Archive for March, 2009

Menembus Batas Psikologis

Posted in Uncategorized on March 20, 2009 by bayu primasanti

Land in The Cloud

Posted in DIARY on March 18, 2009 by bayu primasanti

In the shadow of your face i found love and life

which i’ve been looking for long time ago

You came to me, offered an innocent heart

always tried to understand the desire of this self

You played for me a song about  land in the cloud

In which, peace became it’s palace

and now you are bringing me up to go there

Truly, your heart is full of love languanges

which are spoken up exactly

in the happiness and sadness

( just for My Beloved Partner: Happy Anniversary, March, 18th 2009. Let’s pray and wait to hear this song in our blessed wedding day. I Love You)

Image Branding

Posted in DIARY on March 17, 2009 by bayu primasanti

Dari sudut mana mereka bisa berpikir bahwa aku ini mirip sekali dengan fitri tropika (lol)? Jika kuhitung-hitung ada lebih dari sepuluh orang (yang tidak saling mengenal) yang memiliki persepsi yang sama. Setelah kulakukan penelusuran gerilya, ada beberapa jawaban yang kutemukan:

1. Saya mirip fitri tropika karena  kekonyolan saya yang sudah mencapai stadium empat

2. Saya mirip fitri tropika karena gesture tubuh saat berbicara

3. Saya mirip fitri tropika karena ‘narsis’ (anak-anak remaja  berada dalam kelompok ini)

4. Saya mirip fitri tropika karena suka melucu walau ‘garing’

Saya heran mengapa fenomena ini bisa terjadi. Padahal saya merasa menjadi orang paling serius sedunia. Pertanyaannya: kenapa saya tidak dikatakan mirip dengan Bunda Teresa (berlebihan deh….!) atau Romo Mangun ya? (berharap terlalu tinggi).

Sela

Suatu ketika, ada seorang mahasiswa datang ke cubical saya untuk berdiskusi. Selama proses diskusi ini, dia menatap mata saya dalam-dalam. Tatapan ini, setiap detiknya, menyiratkan keraguan atas jawaban-jawaban yang saya berikan. Saat rasa penasaran saya sudah tak tertahankan lagi, saya tanya kepada mahasiswa saya ini, “Mengapa kamu melihat saya selalu seperti itu? Adakah yang aneh? Atau ada yang salah dengan jawaban saya?”. Mahasiswa ini kemudian menjawab sembari terpingkal-pingkal, “Iya, Miss. Saya sampai sekarang belum bisa membedakan, mana wajah Miss yang serius dan mana wajah Miss yang bercanda.” Lalu keluarlah pengakuannya, “Sebenarnya Miss, kalau di kelas itu, kami ngikik (tertawa terpingkal-pingkal) dalam hati setiap Miss menjelaskan sesuatu. Wajah Miss itu lho, selalu tidak sesuai dengan kata-kata yang dikeluarkan. Melihat wajah Miss saya kami sudah terpingkal-pingkal, apalagi kalau ngomong. Kelihatannya serius, tapi ….Huakakakkakakakak…..”

Sela

Semalam, kos kami punya hajatan. Ada salah satu penghuni yang ulang tahun. Seperti biasa, kami berkumpul dan makan bersama. Seperti biasa pula, suasananya rame sekali. Suatu kali, ada teman saya yang mengatakan demikian, “Saya pasti bisa masuk Perguruan Tinggi itu, siapa dulu yang merekomendasikan (dia merujuk pada dua orang rekannya yang punya posisi penting”. Lalu, dengan wajah super serius saya menimpali, “Tidak bisa begitu juga, selama Tuhan belum ACC, manusia juga tidak bisa lakukan apa-apa. Jadi, pertama-tama, minta rekomendasi Tuhan dulu ya”. Saya bingung, kalimat super serius ini malah direspon dengan gelak tawa. Hmmmm…..apa yang salah dengan diriku. Lalu, seorang teman nyeletuk , “Miss, kalau dalam kehidupan sehari-hari kamu tidak menampakkan sikap konyolmu, mungkin kami akan sangat kagum dengan kata-katamu itu. Tapi, kalau melihat keseharian Miss yang super konyol, kami susah percaya.” (gelak tawa kembali menyeruak). Hmmmm…..

Sela

Seorang mahasiswa bertanya, “Miss, boleh saya tebak, Miss ini pasti sanguin sejati ya?”. Saya menjawab,  “Saya menjawab, bukan, menurut tes psikologi yang pernah saya ikuti, saya ini koleris sejati.  Perbandingannya ya, 90: 10 lah dengan sanguin”. Mahasiswa ini tertawa, lalu menimpali, “Gak mungkin ah…..kok Miss selalu buat kekonyolan? Itu tandanya lebih kuat sanguinnya Miss.” (ah….up to you lah….)

