Persembahan Sulung

Standard

Kaulah Tuhan yang berjanji tak sekali pun Kau ingkari…

KesetiaanMu sungguh terbukti di sepanjang hidupku….

‘Tuk s’lamanya ku ‘kan setia …

Melayani mengasihiMu…..

Ini lagu paporitku. Pertama kali menyanyikannya pada persekutuan di Radio Sasando waktu aku masih siaran di radio itu. Lalu, kesempatan kedua bisa menyanyikan lagu ini yaitu di acara KKR gerejaku. Wuw! Since lagu ini merema sekali dalam hidupku selama bertahun-tahun (gak berabad-abad sekalian! Suka berle’ deh), aku gak ambil pusing kalau waktu itu tim musiknya pada gak bisa dan gak suka sama ini lagu karena terlalu oldiest (hikikikiki! EGP: Elo Gak Paham sih…). Dan, pada kesempatan yang berbahagia kemarin, aku menyanyikannya kembali dari lubuk hatiku yang paling dalam (jadi inget “lubuk penceng”, “lubuk bulus”, “lubuk siang”) walau hanya di kamar mandi. Waktu sedang penghayatan, tiba-tiba ada sesuatu yang ditaruh di hatiku “Tuk S’lamanya ku ‘kan setia melayani mengasihiMu…”. Seperti ada pernyataan, “Jadi cuma sebatas nyanyi doang!”, yang berujung pada pertanyaan, “Lalu apa bukti dari kalimat yang baru saja kau ucapkan itu”.

Brrrrr…….belum kusiram dengan air, tapi sekujur tubuh mendadak dingin (bisa jadi  sekuel kedua dari film “mendadak dangdut”). Setelah itu ada satu frasa yang datangnya entah darimana dan langsung melekat erat di dada ini, yakni “Persembahan Sulung”. Busyet (aku tertipu lagi! owuououo…)! Apaan ini! Sejauh yang kutau (bisa jadi tagline iklan sekuelnya sprite! “kutau yang kumau” = “sejauh yang kutau”. Plis deh!), persembahan sulung adalah persembahan pertama, buah sulung, yang terbaik, dari pekerjaan atau usaha kita yang pertama kali. Secara mentah (karena belum direnungkan), aku mengintepretasikannya sebagai memberikan seluruh hasil pekerjaanku yang pertama untuk misi pelayanan. Setelah memikirkan ini, aku jadi takut sendiri. Wuih….! Misalnya, bulan ini bekerja, bulan depan baru dapat gaji, lalu dipersembahkan. Hmmmm….berarti akan ada 2 bulan lamanya kita tidak memegang uang untuk biaya hidup. Weleh! Weleh! Akan sulit sih nantinya, tapi di dalam hatiku meyakini kalau hal itu ditaruh dalam hatiku saat ini, itu berarti aku harus melakukannya. Yes….Aku bisa!

Bagaimanapun juga, aku harus menyampaikan kabar ini kepada orang tuaku. Dan sebelum aku sempat menjelaskan filosofiku, aku sudah dimarahi habis-habisan. (jadi inget waktu konfrontasi besar-besaran mengenai perpuluhan dan uang stipendium beberapa tahun lalu).

Sejarahnya begini,

Aku dan orang tuaku memiliki prinsip yang lumayan bertolak belakang (ya, mungkin 179 derajat gitu deh!) mengenai penatalayanan atas harta. Bagi orang tuaku, kita tidak bisa hidup tanpa uang. Uang penting. Uang penting.

Ya, sampai di situ aku sangat setuju. Tapi ijinkan aku menambahkan satu frasa lagi di belakangnya. Uang Penting Tapi Bukan Segala-galanya. Tampaknya, ada salah persepsi dalam memposisikan uang. Pertanyaannya: uang itu tujuan atau sarana untuk mencapai tujuan kita. Sayang, dalam setiap konfrontasi yang terjadi, filosofi ini tak pernah terucap, tak terungkap dari mulutku ini. Hfffuuuuiiiihhhh……

Ada beberapa pilihan sikap ketika konfrontasi itu terjadi: diam tertunduk, cengar cengir seolah-olah bloon, atau menangis sendu. Jadi, aku salah ketika menyebutnya konfrontasi, lebih tepat koersi tak berbalas. Wuuuuuu…..

Pernah, sesekali aku menimpali respon orang tuaku atas pandanganku, e…jadinya malah kacau balau (balau ku ada lima…rupa rupa warnanya! stop it!). Ya, sejak saat itulah aku bertekad, aku akan diam….diam…diam….dan tetap menjalankan prinsipku walau tidak diketahui mereka. Karena, bagaimana bisa aku membangun gedung tinggi jika fondasinya belum kuat. Fondasi itu harus dibangun dulu. Dan batu penjurunya, batu pertamanya haruslah Kristus sendiri. So, bagianku adalah mendukung di dalam doa. Yes! Amin!

Oke, kita kembali ke persoalan. Mengenai persembahan sulung itu, ternyata aku sedih juga. Aku ingat kata-kata orang tuaku, “mau hidup dengan apa kamu nanti. Kalau cara hidupmu begitu, kamu pasti celaka!”. Wow!

