Archive for the DIARY Category

Di Sudut Kantin

Posted in DIARY on December 10, 2009 by bayu primasanti

“Buat apa, buat apa kami isi kulkas ini lagi. Toh bulan depan kami sudah di PHK”. Demikian Bapak itu menjawab saat saya menanyakan kenapa isi kulkas di kantinnya kosong. “Kasih itu sudah mulai sirna, Bu. Kami akan di-PHK per Bulan Desember ini”. Inilah sebuah celoteh sederhana yang saya dengar kemarin, di sebuah sudut kantin. “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Bagaimana juga dengan nasib orang-orang yang punya keluarga dan dua anak”. Nadanya ‘melas’ menuturkan isi hatinya. “Sudah 15 tahun saya bekerja di sini. Bahkan, Ibu X sudah 24 tahun. Tapi tahun ini adalah tahun terakhir kami”. Inilah kisah singkat yang kami dengar mengenai Pemutusan Hubungan Kerja para pegawai kopreasi di salah satu perguruan tinggi.

Saya dan seorang teman saya tidak berani berkomentar apa-apa. Tapi kami harus mendengar cerita itu lebih lengkap lagi. Teman saya duduk, saya masih berdiri, ikut berempati. “Lalu, apa rencana Bapak?”, akhirnya saya berani menanyakan sesuatu, berharap bisa sedikit melegakan hatinya. “Yah, saya tidak tahu. Lihat pesangonnya lah. Kalau lumayan, kami bisa buka usaha sendiri atau ‘patungan’ dengan teman-teman”. Baiklah, tampaknya sudah cukup lama kami berpura-pura tidak sakit hati. Buru-buru saya mengajak teman saya pergi. Dan mulailah saya mengomel, “Kenapa bisa begini sih? Apa yang salah dengan mereka? Apakah hanya karena menginginkan sebuah citra yang lebih ‘menjual’ akhirnya konter-konter sederhana itu harus digusur dan pegawainya dirumahkan? huh….”. Teman saya mengangguk setuju sembari memberikan opsi lain, “Mungkin ada kebijakan khusus yang tujuannya lebih baik. Kita tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu”. Dalam hati saya bertanya-tanya, baik untuk siapa dan apa arti kebaikan itu sendiri. Ah, semua tampak tidak jelas waktu itu.

Saya bertirakat untuk melupakan kejadian itu. Sial. Malam harinya saya justru tidak bisa tidur memikirkannya. Saya tidak pusing tentang nasib Bapak itu, itu bukan bagian saya; tetapi saya gelisah mengenai apa yang bisa saya perbuat. Sial. Saya tidak bisa tidur sampai pagi. Wajar memelas Bapak itu dan rekan di sebelahnya. Ah…Sial. Setelah pagi pun saya masih dihantui.

Saya harus bertanya kepada seseorang mengenai hal ini. Saya tidak boleh membiarkan pikiran saya mengelana sendiri dan menemukan jawabannya sendiri yang biasanya selalu keliru.

Siang ini, saya bertemu seseorang yang sudah lama saya pikirkan cukup kapabel untuk memberikan konfirmasi tentang kegelisahan saya. Buru-buru saya menemui beliau. “Pak, saya dengar dari para pegawai kopreasi bahwa mereka akan di PHK. Benarkah, Pak?”, saya tidak mau basa basi. “Ya, begitulah. Yayasan memiliki kebijakan tersendiri untuk merumahkan mereka”. “Tapi kenapa, Pak? Adilkah bagi mereka?”, saya tidak sabaran. “Ini termasuk kebijakan rasionalisasi, jadi wajah di lakukan sebuah Yayasan”. “Dengan merumahkan pegawainya sendiri, apakah layak disebut rasionalisasi, Pak?”. “Bukan, Nak. Mereka bukan pegawai Yayasan, mereka pegawai koperasi yang merupakan lembaga yang terpisah dari Yayasan”. “Maksudnya?”, sama sekali tidak sabar. “Begini, Yayasan dengan koperasi itu dua lembaga yang berbeda yang dua-duanya berelasi dengan perguruan tinggi. Karena sebuah perguruan tinggi tidak boleh menjalankan bisnis, maka dipeganglah usaha itu oleh koperasi”. “Hmmmm”, saya sedikit mendapat pencerahan. “Lalu, Pak?”. “Akhirnya, mereka harus kembali ke lembaga mereka, lembaga koperasi; dan yayasan akan menentukan perangkatnya sendiri untuk menjalankan rodanya”.

