Cyberporn amd Children (Sebuah Tantangan atas Perkembangan Teknologi)

Kontroversi terhadap eksistensi internet masih terus bergulir. Dengan segala kelebihannya, internet menjadi alternatif baru dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Situs Ology yang dikelola oleh Museum Sejarah Amerika Serikat misalnya, berhasil membuat pelajaran yang selama ini dikenal berat dan membosankan, menjadi hal yang hiburan yang menarik perhatian[1]. Pun internet dengan sangat cepat menjadi alat penting dalam bidang perpustakaan untuk belajar dan berkomunikasi[2]. Di sisi lain, kemudahan berkomunikasi melalui internet berimplikasi pada menjamurnya situs-situs porno (cyberporn) yang fatal apabila diakses oleh anak-anak. Recently, the Internet has been portrayed by many media stories as a deep, dark place that overflows with pornography[3]. Internet hadir bak dua sisi mata uang bagi masyarakat, dalam hal ini anak-anak.

Dalam studi kasus yang dirilis oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat[4], 62% dari sekolah di lingkungan elit telah memiliki akses terhadap internet. Dan 82% anak-anak dari lingkungan tersebut mengakses internet melalui PC di rumah. Lembaga Third Way melaporkan, usia sebelas tahun merupakan usia rentan bagi anak-anak untuk mengakses sistus pornografi[5]. Hal yang lebih mengerikan, dominasi pengunjung situs-situs porno di internet bukanlah pemuda usia 19-25 tahun, melainkan remaja usia 12-17 tahun. Memang mereka akan dimintai konfirmasi usia, namun anak-anak tidak cukup bodoh untuk dibodohi dengan cara ini, justru merekalah yang kemudian membodohi sistem. Kemunculan, “porn-napping”, yakni strategi program internet yang dirancang untuk menjerumuskan anak-anak ke dalam situs-situs ‘hitam’ dengan hanya mengeja kata tellettubies, pokemon, dll, pun menjadi alternatif para kriminil cyberporn untuk melancarkan aksinya.

Anak-anak usia 7-12 tahun masih berada dalam proses perkembangan menuju ketetapan pengetahuan dan kesadaran mereka akan nilai-nilai. Anak-anak akan cenderung menganggap benar perbuatan yang dianggap benar, sebaliknya. Kemunculan gambar-gambar porno dalam internet pun ikut memberi sumbangan dalam pembentukan kepibadian mereka. Anak-anak dalam fase pencarian diri dengan imajinasi itu pun mulai mengadopsi apa saja yang mereka saksikan dalam internet sebagai realita. Padahal pada usia-usia inilah kemampuan memori anak menjadi sangat kuat untuk menyimpan realita baru yang mereka temui. Bayangkan, ketika anak tengah asyik mengakses internet melalui PC-nya, tiba-tiba muncul provider illegal yang menampilkan gambar-gampar ‘seronok’, atau ketika tiba-tiba muncul ikon-ikon porno karena user sebelumnya belum log out.

Keberadaan internet memang menjadi kontroversi. Di satu sisi, anak-anak dapat dengan mudah berlajar tentang berbagai hal, bahkan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang selama ini hanya ada dalam dongeng. Namun, di lain pihak, ketika orang tua atau perangkat pendidik lengah, mereka dapat dengan mudah terinfeksi virus internet yang mematikan itu.

Di Indoensia, penggunaan internet oleh anak-anak memang belum terlalu banyak – mengingat kondisi ekonomi, pendidikan dan sosial yang masih beranjak bangun. Hanya sedikit dari masyarakat dan institusi pendidikan yang mulai memperkenalkan internet kepada anak-anak, baik melalui pelajaran sosial maupun pendidikan komputer pada institusi mereka. Sebagai bukti kesadaran akan dampak negatif internet pada anak-anak, di Indoensia telah ada aturan-aturan yang menjadi kesepakatan berbagai ISP yang tergabung dalam Asosiasi Penyedia jasa Internet Indonesia. Jadi, situs-situs porno yang memungkinkan dapat diakses oleh anak-anak pun dapat dihindari.

Walaupun demikian, wacana tentang kesadaran terhadap ancaman cyberporn pada anak-anak hendaknya tetap menjadi perhatian. Mungkin bukan saat ini, namun beberapat tahun ke depan, ketika internet telah memasuki relung-relung kehidupan anak di Indonesia, bangsa kita akan diperhadapkan pada kontruversi yang pelik. Jadi, media

literasi bagi anak-anak lagi-lagi menjadi alternatif penting untuk segera dipikirkan oleh penentu kebijakan.


[1] Belajar Asyik Lewat Internet. http://www.sekolahindonesia.com/sidev/linkPilihan.asp?iid_link=2

[2] Cyberporn: The Controvercy. http://www.firstmonday.org/issues/issue5_8/li/

[3] Tips to Safety For Children in The Internet, Times magazine on July 3, 1995,

http://www.utexas.edu/courses/kincaid/nguyen/niche3.html

[4] PC Magazine online, 1996 dalam Cyber Cencors, http://www.horizon-line.com/web/cyber.html

[5] loc cit

(Tugas Mata Kuliah Cybermedia, Communication Department of Gadjah Mada University)

One Response to “Cyberporn amd Children (Sebuah Tantangan atas Perkembangan Teknologi)”

  1. Maey Moon Says:

    hmmm, mau cari bahan cybermediakok ketemu senior!

    tapi pasti saya cantumkan sumbernya kok!

    terima kasih…

Leave a Reply