Tidak sanggup memikirkan salib itu
Rasanya semakin dekat
Semakin kuat aromanya
Tapi belum jelas rupanya
Siluetnya pun belum teraba
Jauh tapi terasa sangat dekat
Kapan salib itu datang
Aku menanti dengan kegelisahan
Aku bersabar dengan pertanyaan-pertanyaan
Inikah, itukah, biar segera kupanggul
Tentu dengan ketidakmampuanku
Tapi bukan ini, bukan itu pula
Semakin kuat kuberlari menyongsongnya
Semakin aku merasa bodoh karena kerap keliru mengira
Salib itu, salib yang kunanti dengan cucuran air mata
Aku tidak sanggup memikirkannya
Kecuali oleh kasih karuniaMu
Untuk itulah, kumohon
Archive for the Uncategorized Category
SALIBKU, BELUM TIBA
Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasantiAku Punya Pena untuk Menulis
Posted in Uncategorized on April 15, 2009 by bayu primasantiMengapa aku tidak bisa berbicara dengan bebas mengenai Engkau di tempat yang baru ini?
Belum ada kesempatan? Kurasa tidak
Atau memang sudah terlalu banyak yang mengerti?
Tapi aku tidak akan diam begitu saja
Aku tidak akan diam
Aku punya pena untuk menulis
Maka, sama seperti aku tidak akan berhenti berbicara tentang Engkau di tempat lama, aku tidak akan berhenti menulis tentang Engkau di sini
Hanya saja, bebaskan aku dari kultur ini
Mereka memenjara kebebasanku bercanda denganMu, Inspirasiku, pusat hidupku…..
Learning without no-reason
Posted in Uncategorized on February 25, 2009 by bayu primasantiToday, i follow english academic writing class in PCU. It’s a nice class with nice lecturer and nice classmates. They, my classmates, are lecturers too. Even, some of them have been mastered in their field proved by the degree they have had, such as S2, double S2, and doctor. And, one thing that make me shock is one of them is candidate of Petra english lecturer. This kind of class is inquiring me so. Why they, the experts, still have willingness to follow such a class (english class) like this. Don’t they have many things to do? Just compare with my own class (PSS class), the students of second smester said to me that they will be bored to be in class for a long time (2 hours).
I don’t know, but i just believe that the process of learning can be successfully done just when there is willingness from our own to be there, to be processed, to listen, to ask, to contemplate, to find, without any kind of no-reasons.
Appreciate for my classmates (with age between 27-60), and i motivate to my student (age in range 19-20) to follow your learning process honestly and leave your no-reasons. Yes, we can!
Satu Bulan di Petra
Posted in Uncategorized on February 19, 2009 by bayu primasantiHari ini, 19 Februari 2009, tepat satu bulan saya bekerja di PCU atau Petra Christian University—sebuah universitas yang tidak saya duga akan menjadi pelabuhan saya dalam hal pekerjaan. Saya pikir, saya butuh merayakannya dengan Saudara. Let’s get the party!
Unimagined Plan
Pesta ini akan diawali dengan sebuah kekaguman saya atas rencana indah yang tak pernah terbayangkan oleh saya. Masih segar di benak saya, kata-kata bapak gembala saya bahwa suatu saat, dalam rangka memenuhi panggilan hidup kita, kita pasti akan dibawa ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saya pun tidak pernah membayangkan, tempatnya adalah di Petra, di Surabaya. But now, here I am.
Pertemuan dengan mahasiswi UGM angkatan 2005, adik PA saya—walaupun kenyataannya kami tidak pernah bertemu untuk PA melainkan membahas tugas-tugas kuliah, membawa saya mengenal Petra. Saya yakin, dia dipakai untuk mendorong saya memasukkan lamaran di universitas ini walaupun awalnya saya sama sekali tidak tau apa itu Petra, di mana, bagaimana, apa visinya, dsb.
Saya melakukan riset kecil mengenai universitas Petra, melamar, melalui lima kali tes, dan pada 19 Januari lalu menginjakkan kaki pertama kali di universitas ini sebagai pengajar. Hffffiiiiuuuuuhhhh….Saya tidak tahu harus mengungkapkan syukur dengan cara apa lagi oleh karena rencanaNya yang tidak pernah saya bayangkan ini.