Dari keterangan singkat ini, saya menarik kesimpulan, sesungguhnya secara struktur hal ini wajar terjadi. Jika Anda berbisnis, Anda tentu akan mencari partner.  Anda tentu memiliki otonomi dan otoritas dalam menentukan siapa yang akan menjadi partner Anda. Jika–dengan alasan apa pun–partner Anda tidak dapat mengimbangi atau memenuhi tujuan hidup Anda, wajar jika Anda memutuskan untuk menyudahi relasi Anda. Itu sangat wajar dan tidak salah.

Sampai di sini, saya bisa menerima argumen yang saya coba rajut sendiri ini. Tetapi, ada beberapa hal yang tersisa yang masih menggelisahkan saya. Saya tidak tahu mana yang benar;  saya pun terus memikirkan apa yang terjadi pada kehidupan orang-orang yang akan kehilangan pekerjaan ini; dan saya tidak tahu, apa yang bisa saya lakukan bagi mereka. Tetapi Bapak itu telah mengajarkan saya satu hal. “Kami sudah berdoa, Bu. Semua pegawai pria dan wanita di tempat ini sudah sama-sama berdoa, Bu”, itu kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulut pegawai koperasi itu. Kita mungkin tidak bisa melakukan apa saja tetapi kita bisa berdoa. Saya jadi membayangkan, nanti, kalau saya lewat sudut kantin itu, saya pasti selalu teringat kata-kata Bapak itu, “Kami sudah berdoa”.

Semalam: Aku dan Air Mata Sahabatku

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Semalam, aku dan sahabatku berjumpa. Pertemuan yang jarang namun selalu mengesankan. Aku selalu menantikan pertemuan ini. Namun, seperti biasa, waktunya tak banyak. Dua sampai tiga jam kesempatan kami menumpahkan perasaan masing-masing. Semalam, kami tak banyak bicara. Dia meraih tanganku seolah tidak ingin aku pergi. Lalu, dia membuka mulutnya. Dia bercerita. Agak janggal karena biasanya aku yang cerewet. Aku bersyukur untuk kesempatan itu, aku menyediakan telinga dan hati terbaikku untuk mendengar kisahnya. Dia mulai bicara. Kira-kira seperti ini, “Aku tidak tahan melihat tatapan Ibuku. Aku tidak tega”. Ini soal dia tidak bisa memenuhi permintaan ibunya. “Aku segera ingin pergi jauh dari rumah”, dia mengatakannya dengan hancur hati. Aku bisa merasakannya, pedih sekali. “Aku memang sedang tidak punya. Apa lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya tidak tahan dengan responnya”, aku tahu dia sedang sangat sendu. Lalu, air mata silih berganti mengalir dari pelupuknya. Betapa sakit hatinya, aku bisa merasakan walaupun tak sebaik dan senyata dia, pedih sekali. Pria ini, yang tidak pernah meneteskan air mata, dapat juga hancur hatinya. Aku ingin menahan air mata itu dengan apa pun yang aku miliki. Tapi aku tidak memiliki apa pun. Air mata itu terus menetes. Aku mengusapnya pelan dengan jemari yang bergetar. Aku hanya bisa berkata, “It’s oke, semua akan baik-baik saja”. Ingin rasanya menggantikan posisimu saat itu, biar aku yang merasakan luka itu. Tapi tidak bisa, siapa aku. Dalam hati aku berkata, Dia sanggup menghapus air matamu, sahabat. Hanya Dia yang sanggup.

Aku dan Lautan

Posted in DIARY on November 2, 2009 by bayu primasanti

Rasanya seperti berada di tepian lautan, di antara keinginan untuk mengarunginya atau lari darinya. Pilihan yang tidak mudah. Jika mengarunginya, besar konsekuensi yang harus kutanggung. Perahunya, energiku, belum bahaya mengancam di tengah lautan. Sebaliknya jika aku lari, aku aman, nyaman, kembali ke duniaku, namun harus merelakan perpisahan dengan lautan kesayanganku. Apakah aku sendiri yang harus memutuskan hal ini? Akan sanggupkah lautan memberi jawab bagi kegelisahanku ini? Paling tidak, dia memberikan opsi berdasarkan argumentasinya. Aku yakin dia bisa, walaupun dia lambat, walaupun dia penuh pertimbangan, tapi aku bisa membaca kedalaman hatinya lewat debur dan gulungan ombaknya yang tiap detik menyentuh ujung jari kakiku. Aku harus memutuskan segera, Lautanku, waktuku tidak banyak.

