BEAUTY, BRAIN, BEHAVIOR

Standard

And the most important among all is “love”

By: Primasanti[1]

 

            Seorang wanita cantik berada di sebuah pesta perpisahan. Pakaian yang modis dan make up yang menakjubkan membuat orang lain menatapnya tak berkedip, tak satu pun berani mendekat. Di sudut sana, seorang gadis berkuncir, biasa saja, tengah dikerubuti banyak orang. Orang-orang tampak antusias berdiskusi dengan gadis sederhana ini. Manakah di antara mereka berdua yang bisa disebut beauty?

            Beauty, brain, and behavior merupakan konsep lama yang sering digunakan orang untuk mengukur performa individu. Maka, dalam setiap kontes beauty pageant, standar ini selalu menjadi acuan. Beauty, brain, and behavior merupakan konsep praktis aplikatif yang lebih banyak diterapkan dari pada dikaji secara ilmiah. Logikanya, alat ukur ini belum tentu valid untuk mengukur performa yang ideal. Tulisan ini ingin mengupas masing-masing konsep tersebut dan jalinan di antara ketiganya.

            Konsep beauty, brain, and behavior acapkali digunakan untuk mengukur kesempurnaan seseorang. Jadi, kita perlu tahu dulu apa arti “sempurna”. Di dunia ini, term sempurna digunakan untuk menggambarkan kondisi paling ideal yang bisa dicapai oleh seseorang. Lagu “Sempurna” by Andra and The Backbone misalnya, Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah. Sempurna diidentikkan dengan keindahan yang paling indah. Namun, dalam alkitab, sempurna atau perfect diterjemahkan sebagai holy atau complete. Nah, siapa yang mewakili standar holy ini? tentu saja Allah. Dalam Kejadian 1: 26, Allah berfirman “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …” Kabar gembiranya, kita semua diciptakan seturut gambar tersebut.  Di dalam alkitab dikatakan “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5: 48). Hmm…jadi, sempurna itu adalah hak yang sudah diberikan sekaligus perintah untuk selalu dijaga. Ingat ya, prinsip utamanya dalam pembahasan ini adalah bahwa kita diciptakan sempurna.

            Acapkali, dunia ini menggunakan standar beauty, brain and behavior untuk menggolongkan orang baik dan orang buruk. Maka, yang terpilih dalam beauty pageant biasanya adalah orang yang cantik secara fisik, model atau pernah menjadi foto model, dan memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Apakah ini salah? Tentu tidak, asal kita memandang konsep beauty, brain, and behavior dengan benar maka konsep ini akan menolong kita untuk mengembangkan diri. Lalu, apa itu beauty, brain, and behavior?

            Beauty. Menurut Edward de Bono (2004: 2), Beauty is something that can be appreciated by others. Dalam Cambridge dictionary, Beauty berarti the quality of being pleasing, especially to look at. Kata kunci dari beauty adalah ‘tampak oleh mata’. Dalam kehidupan berinteraksi, penampilan fisik itu penting sekali. Tapi bagaimana berpenampilan beauty yang benar? Mari kita tengok media kita, di koran, televisi, majalah, orang cantik digambarkan dengan tubuh yang indah, kulit putih yang mulus, rambut panjang, curly, dll. Saya pernah melakukan observasi di kelas. Iseng-iseng saya keliling kelas sambil melihat model rambut mahasiswi saya. Mungkin mereka kencan ke salon bareng-bareng ya, model rambutnya sama, warna cat nya sama, bahkan derajat curly nya tidak bisa dibedakan lagi (lebay…). Waduh, media telah berhasil mencetak anak-anak ini ibaratnya kaleng sarden yang keluar dari pabriknya. Semua sama, serupa.  

