Kunci Penyembahan

Standard

Key of Worship[1]

I’m coming back to the heart  of worship, when its all about You…its all about You Jesus…

            Workshop kali ini sangat menantang. Dengan tema “Musik dan Pujian Gereja”, kita ditantang untuk mengenal makna penyembahan dan dapat melakukan panggilan pelayanan pujian di gereja yang berkenan di hadapan Tuhan. Perenungan yang sarat dengan kejutan saya alami sembari menyiapkan materi untuk workshop ini. Satu minggu menjelang wokshop ini, saya dan partner terlebih dahulu dibekali dengan seminar doa yang diadakan oleh GBI Shine di Jakarta. Melalui hambaNya, Bapak Ayub Bansole dan Bapak John, kami dibukakan mengenai kuasa doa. Sangat memberkati kami .Wah, Tuhan tau betul kebutuhan kami. Setelah itu, selama beberapa hari, buku-buku yang saya baca, Inside-Out Worship (Insight for Passionate and Purposeful Worship) oleh Matt Redman; Pelayan Musik oleh Mike and Viv Hibbert; Menyembah dalam Roh dan Kebenaran oleh Mat Redman, sangat menginspirasi lahirnya tulisan ini. Selain itu, refleksi sebagai pemimpin pujian selama ini juga menolong saya untuk menyaksikan walaupun kita sangat terbatas, jika Tuhan yang memanggil, Dia akan memperlengkapi  dengan ajaibNya. Tentu saja, Firman Tuhan yang dibaca menjadi dasar segala yang saya tulis.  Poin penting dalam tulisan ini adalah It is not firstly about song, voice, or music, but God alone.

 

 

Letakkan Dasarnya

            Worship always born from revelation. Penyembahan selalu merupakan respon dari sebuah pewahyuan (Redman, 2005). Acapkali dalam ibadah-ibadah, penyembahan diposisikan di nomor dua setelah firman. Penyembahan dianggap kurang penting maka mempersiapkannya pun seadanya. Namun, karena penyembahan itu datangnya dari pewahyuan, penyembahan sebenarnya sama pentingnya dengan firman Tuhan. Sejak jaman Abraham, Musa, hingga Raja Daud, penyembahan selalu mengiringi setiap perjumpaan mereka dengan Tuhan. Bagi kita orang percaya, penyembahan berarti ungkapan syukur kita kepada Allah. Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya (Kejadian 24: 48). Inilah ungkapan syukur hamba Abraham ketika mendapati janji Tuhan digenapi atasnya. Kisah lain di alkitab mencatat, sebagai Allah yang telah mengeluarkan umat Israel dari tanah Mesir, Allah ingin bangsa Israel menyembah Tuhannya dengan cara yang berkenan. Karenanya, Allah memerintahkan Musa untuk membuat kemah suci beserta segala perlengkapan dan peraturannya untuk umat Israel melakukan penyembahan (Keluaran 25). Masih ingat juga kan bagaimana runtuhnya tembok Yeriko ketika Allah memerintahkan Yosua dan pasukannya meniup sangkakala dan mengelilingi tembok itu sampai tujuh kali dengan bersorak sorai (Yosua 6). Cerita lainnya adalah betapa sukacitanya Raja Daud menyanyi dan menari di hadapan Tuhan saat tabut Allah dipindahkan ke Yerusalem (II Sam 6:5). Bukti lain dari dasyatnya penyembahan adalah saat Daniel dengan gagah berani menghadapi Nebukadnezar karena tiga kali sehari dia menyembah Tuhan. … Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya (Daniel 6: 10). Penyembahan  selalu datang dari pewahyuan. Dia tidak datang sendiri namun bersumber pada kemahabesaran Tuhan. Oleh karenanya, penyembahan selalu merupakan ungkapan syukur dan ekspresi dari hubungan kita dengan Allah.

            Penyembahan juga merupakan sarana bagi Allah menyatakan kekudusannya. Bagaimana mungkin kita manusia yang bercela ini dapat melihat Allah dengan seadanya saja. Allah menuntut banyak hal dari kita, termasuk penyembahan, sebagai salah satu cara supaya kita mengetahui betapa besarnya Allah kita dan betapa kecilnya kita. Penyembahan dengan demikian berarti sebuah penghormatan akan kekudusan Allah. Jika penyembahan berarti ekspresi ungkapan syukur kita kepada Allah dan penghormatan atas kekudusan Allah, maka penyembahan harusnya menjadi gaya hidup kita sehari-hari, bukan hanya saat di gereja saja.

