Satu Bulan di Petra

Standard

Hari ini, 19 Februari 2009, tepat satu bulan saya bekerja di PCU atau Petra Christian University—sebuah universitas yang tidak saya duga akan menjadi pelabuhan saya dalam hal pekerjaan. Saya pikir, saya butuh merayakannya dengan Saudara. Let’s get the party!
Unimagined Plan
Pesta ini akan diawali dengan sebuah kekaguman saya atas rencana indah yang tak pernah terbayangkan oleh saya. Masih segar di benak saya, kata-kata bapak gembala saya bahwa suatu saat, dalam rangka memenuhi panggilan hidup kita, kita pasti akan dibawa ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saya pun tidak pernah membayangkan, tempatnya adalah di Petra, di Surabaya. But now, here I am.
Pertemuan dengan mahasiswi UGM angkatan 2005, adik PA saya—walaupun kenyataannya kami tidak pernah bertemu untuk PA melainkan membahas tugas-tugas kuliah, membawa saya mengenal Petra. Saya yakin, dia dipakai untuk mendorong saya memasukkan lamaran di universitas ini walaupun awalnya saya sama sekali tidak tau apa itu Petra, di mana, bagaimana, apa visinya, dsb.
Saya melakukan riset kecil mengenai universitas Petra, melamar, melalui lima kali tes, dan pada 19 Januari lalu menginjakkan kaki pertama kali di universitas ini sebagai pengajar. Hffffiiiiuuuuuhhhh….Saya tidak tahu harus mengungkapkan syukur dengan cara apa lagi oleh karena rencanaNya yang tidak pernah saya bayangkan ini.

Hari Pertama di Petra
Orang pertama yang saya temui di hari pertama saya adalah pak satpam. Anggukannya yang ramah dan tutur sapanya membuat saya berpikir bahwa universitas ini sangat ramah. Lalu saya melenggang masuk, menemui para pegawai di biro administrasi. Di tempat ini, mereka juga memberikan sambutan yang hangat kepada saya sebagai dosen baru. Setelah beramah tamah dan mengurus beberapa hal, saya menuju Fakultas Ilmu Komunikasi. Saya bertemu dengan bapak dekan dengan atmosfer penyambutan yang sama, ramah. Lalu saya diantar ke ruangan saya. Wow, it’s a beautiful place. Walaupun kecil, tapi sangat nyaman. Saya mulai duduk, berbenah dan berkenalan dengan dosen pertama yang saya temui. Dia masih muda, dua tahun di atas saya. For first impression, dia sangat cantik, menawan, fashionable, smart dan sangat ramah pada saya. Kami bercakap, makan bersama lalu mengikuti kebaktian universitas bersama.
Ini kebaktian universitas pertama yang sangat indah menurut saya. Ada seorang worship leader dengan suara sangat indah, tiga orang singer yang baru-baru ini saya ketahui sebagai pemilik suara terindah di universitas ini, pemain music yang sangat terampil dan pembicara yang hebat. Wow! The dream tim. Saya sangat bahagia dan bersyukur pada waktu itu. Betapa baik Kau Tuhan, telah membawaku ke tempat seperti ini.
Dua, tiga hari di universitas ini saya merasakan kegelisahan pribadi. Semakin banyak orang saya temui, semakin minder saya rasakan. Saya tidak melihat dosen atau mahasiswa dengan pakaian tidak baik di tempat ini (sangat berbeda dengan pemandangan saya di jogja, bersama anak-anak jalanan yang bajunya sebulan tidak dicuci. Oh, saya mencintai kalian. Saya rindu kalian). Semua Indah, semua bagus, semua tampak mahal. Saya merasa seperti berjalan di tengah mall besar. Dan setiap orang yang melihat saya, memandang dengan aneh, melihat dari atas ke bawah dengan tatapan penuh pertanyaan. Hahahaha….mungkin mereka pikir saya sales or whatever ya….
Saya bertahan dengan penampilan saya yang sederhana dan apa adanya—selain karena saya tidak membawa banyak baju dari jogja, saya juga bingung harus berpenampilan seperti apa. Coba ada ibuk atau Krisma, sahabatku, pasti mereka bisa mengarahkan saya.
Benar apa yang saya khawatirkan. Beberapa hari masuk kerja, beberapa kali pula saya mendapat teguran—secara langsung maupun tidak—tentang penampilan. Saya sempat melakukan eksperimen kecil. Saya berjalan dengan pakaian rapi di depan beberapa orang, dan, karena mereka tahu saya dosen, gestur mereka menunjukkan rasa hormat. Lalu sore-sore saya pergi ke kampus dengan memakai celana pendek, sandal jepit, dan topi. Saya menyapa mereka, tapi mereka berubah menjadi acuh karena tidak mengenali saya lagi. Wew! Demikian berperankah penampilan? Saya sempat bingung sampai kemudian saya yakin, bahwa diri, wajah, tubuh, penampilan, dan hati saya digambar menurut citraNya. Hah, walaupun akhirnya potong rambut (ini juga karena panas Surabaya), dan membeli celana baru (yang cukup menguras isi kantong), saya tetap ingin menjadi seperti gambar diri saya. Performance doesn’t mean everything, jut one way to present your image.
Sebulan di Petra
Sebulan telah berlalu. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya sangat bersyukur berada di tempat ini untuk bekerja dan melayani jiwa-jiwa muda dan rekan-rekan sekerja. Saat menengok ke belakang, saya sadar, perjalanan masih sangat panjang; perjuangan memang belum kentara. Saya jadi ingat kata Pak Ayub, “Kamu akan menjadi seperti Debora”. Ah, saya yang lemah ini? Tidak mungkin tanpa kasih karuniaMu, Tuhan.

2 responses »

  1. Great Job … Bisa tau gak melamar kerja di petra butuh persyaratan apa dan bagaimana proses melamar itu sendiri ? karena jujur saya juga tertarik untuk menjadi dosen di sana … terima kasih sebelumnya ^^…. JBU

    • Hi, yang pertama tentu berdoa dulu karena seperti yang kita ketahui, “menjadi dosen di suatu tempat tertentu adalah panggilan”. Selanjutnya, tanya-tanya, seperti yang Anda lakukan ini. Hehehe, nah, apa major Anda? biasanya tiap tahun ada open rec untuk dosen tapi di fakultas tertentu. Jadi, kalau Anda berminat saya akan infokan untuk Anda. Atau, Anda bisa kirimkan lamaran lengkap Anda langsung (sebagai waiting list) ke alamat Petra. Ada beberapa tes yang harus dilalui: administrasi, tes toefl, psikotes, wawancara jurusan, presentasi, wawancara wakil rektor, wawancara yayasan. Semoga sukses ya. Tuhan berkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s