Sela

Malam itu, setelah seharian bekerja, saya merenung di kamar. Di satu sudut yang paling dalam di hati saya, saya sangat senang dan bangga karena orang-orang di sekitar saya terkadang terhibur dengan banyolan atau sikap konyol saya (walaupun kadang saya tidak merasa demikian. Hups…masih mengelak). Namun, di ceruk hati yang lain, ada ketakutan luar biasa. Saya sangat takut, jika image yang saya bangung melalui perilaku, perkataan, dan sikap hidup saya ini justru merusak citra yang sudah Bapa gambarkan dalam hidup saya. Saya bertanya kepada sahabat saya, “Apakah saya salah bila saya bersikap konyol?”. Dia menjawab, “Selama sikap kita itu tetap bisa memuliakan Tuhan, tidak ada yang keliru”.

Refleksi ini mengingatkan kepada saya kembali. Image branding yang kita bentuk dalam kehidupan kita ini sangat mempengaruhi panggilan hidup kita di dunia. Apakah dengan image branding yang seperti ini, kita bisa menjadi surat Kristus atau justru merusak citra Allah. Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi saya sebagai seorang–yang dianggap sanguins (tetap tidak mau mengakui). Melalui hal ini pula, saya semakin yakin, bahwa sekuat apa pun kita berusaha mencitrakan Yesus dalam hidup kita, itu tidak akan berhasil. Citra Yesus dalam hidup kita adalah karunia semata. Bagian kita? Ya memelihara citra itu melalui sikap hidup, perkataan, dan perilaku kita.

Selidiki hatiku setiap hari, Bapa.

Apakah ku sungguh mengasihiMu, Yesus.

Lagi-lagi, Tujuan Hidup

Posted in GOOD NEWS on March 13, 2009 by bayu primasanti

Lagi-lagi, kemarin, kelas Pengantar Statistik Sosial berubah menjadi kelas sharing tentang tujuan hidup. Hal ini pertama-tama terjadi karena keegoisan saya sebagai seorang dosen yang selama berhari-hari digelisahkan dengan pertanyaan “apa sih tujuan hidup mahasiswa saya sesungguhnya?”. Saya yakin, sementara mereka belum mengenal frasa “tujuan hidup”, semua pengetahuan yang kami pelajari di kelas (dengan mati-matian), akan sia-sia belaka.

Lagi-lagi, ketika saya tanyakan kepada masing-masing mahasiswa di kelas itu, saya mendapat jawaban yang serupa. Mahasiswa pertama mengatakan, “tujuan hidup saya ya ingin berkarir supaya mendapatkan uang”. Mahasiswa ke dua, ke tiga, dan seterusnya mengungkapkan hal yang senada. Namun, ada satu yang berkata demikian, “Saya ingin menjadi PR yang handal. Dengan demikian saya dapat memuliakan Tuhan dengan ilmu yang saya dapat. Saya bisa berbagi dengan orang lain…..”. Saya sempat berhenti sebentar dan tidak meneruskan pertanyaan ke mahasiswa selanjutnya seraya berdoa dalam hati, biarlah ada beberapa mahasiswa lagi yang sudah mengenal tujuannya seperti yang satu ini. Sayang, pertanyaan tentang tujuan hidup selanjutnya, dijawab dengan, “wah, saya belum tahu…”.

Lagi-lagi, tidak ada yang salah dengan mereka sebab menemukan tujuan hidup itu adalah proses yang sangat panjang. Saya sempat sedih sih, tapi saya mengingat waktu saya seusia mereka. Waktu itu saya juga masih bingung tentang tujuan hidup. Setiap hari digelisahkan dengan pertanyaan, “sebenarnya, apa tujuan hidupku”. Semenjak itu juga lah, saya diproses, ditempa, hingga menemukan tujuan hidup saya di dalam Tuhan.

Lagi-lagi, pagi ini saya mendapat penguatan tentang hal itu. Baru saja saya menyelesaikan satu bab dari sebuah buku tentang kepemimpinan kristen, bagus sekali. Lagi-lagi, bab pertama dalam buku itu membahas tentang “tujuan hidup”. Pak Sendjaya, penulisnya, (mengutip Amsal29: 18) mengatakan, orang yang tidak memiliki arah dalam hidupnya termasuk kategori orang yang liar. Wow. Kemudian, saya menemukan bagian yang menarik dari pembahasan ini. Penulisnya mengatakan, jawaban seseorang bahwa tujuan hidupnya adalah untuk “memuliakan Tuhan” itu hanya merupakan retorika yang klise atau sekadar lip service saja. (hihihihi…..jadi malu!). Menurut penulis, bahwa hidup kita harus memuliakan Tuhan itu sudah taken for granted. Kita harus menemukan tujuan hidup itu secara spesifik, secara kongkrit, yakni: memuliakan Allah dalam bidang apa, melalui profesi apa, di mana, dengan cara bagaimana? Dengan demikian, mencari tujuan hidup bukan mudah. Hal ini membutuhkan keseriusan, tenaga, waktu, doa dengan tekun, dan taat pada setiap kehendakNya. Daud mengatakan dalam mazmurnya, “Carilah wajahNya setiap hari”. Sampai kapan? Bagaimana jika suatu kali sudah bertemu denganNya? Membaca ayat itu lagi, dan akan ditemukan, lagi-lagi, “Cari wajahNya setiap hari”. Setiap hari (jika perlu melalui doa puasa. Hihihihi….).

