30, 2008 by bayu primasanti

maknyak2diriku-bw2

Temukan perbedaan dari  dua wajah dalam dua foto ini!

Untuk Anda yang berhasil menemukan perbedaan terbanyak, akan mendapat imbalan selayaknya.

Day 18th, Month of 93rd, The Last Month of This 2008

Posted in DIARY on December 18, 2008 by bayu primasanti

Hi!

It looks like strange title, doesnt it?

Day 18th

It means that this day is 18th of December. Since 18 is our anniversary (of recommitment), i really appreciate in this sign of days.

Month of 93rd

March 2001 is the month of our recommitment anniversary. By using my computer calculator, i count down the number of month we have passed by. And the result is 93 months.

The Last Month of this 2008

This is December, and since it becomes the last month of this 2008, im berry glade. It means, wait one moment and we will have been in the new year.

By writing this title, i just wanna say “Praise You Lord, it has been 93 months you bless us with Your face though sometimes we understand not. And in this last month of 2008, You still show Your face for us”.

I and He praise You, Lord!

KEMENANGAN IMAN

Posted in GOOD NEWS on December 16, 2008 by bayu primasanti

(dibawakan dalam safari PSKK di SMA N 2 Klaten)

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia

Yohanes 2: 1-25 (11)

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya.

Dalam cerita tersebut Yesus dan murid-muridNya diundang dalam pesta perkawinan di Kana yang ada di Galilea. Ibu Yesus, Maria, juga ada di situ. Suasana di sana sangat ramai—banyak pelayan—tampaknya pesta seorang yang kaya. Pesta dalam perjanjian baru berbeda dengan pesta-pesta perkawinan di perjanjian lama. Pesta di PB adalah pesta yang cair dan penuh sukacita; sedangkan di perjanjian lama lebih kaku dan sangat formal. (Lihat Imamat)

Ada persoalan yang timbul dalam pesta itu—dan itu berpotensi untuk memalukan pemilik rumah. Mereka kekurangan anggur. Anggur dalam pesta-pesta pada masa itu merupakan sajian yang “selayaknya ada/ harus ada/ krusial/ penting” untuk menghormati tamu-tamunya. Dari peristiwa ini, kita akan menelisik ada apa di balik tindakan Maria menghadapi situasi ini.

Ayat 3b mengatakan : Ibu Yesus mengatakan kepadaNya, “Mereka kekurangan anggur”. Maria mengajukan permintaan kepada Yesus dengan cara implisit. Ya…hanya seperti mengobrol atau memberi tau sesuatu yang menimpa orang lain. Sesungguhnya Maria begitu rindu Yesus melakukan sesuatu.

Ingat cerita bagaimana Maria mendapat janji ketika dia harus mengandung Yesus—padahal ia belum menikah? (Lukas 29). Selama 30 tahun maria berharap sesuatu terjadi terhadap anaknya. Maria Menunggu penggenapan janji yang diberikan Allah kepadanya. Tapi tidak, selama 30 tahun itu, Yesus tumbuh dan berkembang seperti layaknya manusia biasa. Dia merangkak, menangis, bahkan sampai mengikuti jejak ayahnya, menjadi tukang kayu. Seharusnya Maria mempertanyakan semua ini, bayangkan selama 30 dan ia tidak melihat tanda apapun. Oke, tapi Maria memilih hal lain: Iman! Dia setia terhadap imannya dan janji Allah yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, setiap ada peristiwa penting, dia selalu membicarakannya dengan Yesus dan berharap Dia melakukan sesuatu. Bukankah ini sama dengan kita? Kita juga sering menunggu dan berhadap akan mujizat Tuhan, tapi tak kunjung jua datang?

Mari kita lihat jawaban Yesus. Ayat 4 mengatakan: kata Yesus kepadanya, “Mau apakah Engkau dari padaku, Ibu? Saatku belum tiba”. Bahkan kepada ibunya, Yesus mengatakan “waktu Allah tidak sama dengan waktu manusia”. Alasan yang Yesus kemukakan, yang utama adalah bahwa waktunya akan datang; yakni ketika Allah menghendakinya. Jika menurut waktu manusia, mungkin mujizat itu akan terasa biasa saja, wajar, karena kita memintanya; namun jika itu datang dari Allah, dia mengandung kemenangan.

Lihat, apa yang dilakukan Maria. Dia menunjukkan imannya yang sungguh tangguh. Dia sudah mendengar sendiri dari mulut Yesus, bahwa Dia belum akan melakukan mujizat itu; namun Maria mengimani semua yang baik akan terjadi. Oleh karena itu, Maria tidak protes, tidak marah, namun melakukan sesuatu yang bijaksana: mempersiapkan segalanya seperti ketika dia hendak menerima atau melihat mujizat. Ayat yang kelima: Tetapi ibu Yesus berkata kepada para pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”. Ya, dia tidak melakukan hal lain, atau menyuruh pelayan membeli anggur baru. Tapi dia mempersiapkan para pelayan untuk menerima perintah Yesus—Yesus dapat menggunakan bermacam cara untuk menyatakan kemuliaanNya. Kenapa ibu Yesus begitu yakin? Dia tahu siapa Yesus, dan ingat dia menantikan janji imannya. Karena itu dia selalu siap menanti Allah melakukan sesuatu.

Datang kepada Yesus dan mempersiapkan diri untuk sesuatu yang indah. Tidak pernah kehilangan rasa percaya karena keadaannya.

Lalu apa yang dilakukan Yesus. Da menyuruh pelayan-pelayan itu mengisi tempayan-tempayan dengan air. Menyuruh mereka mengaduknya dan membawanya kepada pemimpin pesta (ayat 6, 7, 8). Perintah yang aneh bukan? Coba kita lihat dari sisi apa para pelayan layak menolak perintah ini: ya, perintah ini sulit dimengerti; dan mengandung resiko—bagaimana jika yang dicecap pemimpin pesta itu benar-benar air, bukan anggur. Wah.. para pelayan akan dengan mudah kehilangan pekerjaan mereka: dipecat. Ingat, pelayan di jaman itu dibeli, dan dia harus taat dan tunduk kepada tuannya. Tapi mereka ingat pesan Maria—yang mungkin pada waktu itu menjadi orang yang punya pengaruh. Mereka melakukannya persis seperti yang diperintahkan Yesus. Mereka taat sebagai hamba.

Melalui ketaatan para pelayan itu, lihat mujizat apa yang terjadi? (Ayat 9). Pemimpin pesta itu takjub. Ia tidak tahu dari mana datangnya anggur itu, tetapi pelayan-pelayan, ibu Yesus dan murid-muridNya, mengetahuinya.

Tanda yang pertama ini justru dibuat oleh Yesus kepada para pelayan-pelayan, dalam sebuah pesta pernikahan. Dan dengan itu, Dia telah menyatakan kemuliaanNya.

Jadi, Saudara, inilah kemenangan iman.

- Kita sudah menerima Janji Tuhan

- Kadang janji itu mengandung hal yang: tidak kita mengerti dan beresiko tinggi

- Tapi jangan kehilangan percaya

- Persiapkanlah segalanya persis seolah kita akan menerima mujizat itu

- Lakukan apa yang Yesus katakan melalui firmanNya

- Terimalah kemenangan iman bagimu.

Semakin besar resiko yang kita mau ambil, semakin nyata kemenangan iman yang Yesus berikan. Ingat, jangan takut karena kita punya garansi: janji Yesus.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = == = =

Pelayanan Doa Syafaat

Ada seorang Kristen di Inggris yang bekerja sebagai buruh// Ia adalah seorang yang sederhana/ tetapi mempunyai semangat yang berapi-api untuk melayani Tuhan// Namun ia sadar bahwa ia tidak terpanggil untuk menjadi pengkotbah atau penginjil// Oleh karena itu / pada suatu hari ia datang kepada pendtanya dan meminta nasihat mengenai pelayanan jenis apakah yang dapat dikerjakannya// Pak pendeta itu kemudian menjawab: disuruhnya buruh itu mengambil sebuah buku dan pada tiap halamannya/ hendaklah di bagi menjadi tiga kolom// Pada kolom pertana harus ditulis nomor/ pada kolom ke dua ditulis nama orang lain yang belum mengenal Kristus/ pada kolom ketiga ditulis kapan orang itu bertobat dan menerima Kristus sebagai juruselamatnya// Setelah itu/ tugasnya dalah berdoa dan sekali lagi berdoa agar orang-orang itu benar-benar diselamatkan// Setelah memberikan nasihat itu/ pak pendeta berdia untuk buruh yang saleh itu supaya ia boleh menjadi berkat yang besar bagi orang-orang lain//

Empat puluh tahun kemudian buruh ini meninggal dunia/ dan buku catatannya diketemukan oleh seorang hamba TUhan// Ternyata di dalamnya ada tertulis 2450 nama orang orang yang sudah bertobat melalui doa syafaat yang indah dari buruh yang sederhana ini//

Demikainlah pentingnya doa syafaat bagi pelayanan pekerjaan Tuhan// Rasul paulus juga adalah seorang yang selalu mengadakan doa syagaat untuk orang lain// (Kolose 1:9) — Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya/ kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu///

= = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = =

Penghalang di tengah jalan

Pada zaman dahulu, seorang raja meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan. Kemudian ia bersembunyi dan mengawasinya untuk melihat apakah ada orang yang mau menyingkirkan batu itu. Banyak saudagar kaya melewati batu itu dan mereka menghindarinya. Mereka lewat menepi di sisinya. Banyak pula yang menyalahkan raja karena tidak menyingkirkan penghalang itu agar jalan menjadi lancar. Namun tak ada seorang pun yang menyingkirkan batu besar itu Kemudian lewatlah seorang petani memikul keranjang sayur. Ketika melewati batu besar itu, petani itu meletakkan keranjang sayurnya dan mencoba mendorong batu itu ke tepi. Setelah berkutat beberapa lama, akhirnya ia berhasil. Ketika ia akan mengambil kembali keranjang sayurnya ia melihat ada sebuah dompet di bekas tempat batu itu. Dompet itu berisi banyak uang emas dan sebuah surat dari raja yang menyatakan uang emas itu diperuntukan bagi orang yang telah menyingkirkan batu besar itu dari tengah jalan. Petani itu telah belajar suatu hal yang banyak orang tidak paham. Setiap penghalang memberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan seseorang.

