Kisah Klasik

Standard

Saya tidak pernah menyangka kalau kisah klasik yang selama ini kami renda, dapat melalui klimaksnya dengan indah pada 080309 kemarin. Sepuluh tahun sudah kami menanti kesempatan untuk mengerjakan dan menyaksikan klimaks ini. Rasa khawatir, penasaran, gemas, dan air mata mewarnai perjalanannya.

Awalnya kami buta, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana memberitahukan perasaan kami kepada kedua orang tua. Kasus kami berbeda. Tidak semudah dua orang dewasa yang sepadan, mapan, dan ingin berkomitmen bersama. Karena kami…..saudara. Itulah mengapa kami diam selama 10 tahun ini. Sementara satu-satunya hal yang kami kerjakan adalah BERTANYA kepada Bapa kami.

Proses menanti dan bertanya itu tidak terasa sudah menapaki sepuluh tahunnya. Terkadang kami lelah dan ingin berhenti saja sampai di situ lalu berikrar untuk menerima apa pun resikonya. Tapi roh kudus selalu menguatkan dan menyemangati kami. Terakhir, yang kami lakukan adalah berdoa bersepakat bersama seorang rekan kami (thanks, sist). Yang kami percayai, Tuhan turut bekerja melembutkan hati kami, pun hati orang tua kami. Yang kami percaya, Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya. Yang kami percaya, Jika Tuhan sudah membuka pintu, siapa pun tak ada yang bisa menutupnya. Yang kami percaya, God is Good so everything He makes is also good.

Banyak hal yang kami doakan menjelang hari itu. Kami berdoa untuk motivasi kami, hati kami, hati orang tua kami, kami berdoa untuk hari yang tepat, kami memohon hikmat untuk berbicara, dan keteguhan hati untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Dua hari sebelum hari yang kami doakan itu tiba, kami merancang segala sesuatunya. Tempatnya, waktunya, transportasinya, dan susunan acaranya. Kalau mengingat proses itu, kami tertawa sendiri, lucu sekali, seolah-olah kami membuat sebuah event akbar yang sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Hahahaha….Dan yang lebih membuat saya terpingkal-pingkal saat mengingat peristiwa itu adalah bahwa parter saya menulis semua yang akan dikatakannya bak pidato kenegaraan. Dia mengetiknya rapi lalu membacanya berulang kali sampai semua poin terekam di kepalanya, kepala kami. Tapi lebih dari itu semua, kami menumpangkan tangan pada kertas “pidato” itu dan berdoa sebelum menuliskan isinya.

Hari yang dinanti selama 10 tahun itu pun tiba. Perjalanan menuju tempat kejadian peristiwa terasa sangat panjang. Sepanjang jalan saya berteriak untuk mengurangi nervous yang menghinggapi saya. Parter saya tampak lebih tenang dari pada sebelumnya.

Setelah makan malam, kami mengutarakan isi hati kami kepada orang tua kami. Saya mendapat bagian membuka percakapan, parter saya yang menyampaikan isinya, dan sahabat kami berdoa dari tempatnya. Saya sama sekali tidak menyangka, semua perkataan yang keluar dari mulut parter saya begitu berwibawa, begitu tenang pembawaannya, begitu runut, teratur dan sangat bijaksana. Saya melihat sirat terkesima dari wajah orang tua kami. Saya benar-benar terkejut. Saya yakin, roh kudus memimpin parter saya untuk berkata-kata.

Tiba saatnya kami mendengar tanggapan dari orang tua kami. Perasaan campur aduk sudah tiada lagi. Kami benar-benar tidak (mau) mempersiapkan strategi jika jawaban orang tua kami nantinya: “tidak” . Mengapa? Karena kami begitu yakin akan rencana Tuhan. Kami begitu beriman atas karyaNya.

Dan inilah yang diucapkan orang tua kami, “Kami tidak lagi peduli apakah kalian saudara atau tidak, yang kami tau, kami sudah menyerahkan hubungan kalian kepada Tuhan. Kami merestui kalian. Jadi, kalian harus bertanggung jawab untuk menjaga restu ini, demikian juga bertanggung jawab pada Tuhan yang melihat kalian. Kami merestui kalian”.

Saya tahu, bersikap sewajar apa pun saya kali ini, saya tetap tidak akan bisa menyembunyikan sukacita ini.

Terima kasih Bapa, terima kasih Ayah & Ibu, terima kasih Christma, terima kasih parterku, kita sudah menyelesaikan katastrofa dari kisah klasik bagian ini. Masih ada beberapa fragmen lagi yang harus kita lalui. Siap? Tentulah, karena kita berjalan bersama Bapa kita yang baik. Amin.

2 responses »

  1. Wikkkk (dengan wajah malu-malu —- yen mas den paling mung “meneng adhem” sok kul. hahaha)….kami juga mengucapkan terima kasih atas doa dan dukunganmu ya, Dek…..kamu berarti sekali bagi kami…….huhuhuhu…(melankolis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s