Padahal, dulu, orang tuaku pernah cerita kalau anak koleganya (cie….) mendapat pekerjaan pertama kali, lalau anak itu bilang ke orang tuanya yang notabene adalah teman ortuku, “Pak, besok, satu bulan ke depan, aku dibiayai dulu ya karena gaji pertamaku mau kuberikan pada gereja”.  Ortuku bangga sekali menceritakan itu padaku (aku masih kuliah waktu itu). Wew! Melihat binar-binar di mata mereka, aku sangat terinspirasi. Tapi sekarang, saat mereka mengalami sendiri, saat anaknya yang menanyakan kalimat yang sama dengan kalimat anak temannya tadi……ah….mungkin mereka lupa.

Thanks, God, aku punya banyak waktu merenungkan hal ini di sepanjang perjalananku menuju jogja. Apa benar kata-kata orang tuaku tadi. Bener juga sih, bulan pertama aku makan pakai apa, kan belum dapat gaji. Terus setelah bulan pertama berlalu dan aku dapat gaji, aku harus persembahan sulung, jadi 2 bulan sudah aku tidak pegang uang. Tapi….ah, kan Tuhan sudah berjanji memeliharaku. Allah yang kaya, tidak akan membiarkan anak-anakNya kelaparan kan? wow….terus saja terjadi pertempuran hebat di alam pikiranku. Sampai akhirnya aku kelelahan karena belum juga ada gencatan senjata.

Lalu aku ingat kata-kata Joyce Meyer dalam  Battlefield of The Mind, alam pikiran kita adalah sasaran paling empuk bagi satan untuk menghancurkan kita. Since kalimat ini terus bergema, aku putusakan untuk stop thinking!

Sampai di kantor, aku rindu untuk berdoa (di ruanganku cuma ada aku seorang, jadi bebas ngapain aja. Huhuhuhuhu. Satu-satunya keuntungan di kantor sendiri). Aku berdoa dengan sungguh agar diberi jawaban atas kegelisahanku mengenai persembahan sulung ini. Setelah itu, aku buka firman Tuhan (eh….gak sengaja di tasku ada alkitab. Memang!). Lalu aku buka saat teduh online dan ada satu ayat terpampang di lajur paling atas Roma 8: 14-17 (buka sendiri ya! Karena pasti seru ngebacanya). Intinya, setiap orang yang hidup dengan roh Allah akan menjadi anak-anak Allah, dan anak-anak Allah akan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Itu jaminannya. Lalu mengapa harus takut lagi? Wow first amaze! (Thanks buat Pak Gembalaku, Pak Samuel yang telah menuliskan renungan ini. Aku yakin, Pak Samuel dipakai Tuhan untuk berbicara kepadaku tentang hal ini. Many thanks!).

Lalu, aku buka email (hihihihihi….ritual kedua setelah sampai kantor). Ada satu email dari sahabatku, judulnya Ketaatan. Aku baca semuanya dan berhenti mendadak dengan penuh kegirangan pada baris-baris terakhir yang berbunyi “Dunia bertindak  secara sistematis, strategis, dan logis tetapi anak-anak Tuhan, bertindak bersama Tuhan dengan iman dan ketaatan”. Wew! Second amaze! (Thanks for Christma yang aku yakin sekali Tuhan pakai untuk mengirim email itu buatku).

Jaminannya sudah diberikan dengan sangat rinci dan gamblang. Mau berpikir apa lagi dan takut kepada apa lagi?

Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan, terlebih diriku dikasihi Tuhan.

Selamat mempersembahkan yang Sulung, yang terbaik, dari segala yang diberikan Tuhan padamu. Fear Not since His guarantee is true!

Lalu, lagu itu terdengar lagi di ruangan sunyi ini….semakin keras…semakin keras….

Kaulah Tuhan yang berjanji……tak sekalipun Kau ingkari…..

KesetiaanMu sungguh terbukti di sepanjang hidupku…

Tuhan memberkati.

5 responses »

  1. Wah….inspirasiku….
    Terima kasih ya….ayat yang kau kirimkan padaku hari ini sunggu menguatkanku.
    Aku bermegah ketika aku lemah, karena pada waktu itulah aku dikuatkan. Amin.

    Many thanks love!

  2. Semua tindakan iman memerlukan keberanian. Orang percaya hidup karena iman. Ji Berikan dan bekerjalah seperti biasa Tuhan memberkati. Ibu Laura.

  3. Dear Ibu Laura,
    Terima kasih untuk dukungan dan pengajarannya. Saya harus banyak belajar dari Pak Gatut dan Ibu Laura. Gembala yang luar biasa.
    God bless you.

  4. Thanks… Ak semakin mantap untuk melangkah.. Aku yakin ketika aku baca wordpress ini bukanlah sebuah kbetulan.. Tetapi Tuhan yang sedang turut campur tangan dalam pergumulanku, memakai caranya yang begitu luar biasa.. Thanks God..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s