Pertanyaan Sepele

Standard

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri. Baru kali ini aku merasa dipasung dalam pergumulan yang pelik. Pergumulan yang tidak hanya melibatkan imanku sebagai pengikut Kristus tetapi juga logikaku. Yang membuat geli yakni bahwa pertanyaannya terlalu sepele untuk membuat seorang – yang menurut rekan-rekanku termasuk golongan militan – sepertiku bimbang. Pertanyaan sepele ini menghantuiku selama berminggu-minggu dan tidak membiarkanku bebas melakukan pekerjaan pelayananku. Hanya sebuah pertanyaan sepele yang berbunyi apakah aku harus berangkat ke acara Pemahaman Alkitab kelompok ‘itu’ atau tidak. Anda pasti tertawa.
Aku seorang dosen muda fakultas ilmu komunikasi di salah satu universitas Kristen swasta di Indonesia. Tapi di luar status itu, aku hanya percaya bahwa diriku ini segambar dan serupa dengan Allah. Tapi justru kepercayaan inilah yang menggiringku untuk – acapkali – menuntut semua pekerjaan dan pemikiran harus perfect. Semua tindakan harus didasari ungkapan syukur kepada Tuhan dan dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Tapi kedangkalan kepekaanku akan suara Tuhan justru membuatku terjebak pada stigma itu. Semua pekerjaan yang baik, semua kegiatan yang benar dan mulia tidak boleh ditolak, harus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.
Prinsip ini menyala-nyala dalam diriku sejak aku terima Kristus. Aku berupaya dan berdoa untuk tidak pernah mengatakan tidak pada pekerjaan pelayanan. Saat orang datang kepadaku dan mengajak untuk melakukan pelayanan ini dan itu aku dengan sigap bersedia. Jangan salah sangka kalau aku ini seperti Marta yang sibuk dengan pelayanan yang tampak sehingga melupakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Bukan. Aku memahami betul hati Maria, hati yang selalu ingin duduk diam di hadapan Tuhan. Jika aku merasa bimbang, segera aku datang pada Tuhan dan mohon jawabannya. Aku tahu, aku paham itu semua. Tapi sekarang aku bingung dengan satu pertanyaan ini: haruskah aku datang?
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengajakku pergi ke suatu kelompok Pemahaman Alkitab. Dari awal aku sudah tidak sreg. Hanya aku tidak tahu apa alasannya. Tidak adanya alasan yang tepat ini menjadi argumen kuat bagi diriku untuk memposisikan persoalan itu sebagai pergumulan berat dengan konsekuensi menyita energy dan waktu. Aku bergumul hebat hari itu, akankah aku berangkat? untuk apa? apakah ini akan menyenangkan hati Yesus? Ah, aku dibuatnya gelisah. Aku bertanya-tanya kepada Tuhan, tetapi telingaku tak cukup tajam untuk mendengarkan suaraNya. Entahlah, aku gelisah sekali. Sampai akhirnya, aku meminta tanda seperti yang dilakukan Gideon. Jika benar aku harus berangkat, biarlah hatiku damai sejahtera ketika berada di tempat itu.
Semakin mendekati waktunya semakin aku menjadi gelisah. Tidak seperti ketika akan berangkat ke persekutuan-persekutuan lainnya, walaupun aku belum tahu apa yang akan terjadi di tempat itu, tapi aku sungguh enggan untuk datang. Kegelisahan memuncak beberapa jam sebelum acara itu. Aku memutuskan untuk tidak usah pulang dan berganti baju. Aku menunggu dan merenung agar dapat langsung berangkat ke tempat itu.
Aku sampai di sana dengan dua orang temanku yang lain. (oh, bahkan aku tidak sanggup menuliskan hal ini). Aku mendengarkan pembukaan dari pemimpinnya. Dia mengajak kami menyanyi sambil membuka handphone, kutak kutik sana sini. Lalu menyuruh kami share mengenai perubahan hidup kami ketika sudah menerima Kristus. Dari jawaban-jawaban mereka, aku tahu, mereka sudah lama mengenal Kristus dan telah banyak belajar dibandingkan aku. Tapi aku tetap merasa tidak nyaman. Lalu, kami mendengarkan kotbah. Salah seorang membaca pertanyaan di buku panduan dan pemimpinnya mengupasnya. Setelah itu menyanyi lagi dan selesai. Tampaknya sebentar, tapi dengan haha hihi –nya tak terasa sudah 3 jam kami berkumpul. Hatiku benar-benar bertarung ketika berada di dalam kelompok itu. Aku mencoba mengalahkan perasaan memberontak dan tidak damai sejahtera yang muncul dan meledak-ledak dalam diriku. Aku merasa tempatku bukan di sini, tapi aku takut menolak jika itu melukai Bapaku, jika itu hanya untuk memuaskan diriku sendiri. Aku juga takut tidak bisa menjawab ketika mereka tanya mengapa aku tidak mau berangkat. Apa yang harus kujawab? Haruskah kujawab bahwa aku tidak damai sejahtera di tempat itu? Egois sekali. Atau, bukankah esensi persekutuan adalah bertemu Tuhan, jika aku tidak bisa menemukandi tempat itu, untuk apa? Atau, maaf, aku banyak kerjaan (ah, bukan aku ini)? Atau apa? Pertanyaan sepele ini menggugah imanku. Ada hal-hal subtil yang terkadang tertutup oleh gemerlapnya pelayanan fisik yang kita lakukan. Konsekuensinya, untuk menjawab pertanyaan sepele ini saja sulit minta ampun. Jadi, bagaimana? Apakah aku harus berangkat?

One response »

  1. prim..,
    trim buat tulisannya..
    aku ga kasi comment..
    cuma mo bilang, terima kasih..
    aku jadi tambah kangen sama Bapa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s