Wanted: A Dangerous Leader for The Crisis

Standard

Oleh: K.B. Primasanti, SIP[1]


[1] Penulis adalah staf pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra, Surabaya. Penulis juga seorang peneliti yunior di bidang komunikasi dan media.

Menjadi keasyikan tersendiri bagi penulis ketika membaca slogan, moto, atau visi para caleg (calon legislatif) pada papan-papan kampanye akhir-akhir ini. Tulisan yang mereka sebut sebagai slogan, moto, visi itu berbunyi senada: “Dukung saya, saya papanya artis x”, “Pilih Saya, Asli Daerah Lho”, “Saya Mantan Lurah X, Pilih Saya”, “Aja klalen kiye wonge dhewek, pilih wonge dhewe caleg X asli putra daerah Y”. Jika pembaca merasa geli dengan kalimat-kalimat tersebut, silakan membaca yang berikut: “Setelah Pengangkatan PNS, Kini Giliran Nasib Pegawai Tidak Tetap Diperhatikan. Pilih Saya!” atau “Pilih saya. Memimpin dengan Memerhatikan Nasib Kaum Rendah dan Buruh[1]. Isu “putra daerah dan kesejahteraan” kali ini diangkat untuk menggambarkan personal maupun party branding yang bertujuan untuk mengubah persepsi masayarakat. Namun, alih-alih mengakomodasi fungsi “merubah persepsi”, iklan-iklan kampanye saat ini sebagian besar justru terkesan absurd. Visi dari calon legislatif tersebut sulit terbaca khalayak melalui iklan yang mereka tampilkan. Fakta menunjukkan, sebagian besar porsi iklan-iklan ini justru digunakan untuk menjual wajah dan latar belakang para caleg sembari meyakinkan khalayak akan antusiasme mereka untuk menduduki posisi “terhormat” yang tengah ditawarkan.

Merenungkan fenomena di atas, penulis menjadi bertanya-tanya tentang apa yang mempengaruhi orang-orang ini begitu berhasrat untuk menjadi calon legislatif atau calon pemimpin. Padahal, bukan rahasia lagi bahwa dunia sedang dijangkiti krisis multidimensi: krisis ekonomi, pangan, iklim dan lingkungan, bahkan krisis kepemimpinan. Ironi ini memunculkan berbagai spekulasi dalam perbincangan di ruang-ruang publik mengenai motivasi para calon legislatif untuk memimpin di tengah krisis ini. Pra observasi yang dilakukan penulis menunjukkan beberapa pendapat mengenai hal ini. Pandangan pertama menganggap bahwa motivasi para calon pemimpin ini adalah sekadar untuk investasi kehidupan mereka di masa mendatang, baik dalam hal materi maupun kekuasaan[2]. Para calon wakil rakyat atau pemimpin ini hanya ingin memanfaatkan situasi krisis untuk memenuhi pundi-pundi mereka sendiri. Golongan lain melontarkan pendapat ideal, seperti, bahwa para calon-calon ini muncul karena visi mereka yang kuat untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Sementara itu beberapa orang lainnya mengatakan bahwa ada atau tidaknya calon pemimpin tidak akan merubah keadaan, jadi golongan ini mengganggap pencalonan diri para caleg hanya untuk menggenapi peluang yang ada.

Jika ditelusuri lebih mendalam, mungkin masih banyak pendapat lainnya, namun beberapa contoh di atas cukuplah untuk menggambarkan kegamangan dan skeptisisme masyarakat atas konsep seorang pemimpin. Fakta menunjukkan, sebagian besar para pemimpin melakukan penyelewengan sehingga membawa masyarakat lebih jauh masuk ke dalam penderitaan. Dunia telah menyaksikan bagaimana para pemimpin seperti Hitler, Sadam Husein, bahkan Soeharto memimpin dengan karismanya selama bertahun-tahun sembari menghasilkan keterpurukan yang lebih parah. Tidak dapat dipungkiri, fakta ini menjadikan masyarakat sebagai saksi hidup atas beroperasinya pemimpin-pemimpin palsu. Wajar jika kemudian masyarakat merasa skeptis atas munculnya seorang pemimpin yang menawarkan pembaharuan. Pada titik inilah terkonstruksi krisis yang paling berbahaya, yakni saat para pemimpimpin tidak menyadari apa makna kepemimpinan dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap sosok pemimpin mereka. Jika demikian, pemimpin yang seperti apa yang dibutuhkan di tengah krisis ini.

