Refkleksi “Tiga Hari Mencari Cinta”

Standard

(dibawakan dalam malam refleksi “Refreshing Course” Komparem GKJ Ketandan)


Saudara, siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Mungkin ada yang sedang berharap? Sedang mengalami? Atau sudah melaluinya? Hidup bisa berubah/ tapi ada yang kekal dan tak pernah berubah yaitu Kasih Sayang Yesus. Saya mau ajak kita semua untuk mengalami bagaimana indahnya jatuh cinta kepada Yesus. Kita pujikan bersama “Aku Jatuh Cinta”

Pujian Pembuka “Aku Jatuh Cinta”

“Tiga Hari Mencari Cinta” Apa itu cinta? Cinta seperti apa yang akan kita cari? Bagaimana kita mendapatkannya? Mari kita berdiam di hadapan Tuhan seraya merenungkan apa itu cinta?

Pujian “Ajarku Berdiam”

Ilustrasi I “Istri Tukang Ledeng”

Saudara, alkisah seorang penyanyi tenar di Eropa – memiliki suami seorang musisi handal – setiap dia menyanyikan lagu selalu dikritik, banyak sekali tampaknya kesalahan – dia tidak tahan dan memutuskan untuk berhenti menyanyi. Suami itu meninggal – dia menikah lagi dengan tukang ledeng – tukang ledeng bilang selalu tidak sabar untuk segera pulang dan mendengarkan suara merdu dari istrinya – dia selalu memuji dia – singkat cerita, sang istri semakin suka menyanyi dan mengembangkan bakatnya sehingga menjadi penyanyi tenar – mereka hidup bahagia. Saudara – cinta sejati bukan berasal dari kesempurnaan diri – cinta sejati adalah ketika kita mau menerima orang lain apa adanya/ bahkan memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki untuk mereka// “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24)// Cinta akhirnya bukan menjadi kata benda pasif, tetapi dia menjadi sebuah proses yang mungkin tidak sebentar kita dapat menemukannya// Dan cinta itu ada pada diri Yesus/ mari mengejar hadirNya…

Pujian “Mengerjar HadirMu”

Ilustrasi “Kekuatan Pengampunan”

Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.

Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”

Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”

Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”

“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.” // Cinta seperti itu yang Yesus ajarkan dan menandai bahwa kita orang Kristen yang serupa dengan Kristus// Jujur/ memang sulit melakukan semua itu/ tapi ketika Dia menyentuh hati kita semuanya akan mungkin//

Pujian “Sentuh Hatiku”

Ilustrasi “Hadiah Cinta”

Seorang ibu memiliki anak cacat/ tidak memiliki telinga tapi pendengarannya baik – anak itu tumbuh dewasa dan sering diejek teman-temannya karena penampilannya yang aneh// Si ibu kasihan// Suatu saat dokter berkata/ dia bisa melakukan cangkok telinga kepada anak itu asal ada yang mau mendonorkan// Orang tua anak itu akhirnya mendapat donornya/ tapi sampai anak itu sembuh dan tumbuh semakin besar/ mereka merahasiakan// Hingga suatu hari tibalah mereka di pemakaman ibunya/ lalu ayah itu menyibak rambut ibunya dan….ternyata ibu itu tidak bertelinga// “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambut// Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah sedikit kehilangan kecantikannya// Itu kasih ibu di dunia/ bagaimana dengan kasih Allah? Dia rela tidak hanya memberikan telinganya/ bahkan nyawanya untuk kita// karena Dia mencintai kita di atas segalanya// Dia

Pujian “Above All”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s