Refleksi (Kita dan Orang Tua)

Standard

(Dibawakan di Malam Refleksi Retreat SMA 2 Klaten 230908)

Teman-teman, tema retreat kali ini “Dia Ubah Hidupku Jadi Baru”. Kalau merenungkan sekilas, tampaknya untuk berubah itu kok enak sekali ya.sepertinya, Dia yang aktif bertindak mengubahkan kita jadi manusia baru. Hehehe…tapi mmang demikian adanya teman-teman. KasihNya kasih yang memberi tanpa meminta balas. Namun, semua itu tidak akan indah jika kita tidak merespon anugerahNya.

Sejauh ini sudah ada yang berubah? Coba kita check cirri-ciri manusia yang sudah diubahkan ini di Efesus 4: 17-32.

Bagaimana? Sudah ada yang berubah? Atau ada yang merasa tidak bisa berubah?

Oke, di sini adakah mereka yang tukang bunuh? Bandar narkoba? Yang hidupnya jauh dari Tuhan? Orang-orang dari jalanan yang tidak mengenal keluarga dan tidak kenal Tuhan?

Kalau ada, percayalah, Paulus lebih keras dari itu semua, tapi dia merespon pertolongan Tuhan dan sembuh.

Saudaraku, ada seorang pekerja yang setiap pagi mengeluh karena sarapannya hanya dengan roti isi. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan keluhan, “Ah, hari ini roti isi lagi deh”, hari berikutnya, “Yah, roti isi lagi”, dan seterusnya. Karena jengkel mendengar keluhan temannya setiap hari, seorang teman datang dan berkata kepadanya, “Hei, kamu setiap hari mengeluh, mengapa tidak mencoba bilang sama ibumu untuk tidak membawakan roti isi, membawakan makanan yang lain gitu kek. Memang siapa yang membuat sarapan itu?”. Lalu si karyawan ini menjawab, “Aku sendiri yang membuatnya setiap hari, karena aku sudah tak memiliki ibu”.

Teman-teman, saat ini kita diberi kesempatan untuk merenungkan salah satu aspek yang harus benar-benar kita perhatikan ketika kita mau berubah atau menuju perubahan itu: pemulihan hubungan kita dengan keluarga, khususnya orang tua kita. Karena mereka juga merupakan komunitas yang sangat penting untuk mendukung perubahan dan pertumbuhan kita.

Lalu Siapa Orang Tua di Mata Tuhan

Saya sampai tercengang ketika merenungkan hal ini. Ternyata, Tuhan memberikan penghargaan yang luar biasa kepada orang tua. Ingat, kepada orang tua, semua orang tua, bukan hanya orang tua yang baik. Coba kita buka di Keluaran 20: 12 “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu, kepadamu”. Lalu kita buka lagi di Efesus 6: 1 “hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalah Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. Lalu kita lihat di Kolose 3: 20 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalams egala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.

Dalam ketiga ayat ini, kita temukan bahwa Tuhan ingin sekali kita menghormati dan menaati orang tua kita—karena Dia ingin demikian, dan dipandangnya hal itu indah—bahkan Dia memberikan janji lanjut umur kita dan berbahagia. Dan hal ini dituliskanNya serupa dalam perjanjian lama dan baru dituliskanNya. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah sangat konsiten dengan perintah untuk taat dan hormat kepada orang tua kita.

Allah sendiri, dalam rupa Yesus, juga menunjukkan ketaaatan itu. Kita bisa ingat-ingat, betapa Yesus sangat menghormati BapaNya sampai Dia taat untuk mati di kayu salib (ingat kan bahwa sebenarnya Dia ingin, kalau bisa, derita itu lalu daripadaNya). Karena apa ketaatan itu Dia lakukan? Karena Yesus tahu siapa BapaNya. Bapa yang, apapun yang diputuskanNya, itu karena Dia mengasihi anakNya.

