Dream Catcher (Petualangan Sehari, Mencari Jawaban Kegelisahan tentang ‘Impian’)

Standard

Dreamer….
Saya termasuk dalam golongan ini: pemimpi ulung. Sejak kecil saya memiliki impian ‘muluk’ untuk melayani melalui pendidikan di Indonesia. Saya ingat benar bagaimana teman-teman saya mengekspresikan kegemasan mereka atas tingkah laku saya yang seolah-olah sudah menjadi pejuang pendidikan betulan. Teman-teman SMP saya sampai memanggil saya professor; teman SMA memanggil saya mentri pendidikan; di bangku kuliah, panggilan Bu Dosen sudah akrab di telinga saya. Saya jadi malu sendiri karena sesungguhnya saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai pertanggungjawaban status impian ‘pejuang pendidikan’ itu. Saya hanya punya impian dan sikap hidup seolah-olah saya telah menyandang status itu. Saya belajar, bekerja, berpikir besar seolah-olah saya memikirkan dengan sungguh-sungguh nasib pendidikan bangsa ini. Oh, sungguh, ini semua hanya sebatas impian. Saya benar-benar sadar bahwa saya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Saya tidak pintar, bukan penyusun strategi, politik juga tidak menguasai, science apalagi, wawasan kurang, bahasa inggris pas pasan. Yang bisa saya lakukan hanyalah bermimpi dan terus bermimpi.
Saya terharu dengan cara Tuhan mencelikkan mata saya mengenai impian ini. Sekarang saya sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Dulu, saya pikir, saya hanya hidup dalam impian itu; sekarang impian itu sudah berjumpa dengan secercah terang. Saya masih tetap sama, tidak sepintar rekan-rekan dosen yang lain, bukan penyusun strategi yang baik, pengetahuan politik dan science sangat minim, wawasan dan bahasa inggris masih juga tidak sebanding dengan dosen-dosen lainnya. Tetapi saya tahu, ada yang berbeda dalam hidup saya, yakni pembaharuan pola pikir saya atas impian itu. Yang tadinya saya pikir impian tinggal impian, sekarang saya tahu, selama kita hidup di dalam Tuhan, impian itu akan menjadi nyata sesuai waktunya. Karena ketika kita bergaul dengan Tuhan, kehendakNyalah yang menjadi kehendak kita, bukan kehendak kita sendiri lagi. (pokok anggur yang benar). Jika yang menjadi impian kita adalah kehendak Tuhan, badai topan pun tidak akan bisa menggagalkannya. (Tuhan tidak akan membatalkan janjiNya). Ini semua terjadi hanya karena satu faktor: Kasih Karunia. Lalu saya bertanya lagi, “Tuhan, lalu apa yang harus saya lakukan. Tidak ada ilmu yang berharga yang bisa saya berikan kepada mereka yang saya impikan ini? Masa’kan saya harus mengajar “statistik sosial dan audit komunikasi? Dua mata kuliah yang sangat bertolak belakang dengan saya sebagai orang kualitatif. Saya tidak mampu melakukannya seorang diri, Tuhan! Tolonglah!”. Dan inilah jawabannya, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”.
Pagi ini, saya bersaat teduh. Saya membaca Yohanes 18: 1-11. Surat ini menceritakan kisah Yesus setelah berdoa untuk murid-muridnya sesaat sebelum kematiannya. Dia berdoa di Taman Gesemani dan seolah-olah mengatakan kepada Bapa bahwa Dia tidak sanggup rasanya menahan beban yang begitu berat. Namun, penyerahannya yang sempurna kepada Bapa itulah yang menjadi kunci sukses pekerjaan terakhirNya di bumi. Jesus did it. Yesus benar-benar melakukan kehendak Bapa itu dengan kepasrahan dan ketaatan yang sempurna walaupun sesungguhnya Dia tidak sanggup. Bacaan ini sungguh merema dalam hati saya. Roh kudus benar-benar berbicara kepada saya melalui renungan ini.
Lalu saya pergi untuk mengikuti kebaktian di gereja perintisan Shine. Kami memuji, berdoa, dan mendengarkan firman. Menakjubkan, ayat firman di kebaktian itu sama persis dengan ayat renungan pagi saya Yohanes 18: 1-38. Masih berbicara tentang ketaatan Kristus dalam melakukan kehendak BapaNya. Baik, Tuhan, saya mengerti bahwa saya harus taat. Pertanyaan saya adalah dengan cara apa Tuhan, saya harus melakukan pekerjaanMu itu? Saya tidak sanggup dengan keterbatasan ilmu saya; saya tidak tahu bagaimana cara menceritakan Engkau kepada anak-anak ini. Tolonglah saya, Tuhan.
