Percayalah

Standard

Percaya pada hal yang belum tampak memang membutuhkan iman yang tidak tergoyahkan (Dikutip dari perbincangan dengan Ibu Ester, 2011).

“Apa kau percaya kalau aku mencintaimu?”, tanya Andre. “Ah, gombal. Buktikan dulu dong”, sergah Indah. Dari mana ya kepercayaan muncul? Apakah melulu dari sebuah bukti? Iya, seringkali orang berpikir untuk mempercayai sesuatu harus melihat buktinya. Padahal Tuhan berfirman bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang tidak melihat tetapi percaya. Beberapa hari yang lalu, mahasiswa bimbingan skripsi saya melakukan sidang. Sebelum masuk ruang sidang, dia minta didoakan. Lalau saya bertanya, “Apa kamu yakin bahwa Tuhan memberi kemenangan kepadamu?”. Dia menjawab dengan pasti, “Ya, saya sangat yakin”. Lalu saya menimpali, “Terjadilah sesuai imanmu. Ayo kita berdoa”. Selesai berdoa dia masuk ruang sidang dan mulailah pengujian itu. Setelah dicecar dengan berbagai kritik, dia tampak sangat lunglai. Tibalah saat pengumuman kelulusan. Tim penguji sudah memutuskan, dia masih layak untuk lulus walaupun banyak perbaikan. Namun, keputusan ini masih dirahasiakan darinya. Seorang dosen penguji bertanya, “Dengan segala kritik tadi, apa kamu masih yakin kalau kamu lulus?”. Spontan, dengan mimik ketakutan dia menjawab, “Tidak Pak, saya tidak layak lulus”.

Walaupun sudah tahu bahwa apa yang dia doakan itu ya dan amin, saat diperhadapkan dengan kenyataan yang menghimpit, kepercayaannya mulai bimbang. Kenapa? Karena dia tidak melihat bukti apa pun. Yang dilihatnya adalah kenyataan yang berkebalikan, yakni bahwa dia tidak bisa mempertahankan argumennya, tulisannya buruk, dll. Nah, dari kasus ini kita bisa belajar bahwa manusia itu lebih menyukai bukti daripada janji. Padahal, orang percaya hidup hanya oleh janji dan bukan bukti. Janji bahwa kuasa Tuhan yang membebaskan Bangsa Israel dari Mesir, menyeberangkan mereka melalui Laut Teberau, itu juga akan terjadi di masa ini. Janji bahwa kita akan hidup di tanah perjanjian. Janji bahwa kuasa yang diberikan pada kita untuk mengajar, menyembuhkan, membebaskan, itu sungguh nyata. KuasaNya tidak berubah dari dulu sekarang sampai selamanya. Namun, perlu iman yang tidak goyah untuk setia pada janji itu. Apakah untuk percaya pada janjiNya, kita masih membutuhkan bukti yang tampak? Setialah.

 

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s