Sebuah Pelajaran tentang “Berbagi” (Membaca Peristiwa di Sekitar Gempa Bumi sebagai Media Belajar Masyarakat)

Standard

Dari pada Mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin,

sekecil apa pun nyalanya.

Banyak pelajaran bergulir dari peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya, 27 Mei 2006 silam. Ada yang berpendapat bahwa peristiwa tragis tersebut merupakan murka Tuhan atas perbuatan umatnya sehingga berbondong-bondong orang bersujud dan kembali kepada Khalik – prosesi insaf yang seolah diinstankan seperti di sinetron-sinetron; banyak pula yang menggunakan kesempatan untuk mengkomersialisasikan bantuan, misalnya beberapa pihak melakukan penjualan perlengakapan yang sejatinya diberikan gratis oleh donatur; belum lagi bicara soal pemerintah. Katanya, melalui peristiwa ini kinerja pemerintah yang seolah hanya mengobral janji semakin diperjelas. Akhirnya, banyak orang menilai peristiwa ini dari kacamata negatif. Dan untuk sebuah pembelajaran dalam kerangkan kritis, hal ini tentu tidak salah.

Dalam tulisan ini, penulis hanya ingin melihat peristiwa gempa bumi tersebut dari sisi yang lebih halus, sisi yang paling halus dan subtil yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang. Pengalaman berinteraksi dengan elemen-elemen di lapangan membawa penulis pada sebuah kesadaran bahwa ternyata kita sedang berada dalam sebuah media belajar, sebut saja sekolah, yang sangat luas dan mahal biayanya. Di dalamnya, kita tengah belajar dan diajar mengenai satu pokok pelajaran yang selama ini dilupakan orang, yakni berbagi. Melalui perspektif sosiokultur, penulis akan mengajukan sebuah gagasan mengenai eksistensi dan esensi berbagi dalam peristiwa gempa 27 Mei silam. Menurut penulis, jika pemahaman mengenai esensi berbagi ini dipetakan secara jelas dan diikuti penginformasian kepada masyarakat, sesungguhnya kita bisa berbangga menjadi salah satu yang merasakan pelajaran dari gempa bumi tersebut. Dan hal ini dapat menjadi stimulus bagi terkonstruksinya kondisi moral bangsa yang kini tengah terdekadensi.

Mendefinisikan Esensi Berbagi

Berbagi dalam bahasa inggris, adalah to share yang berarti ‘mengambil bagian’. Mengambil bagian dalam hal ini merujuk kepada mengambil bagian atau peran dalam sebuah pekerjaan dengan tujuan progresif, yakni kemajuan. Berbagi kemudian menjadi penting dalam bentuk-bentuk kolektivitas, misalnya masyarakat. Berbagi menjadi unsur utama yang mendasari terjadinya komunikasi, pun berbagi menjadi salah satu stimulus munculnya teknologi yang paling sederhana, yakni bahasa. Tanpa kesadaran akan arti berbagi, maka masyarakat ataupun kelompok-kelompok kepentingan tidak akan terbentuk dan selamanya pula tidak akan ada komunikasi dengan menggunakan bahasa.

Orang akan berbagi atau membagi jika mereka berada dalam kondisi:(1) memiliki banyak sumber daya yang tidak dapat dihabiskannya seorang diri, (2) mengetahui dan sadar atas kebutuhan dan hak orang lain, (3) dalam tingkat spiritualitas yang tinggi dan memahami eksistensi dirinya sebagai hanya bagian kecil dari dunia ini, (4) dalam kondisi terdesak oleh tanggung jawab sosialnya. Kondisi-kondisi ini pun melahirkan berbagai orientasi ketika manusia melakukan kegiatan berbagi. Ada yang mengharapkan pemenuhan kepentingannya sendiri; beberapa yang lain memang digerakkan oleh rasa tanggung jawab.

Dalam kasus gempa bumi ini yang menjadi esensi dari berbagi adalah ketika kita memiliki sesuatu yang mungkin bagi kita sendiri berguna, bahkan kita masih kekurangan, namun kita berkenan membagikannya kepada orang lain. Jadi yang dibagikan bukan benda yang menjadi kelimpahan dalam hidup kita, bukan pula sisa yang sudah tidak terpakai. Lebih dari pada itu, berbagi di sini diidentikkan dengan pengorbanan, yakni kerelaan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam diri seseorang untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Atau dapat juga dimaknai sebagai aspek konatif dari empati, yakni mengambil bagian dari sebuah pekerjaan atau perasaan yang dialami orang lain.