Time For Change

Posted in GOOD NEWS on December 16, 2008 by bayu primasanti

…Maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (II Korintus 3: 18).

Ada yang mengatakan, “Segala sesuatu di dunia ini berubah, kecuali perubahan itu sendiri”. Bener nggak sih? Coba kita check. Beberapa saat lalu rambut teman kita ada yang ktiting, sekarang dengan adanya teknologi rebonding pada jadi lurus. Dulu kita mungkin mengidolakan Joshua, tapi sekarang mungkin kita ngefans sama Thukul. Dulu kita mau buat contekan ditulis tangan kecil-kecil, tapi sekarang, ketik aja pake komputer ukuran font 8. Hahaha…bercanda lho.

Saudara, benar ya, ternyata perubahan itu selalu terjadi dalam hidup kita, itu harus dan pasti. Tapi Saudara, kapan kita harus berubah dan perubahan seperti apa yang harus kita lakukan? Oke, mari kita lihat terlebih dahulu, siapa sebenarnya kita ini.

Kejadian 1: 27 bilang, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakaNya mereka. Saudara, ternyata kita diciptakan menurut gambar Allah ya? Bahkan kepada Nabi Yeremia (Yeremia 1: 5a) Allah mengatakan, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. Kalau kita merenungkan penciptaan kita ini, wah…indah sekali ya Saudara?

Tapi apa yang terjadi saat ini Saudara, aku dan Saudara hidup di dunia dengan banyak sekali dosa yang dilakukan. Kita masih sering mencontek, berbohong, membenci saudara kita, marah-marah, dll. Apakah hati seperti itu serupa dengan hati Allah? Wah, ternyata kita sudah berubah sejak keluar dari kandungan. Ya, itu wajar karena dalam hidup kita ada dosa keturunan. Tapi Saudara, Allah rindu kita berubah…Dia kan sudah menebus kita dengan bayaran yang sangat mahal sehingga kita menjadi orang yang bebas (Kis 13: 38-39). Jadi, kita tidak boleh lagi tinggal dalam perbudakan, kita harus berubah menjadi seperti Kristus. Memang kita tidak akan pernah menjadi sempurna…tapi berusaha menjadi serupa lagi dengan gambar Allah seperti waktu kita diciptakan, itulah yang diperhitungkan Allah.

Lalu, apa saja yang harus berubah ketika kita sudah ditebus?

Pertama, kita harus mengubah pola pikir kita. Berhenti berpikir negatif tentang diri kita karena kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus yang sangat berharga. Berhenti juga berpikiran dengan pikiran kita sendiri, kita bukan lagi milik kita, tetapi kita adalah milik Allah, jadi belajar berpikirlah dengan cara Allah berpikir.

Kedua, perubahan sikap dan karakter. Kalau pikiran kita sudah berubah, sudah bisa dipastikan sikat dan karakter kita juga berubah. Lihat saja Paulus! Sebelum bertobat, Saulus (nama asli Paulus) adalah pemuda yang sombong, keras kepala dan garang. Setelah Tuhan menampakkan diri pada dia, langsung semua keangkuhannya hilang. Tiba-tiba Saulus menjadi pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Pertama, Tuhan mengubah pikiran Saulus, lambat laun hidupnya berubah. Meskipun mengalami penolakan, penganiayaan, penderitaan, Saulus tetap memegang teguh imannya.

Nah, Saudara, sekarang kita juga harus check apakah hidup kita sudah berubah menjadi sama lagi dengan awal kita diciptakan, yakni serupa dengan gambar Allah?

Perubahan hidup yang kita pikirkan terkadang tidak sama dengan yang Allah pikirkan. So, untuk menuju perubahan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah ya kita harus mendekati Allah supaya tahu perubahan seperti apa dan bagaimana kita melakukannya. Caranya? Renungkan firmanNya dengan tekun dan beriman atas hal itu. (Lihat di Amsal 4: 5-8).

Saudara, ada kisah tiga pohon. Pohon pertama berkata jika nanti ia ditebang orang, ia sangat ingin kayunya yang indah dibuat kapal pesiar yang indah dan mahal yang akan mengantarkan orang-orang penting dan kaya berwisata keliling dunia. Pohon yang kedua bilang, jika nanti dia ditebang dia ingin kayunya yang kokoh itu menjadi tiang penyangga bagi istana raja yang megah. Kayu yang ketiga mengatakan dia tidak ingin ditebang, karena dia berharap kayunya yang sangat tinggi bisa tumbuh lebih tinggi dan setiap orang dari seluruh dunia bisa melihatnya.

Ketiga pohon itu akhirnya ditebang. Pohon pertama sangat sedih karena dia hanya dibuat kapal biasa dengan ukuran yang sangat besar; dengan penumpang orang-orang biasa; bahkan kebanyakan hewan. Pohon kedua tidak menjadi tiang penyangga istana raja, namun justru menjadi tempat makan domba. Pohon ketiga, ditebang juga ditebang dan diletakkan begitu saja. Ketiganya sedih, mereka tidak bisa menjadi seperti yang mereka impikan.

Beberapa tahun berlalu. Pohon pertama menjadi kapal besar dan dipakai untuk Nuh dan keluarga berlayar mengikuti janji Tuhan. Kisahnya tertulis di Alkitab dan dikenang banyak orang di seluruh dunia. Pohon kedua, walaupun tidak menjadi tonggak istana raja, dia menjadi palungan tempat lahir Raja terbesar, yakni Yesus. Pohon yang ketiga, memang tidak dilihat orang karena keperkasaan dan ketinggiannya yang luar biasa, tapi kayu pohon itu dilihat orang karena padanya tersalibkan penebus dosa manusia.

Saudara, terkadang perubahan yang terjadi dalam hidup kita untuk menjadi serupa dengan Kristus itu menyakitkan, tidak bisa kita mengerti dan tidak sesuai keinginan kita. Tetapi jika kita percaya, semua akan dibuatNya sangat…sangat indah. …Maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (II Korintus 3: 18). So, sekaranglah waktunya! Time for Change.

PEMIMPIN PUJIAN

Posted in GOOD NEWS on December 16, 2008 by bayu primasanti

(Dibawakan dalam “Workshop Pemimpin Pujian” Komparem GKJ Kebonarum

ILUSTRASI

Johny kecil sedang diuji untuk ikut serta dalam pertunjukan sekolah. Ibunya tahu bahwa ia sangat ingin untuk ikut serta, akan tetapi takut bahwa ia tidak akan terpilih. Pada hari peran-peran ditetapkan, sepulang dari sekolah Johny lari ke pelukan ibunya dengan sangat gambira dan bangga. Dia berkata, “Ibu, saya terpilih untuk menjadi tim tepuk tangan dan sorak sorai”.

Lalu dari kartu rapornya yang sangan bagus nilainya, ada sebuah catatan tentang pertunjukan sekolah itu: “Johny ikut ambil bagian dengan sangat baik dalam pertunjukan tahun ini, dengan peran sebagai tim tepuk tangan dan sorak sorai yang sangat membantu”.

“Apapun bagian yang diberikan kepada kita dalam sebuah pelayanan, intinya adalah: kita harus mau dan mengerjakannya dengan sangat baik”

Hari ini, kita akan berbagi mengenai Pemimpin Pujian dalam Persekutuan.

Teman-teman yang telah dikaruniai kesempatan, ayo kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

Tuhan sendirilah yang memanggil kita melalui SHAPE kita (spiritual gift, heart, abilities, personality, experience) menuju tugas pelayanan ini.

Sebelumnya, kita akan belajar mengenai makna pujian dan penyembahan.

MAKNA PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

Penyembahan SAMA PENTING dengan firman Tuhan.

Tidak dapat meremehkan pujian dan penyembahan

Mengapa setiap hari selama 24 jam malaikat di Surga menaikkan pujian dan membentuk paduan suara kepada Tuhan?

Ternyata teman-teman, pujian dan penyembahan itu sangat penting dalam ibadah kita, ternyata Tuhan sangat menyukai pujian dan penyembahan.

Oke, mari kita lihat, apa sih sebenarnya pujian dan penyembahan itu.

Puji = pujian = masuk ke hadirat Tuhan

Penyembahan = menikmati hadirat Tuhan

Ilustrasinya à orang yang memuja dewa-dewa

Penyembahan:

  1. dialog yang rutin, penuh kasih dan konstan antara manusia dengan Tuhan yang dilakukan setiap hari.
  2. pengungkapan kasih melalui pujian dan pengagungan kepada Tuhan
  3. Kemampuan untuk mengagungkan Tuhan dengan seluruh keberadaan kita, roh, tubuh dan jiwa
  4. Abraham (Kej 22: 5); Ayub (Ayub 1: 20); Daud (II Sam 12: 20) à setiap hidup orang ini selalu dipenuhi dengan pujian dan penyembahan.