Kadang-kadang, supaya tidak dikatakan ketinggalan mode, kita memaksakan diri untuk tampil sama se-“cantik” yang ditampilkan oleh media-media. Walhasil, keunikan kita hilang, kita tak lebih hanya satu dari sekian ribu manusia yang sama. Berpenampilan beauty tidak harus mengikuti trend. Intinya adalah kita dapat membuat diri kita menarik. Nah, bagaimana bisa menarik? Berpenampilan menarik adalah berpenampilan yang sejujur-jujurnya namun bisa menempatkan diri. Misalnya, karena kita suka berpakaian santai, pergi ke mall juga dengan pakaian santai. Padahal, kita tidak tahu, mungkin kita akan berjumpa dengan presiden di sana, atau dengan kawan lama. Pasti tidak mau kan mendengar, “Wah, masih seperti yang dulu neh”. Yang artinya adalah tetap kumal seperti sekian tahun yang lalu.

Saya sendiri dulunya adalah volunteer di sebuah yayasan anak jalanan. Bisa bayangkan, kan seperti apa penampilan saya. Bertahun-tahun hidup dengan anak jalanan membuat saya canggung untuk berpenampilan resmi sebagai pengajar. Apalagi, belum tentu pantas. Namun, saya butuh beberapa lama untuk bereksperimen dan menemukan gaya yang tepat untuk mewakili diri saya. Nah, sekarang kalau orang menanyakan, yang mana sih diri saya, orang dengan mudah menyebutkan cirri-ciri saya. Atau kamu? Misalnya “Oh, yang pendek, gesit, suka pakai baju batik itu lho”. Bayangkan, kalau penampilan kita sama dengan orang lain, “Aduh, yang mana sih orangnya? Rambut panjang, curly, langsing, bercat coklat? Lha, kayaknya hampir semua mahasiswa begitu dewh…”. Haha…bingung kan? So, bereksperimenlah, temukan penampilanmu yang paling jujur dan tempatkanlah dengan benar sesuai situasi dan kondisi.

Brain. If you have natural physical beauty it is a tragedy to waste this beauty by having boring mind. It is like buying an expensive car and not putting fuel in the tank (Bono, 2004: 2). Wah, serem bener ya, ternyata cantik tak selamanya menarik. Mobil mahal pun tidak akan bisa jalan kalau tidak ada bahan bakarnya. Dialah brain.  Saya lebih setuju menyebut brain sebagai wisdom and experience dari pada kepandaian atau kemampuan menyelesaikan masalah. Wisdom adalah hikmat. Orang  yang menarik adalah orang yang ketika kita berbicara dengannya terasa nyaman karena orang ini memiliki hikmat, solusi, kebenaran untuk memecahkan suatu persoalan. Kadang, dia tidak perlu menjadi orang yang cerewet dan dominan atau ekstrimnya sok pintar dalam sebuah percakapan. Mungkin dia adalah seorang pendiam yang sekali waktu berbicara benar-benar bisa merobek-robek kesombongan orang yang diajak bicara. Nah, dari mana wisdom ini bisa didapat? Tentu saja dari takut akan Tuhan serta experience atau pengalaman hidup.  

Sepuluh tahun lebih menjadi seorang MC atau penyiar radio tidak membuat saya tidak gugup ketika akan bertugas. Namun, pernah, karena kesombongan dan rasa PD yang berlebihan saya berkali-kali tidak berhasil membawakan acara dengan baik sehingga mengecewakan klien. Sekarang, saya selalu berlutut di hadapan Tuhan sebelum mulai bertugas karena menyadari ketidakmampuan saya. Saya tidak tahu kenapa, tapi mereka selalu merasa nyaman dan meminta saya kembali menjadi MC. Sepuluh tahun pengalaman menjadi MC itu benar-benar mengajari saya untuk membawakan acara dengan smart.  

Bagaimana memperoleh hikmat dan pengalaman itu? Mudah saja, pergi saja minta sama Sang Empunya hikmat itu. Hikmat sudah disediakan bagi kita kalau kita mau hidup dengan mengenal Tuhan dan firmanNya setiap waktu. Lalukanlah, bersaat teduhlah setiap pagi atau malam agar hikmat Tuhan dicurahkan untuk kita. Soal pengalaman? Yang ini juga penting. Kita mau memiliki brain yang optimal, tetapi tidak pernah mau bersosialisasi, berorganisasi, oh … tidak bisa (gaya sule). Sebisa mungkin, tergabunglah dalam suatu komunitas atau organisasi terntentu sesuai dengan minat. Komunitas atau organisasi membantu kita untuk tumbuh dewasa.