Inilah esensi berbagi yang menurut penulis sering diabaikan dalam wacana-wacana yang dilempar ke ruang publik pasca gempa bumi. Memang berbagi menjadi substansi yang muncul secara halus dan tak kasat mata sehingga tidak pernah dimunculkan sebagai sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa gempa bumi tersebut. Ada beberapa wacana yang menyinggung eksistensi solidaritas – konsep yang mirip dengan berbagi – di dalam peristiwa tersebut, namun yang dikedepankan adalah kepentingan pihak-pihak tertentu, misalnya labeling orrganisasi maupun pribadi. Menurut penulis, ironi dari tulisan ini terletak pada sintesis penulis bahwa makna berbagi tadi merupakan pelajaran paling esensial dari sebuah peristiwa tragis, gempa bumi.

Pelajaran tentang Berbagi

Di antara begitu banyak pelajaran yang dapat disarikan dari peristiwa gempa bumi silam, pelajaran mengenai arti penting berbagi selalu mengusik benak penulis. Semua aspek dan kegiatan yang dilakukan pada waktu maupun pasca gempa selalu mengedepankan esensi berbagi kepada orang lain ini. Walaupun dalam keadaan gusar, panik, khawatir, kecewa, nelangsa, tampak dalam ingatan penulis sebuah kehidupan yang bahkan lebih harmonis dari kehidupan biasanya. Dalam pemandangan itu, semua tampak sama. Yang sakit mendapat rengkuhan dari yang kokoh; yang kuat ikut merasakan kepedihan si sakit dalam sandarannya. Seolah-olah ada kekuatan yang meruntuhkan batas-batas individual mereka dan menyatu dalam sebuah media.

Esensi berbagi ini juga tampak pada usaha orang lain untuk dapat memberikan apa pun yang mereka bisa untuk ‘saudara’ mereka. Satu minggu setelah peristiwa gempa terjadi, penulis masih menyaksikan banyak mahasiswa antri untuk menjadi volunteer – yang benar-benar sukarela tanpa dibayar – di rumah sakit-rumah sakit. Ada beberapa yang mengaku bahwa sesungguhnya mereka takut akan darah, takut masuk rumah sakit, bahkan beberapa ada yang muntah-muntah; namun mereka bertahan demi sebuah rasa tanggung jawab sosial kepada mereka yang dianggapnya saudara.

Tidak mengherankan apabila LSM-LSM – entah yang ditunggangg atau tidak – memberikan sumbangsih dalam penanganan gampa bumi tersebut; namun yang lebih menyentuh adalah ketika penulis mengetahui bahwa orang atau pihak yang dalam kehidupan sehari-harinya pun masih kekurangan, rela berbagi atau mengusahakan bantuan untuk para korban. Misalnya organisasi-organisasi kecil yang tidak memiliki akses terhadap donatur. Mereka menggalang massa untuk membantu melalui tenaga dan waktu mereka. Mahasiswa, siswa-siswi, bahkan para pekerja media mengusahakan berbagai macam kegiatan untuk mendatangkan donasi dari pihak luar. Pada intinya, mereka menggunakan apa pun yang ada dalam diri mereka untuk dapat diberdayagunakan bagi yang membutuhkan.

Banyak cerita-cerita lain yang mengungkapkan makna berbagi dalam peristiwa ini. Masih segar dalam ingatan penulis, kesaksian seorang bapak yang menjadi inspirasi utama penulis. Beliau memiliki dua orang anak laki-laki, yang satu duduk di kelas 1 SD dan lainnya belum sekolah. Pagi itu, mereka berdua tengah duduk di ruang makan sambil makan sebelum beerangkat sekolah. Tiba-tiba saja peristiwa itu terjadi dan rumah itu rubuh, benar-benar rubuh. Si Bapak dan Ibu panic tak ketulungan. Dia mencari-cari anaknya – karena sedianya mereka tengah bersih-bersih di halaman rumah. Di dalam rumahmereka melihat satu anak, yang besar tertelungkup kejatuhan reruntuhan dari genting, di ameninggal. Orang tua tersebut lemas bukan kepalang. Namun di bawah perlindungan anak itu masih ada suara kehidupan. Anaknya yang kedua masih hidup. Ternyata anak yang lebih besar rela berpindah posisi dan melindungi adiknya dari reruntuhan walaupun pada akhirnya si kakak itu meninggal dunia.

