Skripsi yang Berkemenangan

Standard

“Saya menuntaskan skripsi ini dengan gemilang bukan karena pembimbing saya yang termasyur dan sangat jenius itu; bukan karena saya sanggup; bukan pula kebaikan dosen penguji. Saya menuntaskan masa akhir saya di bangku kuliah dengan gemilang karena pertolongan Bapa semata” (Primasanti, March, 2008).

 

Mengingat dengan pasti setiap kata yang saya ucapkan setelah dinyatakan lulus kuliah sih tidak, namun penggalan kalimat di atas setidaknya menggambarkan perasaan saya kala itu. Pertama kali tahu bahwa saya dibimbing seorang dosen jenius yang baru saja pulang dari menjemput gelar doktornya di German membuat saya merasa sangat tenang ketika akan mengerjakan skripsi. Apalagi melihat IPK saya yang,  misalnya skripsi saya mendapat C pun, saya tetap akan cumlaude. Besar kepala saya semakin menjadi-jadi tatkala itu. Sama sekali tidak ada rasa takut dan gentar. Dengan rajinnya saya melahap puluhan buku setiap minggu. Akhirnya, skripsi itu selesai dengan super kilat.

Tiba waktunya untuk buah pikir kilat saya itu diuji. Persiapan semua matang. Baju sudah dipersiapkan, presentasi sempurna. Tidak ada yang kurang. Nilai A ++ sudah melayang-layang di hadapan dahi ini semenjak memasuki ruangan ujian itu. Saya sangat percaya diri.

Jauh dari yang saya bayangkan. Di ruang sidang itu juga kesombongan saya diruntuhkan hingga melebur bersama air mata penyesalan. Semua kata-kata saya rasanya hanya melayang-layang, baru mau menyentuh telinga penguji,  tanpa permisi berbalik, kembali menerpa saya dengan sekonyong-konyong. Bahkan menerkam saya berkali ganda. Saya tidak mampu bicara. Ruangan itu membiru. Kalimat-kalimat teoritik yang sudah saya susun semalaman merana. “I am dying”.

Belum puas dibuat meleleh di ruangan itu, saya masih harus menunggu keputusan penyidang mengenai kelulusan saya. Dari luar ruangan samar-samar terdengar perdebatan yang semakin lama membuat saya yang justru semakin samar mendengar, hingga akhirnya tidak kuasa mendengarnya lagi.

Saya masuk ruangan itu kembali ketika mereka memanggil saya–walau sesungguhnya ada trauma yang menyergap saat pertama menyentuh gagang pintunya lagi. Saya mencoba tegar mendengar setiap keputusannya–walaupun saya sebenarnya tidak ingin mendengar? Kenapa? Karena semuanya pasti, pasti jauh dari yang saya bayangkan. Saya tidak siap menanggung malu pada diri saya sendiri.

Saya masih belum percaya kalau saya lulus dengan nilai itu. Saya hanya terdiam dan sesekali menangis. Menyesal.

*    *    * 

Cerita ini aku alami beberapa tahun lalu ketika aku lulus sidang skripsi. Memang kala itu kekecewaanku pada diriku sendiri sangat kuat mengusik. Namun, sekarang, dengan kacamata yang baru aku belajar dan begitu bangga dengan peristiwa tersebut. Waktu itu aku sangat mengandalkan kekuatanku, siapa yang membimbingku, performaku, dan prestasiku yang idealnya akan menolong aku mendapatkan nilai yang sempurna. Namun, aku benar-benar keliru. Andai aku mendapat nilai sempurna dan IPK ku nyaris bulat, jadi apa aku sekarang? Aku pasti akan telah jatuh ke dalam kesombongan yang membabi buta dan itu mengerikan sekali. Aku tidak ingin membayangkannya.