A.L.O.N.E

Posted in DIARY on October 30, 2009 by bayu primasanti

This morning, my office room was crowded by people. Some students and some lecturers had their own discussion. They laughed, they talked, they yelled. Unfortunately, i could not hear anything. I raised my head up of my cubical, perfectly seeing their lips, body, head, hands moved. But i could not hear them all.  I felt, i am alone.

So, what is the meaning of alone? i asked myself. Is ‘alone’ can describe what i feel?

Pertanyaan Sepele

Posted in DIARY on April 15, 2009 by bayu primasanti

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri. Baru kali ini aku merasa dipasung dalam pergumulan yang pelik. Pergumulan yang tidak hanya melibatkan imanku sebagai pengikut Kristus tetapi juga logikaku. Yang membuat geli yakni bahwa pertanyaannya terlalu sepele untuk membuat seorang – yang menurut rekan-rekanku termasuk golongan militan – sepertiku bimbang. Pertanyaan sepele ini menghantuiku selama berminggu-minggu dan tidak membiarkanku bebas melakukan pekerjaan pelayananku. Hanya sebuah pertanyaan sepele yang berbunyi apakah aku harus berangkat ke acara Pemahaman Alkitab kelompok ‘itu’ atau tidak. Anda pasti tertawa.
Aku seorang dosen muda fakultas ilmu komunikasi di salah satu universitas Kristen swasta di Indonesia. Tapi di luar status itu, aku hanya percaya bahwa diriku ini segambar dan serupa dengan Allah. Tapi justru kepercayaan inilah yang menggiringku untuk – acapkali – menuntut semua pekerjaan dan pemikiran harus perfect. Semua tindakan harus didasari ungkapan syukur kepada Tuhan dan dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Tapi kedangkalan kepekaanku akan suara Tuhan justru membuatku terjebak pada stigma itu. Semua pekerjaan yang baik, semua kegiatan yang benar dan mulia tidak boleh ditolak, harus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.
Prinsip ini menyala-nyala dalam diriku sejak aku terima Kristus. Aku berupaya dan berdoa untuk tidak pernah mengatakan tidak pada pekerjaan pelayanan. Saat orang datang kepadaku dan mengajak untuk melakukan pelayanan ini dan itu aku dengan sigap bersedia. Jangan salah sangka kalau aku ini seperti Marta yang sibuk dengan pelayanan yang tampak sehingga melupakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Bukan. Aku memahami betul hati Maria, hati yang selalu ingin duduk diam di hadapan Tuhan. Jika aku merasa bimbang, segera aku datang pada Tuhan dan mohon jawabannya. Aku tahu, aku paham itu semua. Tapi sekarang aku bingung dengan satu pertanyaan ini: haruskah aku datang?
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengajakku pergi ke suatu kelompok Pemahaman Alkitab. Dari awal aku sudah tidak sreg. Hanya aku tidak tahu apa alasannya. Tidak adanya alasan yang tepat ini menjadi argumen kuat bagi diriku untuk memposisikan persoalan itu sebagai pergumulan berat dengan konsekuensi menyita energy dan waktu. Aku bergumul hebat hari itu, akankah aku berangkat? untuk apa? apakah ini akan menyenangkan hati Yesus? Ah, aku dibuatnya gelisah. Aku bertanya-tanya kepada Tuhan, tetapi telingaku tak cukup tajam untuk mendengarkan suaraNya. Entahlah, aku gelisah sekali. Sampai akhirnya, aku meminta tanda seperti yang dilakukan Gideon. Jika benar aku harus berangkat, biarlah hatiku damai sejahtera ketika berada di tempat itu.
Semakin mendekati waktunya semakin aku menjadi gelisah. Tidak seperti ketika akan berangkat ke persekutuan-persekutuan lainnya, walaupun aku belum tahu apa yang akan terjadi di tempat itu, tapi aku sungguh enggan untuk datang. Kegelisahan memuncak beberapa jam sebelum acara itu. Aku memutuskan untuk tidak usah pulang dan berganti baju. Aku menunggu dan merenung agar dapat langsung berangkat ke tempat itu.
Aku sampai di sana dengan dua orang temanku yang lain. (oh, bahkan aku tidak sanggup menuliskan hal ini). Aku mendengarkan pembukaan dari pemimpinnya. Dia mengajak kami menyanyi sambil membuka handphone, kutak kutik sana sini. Lalu menyuruh kami share mengenai perubahan hidup kami ketika sudah menerima Kristus. Dari jawaban-jawaban mereka, aku tahu, mereka sudah lama mengenal Kristus dan telah banyak belajar dibandingkan aku. Tapi aku tetap merasa tidak nyaman. Lalu, kami mendengarkan kotbah. Salah seorang membaca pertanyaan di buku panduan dan pemimpinnya mengupasnya. Setelah itu menyanyi lagi dan selesai. Tampaknya sebentar, tapi dengan haha hihi –nya tak terasa sudah 3 jam kami berkumpul. Hatiku benar-benar bertarung ketika berada di dalam kelompok itu. Aku mencoba mengalahkan perasaan memberontak dan tidak damai sejahtera yang muncul dan meledak-ledak dalam diriku. Aku merasa tempatku bukan di sini, tapi aku takut menolak jika itu melukai Bapaku, jika itu hanya untuk memuaskan diriku sendiri. Aku juga takut tidak bisa menjawab ketika mereka tanya mengapa aku tidak mau berangkat. Apa yang harus kujawab? Haruskah kujawab bahwa aku tidak damai sejahtera di tempat itu? Egois sekali. Atau, bukankah esensi persekutuan adalah bertemu Tuhan, jika aku tidak bisa menemukandi tempat itu, untuk apa? Atau, maaf, aku banyak kerjaan (ah, bukan aku ini)? Atau apa? Pertanyaan sepele ini menggugah imanku. Ada hal-hal subtil yang terkadang tertutup oleh gemerlapnya pelayanan fisik yang kita lakukan. Konsekuensinya, untuk menjawab pertanyaan sepele ini saja sulit minta ampun. Jadi, bagaimana? Apakah aku harus berangkat?

