Archive for January, 2009

Be Patience!

Posted in Uncategorized on January 12, 2009 by bayu primasanti

Ada yang setuju denganku bahwa hal yang paling membosankan adalah menunggu?

Wow! Ada lima ribu tangan teracung…..(berlebihan sekali….)

Iya, hal yang paling membosankan adalah menunggu. Apalagi bagi orang yang kesabarannya tipis kayak aku ini. Sejam serasa sehari, sehari serasa sebulan, sebulan rasanya setahun….huhuhuhu…..

Dan inilah yang kurasakan beberapa waktu ini. Menunggu “sesuatu” itu rasanya lama sekali dan mereduksi gairah yang semula menyala-nyala (gairah apa neh?hihihihihiiii). Iya, bayangin aja, makan tak enak, tidur tak nyenyak (kalau ini problemnya beda: lagi tongkos alias kantong kosong! Plisss!), mandi gak tentram (nah, kalau ini mah bukan masalah, tapi kebiasaan. Karakter!). Rasanya hari-hari ini berlalu lama sekali. Wah….sampai tercetus dari bibir manisku ini sebuah kalimat yang sangat tabu untuk diucapkan seorang domba Kristus, “Aku bosaaaaannnnn”. And you know what, kalimat pendek itu berujung pada ketidakberesan semua tugas yang kulakukan. Hffffiiiiuuuuhhhhh……..

Dan aku tau, satu-satunya hal yang harus kupelajari dalam rangka menunggu ini adalah bersikap sabar. Oke, sabar…sabar…Dalam setiap kesempatan, aku berusaha sabar dan menjadi sangat sabar (terinspirasi oleh tetanggaku, namanya Sabar). Dan satu minggu kemarin aku melatih diriku sedemikian rupa untuk mempraktikkan kesabaran itu. Yes….walaupun sulit, akhirnya aku sedikit-sedikit memiliki kemampuan untuk bersabar.Meskipun demikian, sebagai konsekuensi dari latihan keras ini, aku memanjakan diri dengan tidak mengerjakan semua pekerjaan secara sempurnya. Dengan kata lain, kerjakan tugas dan pekerjaan seenaknya saja, santai santai, tidak usah terlalu berpikir keras untuk sesuatu yang sedang dikembangkan, nyante aja coy!

Nah, dua atau tiga hari lalu–dalam kondisi masih bersabar (yang aneh) ini–aku membaca sebuah buku. Dan, kalimat pertama yang kubaca adalah, Patience is not ability to wait, but ability to keep good attitude while wait. Wahai, engkau yang dapat menerjemahkan kalimat ini dengan baik, silakan cocokkan terjemahan Anda dengan intepretasiku berikut ini.

Berdasarkan kalimat itu, kesabaran bukanlah suatu kemampuan untuk menunggu sesuatu melainkan kemampuan untuk tetap bersikap sebaik-baiknya ketika berada dalam masa penantian. Wew!

Uraiannya, sesuatu itu tidak cukup disebut kesabaran jika hanya merupakan kemampuan kita untuk menunggu. Secara fisik tidak beralih dari tempat kita berdiri dan tetap menunggu. Keadaan ini memungkinkan terjadi fluktuasi dalam perasaan kita since hati kita dalam kondisi sangat labil, entah itu tetap ceria, tetap bersemangat, atau bosan, sedih, gemas, geram, dll. Jadi, kalau kemampuan kita hanya bertahan pada “kemampuan untuk menunggu” (dengan perasaan dan sikap yang mungkin fluktuatif atau bahkan negatif), maka Anda belum bisa mendapatkan penghargaan sebagai orang yang sabar.

Namun, kesabaran itu mewujud pada kemampuan untuk menjaga sikap dan perasaan kita tetap pada jalur yang semestinya ketika kita menunggu sesuatu. Saat menunggu adalah saat paling menyenangkan buat “si pendusta” untuk menggoda kita. Pada saat-saat inilah dia melancarkan serangannya kepada alam pikiran kita. Misalnya, dengan mengirimkan pemikiran: “besok pasti kita sampai di kondisi yang baru, jadi untuk apa lelah-lelah mengerjakan yang ini, tinggalkan saja”, atau “santai-santai dululah, toh besok akan keluar dari kondisi ini juga kan?”, atau “terlalu lama neh, berontak aja!”, dan lain-lain. Nah, pada saat inilah kita bisa memompa keluar kemampuan kita yang bernama “kesabaran sejati”. Bukan hanya sabar menunggu secara fisik–tapi perasaan dan sikapnya dipengaruhi oleh kata-kata “si pendusta”– melainkan tetap berusaha “tuli” terhadap kata-kata “si pendusta”, bersikap “yang terbaik”, dan  mengerjakan pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawab kita saat ini dengan sebaik-baiknya seolah-olah kita sudah menerima sesuatu yang ditunggu itu.