MENGAPA MEMUJI TUHAN DALAM PERSEKUTUAN

- Kita diciptakan untuk memuji Dia. Yes. 43:21

- Merupakan korban syukur bagi Allah

- Merupakan pelayanan bagi Allah (I Taw 9: 33; 16: 4)

- Merupakan kesaksian bagi Allah kepada umat-Nya dan dunia (Ulangan31:14-32:1-43)

- Buatan tangan Allah (Matius 21:15-16)

- Membangun dan mempertahankan persekutuan (Efesus 5:19)

- Ada kuasa didalam puji-pujian. Maz.149:6-9

- Mengajar, menegur, menasihati (Kolose 3:16)

- Tuhan sangat senang dengan pujian (lihat Yosua)

Teman-teman, ternyata pujian dan penyembahan itu penting sekali ya…Tuhan sangat suka sekali ketika kita memuji Dia dan mengagungkan namaNya.

Coba teman-teman, apa yang kalian rasakan ketika kalian memuji Tuhan (Bandingkan dengan lagu-lagu dunia).

Jadi, setiap orang itu pada dasarnya adalah penyembah.

KAPAN MEMUJI TUHAN

Nah, kapan kita melakukan pujian dan penyembahan itu ya?

1. Dalam keadaan gembira. Yak. 5:13.
2. Dalam keadaan tertekan. Maz.42:6.
3. Disetiap waktu. Dipagi hari. Maz.57:9. Dimalam hari. Maz. 119:62. Siang malam. 1 Taw.9:33. Disegala waktu. Maz.34:2

BAGAIMANA MENJADI PENYEMBAH YANG BENAR

Dasar utama didalam kita memuji Tuhan adalah kita tidak memakai cara kita tetapi cara Tuhan. ALkitab banyak berbicara tentang cara-cara memuji Tuhan.

Ada dua prinsipnya:

  1. kita masih ingat kan bahwa setiap orang itu adalah penyembah? Jadi menyembah dan memujilah.
  2. penyembahan bukan saat persekutuan saja, tetapi penyembahan itu adalah gaya hidup teman-teman.

Teknis menyembah dan memuji:

  1. Mengangkat Tangan. Maz.63:5, Maz.134:3, Nehemia 8:6, Maz.141:2.
    Mengapa mengangkat tangan?
    a. Tanda penyembahan kita kepada Dia. 1 Sam.4:4 dan 1 Taw. 13:6 bentuk tangan yang mirip dengan sayap malaikat Kerubim pada Tabut Perjanjian.
    b. Gambaran seorang bayi yang minta digendong atau dipeluk oleh bapanya.
    c. Lebih mudah berkonsentrasi (terutama didalam doa).
    d. Tanda keterbukaan hati kepada Tuhan (pekerjaanNya).
    e. Menerima apa yang Tuhan kerjakan didalam hidup kita (sikap yang pasrah)
  2. Bertepuk Tangan. Maz.42, 47:2, 2 Jaj.11:12. Didlaam tradisi bangsa Yahudi bertepuk tangan bukanlah untuk sekedar memberi “beat” tetapi sebagai salah satu bentuk “make joyful noise” kepada Tuhan
  3. Berdiri. 2 Taw.5:13, Maz.134:1.  Merupakan tanda hormat dan kesiap siagaan. Kalau kita duduk maka kesiap siagaan itu menjadi berkurang dan pikiran bisa melayang-layang sehingga iblis bisa menggunakan kesempatan itu untuk meltakkan kakinya. Ep.4:27. (Faathald)
  4. Membungkuk, sujud bertelut dan tertelungkup. Maz.95:6, Wah.19:4, Wah.4:10, Kej.19:1, Yes.55:14. Ini adalah bentuk-bentuk dari ekspresi kita didalam menyembah Dia
  5. Bernyanyi dengan suara yang keras. Maz.26:7. Bernyanyi dengan Bahasa Roh. 1 Kor.14:15
  6. Menari-nari. Maz.149:3, 150:4, 2 Sam.6:14-16, Kel.15:20-21. Tarian penyembahan
  7. Berteriak. Maz.47:7, Maz.35:27. Berteriak dalam bahasa Ibraninya HILLEL yaitu kata dasar dari Halleluyah yang berarti berteriak dengan keras dengan penuh sukacita
  8. Memainkan Alat-alat Musik. MAz.105:3-5. Ditangan para penyembah dan pemazmur maka alat-alat musik menjadi “Praise” dan bahkan bernubuatpun bisa menggunakan alat-alat musik. 1 Taw.25:1-3.

Wuah, jadi banyak ragam dan cara menyembah dan memuji Tuhan ya Teman-teman.

Nah, sekarang kita akan segera masuk pada materi pemimpin pujian karena semua yang dipilih di tempat ini adalah para pemimpin pujian kan?

PEMIMPIN PUJIAN

Sebuah Dasar (Roma 12: 1)

Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup.

Jadi, bohong kalau kita bilang kita mengasihi Tuhan tapi ditunjuk sebagai pemimpin pujian tidak mau.

Alasan: tidak pandai, tidak bisa

Alternatif: memang tidak semua orang diberi talenta untuk menjadi pemimpin pujian. Tapi bagaimana kita tahu itu bagian kita atau bukan? Kita harus tanyakan kepada Tuhan, direnungkan dahulu (contoh: Momon). Ingat ilustrasi tadi? Walaupun tidak bisa, lakukan yang terbaik.

Memimpin puji-pujian adlaah suatu “Seni” yang perlu dipelajari, ditekuni, dan dipraktekkan, dimana hal ini tidak bisa didapat secara cepat dan mudah tetapi melalui proses yang cukup lama dan itu tergantung individu.

Seorang Pemimpin Pujian:

1. Pemimpin pujian harus seorang worshipper, bukan seorang yang suka menyembah tetapi seorang penyembah.

2. Kehidupan rohani yang baik (dewasa), bukan seorang yang baru bertobat.

3. Harus mengenali style dari puji-pujian gereja atau persekutuannya.

4. Mempunyai level musikalitas tertentu (skill).

5. Mempunyai nama baik didalam gereja/persekutuan.

6. Harus bisa membaur sebagai bagian dari team tersebut.

7. Harus bisa menekuni bidangnya. Mempunyai personalitas yang hangat dan ramah (menyenangkan) bukan yang intr

Kemampuan/ Ketrampilan Pemimpin Pujian:

1. Mampu bernyanyi.

2. Didalam memimpin pujian harus tetap pada nada suara satu  (melody tsb) kecuali jika singernya menyanyikan suara satu maka kemudian baru pemimpin pujian bisa melakukan improvisasinya.

3. Bisa menguasai keadaan kalau lagunya salah kunci.

4. Menguasai tempo dan macam-macam irama dari lagu yang dinyanyikan (stabil didalam tempo).

5. Bisa memulai sebuah lagu dengan irama dari yang tepat sekalipun dari berhenti.

6. Mampu berkomunikasi dengan pemain musik serta singers (dengan memakai bahasa tanda

7. Kemampuan untuk menyatukan anggota jemaat (mengontrol jalannya kebaktian, memberi motivasi kepada jemaat)

8. Mengadakan kontak mata dengan jemaat

9. Susunan tempat duduk jemaat

10. Perencanaan dalam ibadah/persekutuan

11. Kemampuan untuk mengenal situasi dan penyesuaian diri

12. Memimpin dengan penuh semangat

13. Susun dan hafal lagu (persiapkan lagu)

14. latihan

15. siapkan permainan atau ice breaking

16. ikuti pimpinan roh kudus

Segi pemimpin pujian yang baik (4):

  1. Kekudusan
  2. Ketrampilan
  3. Kepekaan
  4. Ketaatan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam jalannya persekutuan

1. Berapa banyak saya harus bergerak/pindah tempat?

2. Berapa kali saya mengulangi satu lagu?

3. Kapan saya mengajarkan lagu baru?

4. Berapa orang yang telah mengenal lagu baru yang akan diajarkan?

5. Apakah jemaat telah menguasai lagu yang baru?

Serba Serbi

Ayo sekarang kita berlatih menjadi seorang pemimpin pujian

Refkleksi “Tiga Hari Mencari Cinta”

Posted in GOOD NEWS on December 16, 2008 by bayu primasanti

(dibawakan dalam malam refleksi “Refreshing Course” Komparem GKJ Ketandan)


Saudara, siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Mungkin ada yang sedang berharap? Sedang mengalami? Atau sudah melaluinya? Hidup bisa berubah/ tapi ada yang kekal dan tak pernah berubah yaitu Kasih Sayang Yesus. Saya mau ajak kita semua untuk mengalami bagaimana indahnya jatuh cinta kepada Yesus. Kita pujikan bersama “Aku Jatuh Cinta”

Pujian Pembuka “Aku Jatuh Cinta”

“Tiga Hari Mencari Cinta” Apa itu cinta? Cinta seperti apa yang akan kita cari? Bagaimana kita mendapatkannya? Mari kita berdiam di hadapan Tuhan seraya merenungkan apa itu cinta?

Pujian “Ajarku Berdiam”

Ilustrasi I “Istri Tukang Ledeng”

Saudara, alkisah seorang penyanyi tenar di Eropa – memiliki suami seorang musisi handal – setiap dia menyanyikan lagu selalu dikritik, banyak sekali tampaknya kesalahan – dia tidak tahan dan memutuskan untuk berhenti menyanyi. Suami itu meninggal – dia menikah lagi dengan tukang ledeng – tukang ledeng bilang selalu tidak sabar untuk segera pulang dan mendengarkan suara merdu dari istrinya – dia selalu memuji dia – singkat cerita, sang istri semakin suka menyanyi dan mengembangkan bakatnya sehingga menjadi penyanyi tenar – mereka hidup bahagia. Saudara – cinta sejati bukan berasal dari kesempurnaan diri – cinta sejati adalah ketika kita mau menerima orang lain apa adanya/ bahkan memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki untuk mereka// “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24)// Cinta akhirnya bukan menjadi kata benda pasif, tetapi dia menjadi sebuah proses yang mungkin tidak sebentar kita dapat menemukannya// Dan cinta itu ada pada diri Yesus/ mari mengejar hadirNya…

Pujian “Mengerjar HadirMu”

Ilustrasi “Kekuatan Pengampunan”

Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.

Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”

Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”

Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”

“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.” // Cinta seperti itu yang Yesus ajarkan dan menandai bahwa kita orang Kristen yang serupa dengan Kristus// Jujur/ memang sulit melakukan semua itu/ tapi ketika Dia menyentuh hati kita semuanya akan mungkin//

Pujian “Sentuh Hatiku”

Ilustrasi “Hadiah Cinta”

Seorang ibu memiliki anak cacat/ tidak memiliki telinga tapi pendengarannya baik – anak itu tumbuh dewasa dan sering diejek teman-temannya karena penampilannya yang aneh// Si ibu kasihan// Suatu saat dokter berkata/ dia bisa melakukan cangkok telinga kepada anak itu asal ada yang mau mendonorkan// Orang tua anak itu akhirnya mendapat donornya/ tapi sampai anak itu sembuh dan tumbuh semakin besar/ mereka merahasiakan// Hingga suatu hari tibalah mereka di pemakaman ibunya/ lalu ayah itu menyibak rambut ibunya dan….ternyata ibu itu tidak bertelinga// “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambut// Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah sedikit kehilangan kecantikannya// Itu kasih ibu di dunia/ bagaimana dengan kasih Allah? Dia rela tidak hanya memberikan telinganya/ bahkan nyawanya untuk kita// karena Dia mencintai kita di atas segalanya// Dia

Pujian “Above All”

Cyberdemocracy

Posted in COMMUNICATION STUDIES on December 16, 2008 by bayu primasanti

Potret Khalayak di antara Cita-Cita dan Realita Demokrasi Ruang Cyber

Eksistensi internet sebagai produk perkembangan teknologi komunikasi telah membawa berbagai implikasi dalam kehidupan bernegara khalayak media. Selain pemampatan ruang dan waktu dalam komunikasi, penggunaan internet juga mambawa khalayak pada pembentukan masyarakat global, perubahan hubungan sosial, perubahan sistem nilai dan norma, budaya konsumerisme, bahkan penyerahan sebagian otoritas diri pada teknologi komunikasi tersebut[1]. Secara ekstrim McLuhan mengatakan masyarakat saat ini tengah membentuk “desa global” di mana sebagian besar lini kehidupan telah dihubungkan pada jaringan global. Dengan demikian, ruang publik bagi warga negara semakin meluas. Proses politik tidak lagi terlampir dalam surat kabar atau berita di televisi, melainkan telah memasuki dunia baru, dunia cyber.

Dunia yang disebut oleh Sulfikar Amir sebagai borderless world ini memungkinkan tiap khalayak terkoneksi dengan baik. Khalayak menghuni ruang-ruang publik yang tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa[2]. Di era orde baru yang lalu, internet telah membuktikan diri sebagai media pembentuk kekuatan alternatif dalam mewujudkan iklim demokrasi. Fenomena semacam inilah yang kemudian menggiring perhatian sebagian ilmuwan pada kajian cyberdemocracy atau demokrasi yang berlangsung di ruang cyber. Bagaimana sesungguhnya eksistensi demokrasi eksis di ruang cyber? Apakah cyberdemokrasi merupakan produk yang mempengaruhi aspek kehidupan demokrasi pada khalayak media? Dengan eprspektif teknorealis, penulis akan mendedah fenomena cyberdemocracy tersebut.

Cyberdemocracy

Ada perdebatan yang berlangsung mengiringi keberadaan teknologi (komunikasi) dan demokrasi. Sistem demokrasi yang baik pada suatu titik tertentu akan sangat tergantung pada teknologi. Sebaliknya, perkembangan teknologi akan sangat bergantung pada bentuk-bentuk demokrasi. Cyberdemocracy lahir mewarnai perdebatan itu.

Cyberdemokrasi lahir dari sinergi antara demokrasi dan teknologi. Menurut Jerry Berlow, Cyberdemocracy adalah usaha untuk membatasi kemerdekaan, pengaturan diri, dan ruang untuk kehidupan egaliter tanpa pemerintahan masyarakat (nitizens) online, seperti munculnya usaha untuk mengatur dan mengontrol kegiatan di sana [3]. Sedang menurut Paul Feber, et al., cyberdemocracy merupakan interaksi secara alami dalam sebuah situs jaringan yang memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam urusan politik dan kewarganegaraan[4]. Dalam pengertian ini, internet diumpamakan sebagai egovernment yang menyediakan informasi dan pelayanan bagi publik. Bahkan ada yang mengidentikkan cyberdemocracy ini dengan transparent state[5] Karena melibatkan begitu banyak komponen, Ellen S. Cole melihat cyberdemocracy dengan pendekatan multidisipliner, termasuk politik yang terintegrasi, implementation, training and support serta kinerja sebuah tim di dalamnya[6].

Di dalam dunia cyber keberlangsungan demokrasi dimungkinkan selalu mengalami penyesuasian alias tidak se’mutlak’ di dunia nyata. Selain itu posisi khalayak dianggap setara dengan negara, birokrasi, korporasi dan lembaga pemerintah lainnya. Posisi ini kemudian memunculkan pasar (privat interest) sebagai legitimasinya. Kemungkinan-kemungkinan inilah yang kemudian melahirkan dualisme pandangan mengenai eksistensi demokrasi di ruang cyber sekaligus menghadirkan dua pandangan mengenai khalayak, yakni khalayak cyberdemocractic serta khalayak yang belum mengecap demokrasi di ruang cyber itu .

Mencita-citakan Demokrasi di Ruang Cyber

Pandangan teknorealis secara praksis mengemukakan pemikiran mengenai adanya berbagai kepentingan di balik penggunaan media. Secara simultan, paham ini mengakui bahwa internet juga memiliki manfaat-manfaat praktis yang dapat digunakan khalayak tanpa melawan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, pada era reformasi tahun 1998, segolongan khalayak menjadikan internet sebagai media untuk menyebarkan berita-berita politik tanpa hambatan otoritas dari penguasa.

Transparansi kebijakan, baik dalam hal politik, teknologi maupun sosial yang merupakan urusan pemerintah sekarang dengan mudah dapat diakses melalui internet. Khalayak yang terhubung dengan internet dapat dengan mudah memberi respon atas kebijakan yang diambil pemerintah, mengirimkan kritik, saran bahkan berdialog secara interaktif dalam sebuah forum diskusi. Bahkan khalayak dalam kasus reformasi 1998 telah menempatkan internet sebagai bagian dari apa yang disebut “teknologi pembebasan”, yang diharapkan akan berperan serupa dalam proses pembebasan dari segala bentuk hagemoni, manipulasi dan represi politik serta budaya di dunia ketiga[7]

Ruang gerak di dunia cyber memang memungkinkan perluasan bagi public sphere. Hal ini serta merta membuka lebar berkembangnya demokrasi. Masyarakat, dengan membawa bendera kelompok, golongan atau individu dapat secara simultan mengajukan pandangan mereka mengenai berbagai hal tanpa harus melalui batas-batas birokratif pemerintah. Hal ini menciptakan iklim yang subur bagipertumbuhan masyarakat demokratis, walaupun di ruang cyber. Asumsi ini benar apabila kemudian internet dapat diakses oleh khalayak dalam berbagai level. Faktanya, terciptanya khalayak demokratis di ruang cyber – sebagai salah satu alternatif pengembangan demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara – nyatanya masih menemui berbagai tantangan.

Tantangan dalam Cyberdemocracy

Mengadaptasi asumsi Ellen S. Cole dalam memandang keprematuran cyberdemocracy[8], pada bagian ini penulis akan memaparkan bahwa bahwa cyberdemocracy sesungguhnya masih berjalan ‘pincang’. Dalam studinya di Afrika, Cole menemukan empat tantangan yang berjalan beriringan dengan pembentukan khalayak cyberdemocratic. Pertama bahwa tidak seluruh masyarakat di Afrika memiliki kemampuan yang sama – dalam hal materi – untuk mengakses internet. Fenomena ini sangat signifikan diaplikasikan pada masyarakat di Indonesia, yang sebagian masyarakatnya masih tergolong ekonomi menengah ke bawah. Social cost untuk mengakses internet diasumsikan terlalu tinggi dibanding dengan usaha mereka mengumpulkan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pun demikian, pendidikan yang rendah membuat sebagian besar masyarakat di negara-negara tertentu – yang sedang berkembang atau miskin – memiliki perhatian yang rendah terhadap eksistensi dan pemanfaatan internet. Pada titik ini, ruang cyber dianggap masih gagal dalam membentuk khalayak demokratis. Cyberdemocracy hanya mengakomodir kepentingan sebagian masyarakat, itu pun golongan masyarakat dengan kelas sosial tertentu yang tentu saja memiliki kepentingan yang jauh berbeda dengan masyarakat yang termarjinalkan – yang sesungguhnya menjadi peserta terbanyak dalam pesta demokrasi

Kedua, internet merupakan produk yang dihasilkan oleh orang-orang dengan kemampuan teknis tertentu atau yang disebut i-methodology[9]. Tidak dapat dipungkiri, dalam membuat desain program di Internet, orang-orang ini juga telah dikonstruksi oleh pemikiran mereka. Sehingga, menurut Cole, program-program di internet – walaupun ditujukan untuk mendidik masyarakat atau mengakomodir kepentingan serta kebutuhan masyarakat – tetap merupakan produk yang telah dikonstruksi oleh disainer-disainer yang sungguh-sungguh memiliki pemikiran berbeda dengan masyarakat pengguna. Misalnya penggunaan bahasa inggris serta tampilan website dengan icon-icon tertentu yang merefleksikan ide dari disainer, tentu sangat kurang potensial untuk diakses masyarakat dengan pengetahuan atau pun tingkat sosial yang sama sekali berbeda. Dengan demikian sekali lagi, pembentukan khalayak demokratis di ruang cyber telah menemui hambatannya.