Dream Catcher (Petualangan Sehari, Mencari Jawaban Kegelisahan tentang ‘Impian’)

Posted in DIARY on April 1, 2009 by bayu primasanti

Dreamer….
Saya termasuk dalam golongan ini: pemimpi ulung. Sejak kecil saya memiliki impian ‘muluk’ untuk melayani melalui pendidikan di Indonesia. Saya ingat benar bagaimana teman-teman saya mengekspresikan kegemasan mereka atas tingkah laku saya yang seolah-olah sudah menjadi pejuang pendidikan betulan. Teman-teman SMP saya sampai memanggil saya professor; teman SMA memanggil saya mentri pendidikan; di bangku kuliah, panggilan Bu Dosen sudah akrab di telinga saya. Saya jadi malu sendiri karena sesungguhnya saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai pertanggungjawaban status impian ‘pejuang pendidikan’ itu. Saya hanya punya impian dan sikap hidup seolah-olah saya telah menyandang status itu. Saya belajar, bekerja, berpikir besar seolah-olah saya memikirkan dengan sungguh-sungguh nasib pendidikan bangsa ini. Oh, sungguh, ini semua hanya sebatas impian. Saya benar-benar sadar bahwa saya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Saya tidak pintar, bukan penyusun strategi, politik juga tidak menguasai, science apalagi, wawasan kurang, bahasa inggris pas pasan. Yang bisa saya lakukan hanyalah bermimpi dan terus bermimpi.
Saya terharu dengan cara Tuhan mencelikkan mata saya mengenai impian ini. Sekarang saya sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Dulu, saya pikir, saya hanya hidup dalam impian itu; sekarang impian itu sudah berjumpa dengan secercah terang. Saya masih tetap sama, tidak sepintar rekan-rekan dosen yang lain, bukan penyusun strategi yang baik, pengetahuan politik dan science sangat minim, wawasan dan bahasa inggris masih juga tidak sebanding dengan dosen-dosen lainnya. Tetapi saya tahu, ada yang berbeda dalam hidup saya, yakni pembaharuan pola pikir saya atas impian itu. Yang tadinya saya pikir impian tinggal impian, sekarang saya tahu, selama kita hidup di dalam Tuhan, impian itu akan menjadi nyata sesuai waktunya. Karena ketika kita bergaul dengan Tuhan, kehendakNyalah yang menjadi kehendak kita, bukan kehendak kita sendiri lagi. (pokok anggur yang benar). Jika yang menjadi impian kita adalah kehendak Tuhan, badai topan pun tidak akan bisa menggagalkannya. (Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya). Ini semua terjadi hanya karena satu faktor: Kasih Karunia. Lalu saya bertanya lagi, “Tuhan, lalu apa yang harus saya lakukan. Tidak ada ilmu yang berharga yang bisa saya berikan kepada mereka yang saya impikan ini? Masa’kan saya harus mengajar “statistik sosial dan audit komunikasi? Dua mata kuliah yang sangat bertolak belakang dengan saya sebagai orang kualitatif. Saya tidak mampu melakukannya seorang diri, Tuhan! Tolonglah!”. Dan inilah jawabannya, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”.
Pagi ini, saya bersaat teduh. Saya membaca Yohanes 18: 1-11. Surat ini menceritakan kisah Yesus setelah berdoa untuk murid-muridnya sesaat sebelum kematiannya. Dia berdoa di Taman Gesemani dan seolah-olah mengatakan kepada Bapa bahwa Dia tidak sanggup rasanya menahan beban yang begitu berat. Namun, penyerahannya yang sempurna kepada Bapa itulah yang menjadi kunci sukses pekerjaan terakhirNya di bumi. Jesus did it. Yesus benar-benar melakukan kehendak Bapa itu dengan kepasrahan dan ketaatan yang sempurna walaupun sesungguhnya Dia tidak sanggup. Bacaan ini sungguh merema dalam hati saya. Roh kudus benar-benar berbicara kepada saya melalui renungan ini.
Lalu saya pergi untuk mengikuti kebaktian di gereja perintisan Shine. Kami memuji, berdoa, dan mendengarkan firman. Menakjubkan, ayat firman di kebaktian itu sama persis dengan ayat renungan pagi saya Yohanes 18: 1-38. Masih berbicara tentang ketaatan Kristus dalam melakukan kehendak BapaNya. Baik, Tuhan, saya mengerti bahwa saya harus taat. Pertanyaan saya adalah dengan cara apa Tuhan, saya harus melakukan pekerjaanMu itu? Saya tidak sanggup dengan keterbatasan ilmu saya; saya tidak tahu bagaimana cara menceritakan Engkau kepada anak-anak ini. Tolonglah saya, Tuhan.
