Tentang Impian

Standard

Mimpi. Aku suka bermimpi dan aku ingin engkau juga suka akan hal itu. Kata orang, jika kita bisa bermimpi, otomatis kita juga bisa mendapatkannya. Hal ini selalu memotivasiku dan memaksaku untuk bermimpi, dan aku pun memaksamu untuk melakukannya. Seperti biasa, engkau setuju dan kita mulai bermimpi. Aku adalah orang yang punya banyak mimpi dan semuanya terkesan pasti, jelas, seolah-olah aku sudah menuliskan semuanya pada kertas sesuai urutan waktu; sementara engkau dengan rendah hati selalu bilang, “aku belum bisa bermimpi dengan jelas. Itu dan itu saja cukup”. Tapi aku bangga kau bisa melakukan hal sederhana itu; sedangkan aku terlalu muluk dengan mimpi-mimpi itu.

* * *

Kadang kita menciptakan dialog sebagai intermezzo dalam impian kita. Aku menanyakan padamu, “apa saja yang kau impikan? Sampai di mana mimpimu itu?”, dan mulai bercerita tentang ini itu mimpiku sendiri. Lalu kau menjawabnya dengan ketulusanmu, “Aku hanya berharap ini…dan berharap kita bisa bersatu selamanya”. Pada titik ini aku kesulitan membedakan antara marahku dengan bangga dan rasa terima kasihku, semuanya bersetubuh, menyatu. Lalu kita lanjutkan lagi impian kita.

* * *

Kau hafal sekali kalau aku tengah lelah dalam bermimpi, aku akan menjadi sepertim mayat hidup, bangkai yang frustrasi. Lalu kau hanya melembar sepucuk senyum, dia bilang jangan khawatir, kita hadapi bersama semua ini. Aku juga hafal – walaupun sedikit ragu – kapan kau mulai letih. Jika saat itu tiba, kau akan diam seribu bahasa, berjalan tertunduk, tanpa keluhan atau rintihan. Tapi aku akan sangat marah dengan hal itu. Aku bertanya dan bertanya seolah esok dunia akan berhenti berputar. Aku menggigil mencari jawaban kediamanmu itu. Tapi, jika saat ini datang, aku ingin engkau tahu, aku sangat menyayangimu dan ingin kau tahu, aku ada di dekatmu ketika hatimu hancur.

Setelah waktu mengobati luka-luka kita, kita kembali bermimpi…

* * *

Aku sangat ingin menjadi wanita yang punya pengaruh. Aku suka mengajar dan berhadap bisa membagikan prinsip-prinsip hidupku kepada orang lain. Aku ingin terlalu sederhana untuk dikatakan kaya; tapi terlalu kaya untuk membagikan apa yang aku punya. Aku ingin setiap detil dalam hidupku bisa dinikmati banyak orang. Aku berkata-kata, mengajar, berkreasi, berjalan, menari, bernyanyi untuk semuanya…dan mereka bahagia…dan anak-anak kecil yang tak berorang tua itu tertawa, anak-anak yang tak pernah dididik itu senang dengan cerita-ceritaku, orang-orang pandai dan berjabatan itu memalingkan muka dari harta dan kuasa, orang-orang miskin itu menjadi kaya akan kasih, dan para tawanan itu bisa merasakan kebebasan abadi. Dan pada waktu itu semua terjadi, aku ingin mereka tidak melihatku.

Kau, aku tahu kau punya impian. Kau ingin suatu saat hidupmu bisa menjadi seperti pipa. Dari dirimulah mengalir kasih yang tanpa batas, terus dialirkan kepada jiwa-jiwa yang kehausan, jiwa-jiwa yang tertolak oleh dunia, jiwa-jiwa yang pernah menjadi identitas kita dahulu. Kau ingin pergi jauh untuk belajar dan mengabdi, dan pada waktu yang tepat, kau akan kembali untuk membagikan semua yang telah kau dapat. Kau akan memberikan hidupmu untuk keluargamu dan para pemakai itu, ya orang-orang yang tertawan, seperti kita dulu. Lalu dengan gayamu yang rendah hati, kau akan mendemonstrasikan kasih yang pernah dan selalu kau dapat secara berkelimpahan itu untuk orang lain. Kau akan menjadi ayah bagi mereka yang tak berayah ibu, kau akan menjadi kakak bagi mereka yang sedang frustrasi, kau akan menjadi terang dimana kegelapan memekat di sekelilingmu. Di antara orang-orang berbaju coklat itu, kau berdiri dan mengatakan tidak – seorang diri – untuk perbuatan perjabat yang tidak pantas. Kau akan dimaki dan dicibir, tapi kau akan setia dengan itu semua. Kau tetap berjalan ke depan dengan hati yang teguh dan percaya bahwa engkau diciptakan berbeda dari mereka. Dan kau harus mendemonstrasikan kasih yang tanpa batas itu untuk dunia yang sangat terbatas ini. Dan ketika itu terjadi, kau tidak ingin seorang pun melihatmu.

* * *

Aku tahu, aku tahu kita akan disalib ketika mengejar dan melakukan impian itu. Salibnya tinggi, besar. Aku takut, engkau juga. Tapi kita tetap akan bermimpi dan mewujudkannya. Karena itulah tujuan kita berdua diciptakan. Ketika engkau pandang mataku, dan aku memandang kedalaman hatimu, dan kita berdua memandang kepadaNya, kita menjadi kuat. Itulah kekuatan kita di tengah kelemahan yang nyata.

Itulah kekuatan untuk menggapai impian. Dan impian itu bukan lagi menjadi impianmu, atau impianku, tapi impian kita.

Kita akan melakukannya…bersama Dia sehingga ketika semuanya terjadi, tidak seorang pun melihat kita, tetapi melihat Dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s