KADO

Standard

Ho ho ho ho, bulan Desember telah tiba….

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat tugas untuk menggarap ketoprak anak untuk acara natal. Wah, sudah lama juga  aku tidak menyentuh teater dan dunia pertunjukan panggung. Tapi, bolehlah.

Awalnya optimis sekali karena kupikir akan mudah untuk hunting naskah di laci teman-teman teater, lalu menyewa pelatih, dan menyewa musisi untuk mengurus seting musiknya. Semua kupikirkan berbasis kepraktisan. Tapi tidak bisa, kepraktisan membutuhkan banyak dana dan berbuntut pada pragmatisme. Ah, aku tidak suka. Tidak bisa, lebih tepatnya. Kalau seperti itu berarti aku akan menutup tahun ini dengan predikat baru: manusia instan. Wuaaaa….tidak. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke meja tulisku dan menyusun rencana untuk pertunjukan itu. Hmmmm…..banyak sekali hal berseliweran di kepalaku: skenario, musik, dekorasi, lighting, casting, wardrobe, penonton, properti……aduh….benda-benda itu mengelilingi kepalaku bak “halo” atau “sparkling star” simbol orang yang habis dipukul dalam film kartun. Wooohaaaa…….
Kesulitan untuk memulai ketika akan menulis, masih wajar bagi amatiran sepertiku (kalimat wajib saat membela diri). Aku bingung memikirkan ide dan kapan waktu yang tepat untuk berfantasi, berkhayal, merangkai cerita dalam imajinasi sementara tugas kantor dan kegiatan keorganisasian berjibun.
Sampai suatu malam, aku mendengarkan cerita yang dibacakan oleh alam mengenai seorang cacat yang dipakai secara luar biasa untuk mendamaikan dua kerajaan yang sedang bertikai.

Tenggelamlah aku dalam kisah itu bersama pena, berlembar-lembar kertas dan berderet kata-kata kiasan yang menjadi ciri skenarioku. Ah, aku merasakan gairahku mulai bergejolak. Aku benar-benar tenggelam di dalamnya. Kami bersetubuh hingga pagi buta. Lalu lahirlah “Negeri Kedamaian”  lengkap dengan casting dan creditnya. Praise De Lord.

Besok, tanggal 24 Desember ketoprak modern ini akan dipentaskan. Ehm….sedikit tidak percaya diri untuk mengatakannya, tapi, aku sebenarnya ingin mempersembahkan karya ini buat sahabatku, Pak Yesus.  Melalui ketoprak anak ini, aku ingin mengucapkan Selamat ulang tahun buatNya. Terima kasih memberi kesempatan seorang amatiran untuk mempersembahkan hadiah ini.  Hehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s