Ketiga, Cole melihat gender inequality dalam menggunakan internet pada masyarakat yang ditelititnya. Secara kultural, wanita di Afrika diposisikan sebagai sosok pekerja dapur, pengurus keluarga yang memiliki waktu senggang terbatas, tidak memiliki otoritas bermain dalam kancah politik dan tentu saja sebagai implikasinya, tidak memiliki kekuatan dan kesempatan untuk mengakses internet. Cyberdemocracy bagi khalayak wanita, khususnya di Afrika, hanya sebagai istilah ‘keren’ produk dari kejayaan teknologi yang patut dibanggakan tanpa memberikan kontribusi berarti bagi penyelesaian permasalahan mereka. Tentu saja, ketika eksistensi wanita direduksi dalam cyberdemocracy secara otomatis, demokrasi itu sendiri tidak berjalan.

Selanjutnya yang menjadi tantangan bagi eksistensi cyberdemocracy adalah keberadaan khalayak dalam wilayah-wilayah yang belum terjangkau, jauh dari ibu kota yang sejatinya merupakan pusat asal demokrasi itu. Misalnya Indonesia, negara kepualauan ini memiliki ratusan bahkan ribuan pulau kecil yang belum memungkinkan untuk dijangkau oleh internet. Padahal, di dalamnya dihuni juga oleh warga masyarakat yang tentu juga memiliki hak dalam menyampaikan pemikiran mereka untuk mendukung pengembangan demokrasi. Keterbatasan georafis ini secara otomatis memunculkan keterbatasan khalayak pengguna internet yang implikasinya pada kepincangan demokrasi di ruang cyber.

Potret khalayak dalam dunia cyber ini menggambarkan bahwa sejatinya cyberdemocracy pun masih berjalan ‘pincang’. Beberapa hambatan di atas membuat posisi cyberdemocracy kembali melemah sebagai kekuatan untuk memperuas ranah demokrasi di sebuah negara. Khalayak pun tidak sepenuhnya memegang kebebasan sebagai hak mereka. Pembatasan kultur, politik, sosial maupun geografis membuat khalayak cyberdemocratic sukar didefinisikan. Meminjam istilah Navis, cyberdemocracy doesn’t promote absolute freedom because such freedom exist only in jungles which are un inhibited[10]. Memang tidak ada jaminan seratus persen bahwa cyberdemocracy akan membawa kesuksesan besar bagi pertumbuhan demokrasi, terutama dalam membentuk khalayak demokratis. Namun yang jelas, perluasan publicsphere dalam ruang cyber telah membuktikan bahwa sejatinya demokrasi masih memiliki sebuah tempat untuk menunjukkan eksistensinya. Oleh karena itu, sangatlah naif apabila kita mengatakan bahwa realita khalayak di ruang cyber itu merupakan produk dari perkembangan internet, sebaliknya ia lebih tepat menjadi sebuah kondisi yang selalu mengikuti ke mana arah perkembangan teknologi itu menuju. Lagi-lagi meminjam kesimpulan Cole, cyberdemocracy is a condition not an outcome.

REFERENSI

Arar, Ana Nadya. 2003. Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi. Jogjakarta: Lesfi

Sulfikar Amir dalam artikel “Demokrasi dan Teknologi”

http://www.theindonesianinstitute.org/gdemo02.htm

Paul Ferber, et al.,Cyberdemocracy v. E Government: The degree of Interactivity on State Legislative Website” http://java.cs.vt.edu/public/projects/digitalgov/papers/Ferber.Cyberdemocracy.pdf

“European Government and Cyberdemocracy” http://europa.eu.int/comm/governance/areas/group1/contribution_en.pdf

Ellen S. Cole, “Cyberdemocracy: A Condition, not an Outcome

http://www.xs4all.nl/~ekole/public/cyberdem.html

Deddy N. Hidayat dalam artikel “Mempertanyakan Teknologi Pembebasan” http://www.istecs.org/Publication/Dimensi/dim_vol5no1_pebruari2003.pdf

http://www.naavi.org/cyber_democracy/index.htm


[1] Ana Nadya Abrar, Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi”, 2003, Jogjakarta: Lesfi

[2] Sulfikar Amir dalam artikel “Demokrasi dan Teknologi”

[3] Jerry Berlow,,____

[4] Paul Ferber, et al., “Cyberdemocracy v. E Government: The degree of Interactivity on State Legislative Website”,

[5] “European Government and Cyberdemocracy”

[6] Ellen S. Cole dalam “Cyberdemocracy: A Condition, not an Outcome”

[7] Deddy N. Hidayat dalam artikel “Mempertanyakan Teknologi Pembebasan”

[8] Ellen S. Cole, op cit

[9] Ramses, et al., dalam ibid.

[10] http://www.naavi.org/cyber_democracy/index.htm

Etnografi: Sebuah Metode Penelitian Kualitatif

Posted in COMMUNICATION STUDIES on December 16, 2008 by bayu primasanti

(Tinjauan Ringkas Etnografi Sebagai Metode Penelitian Kualitatif

dari Berbagai Referensi)

Perkembangan media dalam konteks sosial dan praktik budaya yang kian beragam semakin mengukuhkan eksistensi paradigma kualitatif. Kemampuannya menghasilkan produk analisis yang mendalam selaras dengan settingnya, diakui sebagai paradigma yang patut diperhitungkan dalam rangka menghadirkan refleksi bagi kajian ilmu komunikasi. Beberapa metode penelitian berbasis paradigma kualitatif ini– analisis wacana, studi kasus, semiotik dan etnografi – kini mulai dilirik para ilmuwan maupun peneliti.

Etnografi – yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini – merupakan salah satu metode penelitian kualitatif. Dalam kajian komunikasi, Etnografi digunakan untuk meneliti perilaku-perilaku manusia berkaitan dengan perkembangan teknologi komunikasi dalam setting sosial dan budaya tertentu, misalnya penelitian mengenai perilaku penggunaan mobile phone oleh remaja di Norwegia (Rich, Ling, ___). Metode penelitian etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan sumber-sumber yang luas. Dengan teknik “observatory participant”, etnografi menjadi sebuah metode penelitian yang unik karena mengharuskan partisipasi peneliti secara langsung dalam sebuah masyarakat atau komunitas sosial tertentu. Yang lebih menarik, sejatinya metode ini merupakan akar dari lahirnya ilmu antropologi yang kental dengan kajian masyaraktnya itu.

Tidak seberuntung analisis wacana, studi kasus dan semiotik, selama ini belum banyak buku-buku khusus yang membahas metode penelitian etnografi dalam komunikasi, khususnya di Indonesia. Pun metode ini juga belum terlalu banyak diadaptasi oleh para peneliti dalam kajian komunikasi – walaupun diakui sumbangsihnya dalam menyediakan refleksi mengenai masyarakat dan perkembangan teknologi komunikasi terhitung tidak sedikit. Beberapa keunikan dan fenomena yang mengikuti eksistensi metode penelitian etnografi dalam komunikasi ini membuat penulis meliriknya sebagai salah satu metode yang laik dikenalkan, dikembangkan dan dirujuk dalam penelitian komunikasi. Untuk itu, dengan mengacu pada beberapa referensi buku, penulis akan memetakan secara ringkas metode penelitian etnografi.

  1. “Metode Etnografi” – James Spradley

Secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dianggap sebagai asal-ususl ilmu antropologi. Margareth Mead menegaskan, “Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by individuals within living societies. Dalam buku “Metode Etnografi” ini, James Spardley mengungkap perjalanan etnografi dari mula-mula sampai pada bentuk etnografi baru. Kemudian dia sendiri juga memberikan langkah-langkah praktis untuk mengadakan penelitian etnografi yang disebutnya sebagai etnografi baru ini.

Etnografi mula-mula (akhir abad ke-19). Etnografi mula-mula dilakukan untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis wacana, mereka – ilmuwan antropologi pada waktu itu – melakukan kajian etnografi melalui tulisan-tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada akhir abad ke-19, legalitas penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat yang menjadi obyek kajiannya.

Etnografi Modern (1915-1925). Dipelopori oleh antropolog sosial Inggris, Radclifffe-Brown dan B. Malinowski, etnografi modern dibedakan dengan etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yakni mereka tidak terlalu mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil melakukan observasi.

Ethnografi Baru Generasi Pertama (1960-an). Berakar dari ranah antropologi kognitif, “etnografi baru” memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan susunan pikiran dari anggota masyarakat yang dikorek keluar oleh peneliti. Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat penting dalam metode penelitian ini. “Pengumpulan riwayat hidup atau suatu strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian ini.

Ethnografi Baru Generasi Kedua. Inilah metode penelitian hasil sintesis pemikiran Spardley yang dipaparkan dalam buku “Metode Etnografi” ini. Secara lebih spesifik, Spardley mendefinisikan budaya – sebagai yang diamati dalam etnografi – sebagai proses belajar yang mereka gunakan untuk megintepretasikan dunia sekeliling mereka dan menyusun strategi perilaku untuk menghadapinya. Dalam pandangannya ini, Spardley tidak lagi menganggap etnografi sebagai metode untuk meneliti “Other culture”, masyarakat kecil yang terisolasi, namun juga masyarakat kita sendiri, masyarakat multicultural di seluruh dunia. Pemikiran ini kemudian dia rangkum dalam “Alur Penelitian Maju Bertahap” yang terdiri atas lima ,prinsip, yakni: Peneliti dianjurkan hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data; mengenali langkah-langkah pokok dalam teknik tersebut., misalnya 12 langkah pokok dalam wawancara etnografi dari Spardley.; setiap langkah pokok dijalankakn secra berurutan; praktik dan latihan harus selalu dilakukan; memberikan problem solving sebagia tanggung jawab sosialnya, bukan lagi ilmu untuk ilmu.