Cerita-cerita serupa memang kerap dilontarkan dalam media massa, blog spot, dll. Bahkan, semapt beberapa kisah sudah dibuat feature. Sayangnya, mengenalkan esensi berbagi tersebut masih kurang mendapat perhatian. Menurut penulis, hal ini perlu dicermati karena pewacanaan secara terus-menerus oleh media mengenai pelajaran ini akan membantu masyarakat untuk belajar secara sosial dari kasus-kasus serupa. Hal ini menjadi penting apabila diterapkan dalam keadaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Yogyakarta saat ini.

Dongeng-dongeng tentang kebaikan hati saat ini sudah mulai kehilangan gaungnya. Tayangan televisi dan pengaruh budaya luar merambah masuk; bangsa Indonesia tengah berada dalam posisi terdekadensi moralnya. Entah ini sebuah kesengajaan dari satu hegemoni atau memang tidak adanya pendidikan moral yang jelas. Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya mengalami proses pendangkalan nilai yang dimiliki serta dihayati dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai itu kini bergeser dari kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan, kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Dengan pergeseran fungsi dan kedudukan nilai itu, hidup dan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dirasakan semakin hambar dan keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, bentrok fisik (kerusuhan) dan merasa tidak aman[1].

Konsekuensi dari pendangkalan moral ini adalah merebaknya problem-problem sosial yang hingga kini belum terpecahkan. Misalnya, masih cukup banyak warga masyarakat kita yang belum memiliki integritas pribadi, kesadaran religius, karya yang berkualitas kompetitif dan kepekaan sosial yang rendah. Hal inilah yang kemudian memicu ketidakharmonisan masyarakat dan mendistrorsi esensi kebahagiaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya – bukan hanya dilihat dari segi materi.

Melihat hal ini, penulis merasa perlu bagi kita untuk belajar secara keras mengenai pendidikan moral masyarakat. Megnapa harus secara keras? Hal ini untuk mengimbangi percepatan dekadensi yang juga berlangsung sangat cepat dan keras. Pendidikan formal tentu tidak cukup mengakomodir kepentingan ini. Perlu sebuah media lain untuk belajar mengenai moralitas ini. Melalui pengalaman berinteraksi dengan masyarakat di daerah gempa lalu, penulis seperti tersadar bahwa peristiwa ini merupakan media belajar yang sesungguhnya efektif bagi pengkonstruksian moral dalam jangka panjang. Salah satu esensi yang muncul dan menjadi pembahasan penulis adalah pelajaran tentang arti berbagi yang selanjutnya menjadi dasar bagi kehidupan yang semakin harmonis.

Peristiwa gempa bumi tersebut seolah menjadi media sekolah sosial yang sangat besar di mana orang-orang yang berada di dalamnya tengah diajar mengenai makna berbagi. Setiap orang mengambil perannya masing-masing dan memiliki kehendak bebas untuk mau belajar atau tidak mengenai esensi tersebut. Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai bagaimana pengalaman dalam peristiwa gempa mengkonstruksi sikap terbuka untuk berbagi di dalam masyarakat kita. Dan menurut penulis, sebagai follow up dari wacana pentingnya makna berbagi ini, penelitian itu hendaknya dilakukan.

Pasca gempa, gaung saling menolong tanpa pamrih sudah mulai pudar. Masyarakat sipil mulai menarik diri dari lapangan; di sana tinggal pemerintah dengan janji-janjinya serta LSM-LSM yang mungkin ditunggangi. Refleksi atas peristiwa ini hendaknya menjadi buku pelajaran bersama di mana di dalamnya masyarakat luas dapat melihat dan belajar mengenai berbagi sehingga konsekuensi dekadensi moral yang sarat individualitas seperti digambarkan di atas, dapat dihindari.

Inilah gambaran betapa peristiwa gempa bumi menyisakan satu pelajaran yang bahkan tidak pernah diwacanakan sampai saat ini. Sebuah pelajaran mengenai esensi berbagi yang sudah mulai menemui bentuknya yang mengabur di dalam masyarakat. Cerita-cerita ini laik untuk dibukukan, orang-orang di dalamnya laik untuk diberi pengahargaan karena mereka menjadi guru kita secara tidak langsung untuk belajar mengenai makna berbagi tersebut. Refleksi mengenai makna berbagi ini diharapkan menjadi stimulus untuk menjaga integritas pribadi bagi siapa pun yang merasa peduli terhadap masa depan bangsa kita.



[1] Mengenai dekadensi moral ini, penulis mengutip pendapat Khaerudin Kurniawan dalam Paradigma Baru Pendidikan Moral, Suara Merdeka edisi 3 Januari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s