Wahai engkau yang saat ini sedang dalam masa penantian (pasangan hidup, pekerjaan, studi, jawaban Tuhan, dll), percaya deh, Dia sangat ingin kita berada pada kondisi baru nantinya dengan semangat yang baru, semangat kesabaran sejati. That’s what waiting moment is for.

Oke, be truly patience yeah!

Pementasan Ketoprak Bocah Seri 1

Posted in Uncategorized on January 9, 2009 by bayu primasanti

Wew! Akhirnya! Setelah menunggu sekian lama — karena file foto-foto ada di tempat aa dan belum sempat di kopi — sekaranglah saatnya aku bisa membagi kenangan Pementasan Ketoprak Bocah pada 24 Desember lalu. Check this out!

dsc01392

Anak-anak ini! Mau jadi apa mereka coba? Udah malem gini masih aja latihan, belum pada mandi! Tobat!.

Anak-anak said, “Mau jadi seperti Mbak Prima, dia malah tiap hari gak mandi!!!” (Tuingggggg!!!!)

dsc01395

Nah, ini malam terakhir bagi kita. Heleh! Maksudnya, malam terakhir bagi anak-anak bisa guyon alias bercanda waktu latihan. Since ini adalah gladi bersih, jadi mereka sangat serius. (Sebenarnya bukan itu aja sih alasannya, tapi karena yang melatih di hari terakhir ini “Bu Tutik”. Wuiiikkk….kebayang gak? Heboooohhhh…….Langsung pada diem coba!)

dsc01405

Menjelang dirias. Bagus! Bagus! Mereka masih bisa tersenyum penuh ceria dan percaya diri (gak tau aja, sebentar lagi bakal pada cemong mukanyeee….hiiii…..aku cuma bisa ngikik dalam hati. Tertawalah, Nak! Jika kau seusiaku nanti, menit-menit ini akan membuatmu ngakaaaakkkkk abis).

dsc01473

Senyum penuh arti (artinya: “Ayo kita rubah anak2 ini menjadi tokoh2 ketoprak yang sempurna. Huahahahahahaha……”)

dsc01443

Inilah mereka dalam wujud setengah jadi. “Wehehehehe…..kerennya kami ya Mbak!” (iya keren-tengan! Sabar! Sabar!)

dsc01468

“Lihat mukaku, Mbak. Ayu tenan to? Aku pakai bedak setebal 5 cm lho”. Eh, itu, si Yosua belum cukur kumis! Awas lho dimarahi Pak Guru!.

By the way, potong sampai di sini dulu ya. Besok kita lanjutkan ke cerita yang lebih seru lagi. Is it fun enough?

Melinas World

Posted in DIARY on January 7, 2009 by bayu primasanti

Melinas World, kata Pak Gembalaku seperti judul novel. Ada juga yang mengkritik, frase ini salah dalam teknik penulisannya.  Intepretasi pertama merujuk pada frasa Melina’s World yang kalau diterjemahkan secara harafiah berarti Dunianya Melina. Intepretasi ke dua yakni Melinas World yang artinya Dunia Melina atau Dunia bernama Melina. Intepretasi ke tiga, Melina is World artinya Melina adalah dunia, pandangan ini dilontarkan oleh mereka yang love-minded.

Well, apa pun itu. Aku tetap punya cerita tersendiri di balik pemilihan judul ini.

Panggil saja dia Melina. Salah satu anak jalanan yang dekat dengan kami. Pertama kali mendengar nama ini, aku membayangkan seorang anak jalanan yang putih, kecil, imut, manja. Tapi tidak. Saat bertemu, aku menemukan seorang remaja putri yang absolutely tomboi, berkulit gelap, dan benar-benar talk too much, loudly pula. Ya, itulah Melina yang kukenal pertama kali.

