Oleh-Oleh Dari Betawi

Standard

Tiba di Betawi, panas kota dan lautan manusia menyambut rusuh. Hahaha….terhormat sekali, pikirku. Manusia dari desa ini disambut oleh kumpulan manusia yang berjejal di sana. Hahaha…Kok PD, ternyata mudik lebaran masih menyisakan puluhan manusia yang ingin kembali mengisi pundi-pundi mereka dari bumi Betawi. Agak sedikit rusuh kondisinya. Tersirat juga raut-raut ketakutan. Entah karena apa. Kutanya teman yang menjemputku di stasiun (kupilih dia karena manurutku dia cukup potensial untuk menjadi referensi based on lamanya tinggal di Jakarta, frekuensi dan intensitasnya terkena terpaan arus mudik), “Hmmm…siapa mereka ini?”. Temanku menjawab, “Oh, mereka kebanyakan pembantu yang kemarin mudik, sekarang pulang lagi ke Jakarta”. “Oh, gitu ya? (lalu temanku menjelaskan argumentasi dari jawabannya). Ehm…boleh tau gak, kenapa mereka berdesakan tak sabaran begitu?. Jawab temanku, “Mereka ini terburu-buru. Takut dimarahi majikannya”. “Ouch…!!!!#@%&^*”.

Aku jadi merenung sepanjang pagi buta di atas roda dua yang melaju menuju Jalan Pramuka. Cie…..Apakah sebegitunya pembantu tunduk pada majikannya? Kalau majikannya bilang, pulang hari senin, mereka benar-benar pulang tepat waktu dengan buah tangan rasa takut kalau terlambat. He….Apakah majikannya akan menghukum mereka jika dia melewatkan 1 menit tanpa pembantunya? Padahal, aku sering korupsi waktu di kantor…(Kalau lagi tidak ada kerjaan sama sekali. Aku nulis, nulis, dan nulis….which are out of office affairs….dan sering terlambat datang ke kantor kalau malamnya begadang). Auchhhh…..This thing go to my beatllefield of mind. Heakssss…..segitunya…..

Nah, hari ini aku udah kembali lagi di Ngayogjakarta Hadiningrat….Kota teduh, nyaman, adem….hommy banget buat orang gak bisa diam seperti diriku ini. Heee….Wuikkkk….ssss….tapi keretanya terlambat datang. Jam 7.30 baru sampai di Stasiun Klaten. Masih lusuh diri ini. Arghhhhh….ngantuk pula (tidur di Kereta tidak pernah bisa nyaman…Keadaan alfaku selalu full of nightmare embrio, so i think to stop my sleep journey. Hahaha…kidding!).

Jam 7.30 tepat, sahabatku tercinta, aak, sudah menjemput di stasiun. Lalu dibawanyalah seonggok daging bau dan mengantuk ini pulang. Oke…bye…you have to continue your work there, thanks for take me home…and here i am with my bad smell and sleepy eyes. Hehehe….kupaksakan diri untuk mandi.

Oh my God, mandi selalu tidak bisa disamakan dengan menyantap mi panas yang langsung bisa membuat mataku melek….mandi justru hanya membuat rasa ngantuk semakin merasuk ke dalam jiwa ini. (suka berle..deh!). Ngantuk dan cape jadi bekalku berangkat ke Jogja, tentu saja bersama roda duaku yang sudah 2 bulan tidak diservice….

Benar-benar deh….sampai di kantor pun….sampai sekarang ini….ngantuk dan cape itu tidak juga mudik dari tubuh metropolitan ini (hehehe…gitu ya…mentang-mentang baru pulang dari betawi!). Aku berencana untuk istirahat sehabis kerja nanti. Kubayangkan diriku bisa mandi sore, maem mi panas, dan bobo dengan mimpi yang indah….wuih….so sweet. Tapi perasaanku gak enak….ada apa ini?

Mendadak aku ingat, aku belum tanya gimana acara pembekalan relawan untuk Dreamhouse (sanggar anak jalanan) hari sabtu lalu. Lalu ku sms Pak Sam….kata beliau, hanya sepuluh dari tujuhbelas orang yang datang. Hiksss….aku sedih banget. Lalu mendadak aku ingat, hari ini jadwal rapat di Dreamhouse karena masih banyak agenda yang harus dikerjakan. Mendadak lagi, aku juga ingat, besok sabtu ada KKR di Klaten, jadi harus persiapan ekstra. Lalu ikut-ikutan mendadak muncul, rencana retret anak yang harus segera dikomunikasikan, dan beberapa kegiatan lain.

Im yield….though with zero power i have this present.

Sebagai responnya, aku diam saja, dan mogok kerja (hikikiki…gak ada yang tau) untuk beberapa saat. Dalam perjalanan di alam lamunan ini, memori tentang pembantu mudik yang tergesa-gesa pulang ke Betawi tadi merasuk masuk tanpa permisi. Menjadi setting medan tempurku seraya melukiskan ilustrasi itu kembali. Memaksaku menganalogikan kondisi saat ini dengan peristiwa itu.

Pembantu mudik tadi pasti capek. Euforia berlebarannya dengan keluarga pasti belum titik. Romansanya bertemu dengan kekasih di desa, aku yakin, masih terbayang-bayang. Tapi mereka pembantu yang punya majikan. Dan mereka taat pada majikannya.

Siapa aku? Bukankah aku tau dengan pasti kalau aku ini juga seorang pelayan? Jadi kenapa bingung dan mengeluh dengan tugas dan pekerjaan ini hanya karena alasan capek dan mengantuk. Itu tidak masuk akal. Coba bayangkan, pembantu mudik tadi melayani tuannya yang adalah manusia biasa (yah…paling mentok pengusaha kaya atau pejabat). Tapi ingatkah kau, siapa yang kaulayani?

I’m speechless because of this parable.

So, here i am, the weak one, but wanna be strengthen by Your wisdom, so i still can do Your assignment.

Thanks for this beautiful parable strengthen me, Dad.

I Love U So.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s