Belajar dari “Mengecewakan”

Standard

            Hasil kerja kalian tidak bagus. Berantakan … ”. Penggalan kalimat ini terlontar dari mulut seorang teman mengenai kinerja event organizer (EO) saya. Memang ini debut pertama EO saya, mengerjakan sebuah pesta pernikahan. Seorang kawan dekat menjadi klien perdana kami. Namun hasilnya sangat mengecewakan. Kenapa ya? Padahal kami sudah bekerja sangat keras. 

            Beberapa minggu saya dan dua orang rekan dekat bekerja keras untuk survey dan mengurus perjanjian dengan klien yang adalah teman dekat kami. Semua tampak mudah, lancar. Bahkan, menurut perhitungan, kami telah mendapat harga yang terbaik. Rasanya puas sekali, seolah-olah kami sangat berbakat mengerjakan hal ini. Setiap kali mengobrol, impian kami yang muluk-muluk selalu muncul menyela. Bagaimana nanti kalau EO ini sudah besar? Kami memikirkan hal-hal yang indah.  

            Melalui sebuah ayat, kami diingatkan untuk membawa proyek ini dalam doa. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3: 23). Firman ini membuat EO saya semakin bersemangat karena kami tahu untuk siapa kami bekerja. Semua tenaga, waktu, dana tercurah dalam acara ini. Kami mulai bercerita ke kanan dan ke kiri bagaimana asyiknya menjadi event organizer. Kami merasa sangat berbakat sesuai bidang masing-masing. Saya sebagai konseptor, rekan saya sebagai artist dan rekan satu lagi sebagai technician, dibantu beberapa rekan yang lain, wow…the dream team. Hal ini juga diakui oleh rekan yang menjadi klien kami. “Kalau EO nya kalian, aku sudah tidak ragu lagi. Kemampuan kalian sudah teruji lah”. Wah, kalimat ini semakin melambungkan kami.

            Satu malam sebelum hari H, kami mengecek persiapan gedung. Apa yang terjadi? Benar-benar di luar dugaan. Kami sangat kecewa sekali. Dekorasinya tidak seperti yang kami bayangkan. Warna, jumlah bunga, lighting, semua buruk. Walhasil, semalaman kami menunggui dan mencoba merombak sedikit sedikit. Tapi apa daya, semua sudah dipasang dan tidak bisa dirubah lagi. Rekan saya marah pada dekorator sewaan kami. Namun itu hanya membuang energi, tidak mengubah apa pun.

            Hari H tiba. Pengantin dan rombongan keluarga datang. Saya semakin gemetar, sangat gemetar. Sembari mengatur posisi pengantin untuk mulai prosesi, mata saya menyadari bahwa seragam yang digunakan orang tua pengantin keliru. Seragam ini tidak sama dengan yang ditunjukkan pihak salon kepada EO kami waktu itu. Saya marah. Spontan saya minta rekan untuk segera mencari sewaan seragam sebelum acara dimulai, atau kami akan mempermalukan keluarga klien dengan seragam butut itu. Salon itu benar-benar membuat saya naik pitam. Ketika masih mengatur, handy talkie saya tiba-tiba berbunyi. “Gawat, sound terbakar, mati semua. Gawat”. Suara di seberang sungguh membuat kaki saya lemas. Ingin pingsan rasanya. Namun, sebagai pemimpin, saya mencoba menenangkan semuanya. “Tidak usah kuatir, berdoa, tunggu beberapa menit lagi”. Lima, sepuluh, dua puluh menit berlalu dan belum ada perubahan. Tamu semakin banyak, waktu semakin molor, listrik tetap saja tak mau menyala. Saya berubah menjadi emosi. Bagaimana ini, Tuhan, keluh saya dalam hati. Ingin memarahi semua rekan yang tidak becus memegang tanggung jawabnya. Berulang kali firman Tuhan terngiang di telinga, “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Lukas 22: 26). Namun, kenapa semua itu tidak bisa menepis emosi saya. Sementara suasana semakin gaduh. Klien sudah mulai mengeluh. Saya semakin giat berdoa, “Tuhan, tolong kami…kami tidak sanggup”. Pada titik saya sudah hampir menyerah, seketika itu listrik menyala.     “Puji Tuhan”, teriak saya tanpa ada yang tahu.

Prosesi berlangsung lancar, sampai, saya yang sedang duduk kelelahan, dikagetkan oleh teriakan ibu pengurus catering. “Kerja kalian sangat lamban”. Dia berteriak bahwa EO kami sangat lamban sehingga catering terlambat dihidangkan dan itu merusak nama baik beliau. Kemarahan Ibu ini tertangkap oleh sebagian tamu. Rekan-rekan saya panik bukan kepalang. Saya mencoba tenang walau malu bukan kepayang.

