Ada yang setuju denganku bahwa hal yang paling membosankan adalah menunggu?
Wow! Ada lima ribu tangan teracung…..(berlebihan sekali….)
Iya, hal yang paling membosankan adalah menunggu. Apalagi bagi orang yang kesabarannya tipis kayak aku ini. Sejam serasa sehari, sehari serasa sebulan, sebulan rasanya setahun….huhuhuhu…..
Dan inilah yang kurasakan beberapa waktu ini. Menunggu “sesuatu” itu rasanya lama sekali dan mereduksi gairah yang semula menyala-nyala (gairah apa neh?hihihihihiiii). Iya, bayangin aja, makan tak enak, tidur tak nyenyak (kalau ini problemnya beda: lagi tongkos alias kantong kosong! Plisss!), mandi gak tentram (nah, kalau ini mah bukan masalah, tapi kebiasaan. Karakter!). Rasanya hari-hari ini berlalu lama sekali. Wah….sampai tercetus dari bibir manisku ini sebuah kalimat yang sangat tabu untuk diucapkan seorang domba Kristus, “Aku bosaaaaannnnn”. And you know what, kalimat pendek itu berujung pada ketidakberesan semua tugas yang kulakukan. Hffffiiiiuuuuhhhhh……..
Dan aku tau, satu-satunya hal yang harus kupelajari dalam rangka menunggu ini adalah bersikap sabar. Oke, sabar…sabar…Dalam setiap kesempatan, aku berusaha sabar dan menjadi sangat sabar (terinspirasi oleh tetanggaku, namanya Sabar). Dan satu minggu kemarin aku melatih diriku sedemikian rupa untuk mempraktikkan kesabaran itu. Yes….walaupun sulit, akhirnya aku sedikit-sedikit memiliki kemampuan untuk bersabar.Meskipun demikian, sebagai konsekuensi dari latihan keras ini, aku memanjakan diri dengan tidak mengerjakan semua pekerjaan secara sempurnya. Dengan kata lain, kerjakan tugas dan pekerjaan seenaknya saja, santai santai, tidak usah terlalu berpikir keras untuk sesuatu yang sedang dikembangkan, nyante aja coy!
Nah, dua atau tiga hari lalu–dalam kondisi masih bersabar (yang aneh) ini–aku membaca sebuah buku. Dan, kalimat pertama yang kubaca adalah, Patience is not ability to wait, but ability to keep good attitude while wait. Wahai, engkau yang dapat menerjemahkan kalimat ini dengan baik, silakan cocokkan terjemahan Anda dengan intepretasiku berikut ini.
Berdasarkan kalimat itu, kesabaran bukanlah suatu kemampuan untuk menunggu sesuatu melainkan kemampuan untuk tetap bersikap sebaik-baiknya ketika berada dalam masa penantian. Wew!
Uraiannya, sesuatu itu tidak cukup disebut kesabaran jika hanya merupakan kemampuan kita untuk menunggu. Secara fisik tidak beralih dari tempat kita berdiri dan tetap menunggu. Keadaan ini memungkinkan terjadi fluktuasi dalam perasaan kita since hati kita dalam kondisi sangat labil, entah itu tetap ceria, tetap bersemangat, atau bosan, sedih, gemas, geram, dll. Jadi, kalau kemampuan kita hanya bertahan pada “kemampuan untuk menunggu” (dengan perasaan dan sikap yang mungkin fluktuatif atau bahkan negatif), maka Anda belum bisa mendapatkan penghargaan sebagai orang yang sabar.
Namun, kesabaran itu mewujud pada kemampuan untuk menjaga sikap dan perasaan kita tetap pada jalur yang semestinya ketika kita menunggu sesuatu. Saat menunggu adalah saat paling menyenangkan buat “si pendusta” untuk menggoda kita. Pada saat-saat inilah dia melancarkan serangannya kepada alam pikiran kita. Misalnya, dengan mengirimkan pemikiran: “besok pasti kita sampai di kondisi yang baru, jadi untuk apa lelah-lelah mengerjakan yang ini, tinggalkan saja”, atau “santai-santai dululah, toh besok akan keluar dari kondisi ini juga kan?”, atau “terlalu lama neh, berontak aja!”, dan lain-lain. Nah, pada saat inilah kita bisa memompa keluar kemampuan kita yang bernama “kesabaran sejati”. Bukan hanya sabar menunggu secara fisik–tapi perasaan dan sikapnya dipengaruhi oleh kata-kata “si pendusta”– melainkan tetap berusaha “tuli” terhadap kata-kata “si pendusta”, bersikap “yang terbaik”, dan mengerjakan pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawab kita saat ini dengan sebaik-baiknya seolah-olah kita sudah menerima sesuatu yang ditunggu itu.
Wahai engkau yang saat ini sedang dalam masa penantian (pasangan hidup, pekerjaan, studi, jawaban Tuhan, dll), percaya deh, Dia sangat ingin kita berada pada kondisi baru nantinya dengan semangat yang baru, semangat kesabaran sejati. That’s what waiting moment is for.
Oke, be truly patience yeah!





