Melinas World

Standard

Melinas World, kata Pak Gembalaku seperti judul novel. Ada juga yang mengkritik, frase ini salah dalam teknik penulisannya.  Intepretasi pertama merujuk pada frasa Melina’s World yang kalau diterjemahkan secara harafiah berarti Dunianya Melina. Intepretasi ke dua yakni Melinas World yang artinya Dunia Melina atau Dunia bernama Melina. Intepretasi ke tiga, Melina is World artinya Melina adalah dunia, pandangan ini dilontarkan oleh mereka yang love-minded.

Well, apa pun itu. Aku tetap punya cerita tersendiri di balik pemilihan judul ini.

Panggil saja dia Melina. Salah satu anak jalanan yang dekat dengan kami. Pertama kali mendengar nama ini, aku membayangkan seorang anak jalanan yang putih, kecil, imut, manja. Tapi tidak. Saat bertemu, aku menemukan seorang remaja putri yang absolutely tomboi, berkulit gelap, dan benar-benar talk too much, loudly pula. Ya, itulah Melina yang kukenal pertama kali.

Sejak perkenalan kami, entah karena belas kasihan, atau kepentinganku sendiri, suatu ketika aku pernah mengajak Markus dan Melina jalan-jalan.  Pikirku, mungkin hal ini bisa membuat mereka merasa bahagia walau sejenak. Kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, makan, minum, cuci mata, main-main, banyak hal yang kami lakukan bertiga pada waktu itu. Markus tampaknya biasa-biasa saja; tapi Melina, dia tampak begitu menikmati menit-menit kebersamaan kami itu.

Buntut dari jalan-jalan bersama ini adalah sms Melina yang selalu datang di HPku hampir setiap hari dengan pertanyaan yang sama, “Kapan kak, kita jalan-jalan lagi?”. Dia juga menelpon aku. Tiba tiba dia menempati satu kursi di sebuah Hall bernama Hatinya Primasanti. Wew! Mula-mula aku balas sms nya dengan rajin. Aku menemui dia seminggu sekali dengan teratur. Sampai kejadian aneh ini terjadi. Waktu itu aku tidak membalas sms nya, aku lupa, itu karena pulsa habis atau aku tidak lihat ada sms. Eh…dia marah besar dan selalu membuang muka saat aku datang. Lalu, beberapa saat aku tidak bisa menemui dia, dia ngambek luar biasa. Hal ini terjadi setiap kali aku tidak menuruti kemauannya; sampai suatu saat aku dikagetkan dengan kejadian mengerikan. Seorang kakak pengurus rumah singgah memberitahukan padaku bahwa Melina menyayat-nyayat kulit lengannya dengan silet karena kecewa padaku. Wuih! Can you imagine? Hanya karena tidak datang menjenguk atau tidak membalas sms? dan itu dilakukan oleh anak belasan tahun?

Dan sejak saat itu aku tahu, dia sangat miskin kasih sayang. Dunianya begitu keras sehingga dia tidak pernah merasakan kasih. Dan saat sesuatu yang dianggapnya “kasih” itu datang, dia rasanya tidak ingin kehilangan bahkan sedetik pun. Dan buatku, ini mengerikan! Apa yang harus kuperbuat? Waktu itu, anak belasan tahun itu benar-benar membuat hatiku sesak. I was asking God, what should i do? Aku bertanya juga kepada kakak-kakak yang lebih senior dan mereka bilang jangan selalu mengiyakan semua keinginannya.

Aku bingung. Aku dilema. Andai aku bisa menjelaskan padanya tentang kehidupanku. Tapi mulutku tak sanggup mengeluarkan nada-nada yang bisa dia tangkap melalui inderanya.

Sampai suatu saat dia harus melanjutkan sekolahnya di sebuah SD swasta. Dan, ya….aku berdoa untuknya di sini karena aku tidak sanggup menemuinya dan melihatnya seperti dulu lagi. Aku benar-benar tidak sanggup.