Setelah makan siang, saya melanjutkan kegiatan minggu ini dengan mengikuti kelas PA (Pemahaman Alkitab) di Shine juga. Bahan hari ini adalah kitab Roma. Surprised! Yang dibahas hari ini adalah kisah Paulus sebagai hamba injil. Paulus merasa sangat berhutang kepada injil. Dahulu, Paulus menjadi penghujat injil, penganiaya jemaat, tetapi oleh kasih karunia yang cuma-cuma, Paulus diselamatkan oleh Kristus dan hidupnya berubah. Paulus menganggap ini sebagai hutang yang dengan cara apa pun tidak bisa dia bayarkan, apa lagi jika ia hanya berdiam diri. Karenanya, dengan segenap kesetiaannya, Paulus bertekad mewujudkan impiannya untuk mengabarkan injil sampai ke Roma (walaupun akhirnya dengan cara yang menyedihkan secara fisik, karena Paulus pergi ke Roma sebagai tawanan). Paulus mengejar impian mengabarkan injil ini sampai kematiannya. (Paulus rindu menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya). Baik, baik, jadi, seperti Paulus, demikian juga saya harus setia dengan panggilan hamba injil ini, baik buruk keadaannya. Oke, hamba injil, lalu bagaimana cara saya mengabarkan injil itu? Di mana Roma saya? Saya mengungkapkan kepada gembala saya mengenai kegelisahan yang saya alami sepanjang minggu ini, sesungguhnya hal spesifik apa yang harus saya ambil menjadi bagian pekerjaan saya dalam pekabaran injil saat ini? (merasa terlalu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan. Ah…)
Keluar dari ruangan PA, saya bertemu dengan sebuah buku di rak Shine yang mengusik mata saya karena nama penulisnya sangat akrab sekali dengan kehidupan saya (walaupun beliau tidak mengenal saya. Hehehe). Perkenalkan: Bapak Ayub Bansole. Beliau adalah hamba Tuhan yang dikaruniai karunia pengelihatan dan beberapa tahun silam pernah menubuatkan sesuatu atas hidup saya (sebanyak 2 kali dengan nubuatan yang sama). Saya mengambil buku itu lalu pulang. Di dalam angkot, saya buka buku itu, judulnya Dream Catcher. Di dalam buku itu, Pak Ayub bercerita bagaimana pentingnya tulisan bagi seorang pemimpi. Ia memberikan banyak contoh: Jules Verne, seorang penulis yang biasa saja, yang kemudian mengispirasi orang-orang sehingga terciptalah satelit buatan pertama dunia (Sputnik 1); lalu John Kennedy yang memiliki impian gila mengenai misi Apollo; sampai kisah klasik yang paling terkenal Thomas Alfa Edison dengan lampu pijarnya. Wow….semua itu berangkat dengan satu pijakan: Impian yang dituliskan dan dilakukan. Dengan memahami pentingnya tulisan ini, Pak Ayub ingin menyampaikan bahwa kita juga memiliki pekerjaan pekabaran injil melalui tulisan. Pak Ayub mengingatkan kita untuk menulis perjalanan kesaksian iman kita dalam tulisan atau buku supaya orang lain bisa membacanya. Tulisan itu bisa menjangkau lebih banyak orang, melampaui masa ke masa. Contoh kongkritnya ya, Alkitab itu. Bayangkan jika dahulu Paulus tidak menuliskan firman Tuhan, kita tidak akan memiliki kitab-kitab dalam perjanjian baru yang begitu menguatkan iman. Oke, jadi intinya adalah Prima kamu harus mulai menulis kembali. Sepanjang jalan saya merenungkan tentang pekerjaan menulis ini. Rasanya tidak cukup ketrampilan saya untuk bekerja dalam bidang tulis menulis. Menulis buku saja sampai sekarang tidak jadi-jadi. Pernah sih menulis artikel dalam jurnal, namun belum ada kabarnya juga. Tapi, seperti Kristus yang taat, saya juga mau taat. (Hiks….tolonglah saya, Tuhan. Benar-benar tidak sanggup melakukan misi ini tanpa pertolonganMu).
Saya sampai rumah, makan, kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, sudah ada seseorang yang datang dan meminta foto saya. Saya kaget, untuk apa, ada apa ini? Rekan ini mengatakan, tulisan saya dipilih untuk masuk ke sebuah jurnal rohani. (Hmmmmm……gleg…gleg…gleg…..bagi saya ini anugerah yang sangat indah). Saya berjalan agak pontang panting karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tampaknya, Dia benar-benar ingin meyakinkan saya akan panggilan itu. Satu-satunya kalimat yang mengisi kepala saya selama menit-menit mengejutkan itu adalah, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”. Oh, Tuhan, itu sangat berlebih buatku. Kau terlalu baik pada orang hina yang hanya bisa bermimpi ini. Tuhan, orang ini akan bangkit dengan pertolonganMu dan mengejar impian yang Engkau karuniakan dengan setia dan taat. (sungguh tidak sanggup tanpa kasih karuniaMu, Tuhan).