Inti dari “Etnografi Baru” Spardley ini adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami melalui kebudayaan mereka. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya manusia dari tiga sumber: (1) dari hal yang dikatakan orang, (2) dari cara orang bertidak, (3) dari berbagai artefak yang digunakan. Namun, dalam buku ini, Spradley memfokuskan secara khusus pembuatan keksimpulan dari apa yang dikatakan orang. Wawancara etnografik dianggap lebih mampu menjelajah susunan pemikiran masyarakat yang sedang diamati.

Sebagai metode penelitian kualitatif, etnografi dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Spradley mengungkapkan beberapa tujuan penelitian etnografi, sbb: pertama, untuk memahami rumpun manusia. Dalam hal ini, etnografi berperan dalam menginformasikan teori-teori ikatan budaya; menawarkan suatu strategi yang baik sekali untuk menemukan teori grounded. Sebagaii contoh, etnografi mengenai anak-anak dari lingkungan kebudayaan minoritas di Amerika Serikat yang berhasil di sekolah dapat mengembangkan teori grounded mengenai penyelenggaraan sekolah; etnografi juga berperan untuk membantu memahami masyarakat yang kompleks. Kedua, etnografi ditujukan guna melayani manusia. Tujuan ini berkaitan dengan prinsip ke lima yang dikemukakan Spradley di atas, yakni meyuguhkan problem solving bagi permasalahan di masyarakat, bukan hanya sekadar ilmu untuk ilmu.

Ada beberapa konsep yang menjadi fondasi bagi metode penelitian etnografi ini. Pertama, Spradley mengungkapkan pentingnya membahas konsep bahasa, baik dalam melakukan proses penelitian maupun saat menuliskan hasilnya – dalam bentuk verbal. Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk mempelajari bahasa setempat, namun, Spredley telah menawarkan sebuah cara, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan etnografis. Konsep kedua adalah informan. Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi; secara harafiah, mereka menjadi guru bagi etnografer (Spradley, 1997: 35).

Sisa dari buku yang ditulis Spradley ini mengungkap tentang langkah-langkah melakukan wawancara etnografis – sebagai penyari kesimpulan penelitian dengan metode etnografi. Langkah pertama adalah menetapkan seorang informan. Ada lima syarat yang disarankan Spradley untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis. Langkah kedua adalah melakukan wawancara etnografis. Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus (ibid, hal. 71). Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan dan pertanyaannya yang bersifat etnografis. Langkah selanjutnya adalah membuat catatan etnografis. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Langkah ke empat adalah mengajukan pertayaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif mengambil “keuntungan dari kekuatan bahasa untuk menafsirkan setting” (frake 1964a: 143 dalam Spradley, 1991: 108). Etnografer perlu untuk mengetahui paling tidak satu setting yang di dalamnya informan melakukan aktivitas rutinnya. Langkah ke lima adalah melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini merupakan penyelidikan berbagai bagian sebagaimana yang dikonseptualisasikan oleh informan. Langkah ke enam, yakni membuat analisis domain. Analisis ini dilakukan untuk mencari domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan nama-nama benda. Langkah ketujuh ditempuh dengan mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain. Langkah selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Langkah ke sembilan yakni mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini daoat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbol-simbol yang lain. Langkah ke sepuluh membuat analisis komponen. Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Langkah ke sebelas menemukan tema-tema budaya. Langkah terakhirnya yakni menulis sebuah etnografi.

Pemikiran Spradley ini memberi pemetaan historis yang jelas mengenai metode penelitian etnografi selain mamberi gambaran mengenai langkah-langkahnya. Dengan cerdas, Spradley memaparkan bahwa etnografi baru bukan hanya dapat diadaptasi sebagai metode penelitian dalam antropologi melainkan dapat digunakan secara luas pada ranah ilmu yang lain. Penulis meletakkan pemikiran Spradley ini di bagian awal dengan maksud agar kita memperoleh pemahaman awal mengenai metode etnografi yang masih murni, umum, yang berasal dari akarnya, yakni ilmu antropologi. Berikut, penulis akan menyajikan pemikiran-pemikiran lain mengenai metode penelitian etnografi dalam ranah kajian ilmu yang lebih spesifik, ilmu komunikasi.

  1. “Metodologi Penelitian Kualitatif” – Deddy Mulyana

Istilah Etnografi berasal dari kata ethno (bangsa) dan graphy (menguraikan). Etnografi yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Menurut pemikiran yang dirangkum oleh Deddy Mulyana ini, etnografi bertujuan menguraikan suatau budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya baik yang bersifat material, seperti artefak budaya dan yang bersifat abstrak, seperti pengalaman, kepervcayaan norma, dan system nilai kelompok yang diteliti. Sedang Frey et al., (1992: 7 dalam Mulyana, 2001: 161) mengatakan bahwa etnografi berguna untuk meneliti perilaku manusia dalam lingkungan spesifik alamiah. Uraian tebal (thick description ) berdasarkan pengamatan yang terlibat (Observatory participant) merupakan ciri utama etnografi (ibid: 161-162).

Pengamatan yang terlibat menekankan logika penemuan (logic of discovery), suatu proses yang bertujuan menyarankan konsep-konsep atau membangun teori berdasarkan realitas nyata manusia. Metode ini mematahkan keagungan metode eksprimen dan survei dengan asumsi bahwa mengamati manusia tidak dapat dalam sebuah laboratorium karena akan membiaskan perilaku mereka. Pengamatan hendaknya dilakukan secara langsung dalam habitat hidup mereka yang alami.

Denzin menkategorikan jenis pengamat, sbb: participant as observer, complete participant, observer as participant serta complete observer (I bid: 176). Etnografer harus pandai memainkan peranan dalam berbagai situasi karena hubungan baik antara peneliti dengan informaan merupakan kunci penting keberhasilan penelitian. Untuk mewujudkan hubungan baik ini diperlukan ketrampilan, kepekaan dan seni. Selain ketrampilan menulis, beberapa taktik yang disarankan adalah taktik “mencuri-dengar” (eavesdropping) dan taktik “pelacak” (tracer), yakni mengikuti seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan normalnya selama periode waktu tertentu.

Hampir sama dengan pemikiran sebelumnya, tulisan Deddy Mulyana ini mengukuhkan wawancara secara mendalam dan tak terstruktur sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian etnografi ini. Kedua jenis wawancara ini adalah metode yang selaras dengan perspektif interaksionisme simbolik, karena memungkinkan pihak yang diteliti untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan lingkungannya, tidak sekadar manjawab pertanyaan peneliti. Pada tahap ini, wawancara hendaknya dilakukan secara santai dan informal dengan tetap berpengang pada pedoman wawancara yang telah dibuat peneliti.

Walaupun pemaparannya tidak jauh berbeda dengan Spradley di atas, namun Deddy Mulyana lebih menekankan pendekatan interaksionisme simbolik untuk membaca sebuah fenomena menggunakan metode etnografi ini. Menurut perspektif interaksionisme simbolik, transformasi identitas menyangkut perubahan psikologis. Pelakunya menjadi individu yang berbeda dari sebelumnya (Ibid: 230). Hal ini menjadi perhatian dalam penggunaan metode penelitian etnografi. Peneliti disarankan untuk mampu merunut riwayat sejarah informan sebelum melakukan penelitian, atau yang sering dikenal dengan analisis dokumen.

  1. “A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research” – Jensen and Jankowski

Dalam bukunya “A Hand Book of Methodologies For Mass Communication Research”, Jensen dan Jankowski menempatkan etnografi sebagai sebuah pendekatan. Etnografi tidak dilihat sebagai alat untuk mengumpulkan data, tetapi sebuah cara untuk mendekati data dalam meneliti fenomena komunikasi. Menurut Hammersley dan Atkinson (1983: 2 dalam Jansen and jankowski, 1991: 153), etnografi dapat dipahami sebagai

Simply one social research method, albeit an unusual one, drawing on a wide range of sources information. The erhnographer participates in people’s lives for an extended period of time, watching what happens, listeninf to what is said, asking questions, collecting whatever data are available to throw light on issues with which he or she concerned.

Etnografi secara alami dipandang sebagai penyelidikan mengenai aktivitas hidup manusia. Oleh Greetz disebut sebagai “informal logic of actual life”. Berbasis pandangan ini, seharusnya etnografi mampu menghasilkan deskripsi secara detail dari pengalaman kongkrit dengan latar budaya dan aturan sosial tertentu, pola-pola yang ada di dalamnya bukan berpatokan pada hukum yang universal (ibid: 8). Namun kenyataannya, etnografi menjadi istilah yang totemic. Misalnya, dalam kajian mengenai audiens akhir-akhir ini, tiba-tiba semua orang menjadi seorang etnografer.

Hal ini menggugah Lull untuk meneriakkan kembali tanggung jawab sebagai seorang peneliti etnografi, yakni; pengamatan dan pencatatan secara langsung tingkah laku yang rutin dari seluruh karakteristik individu yang dipelajari; pengamatan harus dilakukan secara langsung dalam setting masyarakat yang diteliti – sebagai laboratorium alaminya; Kesimpulan digambarkan secara hati-hati, tidak gegabah, perlu juga memberikan perlakuan spesial terhadap hasil pengamatan dalam konteks yang berbeda-beda.

