The Incredible

Standard

Aku kembali lagi melihat deretan toko-toko mewah malam ini. Tidak terasa, baru tiga hari merantau, aku sudah kembali lagi ke tempat ini dan menyaksikan sebuah ironi. Ironi yang menggilas hatiku sehingga hancur berkeping-keping. Ironi yang tidak mampu aku hindari. Ironi yang membawaku kepada suatu pemikiran baru bahwa sebuah tujuan perjalanan bukanlah sekadar tempat yang baru namun sebuah kaca mata baru untuk melihat dunia. Ironi ini pula yang meningatkan aku pada kesombongan yang selama ini terpelihara dengan tentram di dalam hidupku. Bagaimana aku menyampaikan pengalaman ini dengan lugas? Rasanya sulit sekali. Berderet metafor berseliweran di pikiranku, tidak sabar menunggu giliran dituliskan dalam rentetan sejarah perjalanan singkat ini.  Ijinkan aku menuliskannya. Jika sulit dipahami, ingatanku siap memanggil memori dan menceritakannya langsung kepada siapa pun yang berkenan mendengar.

 

Permulaan perjalanan adalah sebuah pertanyaan, “Akankah aku berjalan?”; diikuti sebuah keputusan, “Aku mau berjalan”, atau “Aku tidak jadi berjalan”. Dalam kasusku, aku memutuskan untuk berjalan dengan mantap, super mantap. Kenapa? Ada dua kemungkinan untuk menjawabnya, pertama karena memang sifat bawaanku yang selalu tidak pernah pikir panjang, straight to the action; atau ke dua karena lama sudah aku menggumulkan tanda-tanda, merenda sinyal-sinyal, dan batinku memutuskan: inilah jawabannya. Kedua hal ini menjadi variabel penting yang memengaruhi keputusanku untuk terus berjalan dengan super mantap. Aku berjalan.

 

Dengan modal nekat – baru-baru seorang teman menyebut aku benar-benar nekat – aku pergi ke negri itu. Negri yang jika kubaca melalui media baru adalah negri yang kaya akan budaya, negri yang tersohor karena kekuatan local wisdomnya, negri yang selalu menarik hatiku untuk datang. Bahkan, sebagai promosi, mereka menambahkan adjective di depan namanya: incredible. Menyebutnya, aku merasa sangat bangga. Aku semakin tidak sabar untuk mencengkeramainya.

 

Dua hari cukup untuk mengucapkan perpisahan dengan tempat kelahiranku. Tempat yang panas dan penuh sesak manusia. Tempat di mana aku bisa melihat dengan jelas batas si kaya dan si papa. Negri yang indah namun gersang. Negri yang damai namun kering. Ah, tanah tumpah darahku. Aku pamit. Begitu saja mengalir frasa-frasa kekecewaan terhadap negri ini meluncur dari pikiranku mengiring perpisahan ini. Pikirku, aku akan segera bertemu dengan nuansa baru. Nuansa bening. Negri yang siap menjadi tumpahan keingintahuanku mengenai rahasia kehidupan dan kesantunan.

 

Incridible. Ajektiva ini benar-benar mengacaukan pikiranku sebelum kunaiki burung raksasa itu. Hatiku semakin tidak tahu malu untuk merasa tergesa-gesa bertemu dengan singasana rajanya, hijau rerumputannya, damai penduduknya, keramahan orangnya, teduh tutur katanya, kaya budayanya. Ah, incredible. It will be so incredible before and after my mind. Lalu aku mendaftarkan diriku dalam kendaraan raksasa itu. Aku siap terbang dan melihat betapa yang virtual di pikirku itu menjadi benar-benar bisa disentuh dan dibaui.