Dicari: Seorang Pemimpin yang Berbahaya

Skeptisisme masyarakat terhadap sosok pemimpin ideal di tengah krisis salah satunya karena masyarakat menyaksikan kepalsuan para pemimpin mereka. Sendjaya, dalam bukunya Kepemimpinan Kristen Konsep, Karakter, Kompetensi (2004: 16) menyebut bahwa mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam bidang pemerintahan, bisnis, universitas, bahkan gereja, acapkali mengecewakan. Para kepala institusi tersebut, menurut Sendjaya, tidak tepat disebut sebagai pemimpin karena sebagian besar dari mereka tidak melakukan fungsi kepemimpinan dengan semestinya. Kepemimpinan saat ini cenderung dimaknai sebagai posisi bukan fungsi.

Krisis multidimensi yang terjadi terkadang justru memicu para pemimpin untuk meninggalkan fungsinya yang sesungguhnya untuk memimpin rakyat keluar dari krisis. Alih-alih melaksanakan fungsinya, mereka justru bertransformasi menjadi pribadi tendensius untuk kepentingan mereka sendiri. Dari beberapa literatur, penulis merangkum beberapa golongan pemimpin yang berbahaya bagi rakyatnya. Pertama, golongan investor. Mereka ini terlena dengan visi berinvestasi untuk masa depan mereka sendiri. Dengan demikian, ketika sudah tidak menjabat sebagai pemimpin, mereka tetap bisa hidup dalam zona nyaman yang telah dibangun. Sebagai contoh, sebut saja seorang raja yang demi status quo nya rela membunuh bayi-bayi yang berusia kurang dari 2 tahun hanya karena terancam oleh lahirnya Mesias. Perkenalkan, nama raja ini adalah Herodes[3]. Ada juga golongan pemimpin ‘suam-suam kuku’. Artinya, pemimpin ini memang melaksanakan tugas sebagai pemimpin dengan sewajarnya namun tidak memiliki visi dan misi yang kuat sehingga rakyat yang dipimpinnya tidak jua beranjak dari krisis. Penulis Amsal mencatat, orang yang tidak memiliki arah yang jelas dalam hidupnya masuk dalam kategori orang liar (Amsal 29: 18). Ada juga tipe pemimpin populis. Golongan ini berpandangan bahwa posisi pemimpin adalah posisi yang populer. Dengan menduduki posisi ini, popularitas mereka meningkat berbanding lurus dengan terpenuhinya kepentingan-kepentingan pribadi lainnya. Golongan lain adalah pemimpin otoriter yang seringkali disebut sebagai pemimpin yang menakutkan. Niccolo Machiavelli dalam karyanya yang terkenal The Prince, menulis bahwa manusia senantiasa memiliki ambisi terhadap kuasa, dan setelah memiliki kuasa cenderung menyalahgunakan kuasa tersebut untuk kepentingan diri sendiri (Sendjaya, 2004: 89). Mudah saja menyebutkan contoh dari golongan ini, perkenalkan: Adolf Hitler dan Soeharto. Beberapa golongan pemimpin ini bisa disebut sebagai pemimpin yang berbahaya. Namun, perkenankanlah penulis mengajukan suatu rahasia, yakni bahwa untuk mengatasi krisis, diperlukan pemimpin yang lebih berbahaya dari mereka ini.

Pemimpin yang paling berbahaya adalah pemimpin yang dapat membahayakan posisi golongan pemimpin—yang telah disebutkan—di atas. Pemimpin ini akan menggelisahkan orang-orang yang berada dalam posisi nyaman; dan menyamankan orang-orang yang gelisah. Hanya ada satu golongan pemimpin yang dapat dikategorikan pemimpin yang paling berbahaya, yakni pemimpin yang datang dan dibentuk oleh Allah sendiri (Yeremia 1: 5). George Barna (1997: 27) mencetak dengan huruf besar bahwa seorang pemimpin Kristen yaitu seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk memimpin dengan karakter seperti Kristus. Jika pemimpin ini datang dari Allah sendiri, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat membantah karyanya dan mengkudeta kedudukannya. Pemimpin inilah yang disebut sebagai pemimpin yang paling berbahaya. Pemimpin golongan inilah yang dapat melakukan pekerjaan kepemimpinan sejati di tengah krisis.

