Reality So…

Standard

               Semakin banyak menonton acara televisi yang konon genrenya adalah “reality show” seharusnya kita semakin sadar bahwa di media tidak ada satu pun hal yang riil. Ayo, sekarang coba kita cari reality show yang benar-benar tanpa proses pengeditan, yang benar-benar riil. Seorang menjawab, “Ada, acara Minta Tolong. Itu kan benar-benar riil, tanpa rekayasa”. Nah, sebagai mata awam memang sulit untuk mencari titik rekayasa, tetapi akademisi komunikasi harusnya peka dong. Tayangan di televisi dikatakan direkayasa bukan melulu saat tayangan tersebut mengalami perubahan atau pengeditan, namun tahap paling awal dari produksi sebuah tayangan pun sudah bisa dikategorikan sebagai tahap rekayasa. Waktu para kru sedang brain storming, memilih tema, bukankan itu sebuah rekayasa? Mengapa? Karena mereka memilih satu diantara ribuan tema yang ada, milyaran realitas yang disaksikan, triliunan kenyataan. Mereduksi yang ‘maha’ menjadi yang ‘super sederhana’. Nah lo, kok bisa gitu ya? Iya dong, kenapa mereka memilih tema yang ‘satu’ itu, bukan yang lainnya? Ehmmm….mungkin karena mereka anggap itu penting melebihi yang lainnya. Nah loh lagi…, jadi menurut siapa tuh sesuatu itu menjadi penting? Di siniliah letak awal mula rekayasa dalam produksi media. Ketika menyeleksi tema pun, media sudah menggunakan kacamata kepentingan mereka sendiri, yang acapkali adalah kapitalisme bin profit. Bagaimana dengan tayangan berita? Wah, sama sajalah, kan berita juga melalui proses seleksi. Owh, jadi kita benar-benar harus apatis dong dengan media karena semua yang ditayangkan adalah unreal? Bukan begitu juga, justru kita harus mengambil bagian dalam kondisi yang sudah carut marut begini. Bukankah Yusuf pernah berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej 50: 20).

Flash back pada konsep bahwa dunia ini adalah dunia yang berdosa maka wajarlah setiap hal yang dilakukan hanya ditujukan untuk mengejar kepentingan pribadi sehingga tidak memedulikan dampaknya kepada orang lain, termasuk reality show ini. Padahal kalau kita mau akui, reality show yang sembarangan ini bisa merusak tatanan yang sudah Allah buat. Misalnya, membuat orang merusak gambar dirinya, tidak bisa membedakan kehidupan nyata dengan kehidupan di layar kaca, dan yang lebih parah, reality show yang sembarangan dapat mematikan ekspresi individu yang unik yang demikianlah diciptakan Allah sejak semula. Apa itu reality show yang sembarangan? Mari kita lihat dari dampak-dampaknya berikut ini.

Gambar Diri yang Rusak

Banyak orang tidak menyadari eratnya hubungan reality show dengan gambar diri individu. Ada sebuah tayangan reality show yang dibuat dengan konsep charity, kemanusiaan, penegakan HAM, dll. Misalnya, sebuah reality show mengangkat perjuangan orang yang sangat miskin untuk bisa mendapatkan uang. Yang lebih mengharukan lagi, uang itu nantinya akan diberikan kepada, mungkin orang tua, anak, sanak sodara, teman, yang dianggap lebih membutuhkan dari mereka. Wow, keren adubilee. Tapi lihat lagi, bagaimana cara mereka membuat acara tersebut. Orang itu digambarkan sangat memelas, putus asa, tidak punya harapan, dan akhirnya bersandar pada belas kasih manusia lain, meminta-minta sampaaaaaiiiii dapat apa yang mereka inginkan. Hmmmm…..Padahal di Kejadian dikatakan manusia lah yang berkuasa untuk memelihara dan menaklukkan bumi (Kej 1: 28). Manusia memiliki misi penakluk, bukan peminta-minta dari orang lain.

Tidak Bisa Membedakan Kehidupan Nyata

Teori cultivation mengatakan semakin sering orang menonton sesuatu semakin kuat terpaan tayangan itu mempengaruhi perilakunya. Saya pernah berdebat dengan seorang kawan mengenai apakah tayangan TMHKMHK itu benar-benar riil. Dia sangat menyukai tayangan tersebut dan tidak mau sedetik pun beranjak dari televisi ketika menontonnya. Di situ dia melihat banyak orang digambarkan sebagai “orang kaya” namun tidak kelihatan mereka berjerih payah kerja. Semua bagus, semua tersedia. Guess what? Kawan saya ini juga menganggap tidak perlu bekerja di dunia ini. Walhasil, sampai sekarang dia benar-benar tidak bekerja karena dia sangat percaya, apa yang dialami orang dalam reality show itu juga akan dia alami. Wow.