 

Aku telah berada di ruangan luas itu. Semua berkaca mewah, luas sekali. Namun, aku merasa sangat sesak. Ada aroma asing yang tidak bisa diterima oleh indra penciumanku. Aroma semacam dupa yang kuat menyengat, menutup pelan-pelan lubang hidungku. Sedang dari dalam mencoba merasuk dan mengagalkan transport udara dalam rongga dadaku. Sesak sekali. Kenapa ini?  Aku mencoba mencari udara segara, aku meraih kuat pegangan untuk keluar; tidak ada yang mengerti maksudku. Sebagian geleng-geleng, sebagian lagi geleng-geleng, sebagian lagi geleng-geleng, sebagian lagi sibuk dengan urusannya masing-masing, sebagian lagi geleng-geleng. Aku sungguh tidak mengerti. Tampaknya bahasaku tidak bisa mereka terima. Aku merasa di dalam ruangan manusia asing. Atau akulah manusia asing tersebut? Aku mencoba bertahan, ah, betapa aku membutuhkan oksigen.

 

Kami sudah berada di dalam burung raksasa itu. Aku duduk ‘menyempil’ di paling ujung dengan gaya paling nyentrik dan nafas yang terengah-engah karena sesak tadi. Tidak ada satu pun bisa kuajak bicara, kecuali senyum dan geleng-geleng yang aku tidak tahu apa artinya. Aku berharap ada yang mau mengajakku bicara. Kenapa tidak? Aku paling nyentrik dan pasti mereka ingin tahu sesuatu dariku. Sepuluh menit, satu jam, empat jam, sampai burung raksasa itu lelah dan masuk dalam sarangnya, tak ada satu pun yang menegur. Akhirnya aku keluar dengan lunglai. Inilah tahap pertama mengelupas kesombongan lapis terluar. Aku bukan siapa-siapa di tengah-tengah kumpulan manusia asing ini. Walaupun aku paling nyentrik, paling modern, aku tidak berarti apa-apa untuk mereka.

 

Kami menuju tempat pemeriksaan. Mereka melihatku dari atas ke bawah dengan teliti. Tepat seperti yang kubayangkan, akan terjadi sesuatu dengan proses ini. Semua sudah lalu, hanya aku yang tinggal dan menunggu mereka mengatakan, “Oke, kamu diijinkan masuk ke negri ajaib ini”. Namun kalimat itu tidak akan muncul jika tidak ada seorang dari negri singa menolong. Sesudahnya, dengan penuh rasa ingin tahu, dia bertanya sipu-sipu, ada urusan apa aku datang ke negri ini. Aku jawab saja, aku ingin menimba ilmu. Lalu sipu-sipunya seketika berubah menjadi peranjat yang hebat. Dia menanyakan dari mana asalku. Aku menjawab, aku dari negri seberang, “Itu, sebuah negri hijau yang tampak bak jamrud”. Menyebutnya demikian, dia segera mengerti dan peranjatnya berubah menjadi sinis. Kenapa dari negri agung itu kamu mau menimba ilmu di negri ini. Bukankah di negrimu kaya pengetahuan. Ganti aku yang mengalami peranjat hebat. Pikirku, negri ini sangat kaya ilmu, budaya, bahkan mereka menyebutnya incredible. Aku tidak mampu menjawabnya. Perpisahan singkatku dengan negriku, yang berarti juga pencarian singkat mengenai informasi di negri ini, membuatku hanya bisa tutup mulut dan tersenyum, seolah yakin dengan misiku ini. Dia mengantarku dan memastikanku dijemput dengan benar. Dia bertanya dalam bahasa aneh kepada orang yang menjemputku. Konon, dia mengecek apakah tidak ada kepalsuan pada orang yang menjemputku itu. Baru-baru aku tahu bahwa ada ribuan prasangka di sanubari negri yang baru kudatangi ini. Namun itu baik adanya, orang-orang akan lebih berhati-hati, detil dalam mengobservasi segala sesuatu, bijak dalam mencari dan menggunakan data dan fakta untuk memutuskan. Sementara di negriku, aku sempat dipaksa masuk ke ruang pendataan TKI ketika keluar dari sarang burung raksasa. Tanpa ditanya, tanpa diperiksa, mereka langsung memutuskan bahwa aku ini TKI. Dari mana keputusan itu berasal? Tentulah dari pandangan mata terhadap fisikku yang kumuh karena kelelahan waktu itu. Jahat sekali, berarti demikianlah TKI di mata mereka, kumuh. Ah, masa bodoh dengan pengalaman itu.

