Mendengar dengan Benar

Standard

(Dibawakan dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen FISIPOL UGM, 24 Oktober 2008)

Saudara, apakah Anda pernah mengikuti test TOEFL? Menurut Anda, bagian mana yang tersulit? Ada listening, reading, dan writing. Kalau menurut saya, bagian yang tersulit adalah bagian listening atau mendengarkan. Beberapa kali saya mencoba test TOEFL, selalu gagal meraih skor yang diharapkan gara-gara bagian listening ini. Yah, saya tidak patah semangat. Saya tanyakan ke beberapa teman yang skor TOEFL nya tinggi, bagaimana cara untuk meningkatkan skill kita dalam bagian listening. Dan hampir semua menjawab kompak, “Ya kamu harus hafal pola polanya dan terus berlatih mendengar dengan hati-hati”. Aduh, saya pikir saya tak akan punya waktu untuk melakukan semua itu. Karena tidak puas dengan jawaban mereka, saya bertanya kepada ahlinya, pakar bahasa Inggris, pengajar TOEFL sejati, “Pak, bagaimana supaya nilai TOEFL bagian listening saya bisa meningkat dalam waktu singkat?”. Lalu beliau menjawab, “Kamu perlu waktu untuk latihan. Sediakan paling tidak satu atau dua jam setiap hari untuk mendengarkan siaran-siaran bahasa Inggris. Lalu kenali pola-polanya dan ya latihan terus”. Aduh, bisakah didapat dengan kursus singkat?

Itu pikiran saya dulu bahwa akan selalu ada cara cepat untuk menyelesaikan masalah listening pada TOEFL. Ternyata tidak. Mengenal polanya, memberi waktu untuk belajar, dan terus berlatih adalah kunci utama mendapat skor tertinggi pada tes TOEFL kita.

Problematika dalam mendengar ini ternyata juga terjadi dalam kehidupan kita, manusia. Ada dua orang perenang yang tengah mengikuti kompetisi berenang di pantai lepas. Kompetisi ini diikuti oleh 500 perenang di sepanjang pantai. Mereka harus berenang beberapa kilo menurut jalur yang sudah ditentukan panitia dan ditandai dengan pelampung. Kedua perenang ini belum saling mengenal dengan baik namun mereka bermufakat untuk saling membantu jika di tengah perlombaan hilang arah. Si perenang A memiliki kelebihan, dapat mendongak ke udara saat berenang dalam waktu yang lebih lama di banding perenang lainnya. Karenanya, perenang A menawarkan kepada perenang B, jika nanti dia kehilangan arah, ikuti saja perenang A karena dia pasti akan bisa melihat pelampungnya. Lalu berenanglah mereka.

Benar, sampai di tengah laut, beberapa perenang hilang arah dan kehilangan pelampung. Perenang A mencoba memberi tanda kepada perenang B untuk mengikutinya, tapi perenang B melihat sekumpulan orang berenang menjauh ke arah lain. Perenang B mengikuti kumpulan perenang lain itu karena dipikirnya orang banyak tidak mungkin keliru; sedangkan perenang A mungkin saja salah melihat. Beberapa saat kemudian, kumpulan perenang tersebut menabrak papan kayu, yang ternyata adalah kapal nelayan. Setelah mereka mendongak, nelayan itu berkata, “Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian menyimpang jauh dari jalur kompetisi renang ini. Marilah, saya akan membawa kalian pulang”.

Sekilas, kisah perenang B ini mirip dengan bangsa Israel. Ingat kisah bangsa Israel? Karena tidak mau dengar dan taat pada suara Tuhan, mereka menghabiskan 40 tahun berputar-putar, padahal dalam satu bulan mungkin mereka bisa sampai ke tanah perjanjian itu. Hfiiiuuufhhhhh…..

Jadi saudara, dalam setiap keputusan yang akan kita ambil, mendengar suara Tuhan dengan benar adalah langkah utama yang harus dilakukan.

Lalu bagaimana kita bisa mendengar suara Tuhan dengan benar?

Tepat. Ini pertanyaan yang kerap kali diajukan oleh orang-orang yang sedang bertumbuh dan berproses di dalam Tuhan. Dan ini pertanyaan yang harus kita renungkan bersama-sama.

Untuk dapat mendengar suara Tuhan dengan benar, hal-hal yang harus kita lakukan adalah:

Hubungan Intim dengan Tuhan

Perenang tadi tidak mendengar suara rekannya karena dia belum sepenuhnya mengenal dan percaya kepadanya. Saya, selalu gagal pada listening TOEFL karena saya tidak mengenal pola-polanya. Tokoh alkitab sekelas Samuel pun, sempat tidak mengenali panggilan Tuhan karena belum mengenal siapa Tuhan itu (I Samuel 3: 1-10; 7) sampai Imam Eli yang mengenalkannya. Jadi untuk bisa tahu suara Tuhan dan maksudnya, kita harus memiliki hubungan intim dengan Tuhan. Dia mengenal kita masing-masing pribadi; kita pun mengenal pribadiNya (Yoh 10:3-5).

