Bergaul dengan Kasih

Standard

(Dibawakan dalam Persekutuan Effata Sanata Dharma 12 Sept’08)

Bergaul dengan Kasih

Coba kita renungkan, biasanya kalau kita melihat pada nisan orang yang sudah meninggal, di situ akan tertulis tahun hidup – tahun meninggal. Otomatis, perhatian kita tertuju pada seberapa lama dia hidup. Kita melupakan satu tanda yang tercetak di antara kedua tahun itu, yakni tanda strip (-). Tanda strip inilah yang sebenarnya menentukan akan berada di kehidupan mana kita nantinya (mati kekal atau hidup kekal). Nah, salah satu hal yang kita kerjakan di dunia ini untuk mengisi tanda strip itu adalah bergaul.

Renungan kali ini diberi judul “Bergaul dengan Kasih”. Kalau diuraikan, “bergaul” untuk menunjukkan “pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu”, “dengan kasih” menunjukkan cara untuk melakukan pekerjaan tersebut. Melakukan pekerjaan bergaul sih semua orang bisa, tapi bagaimana cara bergaul yang Allah mau (Mat 22: 37-40)? Cara bergaul yang tidak mudah membuat kita tumbang ketika badai hidup datang?

Kita akan mencoba memahami bagaimana bergaul dengan kasih melalui simulasi berikut ini.

Peserta akan dibagi dalam dua kelompok bangsa, yakni bangsa Alfa dan Victoria. Kedua bangsa ini sangat bertolak belakang dalam berbagai hal. Berikut ciri-ciri keduanya:

ALFA

VICTORIA

Primitif

Modern

Lemah lembut

Keras, bersemangat, ceria selalu, tapi suka marah-marah

Kalau berbicara ataupun bertindak sangat pelan sekali

Kalau berbicara atau bertindak sangat keras, langtang, cepat dan tangkas

Jika bertemu orang pasti salaman dan mengelus bahunya

Jika bertemu orang baru mengajak TOAST dan menepuk keras baunya

Selalu menawarkan makanan pada orang baru

Selalu mengajak menari orang lain

Agak sensitif dengan suara yang keras

Males kalau melihat kelambatan

Berencana membuat menara sesuai karakter mereka

Berenana membuat menara sesuai karakternya

Alat transportasi: kaki, sampan

Alat transportasi: mobil, pesawat

Makanan: langsung dari alam

Makanan: fast food

Pekerjaan: berburu dan bercocok tanam

Pekerjaan: profesional

Kedua kelompok bangsa dipisah di dua tempat yang berbeda. Salah seorang dari satu ditukarkan secara bergantian dengan kelompok lainnya. Ketika satu orang berada dalam satu kelompok yang lain, dia diharapkan bisa beradaptasi tetapi tetap mempertahankan adat budayanya supaya tidak terpengaruh oleh kelompok yang lain. Demikian, semua anggota kelompok bangsa ditukarkan secara bergantian sampai seluruh peserta merasakan berada di bangsa lainnya. Setelah semua mendapat giliran, simulasi pun selesai dan peserta kembali ke tempat duduk masing-masing.

Saudara, apa yang bisa kita pelajari dari simulasi tadi? (Sebutkan beberapa hal yang kamu dapat!). Apa yang anda rasakan ketika Anda dengan segala adat istiadat dan karakter yang Anda miliki harus beradaptasi dengan bangsa lain yang menawarkan sesuatu yang berbeda? Apa yang Anda akan perbuat ketika Anda harus tinggal dan bergaul dengan mereka? Mudahkah?

Ya, jawabannya bisa bervariasi. Pertama, mungkin kita merasakan sangat sulit sekali bergaul dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Walhasil, kita memilih untuk pergi dan meninggalkan lingkungan tersebut. Yang kedua, kita merasa sulit untuk beradaptasi, tapi karena beberapa factor (keterpaksaan, kewajiban, gengsi, dll) kita terpaksa merubah diri menjadi seperti mereka secara pelan-pelan. Ketiga, mudah, kalau kita termasuk tipe orang yang mudah berubah sesuai dengan keadaan lingkungan kita. Keempat, mudah, karena kita tidak memandang perbedaan itu sebagai penghambat, justru kita menguatkan karakter kita dan berupaya memberi dampak kepada lingkungan kita.

Seperti simulasi di atas, demikian jugalah kita. Mat 10: 16 a mengatakan “Lihat, Aku mengutus kamu, seperti domba ke tengah-tengah serigala”. (Mat 5: 16). Wah, dari ayat ini saja kita sudah bisa melihat kalau anak terang itu berbeda dengan dunia. Anak terang, yang memiliki prinsip hidup seperti Kristus, tidak jarang dipandang aneh oleh dunia. Mau bukti kuat, ingat-ingat saja cerita Yesus yang waktu itu dibenci orang farisi karena kelakuannya yang aneh. Tapi bagaimana pun juga, sabda tadi tetap berlaku. Kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Mau tidak mau, ya harus mau. Tapi bukan asal mau, melainkan melakukan yang terbaik dalam pergaulan kita.

Kita bisa belajar bergaul dengan benar dari Roma 12: 9-21.

· Kasih itu jangan pura-pura à jujur dan terbuka

· Menjadi sahabat yang baik à suka duka bersama, mengutamakan orang lain, selalu berusaha memberi tumpangan, selalu membawa perdamaian

· Rajin dalam melayani, bukan dilayani

· Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. 12

· Jangan menganggap dirimu pandai à pikirkanlah hal-hal yang sederhana

Ternyata banyak sekali hal yang harus kita perhatikan ketika ingin belajar bergaul dengan kasih. Tapi yang lebih besar di antara itu semua adalah: Yoh 15: 13. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kalau kita ingin bergaul dengan kasih, sudah siapkah kita memberikan nyawa kita untuk sahabat-sahabat kita? Hehehe….serem ya? Jika suatu ketika kita merasa kesulitan dalam pergaulan kita, kecewa, marah, teraniaya, terancam, dikucilkan, dan semua kebaikan kita justru mendatangkan sakit hati sendiri, ingatlah bahwa Yesus juga mengalami semua itu. Yang paling penting, kita lakukan yang terbaik itu dengan dasar Kolose 3: 23. “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s