Lagi-lagi, Tujuan Hidup

Standard

Lagi-lagi, kemarin, kelas Pengantar Statistik Sosial berubah menjadi kelas sharing tentang tujuan hidup. Hal ini pertama-tama terjadi karena keegoisan saya sebagai seorang dosen yang selama berhari-hari digelisahkan dengan pertanyaan “apa sih tujuan hidup mahasiswa saya sesungguhnya?”. Saya yakin, sementara mereka belum mengenal frasa “tujuan hidup”, semua pengetahuan yang kami pelajari di kelas (dengan mati-matian), akan sia-sia belaka.

Lagi-lagi, ketika saya tanyakan kepada masing-masing mahasiswa di kelas itu, saya mendapat jawaban yang serupa. Mahasiswa pertama mengatakan, “tujuan hidup saya ya ingin berkarir supaya mendapatkan uang”. Mahasiswa ke dua, ke tiga, dan seterusnya mengungkapkan hal yang senada. Namun, ada satu yang berkata demikian, “Saya ingin menjadi PR yang handal. Dengan demikian saya dapat memuliakan Tuhan dengan ilmu yang saya dapat. Saya bisa berbagi dengan orang lain…..”. Saya sempat berhenti sebentar dan tidak meneruskan pertanyaan ke mahasiswa selanjutnya seraya berdoa dalam hati, biarlah ada beberapa mahasiswa lagi yang sudah mengenal tujuannya seperti yang satu ini. Sayang, pertanyaan tentang tujuan hidup selanjutnya, dijawab dengan, “wah, saya belum tahu…”.

Lagi-lagi, tidak ada yang salah dengan mereka sebab menemukan tujuan hidup itu adalah proses yang sangat panjang. Saya sempat sedih sih, tapi saya mengingat waktu saya seusia mereka. Waktu itu saya juga masih bingung tentang tujuan hidup. Setiap hari digelisahkan dengan pertanyaan, “sebenarnya, apa tujuan hidupku”. Semenjak itu juga lah, saya diproses, ditempa, hingga menemukan tujuan hidup saya di dalam Tuhan.

Lagi-lagi, pagi ini saya mendapat penguatan tentang hal itu. Baru saja saya menyelesaikan satu bab dari sebuah buku tentang kepemimpinan kristen, bagus sekali. Lagi-lagi, bab pertama dalam buku itu membahas tentang “tujuan hidup”. Pak Sendjaya, penulisnya, (mengutip Amsal29: 18) mengatakan, orang yang tidak memiliki arah dalam hidupnya termasuk kategori orang yang liar. Wow. Kemudian, saya menemukan bagian yang menarik dari pembahasan ini. Penulisnya mengatakan, jawaban seseorang bahwa tujuan hidupnya adalah untuk “memuliakan Tuhan” itu hanya merupakan retorika yang klise atau sekadar lip service saja. (hihihihi…..jadi malu!). Menurut penulis, bahwa hidup kita harus memuliakan Tuhan itu sudah taken for granted. Kita harus menemukan tujuan hidup itu secara spesifik, secara kongkrit, yakni: memuliakan Allah dalam bidang apa, melalui profesi apa, di mana, dengan cara bagaimana? Dengan demikian, mencari tujuan hidup bukan mudah. Hal ini membutuhkan keseriusan, tenaga, waktu, doa dengan tekun, dan taat pada setiap kehendakNya. Daud mengatakan dalam mazmurnya, “Carilah wajahNya setiap hari”. Sampai kapan? Bagaimana jika suatu kali sudah bertemu denganNya? Membaca ayat itu lagi, dan akan ditemukan, lagi-lagi, “Cari wajahNya setiap hari”. Setiap hari (jika perlu melalui doa puasa. Hihihihi….).

Lagi-lagi, saya mengerti, tujuan hidup yang saya cari pun tidak berhenti sampai di sini. Saya masih tetap mencari sampai Dia menunjukkan yang paling spesifik. Sampai kedatanganNya yang ke dua nanti, menjemput saya, menjemput kita. Mau ikut?

One response »

  1. dan bahkan ketika besok Rabu saya mau pendadaran, saya masih berada dalam kepongahan pencarian tujuan hidup.. :p

    *komen ini seperti pengumuman bhw saya bentar lagi sarjana dan mohon doa*

    hahhahahhaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s