Wanita bukan Pasir

Standard

Ada seorang teman berkata kepada aku, “Aku sedang berbunga-bunga”. Pantas saja, dia baru saja menemukan pasangan hidupnya. Beberapa waktu yang lalu mereka bertunangan. Aku bisa merasakan bunga-bunga itu karena aku juga pernah mengalaminya. Tapi, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan suatu rahasia padanya. Aku bertanya, “Kamu yakin akan selalu berbunga-bunga seperti ini?”. Aku menunggu jawaban yang paling realistis dan rasional darinya. “Yakinlah, hidup kami akan selalu dipenuhi bunga-bunga”. Aku benar-benar tidak bertemu dengan rasionalitas pada jawabannya. Aku timpali, “Tapi, ada waktunya jalan kalian tidak melewati padang berbunga”. Aku sangat berharap, rasionalitas, please. “Ya enggaklah, walaupun jalannya tidak berbunga-bunga, tapi hati kami akan selalu berbunga-bunga”. Seolah-olah aku tidak pernah mengalami bunga-bunga ‘mula-mula’ ini, aku kembali bertanya, yang kali ini membuat air mukanya berubah surut, “Tapi, bunga-bunga kalian pun suatu saat bisa layu. Bahkan, acapkali kalian menemukan bunga itu membusuk, membau tak berupa”. Dia diam. Ada sedikit penyesalan di ceruk hatiku.

Entah kenapa aku menjadi oposan terhadap pernyataan temanku di awal percakapan tadi. Sepertinya aku tidak ingat lagi bagaimana pertama kali merasakan bunga-bunga “mula-mula” itu. Bunga-bunga yang aromanya membuatku tak bisa memejamkan mata. Kelembutannya tidak mendorongku untuk merasa lapar. Yang semerbaknya menyelubungi hidupku dengan sebuah ideologi: bahagia. Aku sungguh lupa. Aku terlena dengan perasaanku sendiri, yang kala ini serupa kehampaan. Bunga-bunga hilang begitu saja, menguap bersama pernyataan-pernyataan protesku.

* * *

Bintang dan matahari berjauhan. Malam dan pagi membuat mereka sukar memadu rindu.

Bintang berkata pada matahari, “Dapatkah kau memelukku saat ini? Angin malam murka padaku, aku sungguh dibuatnya kedinginan”.

Tanpa ragu, matahari menjawab dengan penuh percaya diri, “Tentu sayang, cahayaku akan menghangatkan ragamu tiap malam. Aku bersamamu”.

Bintang kecil itu tersenyum disaput malu-malu. Lalu tidurlah ia dengan lelap dalam ayunan malam pekat.

Pagi harinya, matahari berkata pada bintang, “Aku berangkat bekerja ya. Jangan lupa isi perutmu dengan zat-zat bergizi. Aku mencintaimu”.

Bintang, berharap dapat memeluknya, dia pun berkata, “Ijinkan aku kaukecup, sedikit saja”. Dengan siaga, matahari menjawab, “Tentu sayang, aku mengecupmu sekarang”.

Malam tiba, bintang kecil harus bergegas menunaikan tugasnya. Menghiasi kelam langit hari itu dengan kerlap-kerlip cahayanya. Dia berpamitan kepada matahari, “Aku bekerja. Jaga diri baik-baik ya”.

Jawab matahari, “Iya, Sayangku. Biar antar kau pergi ya”.

Kehidupan mereka sungguh indah. Walalupun malam dan terang memisahkan, mereka merasakan kesatuan yang membahagiakan. Sampai, suatu ketika, bintang merasa sangat kesepian di tengah realitas semu itu. Ada begitu banyak protes yang membuatnya tidak ingin mendengar apa pun. Dia hanya ingin benar-benar dipeluk.

Lalu, bintang kecil itu berkata pada matahari, “Maukah kau memelukku, aku sangat letih”.

Seperti biasa, matahari menimpali, “Tentu, sayang. Kupeluk ya”.

“Dapatkah aku mendengar suaramu bersenandung untukku?”.

“Selalu, sayang, aku menyanyi untukmu”.

“Maukah engkau datang kemari? Aku sangat membutuhkanmu”.

“Baiklah, Sayang, tengoklah, aku di sampingmu”.

Dan, “Maukah engkau sungguh-sungguh datang kemari dan sungguh-sungguh memelukku? Dan bukan sekadar menenangkanku dengan semua kalimat semu itu? Aku benar-benar membutuhkanmu”.

Dan matahari tidak menjawab. Dia tidak bisa datang, malam dan pagi membuat jarak jauh di antara mereka.

Lalu, lirih, matahari berkata, “Aku memang tidak bisa datang, tapi bukankah hati kita dekat”.

Terlalu sering Bintang mendengar ucapan ini, dia menimpali, “Aku tahu, tapi kedekatan itu perlu diekspresikan. Jika tidak, dia akan mati dan tidak mewujud”.

Matahari protes, “Bagaimana mungkin? Aku tidak sanggup melawan posisi kita. Aku di sini, di pagi hari, engkau di sana, jauh di malam. Bagaimana aku bisa datang padamu?.

Lirih, bintang menjawab, “Aku tahu ini mustahil bagimu saat ini. Tapi ingatkah kau? Saat engkau berpuasa agar dewa mengirimku padamu? Saat engkau berlari dan mengejarku? Saat engkau rela dihukum ketika jatah makan siangmu kau berikan padaku? Apakah itu semua bukan mustahil? Sampai akhirnya aku melihatmu, dan memohonmu menjadi pasanganku kepada sang dewa. Aku merindukan perjuanganmu. Aku merindukan kau kejar, kau tangkap dan kau dekap dengan segenap energimu. Aku bukan pasir, seperti yang kau bilang, jika digengam aku akan berjatuhan, berceceran. Aku bintang, bintang kecil, yang jika tak kau tangkap dan kau gengam erat, aku akan lari segesit mungkin dan kembali pada eksistensiku sendiri”. Ada duka yang mendalam ketika mengucapkan kalimat-kalimat ini, kenapa? Karena ucapan itu hanya diucapkannya dalam hati saja. Dia terlalu takut untuk menyatakannya. Dia tak berani melawan dalih-dalih dan fakta bahwa ucapan itu sudah disampaikannya ribuan kali dan belum berdaya guna. Dia hanya diam sekarang. Hanya diam.

Hah, cerita yang sedih sekali. Cerita ini menginspirasiku mengenai kondisi berbunga-bunga atau bunga membusuk yang kubahas kemarin dengan temanku. Tesisku, sebuah cinta mula-mula itu pasti, absolut, mutlak, selalu indah dan penuh perjuangan. Setelah itu, mengendor bagai kolor kakek yang sudah dipakai puluhan tahun. Hah, kenapa ya, wanita selalu ingin kisah cintanya berbunga-bunga, ekspresif? Kenapa mereka selalu rindu dikejar-kejar dan diperjuangkan dengan wujud yang jelas? Tesisku: ya, karena mereka ternyata bukan pasir.

Prima, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s