Pagi ini aku duduk di ruang sidang dan menyaksikan empat mahasiswaku diuji. Kenangan itu terulang kembali. Sebelum sidang, beberapa dari mereka bertanya, siapa yang akan menguji mereka? bagaimana kesiapan mereka sampai saat ini? Bahkan, sebagian mahasiswa lain mengatakan, jika dibimbing Ibu X atau Bapak Y pasti lulus, atau, jika diuji Bapak A atau Ibu B pasti nilainya jelek. Makannya, beberapa dari mereka ingin aku memberitahukan siapa dosen penguji mereka, dengan maksud supaya mereka bersiap-siap. Tapi aku tutup mulut (mungkin mereka menganggap aku jahat dan tidak koopreatif). Dalam hati aku berkata, “Bukankah mental anak Tuhan bukan mental mengandalkan manusia? Mental anak Tuhan tau siapa yang berjuang bersama dengan dia dan menjadikannya pemenang, bahkan lebih dari pemenang, yakni Tuhan sendiri. Aku sudah mengalaminya adek-adek. Aku pernah keliru dengan mengandalkan keberhasilanku pada diri sendiri dan orang lain; dan aku rindu kalian tidak mengulangi kesalahanku itu”. Aku sangat lega sekali, meskipun hanya terucap dalam hati. Ah, aku sangat rindu mereka mengerti sukacita ini. Rema ini sungguh-sungguh menyadarkanku pada kesalahanku di masa lampau yang selalu mencari pegangan lain untuk berharap, padahal Bapaku sudah mengulurkan tangan untuk menolong.

Adek-adekk u mahasiswa, demikian, untuk meraih skripsi yang berkemenangan, ada dua kunci: pertama, kenali siapa Bapamu, bukan seberapa berat skripsimu, atau seberapa hebat kamu mengerjakannya, atau seberapa jenius dosen pembimbingmu, atau seberapa baik pengujimu. Semua itu hanya kenyamanan semu.  Dia tahu yang terbaik buatmu. Bahkan, bila dalam pandangan mata manusia hasilmu itu buruk; Dia mereka-rekakannya untuk kebaikanmu. Dia benar-benar telah merancangkan kehidupan yang baik untukmu bahkan sebelum dunia dijadikan, sebelum skripsimu dikerjakan. Ke dua, kerjakan yang terbaik. Ujilah dirimu selalu dengan bertanya, “Apakah aku sudah mengerjakan yang terbaik?”, jika belum, kerjakanlah.  Yang ini bagianmu. “Karena setiap pekerja akan mendapatkan upahnya”. Siapa pun dosen pembimbing, penguji, seberapa berat pun perjuangan yang harus kamu lalui, Dia ada dan akan memberimu kemenangan. Kemenangan yang tidak bisa diukur dengan nilai A atau B, tetapi kemenangan sejati yang memerdekakan.

Untuk kalian yang telah lulus dengan gemilang, sungguh, aku sangat rindu kalian lebih mengenal siapa Tuhan kalian yang sangat berkuasa itu. Hiduplah melekat padaNya, bersyukur, berdoa, dan bersukacita senantiasa. Perkatakanlah, “Aku hanya hamba yang bodoh, yang hanya melakukan apa yang ditugaskanNya padaku”.

Aku sangat bangga pada kalian. Jadilah inspirasi bagi adek-adek kalian nanti dan tetaplah rendah hati.

 

I love u, Guys. Jesus bless you. 

3 responses »

  1. Miss Prime!

    Terharu loh, ehehe.. and totally agree!

    Aku jg mengalami hal yg mirip-mirip..
    Kesombongan.. hehe..
    Kalo semua berjalan seperti yg aku pikirkan, aku pasti gak bisa turun dari kesombongan, hehe..

    Thanks for share..🙂
    Selamat membagikannya ke adek” di kampus..
    Love u too!

  2. Thanks all sudah berkunjung, jangan bosan ya….kalian juga yang menginspirasi saya. Lanjutkan ya perjuangan kalian. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s