Impian Enok Belum Tamat

Standard

(Primasanti dalam Jurnal Trotoar, 2011)

 

 

Enok dan tema-temannya menghambur keluar ketika dilihatnya segerombol orang nyentrik di mata mereka, berjalan menuju sekolah kumuh itu. Enok berteriak-teriak seperti kesetanan, menampakkan takjub yang luar biasa seperti belum pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya. “Cik ayune….cik putihe….”, yang artinya “Betapa cantik…betapa putih”. Sembari bergumam, mata Enok dan puluhan anak lain tidak lepas dari ujung rambut sampai ujung kaki segerombolan gadis itu. Sepertinya tidak puas dengan hanya memandang, Enok dengan tanpa rasa malu mulai memegang-megang tangan gadis-gadis itu satu per satu. “Cik koyo boneka ta uwong-uwong iki….”, yang artinya “Kok kaya boneka sih orang-orang ini”. Mereka benar-benar takjub dan menegasikan kegiatan belajar di hari itu hanya untuk mengagumi para mahasiswa volunteer di Rumah Belajar.

Hari itu, Rumah Belajar kedatangan empat orang gadis cantik. Mereka mahasiswa. Naik mobil dan berpakaian nyentrik. Enok menyebutnya sebagai bintang film dan mulai teriak-teriak bahwa mereka sedang bertemu artis. Walhasil, kegiatan belajar hari itu harus stop karena hysteria anak-anak ini. Enok menanyakan berulang kali, dari mana makhluk-makhluk cantik ini berasal dan apakah dia bisa menjadi seperti mereka kelak. Seandainya mereka tahu untuk alasan itulah mereka mau belajar dan dilatih di Rumah Belajar ini.

Anak-anak di Rumah Belajar adalah anak-anak dari kampung nelayan. Soal pendidikan, mereka belajar seadanya di sekolah formal mereka yang ‘satu-satunya’ di kampong itu. Lulus SD, biasanya mereka langsung masuk pondok, setelah itu pulang ke kampong dan menikah, untuk yang wanita, atau menjadi nelayan untuk yang pria. Pernah, di sebuah sesi belajar ditanyakan kepada anak-anak ini, apa mereka punya impian? Sebagian besar tidak bisa menjawab. Saya jadi teringat iklan di TV atau di sekolah minggu yang saya ajar. Pertanyaan mengenai cita-cita mereka selalu paling asyik untuk dijawab karena melaluinya mereka bebas mengekspresikan diri mereka, membayangkan, dan memvisualisasikan seperti apa mereka 20 atau 30 tahun mendatang. Tapi tidak dalam kelompok anak-anak kampung nelayan ini. Bahkan, mereka tidak tahu apa yang disebut impian. Mereka jarang sekali, bahkan tidak pernah melihat kemewahan di dunia luar. Bagi mereka, makan ayam, bermain di laut, dan teman-teman yang sama-sama hitam legam adalah dambaan yang sudah terpenuhi. Sampai suatu saat, sebuah pertanyaan mengusik ketentraman mereka, “Apa impian kalian?”. Mereka tidak bergeming sampai ada yang menyeletuk, “Aku ingin jadi angkatan laut”.

 

Pengakuan salah satu bocah ini akhirnya menggiring anak-anak kampung nelayan untuk rajin mengikuti tiap sesi belajar yang difasilitasi oleh Rumah Belajar, sebuah komunitas yang mendukung pengajaran alternatif untuk kaum marginal. Entah apa motivasi mereka, yang jelas tiap minggu anggotanya semakin bertambah. Mereka asyik bertanya dan mengagumi setiap pengetahuan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka mulai berkenalan dengan teknologi, bahasa, orang-orang dari luar komunitas mereka, mahasiswa, para penyandang dana, komunitas pelayanan kaum marginal, dll yang menginspirasi mereka. Anak-anak senang dan mulai menikmati membayangkan seperti apa kehidupan mereka kelak.

Hari itu Enok bilang, “Sun pengen dadi kaya kae…putih-putih kulite kaya boneka berbi….nduwe mobil pisan…sekolah sing dhukur…cek sugihe…piye to Kak carane?”. Enok menyatakan dia ingin sekali seperti para mahasiswa tersebut, berkulit putih seperti boneka barby, bisa sekolah yang tinggi, dan punya mobil….bagaimana caranya bisa seperti itu. Lebih dari apa yang mereka tanyakan mengenai impian secara materi, mereka sesungguhnya layak untuk memiliki impian yang jauh lebih berharga, yakni perubahan karakter, menjadi percaya diri, dan mengetahui untuk apa mereka hidup. Bukan seperti sekarang, dikendalikan oleh kuasa adat istiadat yang selalu membelenggu mereka dan melarang untuk ini dan itu, bahkan tidak mengijinkan mereka untuk mengecap pendidikan yang laik.

Pertemuan di Rumah Belajar semakin hari semakin ramai. Anak-anak yang datang untuk sama sama bermimpi dan mewujudkan impiannya pun semakin banyak. Mereka belajar untuk merenda impian itu pelan pelan sekali. Sedikit demi sedikit semangat mereka tumbuh untuk bermimpi dan belajar. Mereka mulai menyukai sekolah, menulis, menggambar, menari. Ada yang ingin jadi penari, peternak, guru, dll. Sampai suatu saat, ada orang-orang kaya datang dan mengacaukan mimpi mereka. Orang-orang ini datang dengan membawa beragam hadiah dan menjanjikan ini itu kepada anak-anak kampong nelayan dengan harapan mereka dengan instan dapat melepaskan adat-istiadat mereka dan kekunoan mereka. Mereka memandang anak-anak ini dengan sebelah mata. Kata mereka, orang-orang dari luar lah yang harus menentukan impian mereka karena anak-anak ini tidak mengerti dan bodoh sehingga dengan cara koersif sajalah mereka bisa berubah. Walhasil, mengamuklah seluruh dayang kampong itu. Rumah Belajar disegel.  Impian mereka buntu. 

Enok berteriak-teriak, kapan belajar lagi? Ah Enok, apakah impianmu harus ikut disegel? Asal kamu tahu, kamu berhak, kamu punya kuasa untuk mengejar impianmu itu. Kamu sudah tahu apa arti sebuah impian, berlarilah sendiri, raihlah mimpimu itu, Nak.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s