Strategi penelitian kualitatif, seperti Etnografi ini dirancang untuk memasuki ceruk-ceruk wilayah kehidupan alami serta aktivitas tertentu yang menjadi karakter masyarakat yang akan diteliti. Kekuatan utama etnografi adalah contextual understanding yang timbul dari hubungan antaraspek yang berbeda dari fenomena yang diamati. Namun, yang masih dianggap sebagai kelemahannya ialah interpretasi peneliti dalam menggambarkan hasil pengamatan. Karena peneliti barada bersama dengan para informan, maka peneliti dituntut untuk reflektif dan mampu menjauhkan diri dari kekerdilan interpretasi, ketidaklengkapan observasi dan dan gap- gap yang ada dalam struktur yang diamati.

Sedang penelitian etnografi mulai dikembangkan, debat mengenai etnografi postmodern terpusat di USA pun masih berlangsung. Perdebatan itu bermuara pada hubungan antara siapa yang megnamati serta siapa yang diamati, dan kewenangan dasar seorang etnografer untuk membuktikan sebuah pengalaman kultural orang lain. Sesungguhnya ini adalah perdebatan klasik dalam kajian etnografi selama bertahun-tahun, namun memang segala pendekatan yang berpangkal pada paradigma subyektivis harus menemukan jalannya sendiri. Menanggapi perdebatan tersebut, Greetz dengan bijak mengatakan bahwa being there as the founding authority of the ethnographic account.. Walaupun mendapat cercaan dari penganut positivis, etnografi toh telah membantu kita dalam memahami praktik-praktik menonton televisi dan pengkonsumsian media lainnya yang tidak dapat dihindari selalu terjadi dalam konteks kehidupan tsehari-hari.

  1. SEBUAH TINJAUAN

Etnografi, yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Seperti layaknya penelitian kualitatif lainnya, etnografi saat ini sudah mampu mengambil hati para ilmuwan komunikasi terutama berkaitan dengan penelitian yang mengungkap praktik-praktik pengkonsumsian media, perilaku dalam perkembangan teknologi komunikasi, dll. Metode penelitian etnografi menyuguhkan refleksi yang mendalam bagi kajian-kajian semacam itu.

Metode etnografi memiliki ciri unik yang membedakannya dengan metode penelitian kualitatif lainnya, yakni: observatory participant—sebagai teknik pengumpulan data, jangka waktu penelitian yang relatif lama, berada dalam setting tertentu, wawancara yang mendalam dan tak terstruktur serta mengikutsertakan interpretasi penelitinya. Yang terakhir ini sepertinya masih menjadi perdebatan dengan penganut positivis. Untuk kasus-kasus tertentu, kemampuan interpretasi peneliti diragukan – tanpa mereka sadari, sejatinya interpretasi ilmuwan-ilmuwan etnografi berperan besar dalam menyajikan kesadaran-kesadaran kritis atas perilaku bermedia masyarakat.

Ketidakberuntungan merode etnografi dibanding analisis wacana, semiotik serta studi kasus adalah karena penelitian ini memerlukan waktu yang sangat lama, tenaga yang besar – karena peneliti harus bergabung dengan informan, ketrampilan berkomunikasi yang terlatih, serta kemampuan menuliskan interpretasi dengan baik. Di sisi lain, metode etnografi telah membuktikan bahwa sebagai metode penelitian kualitatif, ia mampu melaklukan analisis yang lebih mendalam serta menyajikan refleksi kritis secara detil dalam lingkup mikro sebuah kehidupan manusia.

Bagaimanapun juga, metode penelitian etnografi hanyalah sebuah cara yang dalam aplikasinya tentu tidak dapat meninggalkan metode penelitian lainnya, bahkan metode penelitian kuantitatif sekalipun. Sebagai calon ilmuwan komunikasi, ada baiknya kita mempelajari metode ini, karena di masa yang akan datang, ketika kultur mikro mulai tereduksi oleh globalisasi makro, tentu refleksi-refleksi kritis sangat diperlukan. Dan etnografi akan hadir sebagai metode penelitian kulaitatif yang akan menyelesaikannya.

REFERENSI

Jensen, Klaus Bruhn and Nicholas W. Jankowski. 1991. A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research.

Mulyana, Deddy. 2001. metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT remaja Rosdakarya

Spradley, james P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT tiara Wacana

Romantic Vs Confluent Love (Review pandangan Eva Illouz dan A. Giddens megnenai percintaan di dunia post-modern — cyberspace)

Posted in COMMUNICATION STUDIES on December 16, 2008 by bayu primasanti

(dalam mata kuliah Cybermedia)

“…romantic love captures our minds and hearts by promissing transgression through consumption leisure and nature”

Dalam bukunya “Consuming The Romantic Utopia”, Eva Illois menyuguhkan sebuah refleksi baru dalam membaca dan mendeterminiasikan percintaan. Menurutnya, serta merta nuansa percintaan mengalami perubahan dari sebuah romansa klise menjadi aktivitas kapitalis yang menuntut materi. “…that the experience of “true” love is deeply embedded in the experience of consumer capitalism”. Dengan mengambil sampel masyarakat Amerika, Illouz mencoba memetakan hubungan yang sejatinya rumit antara aspek cinta dan ekonomi. Kesimpulannya, faktor ekonomi kian berperan penting dalam menumbuhkakn romansa percintaan di zaman modern ini[1]. Ekonomi melahirkan nuansa utopis dalam memahami, memaknai dan menjalani percintaan.

Senada dengan Eva Illouz, pakar sosiologi Anthony Giddens pun menyingkap perubahan hubungan pribadi sebagai konsekuensi dari globalisasi. Menurutnya, dalam masyarakat modern, kemesraan dalam bercinta atau “romantic love” sudah mulai digeser oleh “pure love” atau “confluent love” yang diidentikkan dengan passion atau gairah [2]. Sebagai konsekuensinya masyarakat dunia kini mulai didominasi oleh kultur masyarakat barat dalam masyarakat post tradisionalnya.

Perubahan itu memang sudah selayaknya terjadi di dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat. Batas-batas pribadi dan nuansa klise dalam berkomunikasi sudah mulai diruntuhkan dengan kehadiran internet. Dengan konsep demokrasi yang melekat pada mesin informasi itu, setiap orang bebas berhubungan dengan siapa pun, dengan cara apa pun, dalam bentuk bagaimana pun. Melalui kebebasan inilah orang dapat dnegan mudah mengekspresikan kecemasannya, kesepiannya, keinginannya untuk menguasai atau pun dikuasai, keinginan untuk ebrsenang-senang, keinginan untuk menyakiti bahkan keinginan dasar manusia untuk berfantasi seksual. Di dunia internet, atau yang sering disebut dengan dunia maya atau virtual reality inilah kemudian manusia memperoleh legitimasi untuk mengekspresikan segala tingkah laku dan keinginannya yang mungkin sangat terbatas di dunia nyata. Walhasil, cybersex, pornografi, atau sexually Explicit Materials (SEM) menjadi salah satu tujuan orang menjalin hubungan melalui internet.

Paradigma baru mengenai hubungan pribadi yang lahir dari perkembagnan internet inilah yang kemudian memincu kehadiran komersialisasi dalam percintaan. Cinta sudah tidak lagi diidentikkan dengan kemesraan yang tulus antara dua insan yang tengah jatuh cinta, namun merupakan passion atau gairah yang harus segera disalurkan melalui apa pun, tak terkecuali dengan uang, materi, dll sehingga munculah konsep “confluent love” yang beranjak menggantikan konsep “romantic love”. Keberadaan internet dan konsep demokrasi yang melekat padanya memang tak dapat dihindari telah melarutkan romantisme dalam bercinta seraya menggantikannya dengan passion yang tidak dapat dipisahkan dari materi. Namun, penulis yakin kemesraan dalam percintaan yang tulus selamanya tidak akan dapat tergantikan.


[1] Eva Illouz, Consuming The Romantic Utopia”, 1997 dalam http:// www. ____0520205715.htm

[2] NEIL GROSS, University of Southern California, SOLON SIMMONS, University of Wisconsin-Madison, Intimacy as a Double-Edged Phenomenon? / 535

GAMBUH (Speech)

Posted in COMMUNICATION STUDIES on December 16, 2008 by bayu primasanti


Pengantar

Tahun 2005 puluhan ribu siswa SD, SMP bahkan SMU tidak lulus ujian nasional. Merunut laporan beberapa media massa, banyak dari anak-anak yang tidak lulus ini kemudian menjadi manusia yang apatis, minder, bahkan beberapa nekat mencoba bunuh diri karena malu. Mari kita raba, apakah anak itu memang terlalu malas, apakah ini salah pemerintah – melalui lembaga pendidikan – karena tidak meluluskan mereka, atau memang ada yang salah dengan sistem pendidikan itu sendiri?

Ya, inilah judul pidato saya “Gambuh”. Gambuh adalah salah satu judul tembang jawa yang berarti mendidik, menasehati, memberi pengajaran. Syair-syair tembang Gambuh selalu berisi petuah untuk menjaga tingkah laku, sikap, pola kehidupan serta pendidikan kita agar selalu harmonis dan seimbang. Salah satu barisnya berbunyi: “Tanpa tutur katula-tula katali”, yang artinya: tanpa pendidikan moral dari lingkungan yang baik (berupa nasehat, petuah orang tua, dll _pen.) sedari dini kehidupan kita akan mengalami kesukaran dan kesia-siaan kemudian. Memang tak sedikit manusia yang telah menyadari pentingnya pendidikan di luar sekolah itu, namun tetap saja penjara pendidikan formal membuat mereka tak dapat berkutik. Ada yang memilih diam dan tetap mengikuti sistem, ada yang mencoba berontak walau dengan tertatih-tatih. Mark Twain pun kemudian berkata: “Saya tidak akan membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya”.