Mematikan Ekspresi Individu

                Ketika Tuhan memanggil nabi Yeremia, dia mengatakan “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yer 1: 5). Setiap orang memiliki panggilan yang unik dalam tugas kehidupannya. Selain Yeremia, kita bisa menyaksikan kehidupan Nabi Musa, Abraham (yang memulai imannya dengan peristiwa-peristiwa aneh), Yusuf, Yakub, Debora, Ester, sampai Paulus, yang semuanya sangat unik. Kita bisa bayangkan, waktu itu belum ada televisi, apa ya hiburan mereka? Hahahaha….di Alkitab dikatakan, mereka hidup bergaul dengan Tuhan maka perkataan Tuhanlah yang menjadi laku mereka. Ingat Raja Daud kan, waktu dia mau berperang dia gak lihat TV dulu untuk mencari referensi, tapi dia datang pada Tuhan dan mendengar perintah Tuhan (I Samuel 24: 5). Jika Tuhan berkata, “Aku telah menyerahkan musuhmu dalam tanganmu”, maka Daud baru akan pergi. Tapi sekarang bagaimana? Setiap perilaku orang ditentukan oleh media, khususnya reality show. Setiap orang yang berbuat jahat harus dihukum, setiap orang yang ‘cantik’ pasti akan mudah kehidupannya, setiap menghadapi masalah silakan mengambil jalan pintas nan instan. Bahkan pernah, di jam yang sama, di beberapa stasiun televisi, disiarkanlah 4 program acara dengan tema yang sama, yakni anak muda dan gaya berpacaran mereka. Walhasil, apa yang terjadi pada konsep pacaran anak muda? Semua ditentukan oleh reality show, karena mereka menganggap ini yang rill, ini yang nyata, ini yang mereka dan teman-teman mereka alami, jadi apa salahnya selingkuh, apa salahnya berdusta, dll. Hmmmmm……seragam sudah remaja kita dengan segala atributnya.

Kok ngeri sekali ya membayangkan efek dari reality show yang memang tidak riil itu. Apa memang tidak ada yang bisa dikerjakan untuk melawan hal tersebut? Bukankah seharusnya pemerintah melarang tayangan-tayangan yang bisa merusak moral bangsa? Wah, sulit ya kalau bicara tentang peraturan. Dari pada mengutuki kegelapan mari menyalakan lilin sekecil apa pun nyalanya.

Mengenai keberadaan reality show memang tidak bisa diubah, namun kita dipanggil untuk mentransformasi setiap hal di dunia ini supaya menjadi sarana firman Tuhan diberitakan kan? Coba baca lagi amanat agung di Matius 28: 19-20. Tuhan menyuruh kita untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Artinya, mari kita emban amanat ini sesuai dengan profesi kita. Jika profesi kita adalah produser sebuah reality show atau pekerja media, adalah tugas dan kewajiban kita untuk membuat program tersebut sebagai sarana untuk memberitakan kabar baik, bukan malah merusak seperti yang di atas tadi.

Adalah Pat Robertson, seorang mantan senator di Amerika, bisnisman yang sangat kaya, yang dipanggil Tuhan dan mendapat visi khusus dalam dunia broadcasting. Dia mendapat misi untuk memberitakan firman Tuhan melalui media elektronik, baik televisi maupun radio. Dia belajar dan berusaha keras untuk menjawab panggilan tersebut. Sulit ya….kalau ikut perusahaan kan harus ikut orientasi perusahaan tersebut, yang kebanyakan adalah profit. Maka Pat Robertson membuat sendiri jaringan broadcastingnya dan mulai membuat program-program siaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dia adalah pemilik Christian Broadcasting Network.  Prinsipnya adalah membuat program yang bagus bagi kemuliaan Tuhan.

Nah, menjawab tantangan reality show saat ini, yang dapat kita lakukan yang pertama tentu mengangkap visi dari Tuhan dan setia melakukannya. Bisa kok membuat program-program yang mungkin memang itu rekayasa, so what, emang itu kan yang direpresentasikan di media. Tapi kita dapat mengisi yang rekayasa itu dengan konten yang bagus, tentang kebaikan dan firman Tuhan yang adalah kebenaran dan bukan rekayasa. Program itu hanyalah sebuah teks yang memiliki konteks, seperti Nabi Musa ketika menulis kitab pentateuh pun menggunakan teks dan konteks pada jaman itu, namun kebenaran yang diberitakan tidak bisa disanggah karena berasal dari ilham Tuhan sendiri. Tuhan bisa memakai segala cara dan media untuk menyatakan diriNya bukan? Soal apakah nanti merugi, apakah tidak disukai orang? Wah, jangan ragu dulu. Senior-senior iman kita sudah membuktikannya. Bahkan Paulus mengatakan, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Fil 3: 7). Tenang saja, kalau Dia yang memanggil untuk pekerjaan baik ini, Dia pasti akan membuka jalan bagi kita.

Nah, jika sekarang yang dikatakan paling berpengaruh bagi kehidupan manusia adalah media, ya, mari kita mengambil bagian kita di sini. Dunia ini sebenarnya sedang letih dengan berbagai tayangan yang merusak, menyesakkan, membuat khawatir. Orang sudah terlalu sering dibuat dag dig dug dengan berita-berita dan tayangan yang tidak senonoh. Ini saatnya anak-anak Tuhan menunjukkan terangnya melalui media. Jika kita mengaku kita ini pekerja media, jangan diam saja. Mulai sekarang, berlatihlah dan kerjakanlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s