Hari Pertama di Petra
Orang pertama yang saya temui di hari pertama saya adalah pak satpam. Anggukannya yang ramah dan tutur sapanya membuat saya berpikir bahwa universitas ini sangat ramah. Lalu saya melenggang masuk, menemui para pegawai di biro administrasi. Di tempat ini, mereka juga memberikan sambutan yang hangat kepada saya sebagai dosen baru. Setelah beramah tamah dan mengurus beberapa hal, saya menuju Fakultas Ilmu Komunikasi. Saya bertemu dengan bapak dekan dengan atmosfer penyambutan yang sama, ramah. Lalu saya diantar ke ruangan saya. Wow, it’s a beautiful place. Walaupun kecil, tapi sangat nyaman. Saya mulai duduk, berbenah dan berkenalan dengan dosen pertama yang saya temui. Dia masih muda, dua tahun di atas saya. For first impression, dia sangat cantik, menawan, fashionable, smart dan sangat ramah pada saya. Kami bercakap, makan bersama lalu mengikuti kebaktian universitas bersama.
Ini kebaktian universitas pertama yang sangat indah menurut saya. Ada seorang worship leader dengan suara sangat indah, tiga orang singer yang baru-baru ini saya ketahui sebagai pemilik suara terindah di universitas ini, pemain music yang sangat terampil dan pembicara yang hebat. Wow! The dream tim. Saya sangat bahagia dan bersyukur pada waktu itu. Betapa baik Kau Tuhan, telah membawaku ke tempat seperti ini.
Dua, tiga hari di universitas ini saya merasakan kegelisahan pribadi. Semakin banyak orang saya temui, semakin minder saya rasakan. Saya tidak melihat dosen atau mahasiswa dengan pakaian tidak baik di tempat ini (sangat berbeda dengan pemandangan saya di jogja, bersama anak-anak jalanan yang bajunya sebulan tidak dicuci. Oh, saya mencintai kalian. Saya rindu kalian). Semua Indah, semua bagus, semua tampak mahal. Saya merasa seperti berjalan di tengah mall besar. Dan setiap orang yang melihat saya, memandang dengan aneh, melihat dari atas ke bawah dengan tatapan penuh pertanyaan. Hahahaha….mungkin mereka pikir saya sales or whatever ya….
Saya bertahan dengan penampilan saya yang sederhana dan apa adanya—selain karena saya tidak membawa banyak baju dari jogja, saya juga bingung harus berpenampilan seperti apa. Coba ada ibuk atau Krisma, sahabatku, pasti mereka bisa mengarahkan saya.
Benar apa yang saya khawatirkan. Beberapa hari masuk kerja, beberapa kali pula saya mendapat teguran—secara langsung maupun tidak—tentang penampilan. Saya sempat melakukan eksperimen kecil. Saya berjalan dengan pakaian rapi di depan beberapa orang, dan, karena mereka tahu saya dosen, gestur mereka menunjukkan rasa hormat. Lalu sore-sore saya pergi ke kampus dengan memakai celana pendek, sandal jepit, dan topi. Saya menyapa mereka, tapi mereka berubah menjadi acuh karena tidak mengenali saya lagi. Wew! Demikian berperankah penampilan? Saya sempat bingung sampai kemudian saya yakin, bahwa diri, wajah, tubuh, penampilan, dan hati saya digambar menurut citraNya. Hah, walaupun akhirnya potong rambut (ini juga karena panas Surabaya), dan membeli celana baru (yang cukup menguras isi kantong), saya tetap ingin menjadi seperti gambar diri saya. Performance doesn’t mean everything, jut one way to present your image.
Sebulan di Petra
Sebulan telah berlalu. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya sangat bersyukur berada di tempat ini untuk bekerja dan melayani jiwa-jiwa muda dan rekan-rekan sekerja. Saat menengok ke belakang, saya sadar, perjalanan masih sangat panjang; perjuangan memang belum kentara. Saya jadi ingat kata Pak Ayub, “Kamu akan menjadi seperti Debora”. Ah, saya yang lemah ini? Tidak mungkin tanpa kasih karuniaMu, Tuhan.
Happy New Year
Posted in Uncategorized on February 19, 2009 by bayu primasantiHappy New Year,
Tampaknya ini frasa yang paling tepat untuk membuka tulisan ini. Lazimnya, tahun baru adalah awal tahun masehi yang jatuh pada 1 Januari setiap tahunnya. Namun, bagi saya yang sok nyleneh ini, tahun baru merupakan momen penting yang menandai berpindahnya kita dari suatu keadaan tertentu di masa lampau menuju ke keadaan tertentu di masa kini. Tentunya perubahan ini merupakan perubahan yang spektakuler, bukan secara kuantitas melainkan kualitasnya. Konsep nyleneh inilah yang membuat saya belum mengganggap tahun baru pada 1 Januari 2009 lalu sebagai tahun baru saya. Pada hari itu saya belum merasakan perubahan keadaan dari diri saya yang berstatus stagnan sejak kelulusan bulan Mei 2008 silam. Di benak saya, tahun baru saya belum datang.