Sejak perkenalan kami, entah karena belas kasihan, atau kepentinganku sendiri, suatu ketika aku pernah mengajak Markus dan Melina jalan-jalan.  Pikirku, mungkin hal ini bisa membuat mereka merasa bahagia walau sejenak. Kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, makan, minum, cuci mata, main-main, banyak hal yang kami lakukan bertiga pada waktu itu. Markus tampaknya biasa-biasa saja; tapi Melina, dia tampak begitu menikmati menit-menit kebersamaan kami itu.

Buntut dari jalan-jalan bersama ini adalah sms Melina yang selalu datang di HPku hampir setiap hari dengan pertanyaan yang sama, “Kapan kak, kita jalan-jalan lagi?”. Dia juga menelpon aku. Tiba tiba dia menempati satu kursi di sebuah Hall bernama Hatinya Primasanti. Wew! Mula-mula aku balas sms nya dengan rajin. Aku menemui dia seminggu sekali dengan teratur. Sampai kejadian aneh ini terjadi. Waktu itu aku tidak membalas sms nya, aku lupa, itu karena pulsa habis atau aku tidak lihat ada sms. Eh…dia marah besar dan selalu membuang muka saat aku datang. Lalu, beberapa saat aku tidak bisa menemui dia, dia ngambek luar biasa. Hal ini terjadi setiap kali aku tidak menuruti kemauannya; sampai suatu saat aku dikagetkan dengan kejadian mengerikan. Seorang kakak pengurus rumah singgah memberitahukan padaku bahwa Melina menyayat-nyayat kulit lengannya dengan silet karena kecewa padaku. Wuih! Can you imagine? Hanya karena tidak datang menjenguk atau tidak membalas sms? dan itu dilakukan oleh anak belasan tahun?

Dan sejak saat itu aku tahu, dia sangat miskin kasih sayang. Dunianya begitu keras sehingga dia tidak pernah merasakan kasih. Dan saat sesuatu yang dianggapnya “kasih” itu datang, dia rasanya tidak ingin kehilangan bahkan sedetik pun. Dan buatku, ini mengerikan! Apa yang harus kuperbuat? Waktu itu, anak belasan tahun itu benar-benar membuat hatiku sesak. I was asking God, what should i do? Aku bertanya juga kepada kakak-kakak yang lebih senior dan mereka bilang jangan selalu mengiyakan semua keinginannya.

Aku bingung. Aku dilema. Andai aku bisa menjelaskan padanya tentang kehidupanku. Tapi mulutku tak sanggup mengeluarkan nada-nada yang bisa dia tangkap melalui inderanya.

Sampai suatu saat dia harus melanjutkan sekolahnya di sebuah SD swasta. Dan, ya….aku berdoa untuknya di sini karena aku tidak sanggup menemuinya dan melihatnya seperti dulu lagi. Aku benar-benar tidak sanggup.

Beberapa bulan berlalu. Kabarnya, dia menjadi siswi yang pintar dan baik di kelasnya. Bahkan, dia pintar dalam pelajaran matematika. Aku senang. Mungkin di sanalah tempatnya.

Tapi,

Tadi malam dia kabur. Melina kabur. Dan pada saat itulah semua cerita tentang kehidupannya terungkapkan secara gamblang di depanku.

Melina, remaja putri belasan tahun yang hidup di jalanan. Dengan dua orang adik dan orang tua jarang tidak menggunakan kekerasan untuk berbicara kepadanya. Melina, gadis kecil yang dalam pandanganku masih lugu, polos dan tomboi itu sudah harus bercatur dengan para pemain ulung yang hanya mencari kesenangan belaka tanpa peduli siapa lawannya. Melina, tubuh kecilnya sudah dipasrahkan oleh ketidaktahuannya kepada kepicikan dan kemelaratan budi para pengobral rayuan dan perlindungan sesaat. Melina , bocah cilik yang girang ketika para pengobral rayuan itu mengelilinginya dengan senyum dan cinta yang semu yang kemudian membawanya ke negeri di awan milik mereka sendiri dan membuai tubuhnya di sana tanpa ampun.  Melina, katakan bahwa mutiara itu masih kau simpan rapat sampai seorang pangeran pilihan meminangmu kelak? Katakan, Mel! Tapi melina diam. Dan pergi berlari dengan tawanya menuju kerumunan kebuasan yang siap melahap tawanya kembali. Tubuh kecil itu….tubuh rapuh itu….