20.23-290309
My devotion place

The One Idea Dreamer Wanna Be

Land in The Cloud

Posted in DIARY on March 18, 2009 by bayu primasanti

In the shadow of your face i found love and life

which i’ve been looking for long time ago

You came to me, offered an innocent heart

always tried to understand the desire of this self

You played for me a song about  land in the cloud

In which, peace became it’s palace

and now you are bringing me up to go there

Truly, your heart is full of love languanges

which are spoken up exactly

in the happiness and sadness

( just for My Beloved Partner: Happy Anniversary, March, 18th 2009. Let’s pray and wait to hear this song in our blessed wedding day. I Love You)

Image Branding

Posted in DIARY on March 17, 2009 by bayu primasanti

Dari sudut mana mereka bisa berpikir bahwa aku ini mirip sekali dengan fitri tropika (lol)? Jika kuhitung-hitung ada lebih dari sepuluh orang (yang tidak saling mengenal) yang memiliki persepsi yang sama. Setelah kulakukan penelusuran gerilya, ada beberapa jawaban yang kutemukan:

1. Saya mirip fitri tropika karena  kekonyolan saya yang sudah mencapai stadium empat

2. Saya mirip fitri tropika karena gesture tubuh saat berbicara

3. Saya mirip fitri tropika karena ‘narsis’ (anak-anak remaja  berada dalam kelompok ini)

4. Saya mirip fitri tropika karena suka melucu walau ‘garing’

Saya heran mengapa fenomena ini bisa terjadi. Padahal saya merasa menjadi orang paling serius sedunia. Pertanyaannya: kenapa saya tidak dikatakan mirip dengan Bunda Teresa (berlebihan deh….!) atau Romo Mangun ya? (berharap terlalu tinggi).

Sela

Suatu ketika, ada seorang mahasiswa datang ke cubical saya untuk berdiskusi. Selama proses diskusi ini, dia menatap mata saya dalam-dalam. Tatapan ini, setiap detiknya, menyiratkan keraguan atas jawaban-jawaban yang saya berikan. Saat rasa penasaran saya sudah tak tertahankan lagi, saya tanya kepada mahasiswa saya ini, “Mengapa kamu melihat saya selalu seperti itu? Adakah yang aneh? Atau ada yang salah dengan jawaban saya?”. Mahasiswa ini kemudian menjawab sembari terpingkal-pingkal, “Iya, Miss. Saya sampai sekarang belum bisa membedakan, mana wajah Miss yang serius dan mana wajah Miss yang bercanda.” Lalu keluarlah pengakuannya, “Sebenarnya Miss, kalau di kelas itu, kami ngikik (tertawa terpingkal-pingkal) dalam hati setiap Miss menjelaskan sesuatu. Wajah Miss itu lho, selalu tidak sesuai dengan kata-kata yang dikeluarkan. Melihat wajah Miss saya kami sudah terpingkal-pingkal, apalagi kalau ngomong. Kelihatannya serius, tapi ….Huakakakkakakakak…..”