Selain itu, milikilah minat yang unik. Beberapa mahasiswa saya tanyai, “Apa hobimu?”, jawab yang pertama, “Nonton, Miss”, yang ke dua, “Ehm…Nonton, Miss”, (Cuma tambah ehm…doang), yang ke tiga, “Iya Miss, Nonton”. Jiaaaaa….Wadewww …. Bagaimana kita bisa menjadi menarik kalau semua kembar begini? Minat yang spesifik dan unik serta dengan tekun kita dalami akan membuat kita bermanfaat bagi orang lain dalam bidang tersebut. Bukan berarti kita menekuni ituuuuuuuu saja, namun, minat “ini” menjadi spesifikasi atau keahlian kita. Sehingga teman kamu bisa bilang, “Kalau mau ngomongin soal musik jazz, Dhani tuh biangnya”.  

Behavior. Sebelumnya, saya sempat bertanya-tanya, kenapa ya, berdasarkan susunannya, behavior selalu ada di akhir? Kenapa susunannya tidak begini, Behavior, Brain, Beauty? Haha…pertanyaan yang aneh. Jawabannya kira-kira adalah karena hal ini yang paling tidak tampak dan jarang kita sadari. Kalau kita belum menyisir rambut, mudah sekali kita menyadarinya bukan? Atau kalau kita salah ucap, mudah juga kita menyadari dan meralatnya kan? Tapi kalau kita berlaku tidak sopan atau bersikap kurang ajar? O … oo… o… hanya orang lain yang bisa menilainya. Sulit sekali untuk menyadari dan mengevaluasi behavior kita sendiri.

Oya, sebelumnya, apa itu behavior. Behavior adalah sikap atau tingkah laku kita sehari-hari. Kadang-kadang, sikap ini dibentuk oleh latar belakang keluarga, budaya, pendidikan, media yang kita konsumsi, dll. Namun, lebih subtil lagi, behavior ini juga merupakan ekspresi dari karakter seseorang. Orang yang ‘selenge’an’ acapkali kurang memperhatikan cara berbicara, cara duduk, cara makan yang mungkin mengganggu orang lain tanpa dia sadari. Kenapa? Karena itu sudah melekat sekali di dalam hidupnya.

Lalu bagaimana membentuk behavior yang baik? Behavior yang baik dibentuk oleh hati yang baik juga. Manusia terdiri dari roh, jiwa (emosi, perasaan), dan tubuh kan? Nah, harusnya, apa yang dikehendaki roh itu terekspresikan pada perilaku kita. Kalau di dalam roh kita yang ada adalah hal yang jahat, ya begitulah perilaku kita. Tapi kalau roh kita adalah kasih, maka jiwa dan tubuh kita akan terlatih untuk menyesuaikannya. Jadi, untuk memiliki behavior yang baik harus dimulai dengan hati yang baik. Hati yang baik adalah hati yang selalu mau dibentuk dan dididik, bukan hati yang berontak dan menolak ajaran. Seperti tanah yang subur, hati yang baik perlu dipupuk, disiangi, dan disirami. Jangan diisi dengan sampah (baca: sakit hati, rasa kecewa, memendam kemarahan, dll). Kalau hati kita baik, pikiran, emosi, jiwa kita juga turut menjadi positif dan hal ini akan tercermin dalam perilaku kita.

Di atas sudah dijelaskan mengenai apa itu beauty, brain, and behavior, namun tanpa kasih semua itu tidak akan menjadikan kita menarik. Kasih yang berasal hari dalam roh kita akan memancar keluar dan menolong ketiga konsep itu untuk menjadi seimbang. Sekarang, saya ingin mengajak kita melihat cirri-ciri orang yang beauty, brain, and behaviornya terekspresikan secara seimbang dalam hidupnya.