 

Aku mengitari kota itu. Panas, gersang, kumuh. Sepanjang perjalanan aku berdialog dengan angin dan debu. Apa saja yang keluar dari mulut sang sopir, tidak bisa kupahami. Aku sekarat. Incridible. Kota ini benar-benar memporakporandakan keangkuhanku. Aku bukan siapa-siapa.  

 

Beberapa hari aku mencoba bertahan. Di satu sisi aku muak dengan segala tawar menawar yang membudaya sudah. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, aku harus menawar penawaran orang karena mereka pun mencari keuntungan. Baru-baru aku tahu, itulah salah satu sangka mengapa mereka begitu berhasil. Negri ini tidak pernah membiarkan kesempatan sekecil apapun untuk meraih keuntungan, lewat begitu saja. Mereka akan mengejar dengan giat sampai dapat. Aku lelah hari itu. Aku lelah melakukan penawaran sepanjang waktu. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan di negriku. Mau ini, tinggal bayar. Mau itu, tinggal ambil. Di negri ini, semuanya butuh tenaga, waktu, dan misi yang tangguh untuk mendapatkannya. Aku K.O lagi. Incridible. Akankah aku mampu menjamai daya juang mereka ini?

 

Sehari berikutnya, aku mencoba diam dan merenda semua fakta yang aku temui di pinggir-pinggir jalan, di ceruk-ceruk pasar, di dalam gedung-gedung tinggi, di stasiun kereta kumuh, di dekat pintu bus kota reyot. Incridible, where are you? Negri ini sangat tampak miskin dalam kacamataku sama sekalit idak seperti yang terbaca dalam media baru. Kacamataku memberitahu bahwa kemiskinan dicirikan oleh pakaian yang kuno, percakapan yang tradisional, mental yang urakan, kendaraan yang tidak bermesin, rumah dan jalan-jalan nan kumuh, dan berbagai atribut di bawah standar rata-rata yang dikenakan manusia. Astaga, betapa miskin negri ini. Tapi lima menit kemudian, ketika aku melepas kacamata tua ku yang kubawa dari negriku, lalu menggantinya dengan milik tetangga sebelah kamarku, aku melihat sesuatu yang berbeda. Di balik pakaian, percakapan, mental, kendaraan, rumah, jalan-jalan nan kumuh itu, aku menyaksikan rahasia hidup yang berkilauan. Di sana terpancar persaudaraan yang kuat, tolong menolong yang hebat, ilmu yang mentradisi, kecintaan akan budaya sendiri yang begitu dalam, kerendahhatian yang indah dan inilah benteng dari serangan kapitalisme dan kemunafikan dari dunia luar. Semua itu jelas terlihat, tidak tertutup oleh kilau atribut-atribut fisik yang lain. Bayangkan, hampir semua orang di negri ini memakai pakaian tradisional mereka yang nota bene sangat kuno dan tidak fashionable. Tapi lihatlah, industri pakaian dalam negri mereka sangat berkontribusi bagi peningkatan ekonomi negri. Sementara, di negri ku, berita gulung tikar pengusaha pakaian tradisional santer terdengar. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Betapa selama ini aku masih memikirkan baju apa yang hendak kupakai, ke mana aku akan menghibur diri, siapa temanku, apa merk mobilku. Sementara negri ini sudah melesat jauh dengan ilmunya tanpa peduli pada hal-hal remeh seperti itu. Inikah yang mereka sebut incredible? Sungguhkah aku telah mengalaminya?

 

Aku merasa tidak layak di tempat ini. Aku harus pulang dan memberi tahu negriku tentang ini semua. Aku pulang dengan membawa kacamata baru untuk melihat segalanya. Sebuah kacamata baru yang menyibakkan ironi. Ironi yang menggilas hatiku sampai hancur berkeping-keping sembari memberi tempat untuk kesombonganku mengundurkan diri. Incredible.  

2 responses »

  1. miss, saya suka suka suka sukaaaa baca tulisan kaya gini miss. nyesel, tau gini dari dulu waktu miss promosi alamat blog di kelas pertama kali saya buka😛 tapi bagus miss🙂 sangat!

  2. Dear Joyce, thanks ya untuk commentnya. Jangan kapok ya berkunjung ke sini….see you….God bless you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s