Aku tidak bisa menahan tangis di malam itu. Sepanjang perjalananku pulang, air mata itu tak bisa kubendung. Tetes demi tetes mewakili teriakan dalam hatiku kepada kekejian yang menimpa Melina, yang secara tidak sadar juga kita lakukan dengan kita berdiam diri, pura-pura tidak tau, pura-pura sibuk dan kepura-puraan yang lain.

Lalu, sekelebat bayangan melintas di depan motorku. Bayangan Melina yang tertawa riang saat kami mendapat hadiah boneka dari Timezone. Lalu, sekelebat lagi datang senyumnya yang lain, yang memaparkan duka saat masa remajanya direnggut oleh tangan-tangan tak berperasaan. Lalu sekelebat senyumnya lagi muncul saat dia bilang jatuh cinta dengan malu-malu kepada salah satu kakak pengurus pria (ah, waktu itu kupikir hanya canda semata!). Lalu sekelebat bayangan lain lagi muncul saat senyumnya beradu dengan keganasan malam di jalanan. Oh….aku tidak sanggup membayangkannya. Anak sekecil itu harus berperang melawan rasa ingin dicintai yang telah diidapnya dengan akut.

Stop! Stop! Aku berhenti karena sama sekali tidak sanggup membayangkannya. Apakah dia juga merasakan kekejian yang sama atau justru dia menikmatinya? Kalau yang kedua pilihannya, itu semakin kejam buatku. Anak sekecil itu terjebak dalam ketidaktahuannya dan keacuhan kita.

Sebegitu kejamkan dunia tempat Melina tinggal?

Apakah hanya Melina yang tinggal di dunia semacam itu?

Pagi ini aku kembali menyusuri jalanan tadi malam dengan motorku. Aku merasakan bekas-bekas kekejian semalam di sepanjang jalan itu. Dan aku merasakan sisa sisa tawa Melina ada di pojok kuburan kota itu. Lalu Muncul Melina yang lain di trotoar jalanan, di emperan toko, di zebra crozz,  dua Melina, tiga Melina, lima, tujuh…..enambelas….dua ribu……ada lima ribu Melina. Melina melina yang tinggal di dunia yang sama. Dunia jalanan. Dunia Melina Melina (Melinas).

Siomay…..

Posted in DIARY on January 7, 2009 by bayu primasanti

Memang tidak biasanya aku membawa makan siangku ke kantor. Tapi kali ini….di ruangan ini. Sendirian. Aku hampir menangis memandangi makanan siangku. Hatiku benar-benar haru dibuatnya. Lama kupandangi dan tidak segera kumakan karena aku takut kehilangan momen ini.

Di hadapanku ada dua bakwan jagung goreng kesukaanku dan sebungkus siomay asli ikan tengiri.

Kupandangi lagi dengan seksama sajian itu.

Oh, Tuhan. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku…..

Satu minggu yang lalu, aku bilang sama dua sahabatku bahwa karena pengeluaran bulan desember kemarin yang banyak sekali, uangku bulan ini tinggal 400 ribu. Padahal aku masih harus ke Surabaya. Kemarin malam aku bilang lagi sama sahabatku, uangku tinggal 250 ribu untuk sebulan ini. Dengan uang itu, aku akan sangat berhemat. Aku sudah berjanji karena ini merupakan konsekuensi dari keborosanku di bulan desember.

Tapi hari ini, siang ini, di hadapanku, di mejaku……

Dua bakwan jagung kesukaanku dan siomay asli terhidang…..

Betapa aku tidak bersyukur….

Entah bagaimana caranya, yang kupercaya, aku sangat dipelihara oleh Bapaku. Bahkan di saat aku tidak meminta pun, Dia memberikannya untukku secara berkelimpahan.

Sudah ya….aku mau menikmati siomay ini dulu. Hfllllsssllluuuupppp….zzzzz…….betapa lezatnya.

Persembahan Sulung

Posted in DIARY on January 7, 2009 by bayu primasanti

Kaulah Tuhan yang berjanji tak sekali pun Kau ingkari…

KesetiaanMu sungguh terbukti di sepanjang hidupku….

‘Tuk s’lamanya ku ‘kan setia …

Melayani mengasihiMu…..