Berpengaruh. Orang yang cantik mungkin akan menarik hati, namun belum tentu mempengaruhi. Males kan membeli produk kalau sales yang menawarkan menor dan cerewet minta ampun? Orang yang memiliki keseimbangan beauty, brain, and behavior selalu akan menjadi orang yang berpengaruh. Coba refleksikan pada diri kita, seberapa pengaruh kita terhadap lingkungan kita? Mungkin kalian adalah pendiam, tidak banyak bicara, tidak dominan, tidak suka mengikut. Tetapi begitu kamu tidak ada, keseimbangan kelompokmu akan sangatttt terganggu. Itu artinya kamu adalah orang yang berpengaruh. Orang tipe ini juga biasanya memiliki satu ide atau visi yang akan dia wujudkan sampai titik darah penghabisan. Sebut saja, Mother Theresa, Catherine Booth, Catherine Hicks, Fanny Crosby, Anne Hutchinson, Mahalia Jackson, dll. Ketika saya mencoba mem-brows wajah mereka melalui internet, mereka relatif bukan orang yang cantik, tapi pengaruh mereka terhadap dunia begitu besar. Puluhan orang cantik lain yang pernah saya temui sebagian besar mengatakan, “Aduh, apa ya tujuan hidupku, mengalir aja deh”, setiap kali saya bertanya apa tujuan hidup mereka.

Menghargai. Orang dengan 3B yang seimbang selalu menghargai orang lain, apa pun keadaan orang tersebut. Kenapa? Ya karena dia mengenal gambar dirinya dengan baik, yakni bahwa dirinya sebenarnya diciptakan sempurna, dan begitu juga orang lain. Bagaimana Anda memperlakukan pembantu Anda, ini sangat menunjukkan 3B Anda. Kalau selama ini Anda masih sembarangan memperlakukan pembantu Anda atau anak kecil yang minta-minta di pinggir jalan, bertobatlah. Hahaha…. (bercanda lho).

Perfect but Low Profile. Orang yang memiliki keseimbangan beauty, brain, and behavior selalu menjadi seseorang yang perfect dan tidak sembarangan dalam mengerjakan hal sekecil apa pun. Pernah suatu kali, karena merasa sudah terbiasa, ketika saya harus mengiringi pujian di suatu ibadah, saya tidak berlatih terlebih dahulu. Pikir saya, “Ah, kan udah biasa”. Tapi apa yang terjadi, semua berantakan karena saya tidak mempersiapkan yang terbaik. Jadi, jadilah sempurna namun tetap rendah hati.

 

Itulah Beauty, Brain and Behavior dan yang terbesar di antaranya adalah kasih.  Kasih menolong kita untuk menyeimbangkan beauty, brain, and behavior kita. Nah, bagaimana ya bisa memiliki karakter di atas? Yang harus kita lakukan adalah memberi diri dengan rendah hati untuk dididik dalam kasih. Soal penampilan fisik (Beauty), berekspresimenlah, temukan gayamu yang paling jujur namun tetap menghargai orang lain. Tentang Brain, wisdom and experience menjadi kuncinya dan keduanya berbicara tentang waktu, jadi bersbar untuk diproses ya. Tentang behavior, jaga hati dari hal-hal yang membusukkannya. Isi hatimu dengan hal-hal yang indah, berkomunitaslah dan berorganisasilah. Ini semua melatih perilaku kita.

You are born with a certain shape of face or body. There is only a certain amount you can do to make them more beautiful. But there is very much more that you can do to make your brain and behavior more beautiful (Bono, 2004)


[1] Communication Science Lecturer,  Trainner, Professional MC, Ambassador of God. Dibawakan dalam seminar 3B, UKM Pengembangan Diri UK Petra, Surabaya, 20 Mei 2011.

5 responses »

  1. thanks banget artikelnya. good. mungkin nanti bisa kasih tips2 lain untuk memiliki 3b itu gimana. sekali lagi makasih yah

  2. Pingback: Brain, Beauty, Behavior | firamaulani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s