Di Sudut Kantin

Standard

“Buat apa, buat apa kami isi kulkas ini lagi. Toh bulan depan kami sudah di PHK”. Demikian Bapak itu menjawab saat saya menanyakan kenapa isi kulkas di kantinnya kosong. “Kasih itu sudah mulai sirna, Bu. Kami akan di-PHK per Bulan Desember ini”. Inilah sebuah celoteh sederhana yang saya dengar kemarin, di sebuah sudut kantin. “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Bagaimana juga dengan nasib orang-orang yang punya keluarga dan dua anak”. Nadanya ‘melas’ menuturkan isi hatinya. “Sudah 15 tahun saya bekerja di sini. Bahkan, Ibu X sudah 24 tahun. Tapi tahun ini adalah tahun terakhir kami”. Inilah kisah singkat yang kami dengar mengenai Pemutusan Hubungan Kerja para pegawai kopreasi di salah satu perguruan tinggi.

Saya dan seorang teman saya tidak berani berkomentar apa-apa. Tapi kami harus mendengar cerita itu lebih lengkap lagi. Teman saya duduk, saya masih berdiri, ikut berempati. “Lalu, apa rencana Bapak?”, akhirnya saya berani menanyakan sesuatu, berharap bisa sedikit melegakan hatinya. “Yah, saya tidak tahu. Lihat pesangonnya lah. Kalau lumayan, kami bisa buka usaha sendiri atau ‘patungan’ dengan teman-teman”. Baiklah, tampaknya sudah cukup lama kami berpura-pura tidak sakit hati. Buru-buru saya mengajak teman saya pergi. Dan mulailah saya mengomel, “Kenapa bisa begini sih? Apa yang salah dengan mereka? Apakah hanya karena menginginkan sebuah citra yang lebih ‘menjual’ akhirnya konter-konter sederhana itu harus digusur dan pegawainya dirumahkan? huh….”. Teman saya mengangguk setuju sembari memberikan opsi lain, “Mungkin ada kebijakan khusus yang tujuannya lebih baik. Kita tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu”. Dalam hati saya bertanya-tanya, baik untuk siapa dan apa arti kebaikan itu sendiri. Ah, semua tampak tidak jelas waktu itu.

Saya bertirakat untuk melupakan kejadian itu. Sial. Malam harinya saya justru tidak bisa tidur memikirkannya. Saya tidak pusing tentang nasib Bapak itu, itu bukan bagian saya; tetapi saya gelisah mengenai apa yang bisa saya perbuat. Sial. Saya tidak bisa tidur sampai pagi. Wajar memelas Bapak itu dan rekan di sebelahnya. Ah…Sial. Setelah pagi pun saya masih dihantui.

Saya harus bertanya kepada seseorang mengenai hal ini. Saya tidak boleh membiarkan pikiran saya mengelana sendiri dan menemukan jawabannya sendiri yang biasanya selalu keliru.

Siang ini, saya bertemu seseorang yang sudah lama saya pikirkan cukup kapabel untuk memberikan konfirmasi tentang kegelisahan saya. Buru-buru saya menemui beliau. “Pak, saya dengar dari para pegawai kopreasi bahwa mereka akan di PHK. Benarkah, Pak?”, saya tidak mau basa basi. “Ya, begitulah. Yayasan memiliki kebijakan tersendiri untuk merumahkan mereka”. “Tapi kenapa, Pak? Adilkah bagi mereka?”, saya tidak sabaran. “Ini termasuk kebijakan rasionalisasi, jadi wajah di lakukan sebuah Yayasan”. “Dengan merumahkan pegawainya sendiri, apakah layak disebut rasionalisasi, Pak?”. “Bukan, Nak. Mereka bukan pegawai Yayasan, mereka pegawai koperasi yang merupakan lembaga yang terpisah dari Yayasan”. “Maksudnya?”, sama sekali tidak sabar. “Begini, Yayasan dengan koperasi itu dua lembaga yang berbeda yang dua-duanya berelasi dengan perguruan tinggi. Karena sebuah perguruan tinggi tidak boleh menjalankan bisnis, maka dipeganglah usaha itu oleh koperasi”. “Hmmmm”, saya sedikit mendapat pencerahan. “Lalu, Pak?”. “Akhirnya, mereka harus kembali ke lembaga mereka, lembaga koperasi; dan yayasan akan menentukan perangkatnya sendiri untuk menjalankan rodanya”.

Dari keterangan singkat ini, saya menarik kesimpulan, sesungguhnya secara struktur hal ini wajar terjadi. Jika Anda berbisnis, Anda tentu akan mencari partner.  Anda tentu memiliki otonomi dan otoritas dalam menentukan siapa yang akan menjadi partner Anda. Jika–dengan alasan apa pun–partner Anda tidak dapat mengimbangi atau memenuhi tujuan hidup Anda, wajar jika Anda memutuskan untuk menyudahi relasi Anda. Itu sangat wajar dan tidak salah.

Sampai di sini, saya bisa menerima argumen yang saya coba rajut sendiri ini. Tetapi, ada beberapa hal yang tersisa yang masih menggelisahkan saya. Saya tidak tahu mana yang benar;  saya pun terus memikirkan apa yang terjadi pada kehidupan orang-orang yang akan kehilangan pekerjaan ini; dan saya tidak tahu, apa yang bisa saya lakukan bagi mereka. Tetapi Bapak itu telah mengajarkan saya satu hal. “Kami sudah berdoa, Bu. Semua pegawai pria dan wanita di tempat ini sudah sama-sama berdoa, Bu”, itu kata-kata terakhir yang saya dengar dari mulut pegawai koperasi itu. Kita mungkin tidak bisa melakukan apa saja tetapi kita bisa berdoa. Saya jadi membayangkan, nanti, kalau saya lewat sudut kantin itu, saya pasti selalu teringat kata-kata Bapak itu, “Kami sudah berdoa”.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s