Lagi-lagi, saya mengerti, tujuan hidup yang saya cari pun tidak berhenti sampai di sini. Saya masih tetap mencari sampai Dia menunjukkan yang paling spesifik. Sampai kedatanganNya yang ke dua nanti, menjemput saya, menjemput kita. Mau ikut?

Kisah Klasik

Posted in DIARY on March 10, 2009 by bayu primasanti

Saya tidak pernah menyangka kalau kisah klasik yang selama ini kami renda, dapat melalui klimaksnya dengan indah pada 080309 kemarin. Sepuluh tahun sudah kami menanti kesempatan untuk mengerjakan dan menyaksikan klimaks ini. Rasa khawatir, penasaran, gemas, dan air mata mewarnai perjalanannya.

Awalnya kami buta, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana memberitahukan perasaan kami kepada kedua orang tua. Kasus kami berbeda. Tidak semudah dua orang dewasa yang sepadan, mapan, dan ingin berkomitmen bersama. Karena kami…..saudara. Itulah mengapa kami diam selama 10 tahun ini. Sementara satu-satunya hal yang kami kerjakan adalah BERTANYA kepada Bapa kami.

Proses menanti dan bertanya itu tidak terasa sudah menapaki sepuluh tahunnya. Terkadang kami lelah dan ingin berhenti saja sampai di situ lalu berikrar untuk menerima apa pun resikonya. Tapi roh kudus selalu menguatkan dan menyemangati kami. Terakhir, yang kami lakukan adalah berdoa bersepakat bersama seorang rekan kami (thanks, sist). Yang kami percayai, Tuhan turut bekerja melembutkan hati kami, pun hati orang tua kami. Yang kami percaya, Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya. Yang kami percaya, Jika Tuhan sudah membuka pintu, siapa pun tak ada yang bisa menutupnya. Yang kami percaya, God is Good so everything He makes is also good.

Banyak hal yang kami doakan menjelang hari itu. Kami berdoa untuk motivasi kami, hati kami, hati orang tua kami, kami berdoa untuk hari yang tepat, kami memohon hikmat untuk berbicara, dan keteguhan hati untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Dua hari sebelum hari yang kami doakan itu tiba, kami merancang segala sesuatunya. Tempatnya, waktunya, transportasinya, dan susunan acaranya. Kalau mengingat proses itu, kami tertawa sendiri, lucu sekali, seolah-olah kami membuat sebuah event akbar yang sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Hahahaha….Dan yang lebih membuat saya terpingkal-pingkal saat mengingat peristiwa itu adalah bahwa parter saya menulis semua yang akan dikatakannya bak pidato kenegaraan. Dia mengetiknya rapi lalu membacanya berulang kali sampai semua poin terekam di kepalanya, kepala kami. Tapi lebih dari itu semua, kami menumpangkan tangan pada kertas “pidato” itu dan berdoa sebelum menuliskan isinya.

Hari yang dinanti selama 10 tahun itu pun tiba. Perjalanan menuju tempat kejadian peristiwa terasa sangat panjang. Sepanjang jalan saya berteriak untuk mengurangi nervous yang menghinggapi saya. Parter saya tampak lebih tenang dari pada sebelumnya.

Setelah makan malam, kami mengutarakan isi hati kami kepada orang tua kami. Saya mendapat bagian membuka percakapan, parter saya yang menyampaikan isinya, dan sahabat kami berdoa dari tempatnya. Saya sama sekali tidak menyangka, semua perkataan yang keluar dari mulut parter saya begitu berwibawa, begitu tenang pembawaannya, begitu runut, teratur dan sangat bijaksana. Saya melihat sirat terkesima dari wajah orang tua kami. Saya benar-benar terkejut. Saya yakin, roh kudus memimpin parter saya untuk berkata-kata.

Tiba saatnya kami mendengar tanggapan dari orang tua kami. Perasaan campur aduk sudah tiada lagi. Kami benar-benar tidak (mau) mempersiapkan strategi jika jawaban orang tua kami nantinya: “tidak” . Mengapa? Karena kami begitu yakin akan rencana Tuhan. Kami begitu beriman atas karyaNya.

