Bahagia dan Cukup

Standard

Sebuah keprihatian bagi teman-teman dan keluarga ketika mereka tahu komitmenku dan dia sepuluh tahun yang lalu, 1998. Cibiran dan sindiran akrab sekali dengan hubungan kami saat itu. Wajar, sepuluh tahun yang lalu, dia orang yang tak tahu aturan, tak kenal Tuhan, hidup dengan jiwa jalanan, dan parahnya, tak bertujuan. Sebagai manusia biasa, terkadang kuping ini panas mendengar cemoohan dan inginnya melarikan diri walau akhirnya justru jalan di tempat.
Aku harus berusaha menafsirkan sikapnya dengan perspektif yang lain, bukan dengan kacamata yang digunakan orang-orang untuk menilai dan menghakimi. Sejujurnya, itu hal yang sangat sulit sekali. Perih…Pedih hatinya.
Pernah, satu dua kali kami tidak kuat, dan kami membatalkan komitmen itu. Hahaha…tepatnya pembatalan secara sepihak (yang tentunya juga hanya menguntungkan satu pihak saja. menguntungkan? justru belakangan aku renungkan itu sebagai kerugian fatal).
Suatu saat, entah itu aku bermimpi atau memberontak pada realita, ada seseorang yang mirip sekali dengannya menghampiriku. Pakaiannya lusuh, badannya kurus kering, sepertinya hatinya terluka parah, dan ada yang tidak beres pada pikirannya (kutebak, karena pengaruh obat-obatan psikotropika), dia membawa sebotoh minuman keras, bau rokok pula. Dia datang dan semakin mendekat padaku, lalu berbisik lemah, “Sahabat, seandainya sahabatmu dipenjara karena sesuatu yang tidak dia mengerti, apakah kamu akan meninggalkannya? Apakah kamu akan mencacinya seperti yang orang lain lakukan? Apakah kamu tidak ingin membantunya menghadapi pengadilan itu? Apakah kamu akan biarkan dia mati penasaran dengan tetap tidak mengenal siapa Tuhannya?”
Stop! Semua itu melukaiku. Lebih dari semua yang aku miliki, aku sangat mencintainya, aku sangat mengasihi sahabatku itu. Dan betul katamu, aku tidak akan membiarkan dia menghadapi kekejian ini seorang diri.
Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali pada komitmen kami….Hehehe…
Dia, Dia yang ingin kami saling menjadi penolong, Dia lah yang mempertemukan kami kembali.
2001…
Terjalin kembali ikatan yang pernah putus. Tak lagi dengan tampar, tapi rotan. Rotan yang kokoh dan baik kualitasnya.
Wajahnya berbeda, auranya merepresentasikan janji atas masa depan yang penuh harapan. Entah apa yang terjadi padanya. Dia berubah…
Dalam episode ke dua ini, aku yang perlu ditolong. Ambisi yang meluap dan kadang tak terkendali membawaku pada kemarahan ketika bertemu dengan aral. Diriku kini yang dipenjara oleh keserakahan dan nafsu atas penghormatan dan kekuasaan. Dan di antara kesesakan dan jeritan di atas ambisi itu, dia dengan setia menanti dan selalu tersenyum mendukung (dia, dia yang dulu orang seperti apa sekarang menjadi seperti apa).
Di antara kelelahan itulah aku melihat melalui matanya (walaupun dia sama sekali tak pernah berkata-kata dan tak pernah menasihati) bahwa jalan yang kutempuh ini salah. Jalan ini hanya berujung pada kematian kepribadian.
Aku mengerti sekarang. Paham benar mengapa dulu, walaupun sakit, aku tetap harus bersama dia. Karena kami sedang diproses, ditempa dengan keras untuk melihat wujud sejati masing-masing pribadi.
Sampai di sini, ketika sedikit selumbar itu tersingkap dan aku bisa melihat karya yang besar melalui perubahan hidup anak manusia; hingga muncul seorang partner hidup yang takut akan Tuhan, aku semakin yakin, aku sudah bahagia dan itu cukup. Tidak butuh apa-apa lagi selain kekuatan untuk mengalirkan kebahagiaan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s