Pohon-pohon zaitun saya kering dan pohon ara saya sama sekali tidak berbuah. Saya bergumul dengan berat untuk bisa memahami apa yang harus saya pelajari dari kondisi stagnan waktu itu. Beberapa kali saya bertanya kepada bapak gembala saya, “Pak, kapan titik balik saya tiba? Saya memerlukannya!”. Dari setiap diskusi dan doa kami, ada satu hal yang membuat saya yakin, yakni bahwa panggilanNya tidak pernah dibatalkan. Sejak saat itulah saya berpikir harus mengerjakan bagian pekerjaan yang dipercayakan kepada saya walaupun saya tidak suka. Selama menjalani bulan-bulan yang berat , sambil menyaksikan satu per satu teman saya naik daun saya melakukannya dan berusaha setia.
Dua belas Januari 2009: beberapa bulan setelah saya menyadari bahwa saya sedang menunggu tahun baru yang tak kunjung tiba. Pagi menjelang siang, saya menulis di blog, curahan hati, berjudul Be Patience. Dalam tulisan itu, saya memaparkan apa yang saya dapat dalam proses menunggu tahun baru datang. Sambil menulis, saya terus bersyukur karena selalu dikuatkan untuk menjalani masa-masa yang berat ini. Beberapa menit setelah saya menuliskannya, handphone bordering. ……
Selamat tahun baru, Prima. Selamat memasuki tahunmu yang baru. Kira-kira, demikianlah saya mengitepretasikan pesan dari seberang.
Terima kasih, Tuhan. Setelah melalu perjalanan yang menurut saya panjang dan sulit, akhirnya tiba juga di tahun baru, padang rumput yang lain dari sebelumnya, dan (saya tau) ada perkara dan tantangan baru yang Engkau mau aku melewatinya.
Happy New Year!
Be Patience!
Posted in Uncategorized on January 12, 2009 by bayu primasantiAda yang setuju denganku bahwa hal yang paling membosankan adalah menunggu?
Wow! Ada lima ribu tangan teracung…..(berlebihan sekali….)
Iya, hal yang paling membosankan adalah menunggu. Apalagi bagi orang yang kesabarannya tipis kayak aku ini. Sejam serasa sehari, sehari serasa sebulan, sebulan rasanya setahun….huhuhuhu…..
Dan inilah yang kurasakan beberapa waktu ini. Menunggu “sesuatu” itu rasanya lama sekali dan mereduksi gairah yang semula menyala-nyala (gairah apa neh?hihihihihiiii). Iya, bayangin aja, makan tak enak, tidur tak nyenyak (kalau ini problemnya beda: lagi tongkos alias kantong kosong! Plisss!), mandi gak tentram (nah, kalau ini mah bukan masalah, tapi kebiasaan. Karakter!). Rasanya hari-hari ini berlalu lama sekali. Wah….sampai tercetus dari bibir manisku ini sebuah kalimat yang sangat tabu untuk diucapkan seorang domba Kristus, “Aku bosaaaaannnnn”. And you know what, kalimat pendek itu berujung pada ketidakberesan semua tugas yang kulakukan. Hffffiiiiuuuuhhhhh……..
Dan aku tau, satu-satunya hal yang harus kupelajari dalam rangka menunggu ini adalah bersikap sabar. Oke, sabar…sabar…Dalam setiap kesempatan, aku berusaha sabar dan menjadi sangat sabar (terinspirasi oleh tetanggaku, namanya Sabar). Dan satu minggu kemarin aku melatih diriku sedemikian rupa untuk mempraktikkan kesabaran itu. Yes….walaupun sulit, akhirnya aku sedikit-sedikit memiliki kemampuan untuk bersabar.Meskipun demikian, sebagai konsekuensi dari latihan keras ini, aku memanjakan diri dengan tidak mengerjakan semua pekerjaan secara sempurnya. Dengan kata lain, kerjakan tugas dan pekerjaan seenaknya saja, santai santai, tidak usah terlalu berpikir keras untuk sesuatu yang sedang dikembangkan, nyante aja coy!
Nah, dua atau tiga hari lalu–dalam kondisi masih bersabar (yang aneh) ini–aku membaca sebuah buku. Dan, kalimat pertama yang kubaca adalah, Patience is not ability to wait, but ability to keep good attitude while wait. Wahai, engkau yang dapat menerjemahkan kalimat ini dengan baik, silakan cocokkan terjemahan Anda dengan intepretasiku berikut ini.
