Semalam: Aku dan Air Mata Sahabatku
Semalam, aku dan sahabatku berjumpa. Pertemuan yang jarang namun selalu mengesankan. Aku selalu menantikan pertemuan ini. Namun, seperti biasa, waktunya tak banyak. Dua sampai tiga jam kesempatan kami menumpahkan perasaan masing-masing. Semalam, kami tak banyak bicara. Dia meraih tanganku seolah tidak ingin aku pergi. Lalu, dia membuka mulutnya. Dia bercerita. Agak janggal karena biasanya aku yang cerewet. Aku bersyukur untuk kesempatan itu, aku menyediakan telinga dan hati terbaikku untuk mendengar kisahnya. Dia mulai bicara. Kira-kira seperti ini, “Aku tidak tahan melihat tatapan Ibuku. Aku tidak tega”. Ini soal dia tidak bisa memenuhi permintaan ibunya. “Aku segera ingin pergi jauh dari rumah”, dia mengatakannya dengan hancur hati. Aku bisa merasakannya, pedih sekali. “Aku memang sedang tidak punya. Apa lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya tidak tahan dengan responnya”, aku tahu dia sedang sangat sendu. Lalu, air mata silih berganti mengalir dari pelupuknya. Betapa sakit hatinya, aku bisa merasakan walaupun tak sebaik dan senyata dia, pedih sekali. Pria ini, yang tidak pernah meneteskan air mata, dapat juga hancur hatinya. Aku ingin menahan air mata itu dengan apa pun yang aku miliki. Tapi aku tidak memiliki apa pun. Air mata itu terus menetes. Aku mengusapnya pelan dengan jemari yang bergetar. Aku hanya bisa berkata, “It’s oke, semua akan baik-baik saja”. Ingin rasanya menggantikan posisimu saat itu, biar aku yang merasakan luka itu. Tapi tidak bisa, siapa aku. Dalam hati aku berkata, Dia sanggup menghapus air matamu, sahabat. Hanya Dia yang sanggup.