Sela

Semalam, kos kami punya hajatan. Ada salah satu penghuni yang ulang tahun. Seperti biasa, kami berkumpul dan makan bersama. Seperti biasa pula, suasananya rame sekali. Suatu kali, ada teman saya yang mengatakan demikian, “Saya pasti bisa masuk Perguruan Tinggi itu, siapa dulu yang merekomendasikan (dia merujuk pada dua orang rekannya yang punya posisi penting”. Lalu, dengan wajah super serius saya menimpali, “Tidak bisa begitu juga, selama Tuhan belum ACC, manusia juga tidak bisa lakukan apa-apa. Jadi, pertama-tama, minta rekomendasi Tuhan dulu ya”. Saya bingung, kalimat super serius ini malah direspon dengan gelak tawa. Hmmmm…..apa yang salah dengan diriku. Lalu, seorang teman nyeletuk , “Miss, kalau dalam kehidupan sehari-hari kamu tidak menampakkan sikap konyolmu, mungkin kami akan sangat kagum dengan kata-katamu itu. Tapi, kalau melihat keseharian Miss yang super konyol, kami susah percaya.” (gelak tawa kembali menyeruak). Hmmmm…..

Sela

Seorang mahasiswa bertanya, “Miss, boleh saya tebak, Miss ini pasti sanguin sejati ya?”. Saya menjawab,  “Saya menjawab, bukan, menurut tes psikologi yang pernah saya ikuti, saya ini koleris sejati.  Perbandingannya ya, 90: 10 lah dengan sanguin”. Mahasiswa ini tertawa, lalu menimpali, “Gak mungkin ah…..kok Miss selalu buat kekonyolan? Itu tandanya lebih kuat sanguinnya Miss.” (ah….up to you lah….)

Sela

Malam itu, setelah seharian bekerja, saya merenung di kamar. Di satu sudut yang paling dalam di hati saya, saya sangat senang dan bangga karena orang-orang di sekitar saya terkadang terhibur dengan banyolan atau sikap konyol saya (walaupun kadang saya tidak merasa demikian. Hups…masih mengelak). Namun, di ceruk hati yang lain, ada ketakutan luar biasa. Saya sangat takut, jika image yang saya bangung melalui perilaku, perkataan, dan sikap hidup saya ini justru merusak citra yang sudah Bapa gambarkan dalam hidup saya. Saya bertanya kepada sahabat saya, “Apakah saya salah bila saya bersikap konyol?”. Dia menjawab, “Selama sikap kita itu tetap bisa memuliakan Tuhan, tidak ada yang keliru”.

Refleksi ini mengingatkan kepada saya kembali. Image branding yang kita bentuk dalam kehidupan kita ini sangat mempengaruhi panggilan hidup kita di dunia. Apakah dengan image branding yang seperti ini, kita bisa menjadi surat Kristus atau justru merusak citra Allah. Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi saya sebagai seorang–yang dianggap sanguins (tetap tidak mau mengakui). Melalui hal ini pula, saya semakin yakin, bahwa sekuat apa pun kita berusaha mencitrakan Yesus dalam hidup kita, itu tidak akan berhasil. Citra Yesus dalam hidup kita adalah karunia semata. Bagian kita? Ya memelihara citra itu melalui sikap hidup, perkataan, dan perilaku kita.

Selidiki hatiku setiap hari, Bapa.

Apakah ku sungguh mengasihiMu, Yesus.

Kisah Klasik

Posted in DIARY on March 10, 2009 by bayu primasanti

Saya tidak pernah menyangka kalau kisah klasik yang selama ini kami renda, dapat melalui klimaksnya dengan indah pada 080309 kemarin. Sepuluh tahun sudah kami menanti kesempatan untuk mengerjakan dan menyaksikan klimaks ini. Rasa khawatir, penasaran, gemas, dan air mata mewarnai perjalanannya.

Awalnya kami buta, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana memberitahukan perasaan kami kepada kedua orang tua. Kasus kami berbeda. Tidak semudah dua orang dewasa yang sepadan, mapan, dan ingin berkomitmen bersama. Karena kami…..saudara. Itulah mengapa kami diam selama 10 tahun ini. Sementara satu-satunya hal yang kami kerjakan adalah BERTANYA kepada Bapa kami.