Ini lagu paporitku. Pertama kali menyanyikannya pada persekutuan di Radio Sasando waktu aku masih siaran di radio itu. Lalu, kesempatan kedua bisa menyanyikan lagu ini yaitu di acara KKR gerejaku. Wuw! Since lagu ini merema sekali dalam hidupku selama bertahun-tahun (gak berabad-abad sekalian! Suka berle’ deh), aku gak ambil pusing kalau waktu itu tim musiknya pada gak bisa dan gak suka sama ini lagu karena terlalu oldiest (hikikikiki! EGP: Elo Gak Paham sih…). Dan, pada kesempatan yang berbahagia kemarin, aku menyanyikannya kembali dari lubuk hatiku yang paling dalam (jadi inget “lubuk penceng”, “lubuk bulus”, “lubuk siang”) walau hanya di kamar mandi. Waktu sedang penghayatan, tiba-tiba ada sesuatu yang ditaruh di hatiku “Tuk S’lamanya ku ‘kan setia melayani mengasihiMu…”. Seperti ada pernyataan, “Jadi cuma sebatas nyanyi doang!”, yang berujung pada pertanyaan, “Lalu apa bukti dari kalimat yang baru saja kau ucapkan itu”.

Brrrrr…….belum kusiram dengan air, tapi sekujur tubuh mendadak dingin (bisa jadi  sekuel kedua dari film “mendadak dangdut”). Setelah itu ada satu frasa yang datangnya entah darimana dan langsung melekat erat di dada ini, yakni “Persembahan Sulung”. Busyet (aku tertipu lagi! owuououo…)! Apaan ini! Sejauh yang kutau (bisa jadi tagline iklan sekuelnya sprite! “kutau yang kumau” = “sejauh yang kutau”. Plis deh!), persembahan sulung adalah persembahan pertama, buah sulung, yang terbaik, dari pekerjaan atau usaha kita yang pertama kali. Secara mentah (karena belum direnungkan), aku mengintepretasikannya sebagai memberikan seluruh hasil pekerjaanku yang pertama untuk misi pelayanan. Setelah memikirkan ini, aku jadi takut sendiri. Wuih….! Misalnya, bulan ini bekerja, bulan depan baru dapat gaji, lalu dipersembahkan. Hmmmm….berarti akan ada 2 bulan lamanya kita tidak memegang uang untuk biaya hidup. Weleh! Weleh! Akan sulit sih nantinya, tapi di dalam hatiku meyakini kalau hal itu ditaruh dalam hatiku saat ini, itu berarti aku harus melakukannya. Yes….Aku bisa!

Bagaimanapun juga, aku harus menyampaikan kabar ini kepada orang tuaku. Dan sebelum aku sempat menjelaskan filosofiku, aku sudah dimarahi habis-habisan. (jadi inget waktu konfrontasi besar-besaran mengenai perpuluhan dan uang stipendium beberapa tahun lalu).

Sejarahnya begini,

Aku dan orang tuaku memiliki prinsip yang lumayan bertolak belakang (ya, mungkin 179 derajat gitu deh!) mengenai penatalayanan atas harta. Bagi orang tuaku, kita tidak bisa hidup tanpa uang. Uang penting. Uang penting.

Ya, sampai di situ aku sangat setuju. Tapi ijinkan aku menambahkan satu frasa lagi di belakangnya. Uang Penting Tapi Bukan Segala-galanya. Tampaknya, ada salah persepsi dalam memposisikan uang. Pertanyaannya: uang itu tujuan atau sarana untuk mencapai tujuan kita. Sayang, dalam setiap konfrontasi yang terjadi, filosofi ini tak pernah terucap, tak terungkap dari mulutku ini. Hfffuuuuiiiihhhh……

Ada beberapa pilihan sikap ketika konfrontasi itu terjadi: diam tertunduk, cengar cengir seolah-olah bloon, atau menangis sendu. Jadi, aku salah ketika menyebutnya konfrontasi, lebih tepat koersi tak berbalas. Wuuuuuu…..

Pernah, sesekali aku menimpali respon orang tuaku atas pandanganku, e…jadinya malah kacau balau (balau ku ada lima…rupa rupa warnanya! stop it!). Ya, sejak saat itulah aku bertekad, aku akan diam….diam…diam….dan tetap menjalankan prinsipku walau tidak diketahui mereka. Karena, bagaimana bisa aku membangun gedung tinggi jika fondasinya belum kuat. Fondasi itu harus dibangun dulu. Dan batu penjurunya, batu pertamanya haruslah Kristus sendiri. So, bagianku adalah mendukung di dalam doa. Yes! Amin!