Hadirin yang terhormat, Saya memilih judul “Gambuh” ini untuk merangkum seluruh isi pidato saya mengenai pendidikan – khususnya pendidikan formal – di Indoenesia yang tengah dilanda berbagai problema: kesenjangan, ketidakjelasan arah, biaya yang melambung tinggi serta keotoriteran pemerintah.

Entah ini kabar gembira atau duka, sejak kemerdekaan tahun 1945 hingga saat ini, Indonesia telah delapan kali berganti kurikulum. Semasa orde lama ada tiga kurikulum yang dikeluarkan oleh Negara. Pada rezim orde baru, ada empat kurikulum. Kurikulum orde lama didisain sedemikian rupa sebagai manifestasi kebijakan Negara, mengacu pada upaya pembangunan karakter bangsa sehingga sifatnya patriotis, sementara pada masa orde baru kurikulum difokuskan pada pencetakan sumber daya manusia yang akan menjadi faktor penunjang pembangunan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan[1]. Pergantian kurikulum ini merupakan salah satu faktor jatuh bangunnya pendidikan di Indoensia. Anak-anak dan perangkat pendidikan lainnya dituntut untuk selalu beradaptasi dengan perubahan itu; padahal sarana pendukungnya sangat minim.

Sampai tahun 2006 ini, sistem pendidikan di Indoensia sepertinya belum beranjak dari keterpurukan kualitasnya. Sebagai bukti, bolehlah kita kenang sejenak tragisnya peristiwa kelulusan siswa sekolah menengah di Indonesia tahun 2005 lalu. Puluhan ribu siswa SMP dan SMA di Indonesia tidak lulus ujian[2]. Selain itu, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia menurut International Education Achievement (IEA) dapat dilihat dari tingkat kemampuan membaca anak SD. Untuk nominasi ini, Indonesia termasuk dalam rangking ke-38 dari 39 peserta studi[3]. Eko Prasetyo, seorang pemerhati pendidikan pun menambahkan bahwa pendidikan Indonesia kini semakin menampakkan jalan pincangnya tatkala mimpi buruk tentang “orang miskin dilarang sekolah” termanifestasikan dalam pendidikan formal di Indonesia[4].

Sejatinya, secara secara kuantitas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia telah mengalami peningkatan, terutama sejak diluncurkannya program inpres (instruksi presiden) bidang pendidikan pada tahun 1974, wajib belajar 9 tahun yang dideklarasikan pada tahun 1984, serta wajib belajar 9 tahun yang dideklarasikan sejak tahun 1994. Prestasi ini pun toh belum dapat menutupi masalah besar pendidikan Indoensia, yakni mutu yang rendah. UNDP (United Nation Development Program) dalam laporan HDI (Human Development Index), di antara 174 negara, rangking Indoensia pada tahun 1998 sangat rendah, yakni 105, bahkan pada tahun 1999 merosot lagi ke posisi 109[5].

Rendahnya mutu penidikan Indonesia ini antara lain disebabkan karena anak tidak diberi kebebasan untuk mengekspresikan kaya mereka sendiri. Kurikulum distir sedemikian rupa oleh pemerintah sehingga kemerdekaan anak dalam mengembangkan kreativitas tereduksi. Di sekolah, anak hanya mendapat pendidikan formal, yang itu pun belum tentu memadahi. Mereka duduk kemudian disuapi oleh berbagai rumus dan hafalan. Tersebutlah penyeragaman kerangka pikir siswa sebagai output metode pembelajaran yang demikian. Anak, dengan kemampuan yang tidak sama, dipaksa duduk dalam satu mesin ruangan dan diolah menjadi manusia yang memiliki pola pikir seragam.

Menurut Antonio Gramsci, salah satu hegemoni kekuasaan Negara terhadap rakyatnya dalah lewat jalur dan model pendidikan yang dipaksakan pada mereka. Hegemoni melalui jalur kultural itu akan terus menyebar dan memperluas jangkauannya dalam relung-relung kehidupan sebesar atau sekecil apa pun. Dengan demikian cara berpikir dan bertindak rakyat akan terdominasi oleh hal-hal yang disebar oleh aparat pemerintah[6]. Wejangan kuno menyatakan ada dua macam pendidikan, yang satu pendidikan untuk mencari nafkah, yang lainnya pendidikan tentang cara hidup. Dengan desain kurikulum yang demikian, masyarakat pun dengan mudah menilai mana di antara kedua pendidikan itu yang tegah berlangsung di Indonesia. Pilihannya tentu adalah pendidikan untuk mencari nafkah. Ironis.

Reduksi kreativitas juga dialami oleh tenaga pendidiknya. Tenaga pendidik yang sering disapa Guru itu kini tak lebih hanya sebagai pentransfer ilmu dan mesin perintah. Dominasi yang dilakukan pemerintah dalam kurikulum pendidikan membuat guru kehilangan banyak waktu untuk melakukan pendampingan terhadap siswa-siswinya karena disibukan dengan urusan administratif yang kelihatannya semakin rumit. Relokasi perhatian inilah yang kemudian menjadi faktor pembunuh bagi pendidikan moral yang sejatinya merupakan fondasi bagi pembentukan karakter manusia yang berkepribadian.

Seleksi pendidik pun menjadi out put atas proses pelapukan pendidikan di Indonesia. Pada seleksi pegawai negri (guru termasuk di dalamnya) yang menjadi kriteria adalah jenjang pendidikannya dan ujian calon pegawai negri sipil. Padahal tidak semua orang pandai dilihat dari hasil seleksi pegawai negri, tidak juga semua yang pandai dapat mendidik anak dengan baik. Alokasi perhatian untuk ketrampilan guru (training, dll_pen.) pun dimoseumkan. Lalu bagaimana mungkin kita berharap pendidikan kita akan maju sedang perangkat pendidiknya saja tidak kompeten.

Alih-alih memikirkan solusi atas keterpurukan ini, pemerintah kini memilih untuk berusaha memulihkan citra Indoensia serta menikmati kesibukannya dalam menyelesaikan masalah ekonomi dan politik. Pergantian kurikulum yang sedianya menjadi terobosan baru dalam mendobrak sistem pedidikan yang kaku pun justru dijadikan alat bagi pejabat untuk ‘unjuk gigi’ atau sekadar pembuktian bahwa mereka melakukan ‘sesuatu’. Menunggu pemerintah untuk bertindak? Mungkin kita tidak akan sempat merasakan udara segar dalam pendidikan di Indonesia. Tidak mustahil kita akan terus diolok-olok karena sebagaian bersar masyarakat kita masih buta huruf. Tak menutup kemungkinan juga bahwa kriminalitas, pornografi disertai serangkaian tindak anarkisnya tetap mewarnai siaran berita. Atau jangan-jangan budaya KKN akan tetap menjadi kultur abadi yang terus menggerogoti kepribadian bangsa.

Melalui pidato ini, saya sebagai pengagung pendidikan ingin mengajak hadirin dan rekan mahasiswa sekalian untuk bangkit, setidaknya bersedia menengok keadaan pendidikan generasi kita dan di bawah kita yang tengah suram. Kita adalah manusia yang diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan hingga jenjang setinggi ini dan mungkin masih berharap akan lebih tinggi lagi. Kita adalah manusia yang sadar bahwa pendidikan itu penting bukan hanya dalam hal akademis melainkan juga pendidikan moral seperti yang diungkapkan oleh sekar gambuh. Kita sebentar lagi akan menjadi penentu langkah bangsa ini dan pemelihara mereka yang berkekurangan, kita kelak akan duduk di kursi yang sekarang tegah diperebutkan. Bukankah kita intelektual muda yang peduli akan masa depan bangsa? Tidak inginkah kita melihat cahaya bagi bangsa ini? Melakukan hal kecil, seperti tetap belajar dengan mengindahkan pendidikan moral, budi pekerti dan agama, kita telah berinvestasi bagi kemajuan bangsa. Apalagi kalau kita mau berkata tidak pada hagemoni negara yang memenjara kemerdekaan dalam memperoleh pendidikan, tentu modal kita untuk segera keluar dari keterpurukan ini semakin besar. Ditambah sedikit usaha untuk membantu mendidik mereka yang tidak mampu membayar pemerintah untuk mendapatkan pendidikan formal, tentu investasi itu akan semakin berharga.

Romo Manunwijaya, telah membuktikan bahwa dia mampu melakukannya; membimbing anak-anak miskin, anak-anak pinggiran dengan usahanya sendiri. Masihkah kita ragu, Kawan? Pendidikan adalah lentera kehidupan bangsa. Ketika sumbunya usang, nyalanya pun menjadi suram. Kita yang sedianya dapat melihat pun sekonyong-konyong menjadi manusia-manusia buta yang tak dapat lepas dari keterkungkungan budaya hagemoni ini. Lalu dari pada mengutuki kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin, sekecil apa pun liiln itu. Dan Tembang gambuh pun siap dikumandangkan kembali mengiringi kejayaan negri ini.


[1] Dedy Pradipta, Pendidikan dan Negara sebagai Kontestsi Kekuasaan, Studi Kasus SD manunan sebagai Fenomena Pnedidikan Alternatif di Indonesia, Universitas Indoenesia, 2004: 188

[2] Budi Satyo, 2005

[3] ibid.

[4] eko Prasetyo, 2004, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Resista, Jogjakarta

[5] Mangunwijaya, 2004,

[6] Dedy Pradipta, Pendidikan dan Negara sebagai Kontestsi Kekuasaan, Studi Kasus SD manunan sebagai Fenomena Pnedidikan Alternatif di Indonesia, Universitas Indoenesia, 2004: 188