            Akhirnya, acara itu usai. “Hasil kerja kalian tidak bagus. Berantakan. Terutama dekornya, hiburannya, keterlambatan waktu, riasan pengantinnya, ….”, protes seorang tamu. Saya semakin lemas saja mendengarnya. Kata teman yang lain, “Kalau sedang belajar memasak, pertama kali tidak enak itu lumrah kok..”, wadew, walaupun seolah-olah menenangkan, namun kalimat ini justru bagai halilintar yang menyambar malu-malu. Saya mencoba tetap tenang supaya rekan-rekan lain tidak ikut sedih.

            Beberapa minggu berlalu, satu per satu complain berdatangan atas kerja EO kami. Mulai dari pengaturan catering yang amburadul, dekorasi yang buruk, hiburan yang tidak profesional, rias pengantin yang acak-acakan, dll. Praktis, semua kesalahan ditimpakan pada EO kami. Yang benar-benar membuat kami terpukul adalah hasil foto dan video yang sama sekali tidak layak. Konon, fotografer yang kami sewa memberikan job tersebut pada seorang amatiran yang kami tidak kenal. Hasilnya? Tebak sendiri. Semua diluar perhitungan kami.

Saya memberanikan diri menelpon klien dan meminta maaf sebesar-besarnya. Mereka tidak bisa terima dan menuduh kami mengorbankan mereka karena kebodohan dan keamatiran kami. Kata-kata cacian berjam-jam saya dengarkan melalui telpon hari itu. Sakit dan perih sekali hati ini rasanya.  “Kalau saya bisa teriak, saya teriak ini. Kalian sungguh mengecewakan hati saya. Ini kan momen yang sangat berharga, kenapa kalian sembrono begitu …”. Bla bla bla….Setiap kalimatnya sangat membuat tertekan. Selama hidup, saya belum pernah dicaci maki orang seperti ini. Sakit sekali, Tuhan. Padahal, kami tidak bermaksud untuk sembrono. Bukankah kami sudah bekerja keras?  

            Saya merenung. Buntu. Semua ganti rugi yang kami tawarkan tidak jua membuat keluarga klien bergeming. Kami mau menyalahkan siapa? Dekorator? Catering? Sound system? Fotografer? Tidak ada gunanya. Semua tidak bisa mengembalikan momen itu. Saya berpikir panjang dan terus merenungkan hal ini. “Apakah saya memang tidak berbakat menjadi EO? Apakah saya begitu buruknya di mata orang? Apakah saya begitu bodohnya?”. Semua intimidasi sekonyong-konyong menyergap. Selama ini, jarang sekali saya mengecewakan orang lain sebagai klien saya, apalagi sampai seperti ini. Yang ada juga, saya yang dikecewakan. Ah, saya berkubang dengan kesombongan saya. Sampai saya ditegur hebat oleh firman Tuhan. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (I Kor 9: 27)”.

Kenapa ayat ini? Ya. Hari-hari ini saya sering sekali merasa dikecewakan. Saya sulit untuk marah. Semua ini tertumpuk lama sehingga saya merasa menjadi orang yang sangat malang karena terlalu sering dikecewakan. Dalam ayat tadi disebutkan bahwa Paulus melatih dirinya sendiri dan menguasainya sepenuhnya agar tidak ditolak dalam pemberitaan injilnya. Setelah merenungkan hal ini, saya benar-benar merasa terberkati. Melalui ayat ini saya menyadari bahwa menghadapi kekecewaan merupakan suatu latihan rohani.  Karena selama kita adalah manusia, rasa kecewa pasti ada; bagaimana menghadapinya? Itu yang membedakan kita dengan orang-orang dunia.