Oke, kita kembali ke persoalan. Mengenai persembahan sulung itu, ternyata aku sedih juga. Aku ingat kata-kata orang tuaku, “mau hidup dengan apa kamu nanti. Kalau cara hidupmu begitu, kamu pasti celaka!”. Wow!

Padahal, dulu, orang tuaku pernah cerita kalau anak koleganya (cie….) mendapat pekerjaan pertama kali, lalau anak itu bilang ke orang tuanya yang notabene adalah teman ortuku, “Pak, besok, satu bulan ke depan, aku dibiayai dulu ya karena gaji pertamaku mau kuberikan pada gereja”.  Ortuku bangga sekali menceritakan itu padaku (aku masih kuliah waktu itu). Wew! Melihat binar-binar di mata mereka, aku sangat terinspirasi. Tapi sekarang, saat mereka mengalami sendiri, saat anaknya yang menanyakan kalimat yang sama dengan kalimat anak temannya tadi……ah….mungkin mereka lupa.

Thanks, God, aku punya banyak waktu merenungkan hal ini di sepanjang perjalananku menuju jogja. Apa benar kata-kata orang tuaku tadi. Bener juga sih, bulan pertama aku makan pakai apa, kan belum dapat gaji. Terus setelah bulan pertama berlalu dan aku dapat gaji, aku harus persembahan sulung, jadi 2 bulan sudah aku tidak pegang uang. Tapi….ah, kan Tuhan sudah berjanji memeliharaku. Allah yang kaya, tidak akan membiarkan anak-anakNya kelaparan kan? wow….terus saja terjadi pertempuran hebat di alam pikiranku. Sampai akhirnya aku kelelahan karena belum juga ada gencatan senjata.

Lalu aku ingat kata-kata Joyce Meyer dalam  Battlefield of The Mind, alam pikiran kita adalah sasaran paling empuk bagi satan untuk menghancurkan kita. Since kalimat ini terus bergema, aku putusakan untuk stop thinking!

Sampai di kantor, aku rindu untuk berdoa (di ruanganku cuma ada aku seorang, jadi bebas ngapain aja. Huhuhuhuhu. Satu-satunya keuntungan di kantor sendiri). Aku berdoa dengan sungguh agar diberi jawaban atas kegelisahanku mengenai persembahan sulung ini. Setelah itu, aku buka firman Tuhan (eh….gak sengaja di tasku ada alkitab. Memang!). Lalu aku buka saat teduh online dan ada satu ayat terpampang di lajur paling atas Roma 8: 14-17 (buka sendiri ya! Karena pasti seru ngebacanya). Intinya, setiap orang yang hidup dengan roh Allah akan menjadi anak-anak Allah, dan anak-anak Allah akan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Itu jaminannya. Lalu mengapa harus takut lagi? Wow first amaze! (Thanks buat Pak Gembalaku, Pak Samuel yang telah menuliskan renungan ini. Aku yakin, Pak Samuel dipakai Tuhan untuk berbicara kepadaku tentang hal ini. Many thanks!).

Lalu, aku buka email (hihihihihi….ritual kedua setelah sampai kantor). Ada satu email dari sahabatku, judulnya Ketaatan. Aku baca semuanya dan berhenti mendadak dengan penuh kegirangan pada baris-baris terakhir yang berbunyi “Dunia bertindak  secara sistematis, strategis, dan logis tetapi anak-anak Tuhan, bertindak bersama Tuhan dengan iman dan ketaatan”. Wew! Second amaze! (Thanks for Christma yang aku yakin sekali Tuhan pakai untuk mengirim email itu buatku).

Jaminannya sudah diberikan dengan sangat rinci dan gamblang. Mau berpikir apa lagi dan takut kepada apa lagi?

Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan, terlebih diriku dikasihi Tuhan.

Selamat mempersembahkan yang Sulung, yang terbaik, dari segala yang diberikan Tuhan padamu. Fear Not since His guarantee is true!

Lalu, lagu itu terdengar lagi di ruangan sunyi ini….semakin keras…semakin keras….

Kaulah Tuhan yang berjanji……tak sekalipun Kau ingkari…..

KesetiaanMu sungguh terbukti di sepanjang hidupku…

Tuhan memberkati.