Proses menanti dan bertanya itu tidak terasa sudah menapaki sepuluh tahunnya. Terkadang kami lelah dan ingin berhenti saja sampai di situ lalu berikrar untuk menerima apa pun resikonya. Tapi roh kudus selalu menguatkan dan menyemangati kami. Terakhir, yang kami lakukan adalah berdoa bersepakat bersama seorang rekan kami (thanks, sist). Yang kami percayai, Tuhan turut bekerja melembutkan hati kami, pun hati orang tua kami. Yang kami percaya, Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya. Yang kami percaya, Jika Tuhan sudah membuka pintu, siapa pun tak ada yang bisa menutupnya. Yang kami percaya, God is Good so everything He makes is also good.

Banyak hal yang kami doakan menjelang hari itu. Kami berdoa untuk motivasi kami, hati kami, hati orang tua kami, kami berdoa untuk hari yang tepat, kami memohon hikmat untuk berbicara, dan keteguhan hati untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Dua hari sebelum hari yang kami doakan itu tiba, kami merancang segala sesuatunya. Tempatnya, waktunya, transportasinya, dan susunan acaranya. Kalau mengingat proses itu, kami tertawa sendiri, lucu sekali, seolah-olah kami membuat sebuah event akbar yang sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Hahahaha….Dan yang lebih membuat saya terpingkal-pingkal saat mengingat peristiwa itu adalah bahwa parter saya menulis semua yang akan dikatakannya bak pidato kenegaraan. Dia mengetiknya rapi lalu membacanya berulang kali sampai semua poin terekam di kepalanya, kepala kami. Tapi lebih dari itu semua, kami menumpangkan tangan pada kertas “pidato” itu dan berdoa sebelum menuliskan isinya.

Hari yang dinanti selama 10 tahun itu pun tiba. Perjalanan menuju tempat kejadian peristiwa terasa sangat panjang. Sepanjang jalan saya berteriak untuk mengurangi nervous yang menghinggapi saya. Parter saya tampak lebih tenang dari pada sebelumnya.

Setelah makan malam, kami mengutarakan isi hati kami kepada orang tua kami. Saya mendapat bagian membuka percakapan, parter saya yang menyampaikan isinya, dan sahabat kami berdoa dari tempatnya. Saya sama sekali tidak menyangka, semua perkataan yang keluar dari mulut parter saya begitu berwibawa, begitu tenang pembawaannya, begitu runut, teratur dan sangat bijaksana. Saya melihat sirat terkesima dari wajah orang tua kami. Saya benar-benar terkejut. Saya yakin, roh kudus memimpin parter saya untuk berkata-kata.

Tiba saatnya kami mendengar tanggapan dari orang tua kami. Perasaan campur aduk sudah tiada lagi. Kami benar-benar tidak (mau) mempersiapkan strategi jika jawaban orang tua kami nantinya: “tidak” . Mengapa? Karena kami begitu yakin akan rencana Tuhan. Kami begitu beriman atas karyaNya.

Dan inilah yang diucapkan orang tua kami, “Kami tidak lagi peduli apakah kalian saudara atau tidak, yang kami tau, kami sudah menyerahkan hubungan kalian kepada Tuhan. Kami merestui kalian. Jadi, kalian harus bertanggung jawab untuk menjaga restu ini, demikian juga bertanggung jawab pada Tuhan yang melihat kalian. Kami merestui kalian”.

Saya tahu, bersikap sewajar apa pun saya kali ini, saya tetap tidak akan bisa menyembunyikan sukacita ini.

Terima kasih Bapa, terima kasih Ayah & Ibu, terima kasih Christma, terima kasih parterku, kita sudah menyelesaikan katastrofa dari kisah klasik bagian ini. Masih ada beberapa fragmen lagi yang harus kita lalui. Siap? Tentulah, karena kita berjalan bersama Bapa kita yang baik. Amin.

Memotret Pelangi

Posted in DIARY on March 2, 2009 by bayu primasanti

Aku teringat kesukaan kita berdua
Saat rasanya tiada waktu tersisa
Kita pasti melarikan diri
Ke pantai atau ke gunung

Aku ingat sekali hobi kita berdua
Memotret pelangi
Lalu membingkai bintang-bintang
Dengan empat bola mata ini
Yang kadang sudah sayu oleh kesibukan

Tapi kita tersenyum saat mencoba memaksa diri untuk tetap “melek”
Wajah kita jadi aneh….tapi asyik sekali

Saat-saat itu, lelah kita jadi hilang
Karena akhirnya pelangi dan bintang-bintang yang tak tergapai itu…
Tertangkap oleh empat bola mata kita