            Ternyata, Tuhan tidak mau saya berhenti berlatih menanggung kekecewaan saja. Melalui peristiwa di atas, Tuhan ijinkan saya belajar menanggung beban ketika mengecewakan orang lain. Waaaaaaaaa……yang ini terlampau sulit bagi saya, Tuhan….!!! Saya berseru kepada TUhan, “Kalau saya yang dikecewakan, bolehlah saya datang sama Tuhan. Tapi bagaimana kalau saya yang mengecewakan orang lain, Tuhan??? Apa yang harus saya perbuat?? Saya sudah menyakiti mereka!!!”. Dalam kasus ini, saya benar-benar terpuruk. Apapun yang saya lakukan, tetap saja tidak bisa mengembalikan keadaan. Saya takut sekali. Saya takut orang tua klien saya sakit karena kecewa, saya takut hubungan dengan klien saya yang adalah teman dekat saya menjadi rusak, saya takut mereka sedih, saya takut mereka tidak mengenang hari pernikahan mereka dengan indah, dll. Semua itu menghantui saya selama berminggu-minggu. Intinya adalah saya takut mengecewakan orang lain. Intinya lagi adalah, saya takut menjadi buruk di mata orang lain. Intinya lagi adalah saya masih terkungkung dalam kesombongan. Padahal, Rasul Paulus pernah mengajar, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (I Kor 9: 27)”, Paulus mengatakan “menguasainya seluruhnya”, bukan sebagian. Bukan hanya dilatih untuk menanggung kekecewaan melainkan juga menanggung rasa mengecewakan orang lain.

            Saya ingat kisah Yakub. Yakub, dengan segala ambisinya, pernah berbuat salah besar kepada kakaknya, Esau. Dia merebut hak kesulungan Esau dengan cara yang sangat licik. Ketika dia sadar, dia sangat ketakutan dan berusaha melarikan diri (Kejadian 27-28). Sampai berpuluh tahun pun Yakub Masih ketakutan kepada kakaknya ini (Kejadian 32). Selama tahun-tahun pelarian yang sukar itu, Yakub terpenjara oleh pikirannya sendiri, ketakutan, dan kelemahannya. Padahal, ketika bertemu dengan Esau, mereka justru berbaikan (Kejadian 33). Ada apa di balik peristiwa ini? Selama berpuluh tahun itu, Tuhan benar-benar mengelupas rupa Yakub yang tidak layak. Segala kesombongan, keserakahan, diruntuhkan oleh Tuhan. Yakub menyadari betul bahwa seperti apa pun rupa dirinya dan seberapa dalam dia mengecewakan orang lain, Tuhan tetap ada besertanya (Kejadian 28: 16-17). Peristiwa yang buruk ini memang bukan berasal dari Tuhan, tapi Tuhan mengijinkan hal ini terjadi untuk membentuk Yakub menjadi seperti yang Tuhan harapkan, yakni “menguasainya seluruhnya”. Yakub akhirnya mengetahui kelemahannya dan hidup dengan sangat bergantung kepada Tuhan.  

            Melalui hal ini, saya merenungkan bahwa selama ini saya selalu merasa tidak puas dengan apa yang orang lain lakukan untuk saya. Saya merasa punya talenta dan dapat melakukan segalanya dengan perfect. Bahkan, saya berhasil melalui ujian kekecewaan dengan gilang gemilang. Namun, semua kesombongan itu tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Dia ingin mengelupas rupa diri saya yang lama dan mengijinkan saya mencicipi rasanya mengecewakan orang lain, supaya saya tidak menjadi sombong, supaya saya benar-benar bergantung pada Tuhan. Seorang rekan saya bilang, “Apakah ketika kamu memulai pekerjaan ini kamu menginginkan yang terjelek? Bukan kan? Kamu pasti mendoakan yang terbaik kan? Nah, kalau yang terjadi di luar yang kamu harapkan, jangan kuatir, semua ada di dalam daulat Tuhan”. Sebuah ayat hafalan sekolah minggu sekonyong-konyong tertulis tebal di dahi saya, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (I Petrus 5: 7). Dia benar-benar melatih saya bukan hanya terampil menanggung rasa dikecewakan melainkan juga terampil menanggung rasa bersalah ketika mengecewakan. Dikecewakan atau mengecewakan, semua itu bersumber dari kelemahan kita, manusia yang terlampau sombong. Namun, kata Tuhan kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (II Korintus 12: 9). Ah, betapa indahnya Tuhan mengijinkan saya bukan hanya menikmati kemenangan dalam menanggung rasa dikecewakan tetapi juga kemenangan atas rasa bersalah ketika mengecewakan orang lain.  

Hari ini, sambil merenungkan firman dan mendengarkan lagu Grace, by Laura Story saya bisa kembali bangun dan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan yang menolong Yakub keluar dari rasa bersalahnya, cukup bagiku”.

I ask you how many times will you pick me up when I keep on letting you down
and each time I will fall short of your glory
how far will forgiveness abound
and you answer my child I love you
and as long as your seeking my face
you’ll walk in the power of my daily sufficient grace

 

 

One response »

  1. hasilnya pasti tidak ada yang kecewa…Sebab Tuhan ada disetiap peristiwa jika kita mengijinkannya..Selamat untuk kisahmu..God Bless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s