Ilustrasi

Di sebuah kerajaan besar, ada seorang raja yang sangat bijaksana, dia memiliki seorang putra mahkota satu-satunya dan sangat disayanginya. Suatu kali, kerajaan bingung, karena setiap kali harta simpanan kerajaan di gudang hilang oleh orang yang tidak diketahui. Hal itu terjadi hingga berkali-kali sampai akhirnya raja memutuskan untuk mencari siapa sebenarnya yang melakukan pencurian itu dan memutuskan bahwa pencuri nakal itu akan digantung di depan rakyat. Seluruh pasukan dikerahkan secara gerilya. Dan berhasil! Mereka berhasil menangkap seorang pencuri itu. Sebelum dibawa ke pengadilan kerajaan, para prajurit meminta raja untuk melihat siapa pencuri itu. Dan raja pun sangat terkejut karena pencuri itu ternyata putra mahkotanya sendiri.

Bagaimana pun raja tidak dapat mengingkari sabdaNya. Dia sangat mengasihi putraNya, tapi dia juga harus adil dalam putusanya. Akhirnya dia berkata kepada rakyat, bahwa putranya bisa digantung di lapangan setelah lonceng kerajaan yang besar itu dibunyikan. Keesokan harinya, semua upacara penggantungan sudah disiapkan di lapangan, tinggal menunggu lonceng kerajaan dibunyikan oleh raja. Sampai tengah hari, lonceng belum juga berbunyi, raja pun tak tampak ada di mana. Rakyat dan punggawa kerajaan menunggu hingga malam, dan hukuman mati belum juga bisa dikerjakan karena lonceng belum juga berbunyi. Sampai keesokan harinya tiba, seorang prajurit berinisiatif untuk memaksa penasihat raja membunyikan lonceng sebagai wakil raja. Ketika rombongan berjalan ke lonceng kerajaan dan mencoba membunyikan lonceng besar itu, ternyata tidak bisa, bandul lonceng tampaknya terlilit sesuatu sehingga tidak berbunyi. Di coba berulang-ulang, justru mereka melihat ada darah yang menetes dari atas lonceng. Dan ketika mereka melongok ke atas, ternyata raja ada di atas sana, melilitkan tubuhnya, agar bandul lonceng tidak berbunyi. Raja mati.

Itulah gambaran kasih Bapa kita, orang tua kita, adil namun tetap kasih. Ada yang bisa membantah kasih yang seperti itu?

Atau ada yang berpikir itu hanya dongeng belaka? Di antara teman-teman ada yang merasa diperlakukan kejam dan tidak adil oleh orang tua kita?

Ilustrasi

Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payah-nya selamabeberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.

Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya.

Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.

Diapun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.

Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci !

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.

Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? ”

Lalu dia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu.

Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu.

Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu.

Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu, dan mulai membuka halamannya.

Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, masakan Bapa-mu yang di sorga tidak akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya?”

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil !

Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati……..(Sumber: berbagai sumber)

Ketika suatu saat kita berpikir bahwa orang tua kita melakukan kesalahan fatal buat kita atau bertindak tidak sesuai dengan keinginan kita, atau sikapnya membuat kita malu, kita harus mengerti bahwa mereka juga manusia. Dan kita harus kembali kepada kehendak Tuhan, untuk kita menghormati orang tua kita seperti yang tertulis dalam sabdanya. Coba kita lihat lagi di Kolose 3: 20 Kolose 3: 20 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalams egala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”. Kita baca sampai ayat yang ke 23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Teman-teman, mereka adalah orang tua kita. Mari kita mengasihi mereka seperti dalamnya kasih Bapa mengasihi kita, bagaimanapun keadaan mereka.

Dia ubah hidupku jadi baru. Iya, Dia sudah menganugerahkan hidup baru buat kita, jadi mari meresponnya dan mengerjakan kepulihan hubungan dengan orang tua yang sudah kita terima ini. Tuhan memberkati ya…

Jogja

Yang Selalu Kangen Keluarganya Dipulihkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s