Image Branding

Standard

Dari sudut mana mereka bisa berpikir bahwa aku ini mirip sekali dengan fitri tropika (lol)? Jika kuhitung-hitung ada lebih dari sepuluh orang (yang tidak saling mengenal) yang memiliki persepsi yang sama. Setelah kulakukan penelusuran gerilya, ada beberapa jawaban yang kutemukan:

1. Saya mirip fitri tropika karena  kekonyolan saya yang sudah mencapai stadium empat

2. Saya mirip fitri tropika karena gesture tubuh saat berbicara

3. Saya mirip fitri tropika karena ‘narsis’ (anak-anak remaja  berada dalam kelompok ini)

4. Saya mirip fitri tropika karena suka melucu walau ‘garing’

Saya heran mengapa fenomena ini bisa terjadi. Padahal saya merasa menjadi orang paling serius sedunia. Pertanyaannya: kenapa saya tidak dikatakan mirip dengan Bunda Teresa (berlebihan deh….!) atau Romo Mangun ya? (berharap terlalu tinggi).

Sela

Suatu ketika, ada seorang mahasiswa datang ke cubical saya untuk berdiskusi. Selama proses diskusi ini, dia menatap mata saya dalam-dalam. Tatapan ini, setiap detiknya, menyiratkan keraguan atas jawaban-jawaban yang saya berikan. Saat rasa penasaran saya sudah tak tertahankan lagi, saya tanya kepada mahasiswa saya ini, “Mengapa kamu melihat saya selalu seperti itu? Adakah yang aneh? Atau ada yang salah dengan jawaban saya?”. Mahasiswa ini kemudian menjawab sembari terpingkal-pingkal, “Iya, Miss. Saya sampai sekarang belum bisa membedakan, mana wajah Miss yang serius dan mana wajah Miss yang bercanda.” Lalu keluarlah pengakuannya, “Sebenarnya Miss, kalau di kelas itu, kami ngikik (tertawa terpingkal-pingkal) dalam hati setiap Miss menjelaskan sesuatu. Wajah Miss itu lho, selalu tidak sesuai dengan kata-kata yang dikeluarkan. Melihat wajah Miss saya kami sudah terpingkal-pingkal, apalagi kalau ngomong. Kelihatannya serius, tapi ….Huakakakkakakakak…..”

Sela

Semalam, kos kami punya hajatan. Ada salah satu penghuni yang ulang tahun. Seperti biasa, kami berkumpul dan makan bersama. Seperti biasa pula, suasananya rame sekali. Suatu kali, ada teman saya yang mengatakan demikian, “Saya pasti bisa masuk Perguruan Tinggi itu, siapa dulu yang merekomendasikan (dia merujuk pada dua orang rekannya yang punya posisi penting”. Lalu, dengan wajah super serius saya menimpali, “Tidak bisa begitu juga, selama Tuhan belum ACC, manusia juga tidak bisa lakukan apa-apa. Jadi, pertama-tama, minta rekomendasi Tuhan dulu ya”. Saya bingung, kalimat super serius ini malah direspon dengan gelak tawa. Hmmmm…..apa yang salah dengan diriku. Lalu, seorang teman nyeletuk , “Miss, kalau dalam kehidupan sehari-hari kamu tidak menampakkan sikap konyolmu, mungkin kami akan sangat kagum dengan kata-katamu itu. Tapi, kalau melihat keseharian Miss yang super konyol, kami susah percaya.” (gelak tawa kembali menyeruak). Hmmmm…..

Sela

Seorang mahasiswa bertanya, “Miss, boleh saya tebak, Miss ini pasti sanguin sejati ya?”. Saya menjawab,  “Saya menjawab, bukan, menurut tes psikologi yang pernah saya ikuti, saya ini koleris sejati.  Perbandingannya ya, 90: 10 lah dengan sanguin”. Mahasiswa ini tertawa, lalu menimpali, “Gak mungkin ah…..kok Miss selalu buat kekonyolan? Itu tandanya lebih kuat sanguinnya Miss.” (ah….up to you lah….)

Sela

Malam itu, setelah seharian bekerja, saya merenung di kamar. Di satu sudut yang paling dalam di hati saya, saya sangat senang dan bangga karena orang-orang di sekitar saya terkadang terhibur dengan banyolan atau sikap konyol saya (walaupun kadang saya tidak merasa demikian. Hups…masih mengelak). Namun, di ceruk hati yang lain, ada ketakutan luar biasa. Saya sangat takut, jika image yang saya bangung melalui perilaku, perkataan, dan sikap hidup saya ini justru merusak citra yang sudah Bapa gambarkan dalam hidup saya. Saya bertanya kepada sahabat saya, “Apakah saya salah bila saya bersikap konyol?”. Dia menjawab, “Selama sikap kita itu tetap bisa memuliakan Tuhan, tidak ada yang keliru”.

Refleksi ini mengingatkan kepada saya kembali. Image branding yang kita bentuk dalam kehidupan kita ini sangat mempengaruhi panggilan hidup kita di dunia. Apakah dengan image branding yang seperti ini, kita bisa menjadi surat Kristus atau justru merusak citra Allah. Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi saya sebagai seorang–yang dianggap sanguins (tetap tidak mau mengakui). Melalui hal ini pula, saya semakin yakin, bahwa sekuat apa pun kita berusaha mencitrakan Yesus dalam hidup kita, itu tidak akan berhasil. Citra Yesus dalam hidup kita adalah karunia semata. Bagian kita? Ya memelihara citra itu melalui sikap hidup, perkataan, dan perilaku kita.

Selidiki hatiku setiap hari, Bapa.

Apakah ku sungguh mengasihiMu, Yesus.

2 responses »

  1. Sebagai sesama orang konyol, saya belajar dari pengalamanmu ini…

    Beberapa orang di persekutuan gereja yg lebih muda-muda dariku, juga mengatakan/menganggap aku ini orang yg konyol…uhm, di satu sisi aku senang mereka tidak menganggap aku sbg org asing, aku bisa masuk diantara mereka, dan lebih mudah bagiku untuk menjadi sahabat mereka (u know whad i mean hehehe).

    Tapi ga jarang mereka jadi ‘maido’ sama apa yg aku omongin *haduuhh…*
    Di kantor pun aku dikenal cekakakan, smp ga ada yg percaya aku yg bawain renungan pagi di kantor tadi.

    Yap…butuh KASIH KARUNIA, hingga mereka mengerti apa yg benar2 ingin kita sampaikan!

    …kemurahan demi kemurahan belaka akan mengikuti kita seumur hidup kita, amen!😀

  2. Dear Prima…

    Apa sih definisi konyol itu???

    Bagi aku pribadi, kamu ga konyol….menurutku apa yang kamu lontarkan justru untuk memberkati orang lain…
    Meski aku terkadang tertawa mendengarkan omonganmu…tapi bagi aku itu masuk akal sekali…

    Prinsipku sama seperti kamu,
    Selama apa yang kita lakukan itu tidak mendukakan hati TUhan, it’s no problem..
    My problem is with God, not human
    Jika manusia mempermasalahkan hal itu, koreksi diri kita, kalau tidak ada hal yang melanggar kehendakNya…ya … take it easy….

    hehehehehe

    I’m proud having you as my sister in Christ…!!
    Keep on smile n do your best to glorify Him…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s