Beberapa bulan berlalu. Kabarnya, dia menjadi siswi yang pintar dan baik di kelasnya. Bahkan, dia pintar dalam pelajaran matematika. Aku senang. Mungkin di sanalah tempatnya.

Tapi,

Tadi malam dia kabur. Melina kabur. Dan pada saat itulah semua cerita tentang kehidupannya terungkapkan secara gamblang di depanku.

Melina, remaja putri belasan tahun yang hidup di jalanan. Dengan dua orang adik dan orang tua jarang tidak menggunakan kekerasan untuk berbicara kepadanya. Melina, gadis kecil yang dalam pandanganku masih lugu, polos dan tomboi itu sudah harus bercatur dengan para pemain ulung yang hanya mencari kesenangan belaka tanpa peduli siapa lawannya. Melina, tubuh kecilnya sudah dipasrahkan oleh ketidaktahuannya kepada kepicikan dan kemelaratan budi para pengobral rayuan dan perlindungan sesaat. Melina , bocah cilik yang girang ketika para pengobral rayuan itu mengelilinginya dengan senyum dan cinta yang semu yang kemudian membawanya ke negeri di awan milik mereka sendiri dan membuai tubuhnya di sana tanpa ampun.  Melina, katakan bahwa mutiara itu masih kau simpan rapat sampai seorang pangeran pilihan meminangmu kelak? Katakan, Mel! Tapi melina diam. Dan pergi berlari dengan tawanya menuju kerumunan kebuasan yang siap melahap tawanya kembali. Tubuh kecil itu….tubuh rapuh itu….

Aku tidak bisa menahan tangis di malam itu. Sepanjang perjalananku pulang, air mata itu tak bisa kubendung. Tetes demi tetes mewakili teriakan dalam hatiku kepada kekejian yang menimpa Melina, yang secara tidak sadar juga kita lakukan dengan kita berdiam diri, pura-pura tidak tau, pura-pura sibuk dan kepura-puraan yang lain.

Lalu, sekelebat bayangan melintas di depan motorku. Bayangan Melina yang tertawa riang saat kami mendapat hadiah boneka dari Timezone. Lalu, sekelebat lagi datang senyumnya yang lain, yang memaparkan duka saat masa remajanya direnggut oleh tangan-tangan tak berperasaan. Lalu sekelebat senyumnya lagi muncul saat dia bilang jatuh cinta dengan malu-malu kepada salah satu kakak pengurus pria (ah, waktu itu kupikir hanya canda semata!). Lalu sekelebat bayangan lain lagi muncul saat senyumnya beradu dengan keganasan malam di jalanan. Oh….aku tidak sanggup membayangkannya. Anak sekecil itu harus berperang melawan rasa ingin dicintai yang telah diidapnya dengan akut.

Stop! Stop! Aku berhenti karena sama sekali tidak sanggup membayangkannya. Apakah dia juga merasakan kekejian yang sama atau justru dia menikmatinya? Kalau yang kedua pilihannya, itu semakin kejam buatku. Anak sekecil itu terjebak dalam ketidaktahuannya dan keacuhan kita.

Sebegitu kejamkan dunia tempat Melina tinggal?

Apakah hanya Melina yang tinggal di dunia semacam itu?

Pagi ini aku kembali menyusuri jalanan tadi malam dengan motorku. Aku merasakan bekas-bekas kekejian semalam di sepanjang jalan itu. Dan aku merasakan sisa sisa tawa Melina ada di pojok kuburan kota itu. Lalu Muncul Melina yang lain di trotoar jalanan, di emperan toko, di zebra crozz,  dua Melina, tiga Melina, lima, tujuh…..enambelas….dua ribu……ada lima ribu Melina. Melina melina yang tinggal di dunia yang sama. Dunia jalanan. Dunia Melina Melina (Melinas).

One response »

  1. dunia itu memanggil aku,
    memanggil kau..

    “ketika aku lapar…
    ketika aku telanjang…
    ketika aku bodoh dan kesepian…”

    dan aku menjawab,
    “ya, ini aku dan hidupku”

    dan kau menjawab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s