            Nah, jika penyembahan sesungguhnya adalah gaya hidup orang percaya, kenapa ya tidak semua orang bisa menikmati penyembahan dan kuasanya? Sebelum kita belajar lebih banyak mengenai bagaimana melakukan penyembahan serta panggilan pelayanan dalam pujian dan penyembahan, kita akan membahas terlebih dahulu apa saja yang bisa menjadi penghalang kita melakukan penyembahan.

Penghalang Penyembahan

            Sekalipun memiliki suara indah, jika sedang sakit tenggorokan, suara indah tersebut pasti tidak bisa dinikmati. Nah, penyembahan pun demikian. Sekalipun penyembahan itu besar sekali dampaknya, jika penghalang-penghalangnya tidak disingkirkan maka akan menjadi tidak bermakna. Beberapa hal ini menjadi penghalang untuk kita dapat melakukan penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan:

  1. Tidak memahami arti penyembahan
  2. Ingin dipuji
  3. Terlalu agamawi
  4. Berpuas diri
  5. Memikirkan kata orang
  6. Hati yang tertutup

Tidak Memahami arti penyembahan. Di dalam 2 Korintus 3: 14, Paulus mengatakan Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Karena tumpulnya pikiran manusia, terkadang sulit untuk memahami bahwa penyembahan itu sangat penting dalam hidup orang percaya. Di atas sudah dijelaskan bahwa penyembahan sama pentingnya dengan firman Tuhan. Penyembahan merupakan ungkapan syukur dan ekspresi hubungan manusia dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa memuja orang yang sangat kita kasihi kalau kita tidak mengenal dia. Nah, begitu juga dengan penyembahan pada Tuhan, kalau pikiran kita tumpul terhadap kebenaran maka kita tidak akan dapat melakukan penyembahan sesuai dengan seharusnya.

Ingin dipuji. Lucifer, malaikat pemimpin pujian di sorga pun akhirnya dibuang oleh Allah ke bumi karena motivasinya dalam melayani Allah yang keliru, yakni untuk kepentingan diri sendiri, mencari pujian. Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! (Yesaya 14: 12). Tanpa kita sadari, terkadang kita melakukan penyembahan supaya dilihat orang, untuk mencari pujian semata. Nah, hati-hati dengan hal ini karena iblis biasanya memakai kelemahan kita ini untuk menjatuhkan kita, para penyembah  Allah.

Terlalu Agamawi. Ini juga bahaya loh. Kadang-kadang penyembahan harus mengikuti gaya atau ekspresi tertentu sehingga membuat para penyembah Allah tidak bebas berekspresi. Padahal tiap orang punya ekspresi yang berbeda-beda dalam menyembah Tuhannya. Misalnya aja pelukis, masakan gayanya sama? Bukankan firman Tuhan mengatakan bahwa kebenaranNya itu memerdekakan? Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka (Yohanes 8: 36). Jadi tidak perlu terkungkung oleh tradisi, adat, atau cara penyembahan tertentu namun tetap menghormati kekudusan Allah.

Berpuas Diri. Keberhasilan seseorang dalam mencapai target tertentu kadang mudah membuat orang mudah berpuas diri. Namun, karena penyembahan kepada Tuhan merupakan gaya hidup maka tidak bisa seseorang berpuas diri begitu saja. Seperti otot-otot jasmani kita dilatih untuk membentuk kekuatan tertentu, kedisiplinan rohani dalam penyembahan pun harus dilatih. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (I Timotius 4: 8).

Memikirkan apa kata orang. Jika kita tidak tahu tujuan kita dalam melakukan penyembahan, maka acapkali kita masih memikirkan apa kata orang. Ada salah satu rekan yang sampai sekarang tidak mau memimpin pujian karena takut dicela oleh orang lain yang mendengarnya. Kalau masih berpikir seperti ini, perlu dikoreksi lagi apakah sudah memahami arti penyembahan dengan benar.

Hati yang tertutup. Dalam Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Seorang penyembah yang benar selalu terbuka pada masukan dan memiliki hati yang ingin selalu diajar. Hati yang menutup terhadap pengajaran nantinya tidak dapat menikmati anugerah.

