Beasiswa Oh Beasiswa

Standard

(A Journey to Fulbright Scholarship)

 

“Aku mau jadi wartawan.”

Ini jawaban favorit sewaktu ditanya, “Apa cita-citamu?” Tapi setelah jadi wartawan, aku justru merasa, itu bukan panggilanku. Manusia memang aneh; harus salah dulu baru tahu yang benar. Tak lama aku menyadari bahwa panggilanku sebenarnya adalah guru. Jadilah aku dosen di sebuah universitas swasta. Senang. Di universitas ini, aku mengajar Ilmu Komunikasi (kalau jaman dahulu disebut Ilmu Publizistik atau kewartawanan).

Selama menekuni bidang ini, aku jadi punya obsesi untuk jadi peneliti Ilmu Komunikasi. Kukejarlah berbagai beasiswa supaya aku bisa sekolah ke luar negri. Sayangnya … aku tidak tahu, sungguh, kenapa harus sekolah di luar negri. Tapi Tuhan meletakkan rencana ini dalam hatiku, meskipun aku seutuhnya tidak mengerti proyeknya Tuhan itu.

Setelah kuhitung, sejak kelulusanku, lima kali sudah aku melamar beasiswa dan ditolak. Padahal, melamar satu beasiswa itu membutuhkan daya juang dan persediaan makanan (hihihi) yang tidak sedikit. Bayangkan: menulis proposal, mencari referensi dari profesor dan pimpinan kerja, karya tulis, dokumen-dokumen, personal statement, dan berapa banyak???? Ratusan. Sebenarnya tidak ditolak juga sih,  cuma paling mentok sampai tahap wawancara.

Seringkali merasa tertekan juga lho karena sebagai dosen aku belum juga sekolah S2. Hfuuuhhhhh. Belum lagi, orang-orang di sekitarku dan seluruh semesta rasanya punya satu pertanyaan wajib untukku, “Kapan sekolah lagi?” Hyaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk … ciaaaaaaaaaaat … . Apakah memang aku harus sekolah di dalam negri saja?

Tapi tidak. Suara dalam hatiku untuk sekolah di luar negri begitu kuat, meskipun lagi lagi aku tidak menemukan argumennya (why, in the world, i have to study abroad?). Tapi, aku coba-coba saja memprediksi sendiri: mungkin harus menimba budaya multikultur, mungkin supaya pikiran jadi global, mungkin supaya jadi akrab dengan teknologi karena aku gaptek, ah … banyaklah alasannya. Tapi tetap tidak puas.

Eh, di tengah ketertekanan batin yang sedang kualami, ternyata aku dapat kesempatan untuk ambil master komunikasi di India. Tapi, you know what, pengumuman itu datang enam hari sebelum hari keberangkatan … dan … teng tereng … tanpa keterangan apa-apa. I am glad to inform you that you have been selected as a IC** grantee of 2010. Please come to the embassy (date: besoook) … . Aku membaca pesan ini tengah malam. Lalu kutelpon seluruh anggota keluargaku dan tentu saja kekasihku. Mereka mengatakan, “Iya. Ambillah.” Tanpa pikir panjang, aku pergi ke Jakarta dan meng-iya-kan panggilan itu. Kenapa? Karena panggilan itu memenuhi semua kriteria penantianku: 1). beasiswa; 2). luar negri; dan 3). komunikasi.

Kuhabiskan masa empat hari di rumah bersama keluarga dan kekasihku. Kami bercanda, berencana, dan bereuforia sampai tidak sempat menghayati sosok beasiswa ini. Sehingga, empat hari kemudian, aku sudah bersiap di depan bandara Adi Sucipto untuk berangkat ke India (Surabaya-Jogja-Jakarta-Singapore-India). Tapi, kenapa sesak sekali hatiku . Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan ibuku dan kekasihku. Entah, perasaan apa ini.

Dan, perasaan ini terus menjadi-jadi tanpa jawaban hingga aku sampai di sebuah negara bernama … India.

(bersambung ya … )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s