Dangerous Leader for The Crisis: One Idea Man

Ketika penulis mencoba mengetikkan kata “karakter pemimpin Kristen” dalam search engine google ada 136.000 artikel yang muncul. Sebagian artikel menyebutkan lebih dari 10 karakter untuk menjadi pemimpin kristen. Namun, penulis terkesima dengan salah satu kalimat yang dikutip oleh Sendjaya dalam tulisannya (2004: 39), Nothing is more dangerous than an idea, when a man has only one idea. Sederhananya, orang yang berbahaya adalah orang yang hidup dengan satu ide saja. Menurut Sendjaya, orang yang hidup dengan satu ide bukan hanya mengejar ide tersebut sampai ia menguasainya melainkan ide tersebut menguasai dia, lalu menular bagai epidemi, dan menguasai orang lain (Sendjaya, 2004: 40). Meminjam istilah Sandjaya, salah satu karakter penting yang harus dimiliki pemimpin Kristen yang ‘berbahaya’ untuk melayani di tengah krisis adalah one idea man atau “manusia dengan satu visi”.

George Barna mendefinisikan visi sebagai gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang lebih baik, yang disampaikan Tuhan kepada para pemimpin yang adalah juga hamba-hamba pilihanNya, yang didasari pemahaman yang tepat mengenai Tuhan, diri sendiri, dan situasi (Barna, 1997: 55). Pesan terakhir Yesus sebelum naik ke surge dalam Matius 28: 19-20 secara jelas memberikan penjelasan mengenai visi orang Kristen secara umum: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Namun demikian, untuk menjadi pemimpin yang visioner, tidak bisa hanya berhenti pada perenungan atas ayat ini. Pemimpin yang visioner harus menghidupi visinya secara kongkrit. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yakni memahami konsep, memahami arti visi, memiliki visi, menjadikan visi itu sebagai kenyataan, menyebarluaskan visi, membuat orang tertarik pada visi ini, mewujudkan visi dalam tindakan, kemudian memurnikan visi, dan memiliki visi itu dalam hidupnya (Barna, 1997: 64-72).

Bagaimana dengan premis bahwa pemimpin “satu visi” atau one idea man saja yang dapat melayani di tengah krisis? Pengalaman penulis berinteraksi dengan seorang gembala komunitas anak-anak jalanan memberikan gambaran mengenai hal ini. Bapak gembala ini adalah mahasiswa sastra inggris yang sangat berprestasi dari suatu universitas negeri paling terkemuka di Indonesia dan Master of Theology dari suatu universitas swasta. Suatu saat, beliau mendapat panggilan untuk melayani di tengah krisis bangsa Indonesia ini. Kegamangan sempat mampir dalam proses hidup beliau. Prestasinya terlampau mengagumkan untuk hanya menjadi seorang pemimpin rumah singgah bagi anak-anak jalanan seperti yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya. Beliau mulai bergumul untuk melepaskan jas almamaternya yang bergengsi itu dan mulai berkarya bersama Yesus. Setelah melakukan karya ini selama beberapa tahun, tanpa menginginkan posisi lainnya, beliau menyaksikan beberapa anak jalanan bertobat dan mengalami hidup baru di tengah-tengah krisis yang kian parah. Bahkan, beberapa dari anak-anak jalanan ini sudah mulai terjun dalam pelayanan untuk melayani sesamanya. Sampai saat ini pelayanan beliau sudah meluas sampai ke Jogjakarta dan tengah merintis di Surabaya. Bapak gembala ini setia dengan satu ide, satu visi yang datang dari Tuhan. Walaupun kedudukan dan prestasinya gilang gemilang, beliau tidak pernah ‘melirik’ posisi lain yang di mata dunia lebih agung. Beliau benar-benar menghidupi visi dari Tuhan melalui karya nyata di dunia. Tidak ada visi lain dalam hidupnya selain membimbing anak-anak jalanan ini mengenal Kristus dan mengalami pembaharuan pikiran mereka.

Ilustrasi yang senada dapat disaksikan dari perjuangan Romo JB Mangunwijaya dalam mengatasi krisis pendidikan di Indonesia. Romo Mangun, demikian beliau akrab disapa, merupakan seorang arsitektur lulusan Belanda. Kecerdasannya luar biasa. Karya-karyanya mengagumkan banyak orang. Namun, Romo Mangun menanggalkan jubahnya dan turun ke bantaran-bantaran sungai untuk mengajar anak-anak girli atau pinggir kali dalam menemukan tujuan hidup mereka. Visi memperbaiki pendidikan di Indonesia  diusung Romo Mangunwijaya hingga akhir hidupnya. Beliau tidak memiliki tujuan atau ide lain dalam hidupnya walaupun ada peluang yang sangat potensial untuk menjadi tokoh politik, sastrawan ternama, atau arsitek terkenal. Beliau hanya ingin melakukan satu visi yang Tuhan telah taruh di dalam hidupnya.