Berani Membayar Harga

Ada banyak suara yang bisa kita dengar: suara malaikat dan suara Tuhan (Hakim-hakim 6:11-12; Hakim-hakim 6: 14-15), suara kita sendiri, suara orang lain, dan suara setan. Hiiiiii……Bayangkan, kalau dalam mengambil keputusan, yang kita dengarkan ternyata suara setan? Apa yang akan terjadi? Oh….Tidakkkkkk!!!!!. Sama seperti latihan TOEFL, ada harga yang harus dibayar untuk belajar mendengar dan membedakan suara-suara tersebut. Daniel naik ke atap rumah sampai 3 kali atau lebih, sehari untuk berdoa dan mendengar suara Tuhan. Daud, sebelum berperang selalu sediakan waktu terbaiknya, bukan untuk bercumbu dengan istrinya, atau makan-makan sebelum perang (siapa tau mati, jadi sudah bisa mengecap nikmatnya dunia…Hahaha…), tapi untuk duduk diam mendengarkan suara Tuhan. Jika Tuhan bilang, “Ya. Maju.”, Daud baru maju.

Hidup dalam Roh Kudus

Roh (Allah) tidak dapat bersatu dengan daging (Galatia 5: 16). Suara Allah pun tidak dapat kita dengar dengan benar jika kita masih bergelut dengan kedagingan kita. Ibaratnya kalau dalam minyak kita tuang air, air tersebut tidak dapat bercampur, menyatu dengan minyak dan menghasilkan bentuk baru. Tapi jika air kita masukkan dalam gelas berisi sirup, mereka akan bercampur dan menghasilkan minuman yang segar. Jadi untuk dapat mendengar suara Allah dengan benar, mari hidup dalam roh kudus dan tinggalkan kedagingan kita (Galatia 5: 19). Memang tidak bisa sempurna karena kita manusia. Tapi hati yang berusaha, itu yang Allah mau.

Ujilah

Seperti semua hasil pekerjaan harus diuji (I Kor 3: 14-15), maka hasil dengar-dengaran kita pun harus diuji (I Yoh 4:1). Kita bisa mengujinya melalui beberapa hal:

Apa yang berasal dari Tuhan tidak bertentangan dengan FirmanNya, jadi mari kita memeriksanya melalui Firman Allah

Apa yang berasal dari Tuhan akan digenapi sesuai cara dan waktu Tuhan

Apa yang berasal dari Tuhan semua mendatangkan kebaikan bagi Kita dan kemuliaan bagi Tuhan

Apa yang berasal dari Tuhan biasanya bukan untuk kesenangan kita secara pribadi tapi untuk melayani orang lain

Apa yang berasal dari Tuhan dapat kita crosscheck kepada orang lain yang dekat dengan Tuhan.

Jangan Sedih Jika Tuhan Diam

Tuhan bukan mesin penjawab. Tapi Dia hidup. Jadi apa pun yang dilakukannya memiliki makna, termasuk dengan diam. Ketika Tuhan diam itu bisa berarti kita harus menunggu, atau menguji kita, atau untuk menyatakan kemuliaan Allah yang lebih dasyat. Ingat cerita Maria, Martha, dan Lazarus kan? Waktu Lazarus hampir meninggal, Maria dan Martha memohon kepada Yesus untuk sembuhkan dia. Eh, Yesusnya malah pergi. Baru setelah Lazarus meninggal, Yesus datang. Maria dan Martha mungkin jengkel. Tapi Tuhan mau bilang kalau cuma sembuhin orang, itu sudah biasa. Dia ingin kita melihat kemuliaan Allah yang lebih besar. Dia membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal. Sukacitanya berkali kali lipat.

Allah juga bisa menyatakan diri dan memperdengarkan suaraNya melalui beberapa cara. Misalnya melalui perkataan yang audible. Seperti waktu Dia berbicara dengan Gideon, Samuel, Daud, Abraham, dll. Mungkinkah hal itu terjadi pada kita? Mungkin saja, jika Tuhan berkehendak. Kita hanya bisa merindukan. Lalu Tuhan juga bisa berbicara melalui indra perasa, pengecap, dan penciuman kita. Misalnya pada saat pujian dan penyembahan, kita terkadang merasakan angina sepoi, hangat di atas kepala, tangan yang memeluk, dll. Kemudian, bisa juga melalui impresi, intuisi, ilham, gerakan, dorongan, dll. Ketika kita berdoa untuk seseorang, kadang tiba-tiba muncul impresi yang kuat tentang orang itu, mungkin Tuhan ingin sampaikan sesuatu tentang orang itu. Tuhan juga dapat menyatakan suaraNya melalui keadaan, peristiwa, pengalaman, dan buku. Oleh karena itu, sebelum melakukan atau memutuskan apa pun, berdoa dan minta Tuhan yang berkarya ya. Kata Sang Pemazmur (Mzm 105:4), carilah wajahNya selalu. Apa yang dimaksud dengan selalu? Yah, kadang kala kita akan menemui kebingungan, tidak mengerti, resah dengan suara-suara yang terdengar. Tapi jangan menyerah. Temui Dia dan cari wajahNya selalu.

Nah, beberapa hal sudah kita pelajari tentang mendengar suara Tuhan. Bukan hal yang mustahil kita bisa tau isi hati Tuhan jika kita rajin bersekutu denganNya. Selamat Berkarya ya. Tuhan Memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s