Doa Karunia

Standard

(Dongeng untuk anak-anak, bagus dibaca oleh orang tua atau guru yang peduli pada pendidikan karakter anaknya).

Karunia berjalan sempoyongan. Seluruh badannya penuh dengan luka. Meskipun begitu, Karunia tidak bersedih. Bahkan, raut mukanya menampakkan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ada apa dengan Karunia ya?

Tadi, Karunia pulang dari sekolah berjalan kaki. Tiba-tiba dia melihat seorang anak kecil lari di jalan raya. Anak itu berlari menjauh dari mobil mewah yang diparkir di tepi jalan. Karuni melihat dari jauh dua orang dewasa sedang bercakap-cakap dengan tidak menghiraukan anak kecil itu. Mata Karunia beralih ke arah lain, dia melihat ada rombongan sepeda murid-murid yang pulang dari sekolah. Sambil bercanda, sepeda-sepeda ini hampir menyerempet anak kecil yang berjalan sendiri di tepi jalan itu. Untunglah, ketangkasan Karunia berlari membuat anak itu tidak jadi tertabrak karena Karunia mendorongnya ke samping. Walhasil, Karunialah yang ditabrak oleh empat sepeda kumbang. Sekujur tubuh Karunia luka.

Sempoyongan Karunia bangkit, namun anak itu sudah beranjak pergi digendong Ibu dan Ayahnya yang ternyata sangat perlente. Ibunya tampak menangis karena sangat khawatir pada anaknya, sedangkan ayahnya tergopoh-gopoh membawa mereka masuk ke dalam mobil mewah mereka. Mereka pergi begitu saja tanpa berterima kasih kepada Karunia. Namun, dari jauh, Karunia bisa merasakan, anak itu berteriak, “Terima kasih, Kakak.” Dan dia sudah cukup senang.

Karunia tidak bisa tidur semalam-malaman, sekujur tubuhnya benar-benar sakit. Dia mengerang. Tiba-tiba dia menangis saat menyadari bahwa anak kecil itu hampir sama seperti dirinya. Dulu, Karunia adalah anak sangat nakal. Dia tidak pernah sekalipun menuruti perintah orang tuanya. Padahal, ayah dan ibu karunia, meskipun sangat miskin, adalah orang tua yang sangat baik. Apa saja yang Karunia minta, selalu mereka berikan.

Suatu ketika, karunia bilang pada orang tuanya, “Ibu, aku mau sepeda.”

“Karunia, apa tidak salah permintaanmu? Apa kamu memang memerlukannya?” Ibu dan Ayahnya bertanya demikian karena di satu sisi mereka tidak ingin anaknya sedih mengetahui bahwa mereka tidak punya uang untuk membeli sepeda, tetapi mereka juga tidak ingin anaknya hanya ikut-ikutan teman-temannya saja.

“Iya, pokoknya aku tidak mau sekolah kalau tidak pakai sepeda,” begitu jawab Karunia.

Ayah dan Ibunya bingung. Berhari-hari mereka memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membelikan sepeda anaknya itu. Sampai suatu hari ada orang yang menawarkan sebuah pekerjaan untuk mereka dengan bayaran yang cukup untuk membeli sepeda. Mereka harus mengambil buah kelapa dari pohonnya di dekat pantai.

Hari itu tiba. Ayah dan Ibu Karunia pergi untuk bekerja. Mereka memanjat beberapa pohon kelapa untuk sang pemilik kebun. Hari sudah hampir gelap, pohon kelapa masih beberapa yang belum terpetik. Tiba-tiba, ada suara gemuruh dari laut semakin lama semakin besar. Blazzzzz …. glarrrrrrrrrrrr …. Dalam hitungan detik, seluruh pantai tersapu gelombang Tsunami. Seluruh kampung panik melarikan diri. Mereka membawa semua anak-anak lari dari desa itu dan meninggalkan semua harta benda mereka.

Karunia meronta-ronta ketika orang membawanya, “Ayah …. Ibu …. di mana kalian?” Dia berteriak-teriak. Tapi, sampai selama-lamanya Karunia tidak bisa lagi mendengar jawaban dari orang tuanya yang sudah pulang ke rumah Tuhan.

Karena musibah tsunami itu, sebagian besar anak yang tinggal di desa itu kehilangan orang tua mereka. Mereka ditampung dalam sebuah panti asuhan yang didirikan untuk memelihara anak-anak ini. Panti asuhan ini sangat baik, mereka menyekolahkan anak-anak dan memberi fasilitas yang baik. Panti asuhan itu juga memberikan sepeda yang bagus bagi mereka.

Malam ini, Karunia benar-benar tidak bisa tidur. Karunia sangat menyesal kenapa waktu kecil dia sangat nakal meskipun orang tuanya sangat baik dan selalu berkorban untuk dia. Seperti anak kecil tadi, Karunia belum sempat mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya. Tapi dia berdoa dan berjanji dalam hati akan menjadi anak yang baik sebagai ucapan terima kasih kepada orang tuanya. “Tuhan, tolong sampaikan kepada orang tuaku yang sudah ada di sisiMu. Aku berterima kasih kepada mereka sudah membuat anak nakal ini menjadi baik kembali,” lalu Karunia berhenti karena tangisnya semakin menjadi-jadi, “Karunia berterima kasih juga Ayah dan Ibu sudah memberikan Karunia sepeda yang sangat bagus,” begitulah doa Karunia lalu dia menangis lagi.

Biola Library – Kamar Tidur

Jan. 31 – Feb. 1, 2013

Prime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s