Berdasarkan kalimat itu, kesabaran bukanlah suatu kemampuan untuk menunggu sesuatu melainkan kemampuan untuk tetap bersikap sebaik-baiknya ketika berada dalam masa penantian. Wew!
Uraiannya, sesuatu itu tidak cukup disebut kesabaran jika hanya merupakan kemampuan kita untuk menunggu. Secara fisik tidak beralih dari tempat kita berdiri dan tetap menunggu. Keadaan ini memungkinkan terjadi fluktuasi dalam perasaan kita since hati kita dalam kondisi sangat labil, entah itu tetap ceria, tetap bersemangat, atau bosan, sedih, gemas, geram, dll. Jadi, kalau kemampuan kita hanya bertahan pada “kemampuan untuk menunggu” (dengan perasaan dan sikap yang mungkin fluktuatif atau bahkan negatif), maka Anda belum bisa mendapatkan penghargaan sebagai orang yang sabar.
Namun, kesabaran itu mewujud pada kemampuan untuk menjaga sikap dan perasaan kita tetap pada jalur yang semestinya ketika kita menunggu sesuatu. Saat menunggu adalah saat paling menyenangkan buat “si pendusta” untuk menggoda kita. Pada saat-saat inilah dia melancarkan serangannya kepada alam pikiran kita. Misalnya, dengan mengirimkan pemikiran: “besok pasti kita sampai di kondisi yang baru, jadi untuk apa lelah-lelah mengerjakan yang ini, tinggalkan saja”, atau “santai-santai dululah, toh besok akan keluar dari kondisi ini juga kan?”, atau “terlalu lama neh, berontak aja!”, dan lain-lain. Nah, pada saat inilah kita bisa memompa keluar kemampuan kita yang bernama “kesabaran sejati”. Bukan hanya sabar menunggu secara fisik–tapi perasaan dan sikapnya dipengaruhi oleh kata-kata “si pendusta”– melainkan tetap berusaha “tuli” terhadap kata-kata “si pendusta”, bersikap “yang terbaik”, dan mengerjakan pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawab kita saat ini dengan sebaik-baiknya seolah-olah kita sudah menerima sesuatu yang ditunggu itu.
Wahai engkau yang saat ini sedang dalam masa penantian (pasangan hidup, pekerjaan, studi, jawaban Tuhan, dll), percaya deh, Dia sangat ingin kita berada pada kondisi baru nantinya dengan semangat yang baru, semangat kesabaran sejati. That’s what waiting moment is for.
Oke, be truly patience yeah!
Pementasan Ketoprak Bocah Seri 1
Posted in Uncategorized on January 9, 2009 by bayu primasantiWew! Akhirnya! Setelah menunggu sekian lama — karena file foto-foto ada di tempat aa dan belum sempat di kopi — sekaranglah saatnya aku bisa membagi kenangan Pementasan Ketoprak Bocah pada 24 Desember lalu. Check this out!

Anak-anak ini! Mau jadi apa mereka coba? Udah malem gini masih aja latihan, belum pada mandi! Tobat!.
Anak-anak said, “Mau jadi seperti Mbak Prima, dia malah tiap hari gak mandi!!!” (Tuingggggg!!!!)

Nah, ini malam terakhir bagi kita. Heleh! Maksudnya, malam terakhir bagi anak-anak bisa guyon alias bercanda waktu latihan. Since ini adalah gladi bersih, jadi mereka sangat serius. (Sebenarnya bukan itu aja sih alasannya, tapi karena yang melatih di hari terakhir ini “Bu Tutik”. Wuiiikkk….kebayang gak? Heboooohhhh…….Langsung pada diem coba!)

Menjelang dirias. Bagus! Bagus! Mereka masih bisa tersenyum penuh ceria dan percaya diri (gak tau aja, sebentar lagi bakal pada cemong mukanyeee….hiiii…..aku cuma bisa ngikik dalam hati. Tertawalah, Nak! Jika kau seusiaku nanti, menit-menit ini akan membuatmu ngakaaaakkkkk abis).

Senyum penuh arti (artinya: “Ayo kita rubah anak2 ini menjadi tokoh2 ketoprak yang sempurna. Huahahahahahaha……”)

Inilah mereka dalam wujud setengah jadi. “Wehehehehe…..kerennya kami ya Mbak!” (iya keren-tengan! Sabar! Sabar!)

“Lihat mukaku, Mbak. Ayu tenan to? Aku pakai bedak setebal 5 cm lho”. Eh, itu, si Yosua belum cukur kumis! Awas lho dimarahi Pak Guru!.
By the way, potong sampai di sini dulu ya. Besok kita lanjutkan ke cerita yang lebih seru lagi. Is it fun enough?