Menembus Batas

Standard

Kemarin malam, aku dan sahabatku berdiskusi mengenai bagiamana kami bertumbuh dan apa buahnya selama beberapa tahun ini (aku tinggal di Jogja dan dia di Bandung). Aku takjub sekali ketika dia bilang pertumbuhan imannya lebih cepat dibandingkan dengan temannya (Selama ini aku bingung, bagaimana cara mengukur pertumbuhan iman seseorang itu? Hehehe…mungkin aku ini yang malas belajar). Lalu kami berdiskusi tentang masalah teman hidup (yang kemudian kami sebut TH). Menurutku, ketika Tuhan mengenalkan kita pada TH kita, belum tentu mereka telah dalam posisi sepadan dengan kita (mungkin, dia masih dalam kegelapan, belum bertumbuh, atau bahkan orang yang tak kenal Tuhannya). Nah, pada saat dipertemukan dengan kitalah proses penempaan itu dimulai, hingga akhirnya menjadi teman yang sepadan dan dapat diberkati sebagai teman hidup. Dalam perspektifku ini, teman hidup mungkin lebih tepat disebut “calon teman hidup” (belum diwisuda dan menerima lencana, karena belum sepadan!). Kalau menurut sahabatku, Tuhan akan mempertemukan kita dengan TH kita, jika sudah sama-sama dalam keadaan sepadan dan kita hanya bisa menolong dia (saat dia belum sepadan) dengan doa, atau kita tolong secara langsung tapi dengan tidak menganggap dia sebagai calon pasangan hidup. Anehnya, berbeda dengan diskusi-diskusi idealisku yang lain, polemik yang kami munculkan berdua itu terjadi dengan sangat santai dan toleran (padahal kami sama-sama idealis). Sahabatku bilang, yah…karena kita tumbuh ditempat yang berbeda, jadi perspektif kita berbeda dalam memandang sesuatu. Aku setuju, lalu mencoba menghubungkannya dengan sebuah analogi mengenai banyaknya aliran dalam gereja kita. Ada aliran A, B, C yang terkadang berbenturan paham satu dengan yang lainnya (ingat kan, bentrok antara sebuah gereja dengan gereja lainnya beberapa waktu lalu?). Kenapa bisa terjadi? Bukankah kita satu iman dan satu Bapa dalam keluarga kita?
Owh, ternyata tidak Saudara-Saurara. Setiap gereja, aliran, lembaga pelayanan, memiliki visi strategisnya masing-masing dan hal itu melembaga dengan budaya yang dibangun oleh institusi masing-masing. Jadi, budaya, adat istiadat, tata cara, dogma, dan konvensi lainnyalah yang terkadang menjadi tembok yang paling sulit diruntuhkan. Akibatnya, setiap institusi, bahkan sampai atom yang terkecil sekalipun, yakni pribadi, mulai menggunakan kacamata institusi untuk mendemonstrasikan kasih kepada dunia, dan tak jarang justru saling berbenturan.
Berkaca dari sahabatku kemarin, dan dengan menganalisis sebab mengapa kami akhirnya tidak berdebat, saya simpulkan bahwa memang benar, melayani pun dapat dilakukan dengan banyak cara, pada berbagai golongan manusia, tempat, dan abad sesuai dengan profil pelayanan kita masing-masing. Benar juga bahwa setiap institusi pelayanan, atau setiap aliran, memegang iman dan dogmanya dengan caranya masing-masing sehingga jika menemui sesuatu yang berpotensi untuk mengundang debat, segera kita akan kembali ke undang-undang institusi kita sendiri dan menggunakannya sebagai rebuttal pada aliran atau institusi yang berbeda pandang dengan kita. Sayang sekali, sayang sekali!
Padahal kalau kita mereview kembali kisah Yesus, Dia berjalan tanpa mengenal batas, Dia menembus batas-batas budaya, adat istiadat, bahkan konstitusi yang paling tinggi sekali pun pada waktu itu: Hukum Taurat (Sekalipun ada tertulis mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi Aku berkata kepadamu…..).
Kemampuan menembus batas dalam berdialog inilah yang mungkin saat ini perlu kita pahami dan pelajari bersama. Sehingga ketika kita berbagi iman kita kepada saudara kita dan menemukan ketidakcocokan, kita kembali ke konvensi tertinggi kita: kisah hidup Yesus dan pertolongan roh kudus. Dengan demikian, proses mendemonstrasikan kasih itu sungguh dapat dilakukan dengan murni, tulus, dan sesuai dengan kehendak Bapa, bukan kepentingan sebuah institusi atau aliran semata.
Terima kasih sahabatku, kita belajar memahami hal menembus batas ini walau itu tidak mudah. Sungguh, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s