Kisah serupa juga mewarnai kehidupan tokoh sepanjang masa, seperti: Bunda Theresa, Martin Luther King Jr., sampai Paulus. Nasihat-nasihat Paulus bagi jemaat-jemaat yang dipimpinnya sungguh menggambarkan bahwa kehidupan Paulus hanya untuk menggenapi satu visi. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi (I Korintus 9: 24-25). Tujuan Paulus berlari hanya untuk meraih satu hal, yakni suatu mahkota yang abadi, tidak ada yang lain.

Pemimpin-pemimpin dengan satu visi ini membayar harga dengan sangat mahal untuk menghidupi visi itu dalam diri mereka. Mereka tidak jarang ditolak oleh dunia, dikucilkan, dicaci maki, bahkan tidak dianggap karena idenya atau visinya yang bertolak belakang dengan yang visi dunia. Contoh yang paling menarik dalam catatan sejarah adalah kisah Tuhan Yesus sendiri. Sejak sebelum Dia dilahirkan hingga masa kematiannya tiba, Dia telah dianggap sebagai manusia yang berbahaya bagi stabilitas negara. Kelahirannya menggusik ketentraman Herodes yang selama itu memerintah dengan sangat kejam. Kehidupan dan karyanya pada waktu dewasa pun mengganggu kenyamanan para pemimpin agama pada masa itu dengan ide tunggalnya mengenai Kerajaan Allah (Sendjaya, 2004: 41). Alhasil, Yesus ditolak karena dianggap sangat berbahaya. Bahkan, mereka (para pemimpin agama itu) mengantarkan Yesus sampai di kayu salib. Kehidupan Yesus menjadi contoh yang nyata bahwa pemimpin yang berbahaya adalah pemimpin dengan satu ide tunggal yang datang dari Allah dan berani membayar mahal atas tercapainya visi itu.

Melayani di Tengah Krisis: Memimpin dengan Kain dan Basi

Secara pribadi, penulis sangat tertarik dengan tema jurnal kali ini: Mencari Pemimpin 2009: Melayani di Tengah Krisis. Konsep kepemimpinan Kristen memang tidak pernah lepas dari konsep pelayanan. Melalui Markus 10: 45, Yesus secara jelas menerangkan bahwa kedatanganNya ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Sendjaya menggambarkan keadaan ini dengan mengatakan bahwa esesnsi pemimpin Kristen bukan pada pangkat, gelar, dan posisi, melainkan pada “kain dan basi” (2004: 29). Artinya, alih-alih sebagai seseorang populer, pemimpin Kristen sejati justru akan menganggalkan jubahnya, mengikat kain lenan di pinggangnya, lalu membasuh kaki orang lain seperti yang dilakukan Yesus.

Memimpin dengan Kain dan Basi. Inilah konsep kepemimpinan yang paling tidak populer namun sangat efektif. Kepemimpinan seperti inilah yang dikehendaki dan dilakukan oleh Yesus. Yesus benar-benar memberikan contoh yang riil di masa hidupnya. Bahkan, Dia berkali-kali menasihati para murid atas apa makna pemimpin yang sesungguhnya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kami, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Matius 20: 26-28). Yesus memilih untuk melakukan pelayanannya secara pragmatis dengan kain dan basi, bukan hanya dengan sintesis pemikiran, ide-ide brilian, atau kata-kata manis. Jangan salah sangka dahulu, penulis tidak mengatakan bahwa berkotbah itu tidak perlu atau kurang baik, namun dari contoh ini, Yesus ingin menekankan bahwa setiap pemimpin harus memiliki sikap praktis, bukan inklusif. Dia harus mencari dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi visi hidupnya dan menghidupi visi itu melalui karya nyata di dunia ini.

Bunda Theresa dan JB Mangunwijaya, seperti disebutkan di atas, merupakan dua di antara sedikit pemimpin Kristen yang meneladani hidup Kristus. Bunda Theresa rela melepaskan jubah biarawatinya dan turun ke rumah-rumah warga miskin di India. Bunda Theresa bersentuhan dengan mereka untuk membantu masyarakat secara praktis keluar dari krisis mereka. Untuk menggambarkan tujuan hidupnya, Bunda Theresa menulis, “By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus”[4]. JB Mangunwijaya pun dikenal sebagai pejuang pendidikan yang handal. Beliau tidak hanya menulis banyak buku dan kritik tentang pendidikan tetapi secara praktis turun ke bantaran-bantaran kali dan turut mengajar anak-anak yang membutuhkan. Saat ini telah berdiri sekolah JB Mangunwijaya bernama SD Eksperimental Mangunan yang terletak di Kalasan, Yogyakarta. Sekolah ini, sampai sekarang, telah menampung ratusan siswa yang tidak mampu membayar sekolah. Bahkan, ada beberapa siswa berprestasi dari sekolah ini yang adalah anak jalanan. Begitu pula dengan kolega yang dipimpin Mangunwijaya. Kini, ratusan orang telah menyatakan diri bergabung dengan visi Mangunwijaya dan berjuang untuk pendidikan di Indonesia melalui sekolah-sekolah eksperimental. Masih banyak kiranya contoh lain mengenai pemimpin yang diharapkan untuk melayani di tengah krisis. Beberapa tokoh-tokoh ini mewakili premis bahwa pemimpin yang dirindukan saat ini adalah pemimpin dengan satu ide dan menghidupi ide itu dalam karya nyata dalam melayani di dunia.