Setelah makan siang, saya melanjutkan kegiatan minggu ini dengan mengikuti kelas PA (Pemahaman Alkitab) di Shine juga. Bahan hari ini adalah kitab Roma. Surprised! Yang dibahas hari ini adalah kisah Paulus sebagai hamba injil. Paulus merasa sangat berhutang kepada injil. Dahulu, Paulus menjadi penghujat injil, penganiaya jemaat, tetapi oleh kasih karunia yang cuma-cuma, Paulus diselamatkan oleh Kristus dan hidupnya berubah. Paulus menganggap ini sebagai hutang yang dengan cara apa pun tidak bisa dia bayarkan, apa lagi jika ia hanya berdiam diri. Karenanya, dengan segenap kesetiaannya, Paulus bertekad mewujudkan impiannya untuk mengabarkan injil sampai ke Roma (walaupun akhirnya dengan cara yang menyedihkan secara fisik, karena Paulus pergi ke Roma sebagai tawanan). Paulus mengejar impian mengabarkan injil ini sampai kematiannya. (Paulus rindu menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya). Baik, baik, jadi, seperti Paulus, demikian juga saya harus setia dengan panggilan hamba injil ini, baik buruk keadaannya. Oke, hamba injil, lalu bagaimana cara saya mengabarkan injil itu? Di mana Roma saya? Saya mengungkapkan kepada gembala saya mengenai kegelisahan yang saya alami sepanjang minggu ini, sesungguhnya hal spesifik apa yang harus saya ambil menjadi bagian pekerjaan saya dalam pekabaran injil saat ini? (merasa terlalu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan. Ah…)
Keluar dari ruangan PA, saya bertemu dengan sebuah buku di rak Shine yang mengusik mata saya karena nama penulisnya sangat akrab sekali dengan kehidupan saya (walaupun beliau tidak mengenal saya. Hehehe). Perkenalkan: Bapak Ayub Bansole. Beliau adalah hamba Tuhan yang dikaruniai karunia pengelihatan dan beberapa tahun silam pernah menubuatkan sesuatu atas hidup saya (sebanyak 2 kali dengan nubuatan yang sama). Saya mengambil buku itu lalu pulang. Di dalam angkot, saya buka buku itu, judulnya Dream Catcher. Di dalam buku itu, Pak Ayub bercerita bagaimana pentingnya tulisan bagi seorang pemimpi. Ia memberikan banyak contoh: Jules Verne, seorang penulis yang biasa saja, yang kemudian mengispirasi orang-orang sehingga terciptalah satelit buatan pertama dunia (Sputnik 1); lalu John Kennedy yang memiliki impian gila mengenai misi Apollo; sampai kisah klasik yang paling terkenal Thomas Alfa Edison dengan lampu pijarnya. Wow….semua itu berangkat dengan satu pijakan: Impian yang dituliskan dan dilakukan. Dengan memahami pentingnya tulisan ini, Pak Ayub ingin menyampaikan bahwa kita juga memiliki pekerjaan pekabaran injil melalui tulisan. Pak Ayub mengingatkan kita untuk menulis perjalanan kesaksian iman kita dalam tulisan atau buku supaya orang lain bisa membacanya. Tulisan itu bisa menjangkau lebih banyak orang, melampaui masa ke masa. Contoh kongkritnya ya, Alkitab itu. Bayangkan jika dahulu Paulus tidak menuliskan firman Tuhan, kita tidak akan memiliki kitab-kitab dalam perjanjian baru yang begitu menguatkan iman. Oke, jadi intinya adalah Prima kamu harus mulai menulis kembali. Sepanjang jalan saya merenungkan tentang pekerjaan menulis ini. Rasanya tidak cukup ketrampilan saya untuk bekerja dalam bidang tulis menulis. Menulis buku saja sampai sekarang tidak jadi-jadi. Pernah sih menulis artikel dalam jurnal, namun belum ada kabarnya juga. Tapi, seperti Kristus yang taat, saya juga mau taat. (Hiks….tolonglah saya, Tuhan. Benar-benar tidak sanggup melakukan misi ini tanpa pertolonganMu).
Saya sampai rumah, makan, kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, sudah ada seseorang yang datang dan meminta foto saya. Saya kaget, untuk apa, ada apa ini? Rekan ini mengatakan, tulisan saya dipilih untuk masuk ke sebuah jurnal rohani. (Hmmmmm……gleg…gleg…gleg…..bagi saya ini anugerah yang sangat indah). Saya berjalan agak pontang panting karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tampaknya, Dia benar-benar ingin meyakinkan saya akan panggilan itu. Satu-satunya kalimat yang mengisi kepala saya selama menit-menit mengejutkan itu adalah, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu”. Oh, Tuhan, itu sangat berlebih buatku. Kau terlalu baik pada orang hina yang hanya bisa bermimpi ini. Tuhan, orang ini akan bangkit dengan pertolonganMu dan mengejar impian yang Engkau karuniakan dengan setia dan taat. (sungguh tidak sanggup tanpa kasih karuniaMu, Tuhan).

20.23-290309
My devotion place

The One Idea Dreamer Wanna Be

3 responses »

  1. wuaaa…..blogmu menghibur dan mengajar (mendingan baca ini daripada addict sm fesbuk hehe).

    Melihat hijau lemon ini heu…heu…heu.. jadi malu, ga sempet2 bikin theme buatmu. Ayo lanjutkan tulisanmu, meski beraaaatttt…tp Praise The Lord sy ngerti wekekeke *udah diberi bocoran sm Tuhan Yesus soalnyaa xixixixixi…*

    Ehm..yg berat sebenernya mata kuliahmu itu lhooo….gile bener, kaga ada yg tau nih.
    Jgn lupa doakan beban doa saya yg saya ungkapkan hari Minggu kmrn. Aku telpon hari rabu okeee…segera kabari klo kamu udah ga sibuk😀

  2. terima kasih buat tulisan inspirasinya, terutama buku saya. saya merasa terhibur untuk menulis buku yang lain lagi. he he he

    • Waaa….Pak Ayub, terima kasih sekali atas komentarnya. Tidak menyangka, tulisan sederhana ini dikomentari oleh inspiratornya. Hahaha….iya, Pak Ayub, selamat menulis lagi dan menginspirasi kami semua. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s