Kunci dalam Penyembahan

            Dalam mazmur 150: 6 dikatakan Biarlah semua yang bernafas memuji Tuhan! Halleluya. Semua manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menyembah Tuhan. Maka, seharusnya tidak ada yang berkata, “Aku tidak bisa memuji Tuhan”. Kunci dari penyembahan adalah hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Daud, Musa, Abraham, Yosua, sampai Paulus bisa menanggung karya Allah yang demikian hebat karena mereka hidup dalam penyembahan dan hubungan yang indah dengan Tuhan.

            Seringkali saya mendapat komentar seperti ini dari orang-orang, “Wah, hari minggu pasti kamu ga bisa pergi ya, kamu kan worship leader?”. Lalu saya bertanya dalam hati, “Tuhan, bukankah semua orang itu penyembah? Kenapa kalau worship leader tugasnya lebih berat Tuhan? Harus persiapan dulu, gak bisa main main”. Benar kawan, semua orang percaya adalah penyembah. Tapi, Tuhan memberikan kepercayaan kepada orang-orang tertentu untuk memimpin penyembahan dalam sebuah persekutuan atau ibadah. Orang-orang ini dipilih bukan karena mereka hebat atau punya talenta, namun semata-mata hanya karena anugerah Tuhan. Cerita bangsa Israel semoga bisa menjadi ilustrasinya. Bangsa Israel terdiri dari 12 suku. Tuhan memberikan tanah kepada masing-masing suku serta menyuruh mereka bekerja secara professional sesuai bidang masing-masing untuk kemuliaan Tuhan. Namun, tidak demikian dengan orang Lewi. Tuhan mengkhususkan orang-orang Lewi untuk menjadi pelayan altar. Pada waktu itu TUHAN menunjuk suku Lewi untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN, untuk bertugas melayani TUHAN dan untuk memberi berkat demi nama-Nya, sampai sekarang (Ulangan 10: 8). Orang lewi ini tidak diperkenankan memiliki pekerjaan seperti suku-suku lainnya, pekerjaan mereka hanya melayani Tuhan di tabernakel (kemah suci). Bahkan, Tuhan tidak memberikan tanah kepada mereka karena Tuhan sendiri yang menjadi milik pusaka mereka. Sebab itu suku Lewi tidak mempunyai bagian milik pusaka bersama-sama dengan saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti yang difirmankan kepadanya oleh TUHAN, Allahmu (Ulangan 10: 9). Tuhan sangat menghargai penyembahan, maka Tuhan benar-benar mengkhususkan orang lewi untuk memegang jabatan pelayan altar ini. Suatu saat, salah satu kepala pemimpin pujian bait Allah dari suku lewi, yakni Asaf, pernah berkeluh kesah (Mzm 73:1-4) , Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.
Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka…
Asaf khilaf dengan berpikir bahwa panggilan menjadi pemimpin pujian itu sangat mengungkung kebebasannya walaupun sebenarnya ada anugerah besar di balik panggilan itu.

            Nah, bagi kita yang akan atau tengah mengemban panggilan khusus sebagai pelayan altar ini, kita harus benar-benar mengenali panggilan itu. Panggilan pelayan altar adalah bukan sembarangan dan tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan juga. Biasanya dalam suatu persekutuan, akan beberapa tim yang dibentuk dan dikhususkan untuk melayani altar. Merangkum dari setiap perenungan mengenai pelayanan pujian dan penyembahan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan betul oleh pelayan pujian dan penyembahan. Saya menyingkatnya sebagai TRACH (artinya jalan nafas): Truth, bahwa setiap pelayan altar harus mengenal kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu; Relationships, seorang pelayan altar harus memiliki hubungan dengan Tuhan dan tim nya dengan baik; Act, seorang pelayan altar adalah orang yang berlaku seperti apa yang dia layankan; Creative, dia bukanlah orang yang kaku dan tidak bisa menerima perubahan, dia orang yang terus melatih dirinya untuk mempersembahkan korban terbaik; Holy Spirit, sumber pelayanannya adalah roh kudus semata. Intinya, penyembahan tidak dimulai dengan lagu, suara yang bagus, talenta yang luar biasa, tetapi dimulai dari pengenalan akan Tuhan sendiri. So,terimalah panggilan Tuhan, tanggunglah panggilan itu dalam kasih karuniaNya, dan nikmatilah anugrahNya yang menyingkapkan hikmat dan rahasia sorgawi setiap waktu kepada kita.

 

 


[1] Dibawakan dalam Workshop Pujian dan Penyembahan GKJ Susukan, Wonosari, 4 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s