Tulisan ini pun diawali dan diproses berdasarkan satu ide bahwa untuk memimpin bangsa atau dunia ini keluar dari krisis, diperlukan pemimpin yang berbahaya. Pertama, Posisi dan jabatan pemimpin ini tidak dapat disanggah atau digulingkan oleh pihak manapun karena dia berasal dari Allah sendiri. Selanjutnya, pemimpin ini hidup hanya dengan satu ide atau satu visi yakni untuk menggenapi panggilan Tuhan yang telah ditaruh di dalam hidupnya. Dia akan hidup dengan visi itu dan visi itu akan menghidupi dia sehingga menjalar dengan pengaruh yang sangat luas kepada orang lain. Visi inilah yang membuat orang tidak akan memikirkan hal lain namun mencurahkan tenaga, waktu, hati dan konsentrasi untuk membuat visi itu hidup dalam dunia nyata.

Di atas semuanya, pemimpin yang tengah dibutuhkan dunia yang mengalami krisis ini adalah pemimpin yang melayani, yang memikul salib, dan mau mati di atas kayu itu agar dunia dipulihkan dari krisis. Seperti tertulis dalam Yohanes 12: 24, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan matim ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Walaupun pemimpin-pemimpin ini menderita dalam hidupnya atau ditolak oleh dunia, mereka akan membangkitkan lebih banyak pemimpin-pemimpin dengan visi serupa. Di tengah krisis ini, dunia sedang membutuhkan pemimpin yang berbahaya, yang akan menggelisahkan manusia di zona nyamannya; namun menyamankan orang banyak yang tengah gelisah.

Referensi:

Sendjaya. Kepemimpinan Kristen (Konsep, Karakter, Kompetensi). Yogyakarta: Kairos Books. 2004

Meyer, Joyce. Pemimpin yang Sedang Dibentuk: Hal-hal Penting untuk Menjadi Pemimpin yang Berkenan di Hati Allah. (Lukas Eklopas Weni, penerjemah). USA: Access Sales International, Inc. 2000. Jakarta: Immanuel. 2004.

Barna, George (Ed.). Leaders on Leadership (Pandangan Para Pemimpin tentang Kepemimpinan). Malang: Penerbit Gandum Mas. 2002

Wofford, Jerry C. Kepemimpinan Kristen yang Mengubahkan. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 1999

Mangunwijaya, JB. 2004. Pendidikan Pemerdekaan. Jogjakarta: DED dan Misereor/ KZE

Terpanggil Bagi Kaum Miskin: Kisah Singkat Pelayanan Bunda Theresa oleh R.S.Kurnia http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

Artikel Masih Caleg sudah Terlibat Kriminalitas oleh Prija Djatmika dalam http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=56319

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29518&Itemid=62


[1] Berdasarkan observasi penulis pada papan-papan iklan di sepanjang jalan Yogyakarta, Solo, Surabaya. Observasi juga ditambah dengan melakukan surfing data melalui internet. http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29518&Itemid=62

[2] Ada yang mengatakan bahwa dengan menjadi wakil rakyat, modal yang digunakan untuk berkampanye akan kembali berkali-kali lipat. Salah satu pendapat ini ditulis dalam artikel Masih Caleg sudah Terlibat Kriminalitas oleh Prija Djatmika dalam http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=56319

[3] Cerita Raja Herodes diambil dari Matius  2: 3-12

[4] Diambil dari artikel berjudul Terpanggil Bagi Kaum Miskin: Kisah Singkat Pelayanan Bunda Theresa oleh R.S.Kurnia dalam http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

One response »

  1. Benar-benar tulisan yang berbahaya, menggelisahkan orang-orang yang berada dalam posisi nyaman; TETAPI MENYAMANKAN HATI ORANG-ORANG YANG GELISAH. lUAR bIASA. Teruslah Berkarya.GBU
    -Penggemar Setiamu-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s