Raja Bijaksana

Standard

Dengan terengah-engah dan ketakutan, si miskin menemui temannya yang terlebih dahulu menjadi punggawa di kerajaan Bijaksana.

“Apa yang harus aku bawa menghadap raja pada pertemuan nanti. Aku tidak memiliki apa pun yang bisa kupersembahkan. Konon jika dengan tangan hampa maka tamatlah riwayat kami.”, Si Miskin kebingungan. Dia mendapat undangan dalam pertemuan Rakyat-Raja minggu esok. Pertemuan ini memungkinkan raja memilih pegawai istanyanya dari golongan rakyat biasa. Maklum, namanya juga kerajaan bijaksana, selalu ada porsi untuk orang tak punya. Begitu katanya. Biasanya, pada pertemuan khusus itu, Si Terundang harus membawa semacam ‘persembahan’ untuk Sang Pengundang. Biasanya lagi, Si Terundang yang seringnya adalah rakyat jelata sampai harus hutang sana sini untuk membawa persembahan kepada raja. Kali ini Si Miskin kebingungan, kerbau tidak punya, lembu sudah dijual, rumah dia menumpang, apa lagi yang mau digadaikan.

Punggawa kerajaan itu menjawab bijak, “Kenapa engkau ingin sekali bertemu raja? Sudah berapa kali kubilang, kerajaan itu bobrok. Raja itu busuk”, respon si punggawa.

“Ah, bilang saja kamu iri. Kamu tidak bisa seperti dia yang begitu bijaksana dan dicintai rakyatnya. Kamu iri, bukan?”, tantang Si Miskin.

“Kenapa aku harus iri, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa tidak adilnya dia terhadap rakyat yang tidak empunya. Tembok istana itu jadi saksi. Hanya, fakta selalu tidak pernah sampai pada kalian, rakyat jelata. Emas permata selalu menyumbat mulut orang-orang yang keluar dari istana untuk mengabarkan kebenaran itu”, jelas si punggawa.

“Lalu kenapa dengan dirimu? Kenapa dirimu tidak seperti mereka saja? Jika benar raja begitu buruknya, kenapa kamu memilih menceritakannya padaku? Tak taukah kamu bahwa aku tidak percaya? Kenapa? Karena kau seorang diri, sedang ribuan orang yang lain berkata sebaliknya”.

“Sulit sekali mengatakannya. Tapi Kawan, kembali pada kebingunganmu, sesungguhnya kau tidak perlu membawa apa pun. Justru ketika kau tidak membawa apa pun, itu bisa membuat penilaian raja kian obyektif. Kadang ‘hadiah’ atau pemberian apa pun bisa menyilaukan mata, membuat keputusan tidak logis. Kamu bisa menilik hati raja dari hal ini”.

“Kamu tidak ingin mencelakakanku kan, kawan?”, begini Si Miskin bertanya lagi.

“Untuk apa? Setiap hari aku melihat di istana, raja dan punggawanya berlaku curang culas hanya karena melihat kilau ‘hadiah’. Sekarang saatnya kita melihat, kalau benar dia raja yang arif, dia akan membebaskanmu dan memberi kesempatan bekerja. Katanya kan ini Kerajaan Bijaksana, masakan hanya karena hadiah Raja paling Bijaksana itu tidak bisa melihat pegawai yang benar dan baik sepertimu?”, jawab punggawa itu penuh kepastian.

“Ah, betul juga perkataanmu itu. Bukankah beliau raja yang selama ini mengaku bijaksana”

“Dan lagi, apa hubungannya hadiahmu itu dengan kesempatan bekerja yang akan dia berikan. Bukankah dia mencari orang yang jujur? Seharusnya dia tahu benar, rakyatnya tidak akan mampu membeli hadiah-hadiah itu. Seharusnya dia tahu benar bahwa rakyatnya pasti berhutang. Dan seharusnya dia tahu benar kalau rakyatnya berani berhutang, itu menunjukkan usaha yang sangat lemah sekali untuk melayaninya. Bukan begitu, kawan?”.