Dan inilah yang diucapkan orang tua kami, “Kami tidak lagi peduli apakah kalian saudara atau tidak, yang kami tau, kami sudah menyerahkan hubungan kalian kepada Tuhan. Kami merestui kalian. Jadi, kalian harus bertanggung jawab untuk menjaga restu ini, demikian juga bertanggung jawab pada Tuhan yang melihat kalian. Kami merestui kalian”.

Saya tahu, bersikap sewajar apa pun saya kali ini, saya tetap tidak akan bisa menyembunyikan sukacita ini.

Terima kasih Bapa, terima kasih Ayah & Ibu, terima kasih Christma, terima kasih parterku, kita sudah menyelesaikan katastrofa dari kisah klasik bagian ini. Masih ada beberapa fragmen lagi yang harus kita lalui. Siap? Tentulah, karena kita berjalan bersama Bapa kita yang baik. Amin.

Memotret Pelangi

Posted in DIARY on March 2, 2009 by bayu primasanti

Aku teringat kesukaan kita berdua
Saat rasanya tiada waktu tersisa
Kita pasti melarikan diri
Ke pantai atau ke gunung

Aku ingat sekali hobi kita berdua
Memotret pelangi
Lalu membingkai bintang-bintang
Dengan empat bola mata ini
Yang kadang sudah sayu oleh kesibukan

Tapi kita tersenyum saat mencoba memaksa diri untuk tetap “melek”
Wajah kita jadi aneh….tapi asyik sekali

Saat-saat itu, lelah kita jadi hilang
Karena akhirnya pelangi dan bintang-bintang yang tak tergapai itu…
Tertangkap oleh empat bola mata kita

Email From My Beloved Boyfriend

Posted in DIARY on March 2, 2009 by bayu primasanti

Suatu pagi, saya menerima email dari partner tercinta. Saya membacanya dan terharu. Ada satu pesan singkat yang ditulisnya, “Dek, boleh minta tolong postingkan tulisan ini ke blogmu?”. Aku tahu benar maksudnya. Dia sangant ingin orang lain turut merasakan betapa Tuhan itu baik bagi kita. (Maaf aa, baru kuposting sekarang).

Ini dia suratnya:

Monday, Feb 9th 09, 09.00 PM

Melalui sebuah surat…Bapa menjawab semua kegundahanku, kekecewakanku, dan bahkan kemarahanku..Dia telah mengubah semuanya itu menjadi hadiah yang sangat indah, yaitu harapan dan semangat untuk melayaniNYA melalui sebuah pekerjaan yang Dia ingin kita kerjakan bersama…apakah kalian ingin tau?? “Sebuah Proyek Rahasia”…jadi berbahagialah orang yang belum pernah membaca Surat ini karena Surat ini ditujukan untuk kalian semua..

Dan beginilah isi surat yang Bapa berikan ….

Hamba yang setia,

Bahkan saaat ini AKU sedang memberi berkat dan penghargaan untuk waktu berjam-jam yang engkautelah habiskan untuk menyatakan hati-KU pada anak-anak-Ku yang membutuhkannya. Semua pemberian yang telah engkau berikan pada orang lain sedang AKU lipatgandakan kembali padamu. Aku tau, banyak orang tidak memikirkan kebutuhan-kebutuhanmu. Bahkan mereka tidak berterima kasih atas kerelaanmu dalam membantu dan menghiburkan mereka.

Bolehkah aku memberi tahu mengapa AKU megutus engkau ke dalam misi ini? Anak-KU, engkau adalah salah satu dari hanya sedikit- bahkan satu dari hanya sedikit – dari hamba-hamba-KU yang mau bekerja tanpa jaminan mendapatkan penghargaan jangka pendek banyak dari mereka cukup siap untuk memberi pada orang-orang yang berkekurangan, tidak berdaya, dan melarat. Namun, AKU jarang menemukan seseorang yang mau mengasihianak-anak-KU yang belum dewasa dan kurang berterima kasih, yang belum belajar untuk memberi pada orang yang telah memberi kepada mereka…..

Namun siapa yang mau merendahkan diri dan mengerjakan pekerjaan tanpa terima kasih untuk melayani para saudagar dan pemungut cukai?? Engkau adalah satu dari yang sedikit itu.

Bersiaplah, beberapa orang akan mempertanyakan berbagai pemberian berlimpah yang AKU akan segera limpahkan kepadamu di depan public. Ketika mereka mempertanyakannya, katakana saja bahwa semua ini adalah gagasan-KU, dan hal ini menyangkut beberapa proyek rahasia yang telah Kita kerjakan bersama. Jika mereka benar0benar terganggu karenanya, maka AKU akan dengan sangat senang hati mengajak mereka untuk bergabung didalamnya….

Dengan bangga,

Ayah

Selamat bekerja dalam proyek ini bersama Bapa..