“Betul juga apa katamu. Aku semakin yakin dengan keputusanku. Aku tidak akan berhutang. Aku akan menunjukkan diriku sebagai calon pegawai yang jujur. Akan kubuktikan kepada raja”.

Sampai hari pertemuan Rakyat-Raja itu tiba, Si Miskin benar-benar memegang keyakinannya bahwasanya raja yang bijaksana ini akan memilih orang yang benar-benar bersih, bebas dari hutang, dan siap melayani raja sepenuh hati. Si Miskin berbaris di urutan paling belakang. Bukan karena dia rendah hati, tetapi begitulah yang diatur oleh punggawa-punggawa istana. Dia mulai berpikir, kenapa dia berada pada barisan paling belakang. Dia memeriksa beberapa orang di depannya. Pada tangan mereka terletaklah sebingkisan hadiah, ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang serupa buah-buahan ranum dalam keranjang perak, ada yang emas berbongkah dalam anyaman rotan, atau ukiran kayu berusia ratusan tahun. Semua barang-barang itu sama sekali tidak mencerminkan siapa yang membawanya. Sebarisan rakyat lusuh, tidak berpendidikan, dan sangat miskin. Seolah-olah ada secarik tulisan di sela bingkisan-bingkisan itu, “Ini Hutang loh…”. Si Miskin spontan tertawa dalam hati memikirkan rasa syukur bahwa dia tidak termasuk barisan orang malang seperti orang-orang di depannya. Si Miskin mulai berandai-andai, raja bijaksana akan memilihnya, dan mengatakan kepada seluruh negri itu,

“Selama bertahun-tahun aku menerima bingkisan dari orang-orang yang akan kujadikan pegawai istana, belum ada satu pun yang berani maju dan membawa dirinya yang bersih sebagai persembahan. Mereka membawakanku ‘hutang’ yang tak terbayar sekalipun mereka menjadi budak. Ah, aku mencari orang yang bersih dan jujur”.

Lalu Si Miskin terkekeh lagi. Pelan. Sambil sedikit-sedikit maju, mengikuti gerakan lambat orang-orang di depannya. Lima jam sudah berlalu, satu per satu mereka sudah menghadap raja. Kini tiba giliran si miskin. Seluruh bayangan keindahan menyergapnya tiba-tiba. Beginilah pertemua Si Miskin dengan Raja Bijaksana.

“Siapa namamu?”, tanya Raja dengan sangat bijaksana.

“Hamba Si Miskin, Raja”, sahutnya bangga.

“Oh, baik sekali kamu sudah mau datang menemuiku hari ini”.

“Hamba yang sedianya berterima kasih, Raja”, timpal Si Miskin. Raja dan punggawanya tampak mengamat-amati Si Miskin ini. Dari atas kepala sampai kuku kaki, kembali lagi dari atas, ke bawah, dan seterusnya, hingga muncullah pertanyaan ini.

“Hambaku yang setia, selama bertahun-tahun…”, belum selesai raja bicara, sudah muncul gumam dalam hati Si Miskin, “Nah, betul kan, diawali dari kata-kata yang sama…Selama bertahun-tahun…sebentar lagi dia akan memujiku sebagai hamba yang bersih, yang memberi teladan, yang menghadap raja dengan penuh keberanian”.

“…selama bertahun-tahun rakyat datang padaku dengan membawa hadiah. Kenapa kamu tidak membawanya?”. Raja diam sejenak. “Itu sangat melukaiku sebagai seorang raja. Kamu tidak menaruh hormat padaku, kamu sembarangan. Kamu pantas dihukum mati”. Kalimat terakhir raja ini mengakhiri hidup Si Miskin, sekaligus menyudahi kepercayaannya bahwa raja itu adalah raja bijaksana.

Originally created by Primasanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s