ICYEP: Lebih dari Pemenang!

Standard

(A Journey to Fulbright Scholarship)

Sejak tahun 2004 sampai 2007, kuliahku berjalan sangat mulus. Pagi aku kerja di radio, siang kuliah, sore ada kegiatan komunitas di gereja atau komunitas yang lain, atau mengerjakan tugas, trus malam kerja di radio lagi (kalau tidak, ya pacaran. hehe). Tahun 2007, satu tahun sebelum lulus, aku rasa ada yang kurang di kuliahku. Tidak seperti di masa-masa sekolah dulu, di bangku kuliah, jarang sekali aku ikut perlombaan. Pernah waktu itu ikut group project, dua kali, kami menang. Horeeee. Setelah itu?

Tahun 2006, terinspirasi oleh teman sekampusku yang mendapat kandidat 2 untuk dikirim ke Canada, tahun 2007 aku putuskan untuk ikut kompetisi serupa. Indonesia-Canada Youth Exxx Pxxx. Aku kagum dengan seleksinya. Kami dikarantina selama, ehm … lupa, tiga atau lima hari gitu. Kami di tes macam-macam, mulai dari pengetahuan umum, debat bahasa inggris, diskusi, seminar, pertunjukan budaya, pertunjukan seni dan ketrampilan, pidato, drama, adu argumentasi, ada juga make up di tempat gelap (hahaha … cemong kali mukaku waktu itu). Senang deh. Proses seleksinya ketat tapi sangat sistematis. Kakak-kakak pengujinya (alumni) juga sangat profesional bertugas. Aku jadi semakin ingin jadi alumni. Hehee.

Ada satu pertanyaan mereka yang menggelitik waktu itu. Mereka tanya, “Siapa yang kamu jagokan untuk jadi juara” (aku boleh memilih diriku sendiri). Tapi kubilang, “Aku jagokan si X karena dia cerdas.” Trus, mereka tanya lagi, “Kalau kami harus memilih kamu dan si X, siapa yang harus kami pilih dan kenapa?” Wah, pertanyaan jebakan. Aku diam, berdoa minta hikmat Tuhan. Hehehe. Ini jawabanku, “Si X sangat cerdas, cantik, sangat cocok menjadi kandidat untuk berangkat ke Canada mewakili Indonesia. Tapi, saya pikir, untuk perjalanan panjang ini, kalian butuh seseorang yang mature, bukan hanya cerdas; dan saya siap kalian andalkan. Bukan karena Si X lebih muda dari saya, dia jadi tidak dewasa. Hanya, semalam kita sudah membuktikan (semalam si X nangis ketika babak adu argumentasi). Mungkin, dia bisa mendapat kesempatan selanjutnya.” (Bwuahahahahaha … aku ketawa sendiri. Kok bisa aku punya pikiran aneh begini ya?).

Seminggu berlalu, waktunya pengumuman. Yay! Aku pemenangnya. Senang. Keluargaku juga senang. Sejak saat itu, tergambar sudah di pikiranku Canada dan segala privilege yang bisa kudapat di sana. Sayangnya aku tidak pernah memikirkan perasaan kekasihku yang belum siap berpisah mendadak begini. Dia dengan bijaknya mengatakan, “Kamu jangan pikirkan apa-apa, konsen aja ke persiapanmu. Semua urusan komunitas, aku yang urus nanti.” Aku bersiap mencari sponsor untuk cinderamata. Belajar bahasa Prancis bersama para alumni, diskusi, sharing pengalaman. Bahkan, berita kemenangan ini masuk di beberapa surat kabar. Orang tuaku sudah menyiapkan segala keperluan yang akan kubawa. Mereka begitu bersemangat. Tapi, ada satu keperluan yang untuknya aku selalu bilang, “Jangan beli sekarang, Buk. Jangan. Kita tunggu dulu.” Benda itu adalah mantol dingin yang sesungguhnya menjadi benda pertama yang kupersiapkan. Tapi justru ini menjadi tanda dalam hatiku. Ada apa gerangan dengan beasiswa ke Canada ini? 

Seminggu berlalu, tidak ada pengumuman apa pun. Aku menelpon ke Dinas Pe….dan …O…, dan tidak ada respon. Aku betul-betul bergetar waktu itu. Aku menelpon lagi lain hari. Jawaban ini yang kudapatkan, “Maaf, keberangkatan penerima beasiswa ke Canada dari Jogja dibatalkan. …. tuttt tuttt … .” Aku tidak tahu harus berbuat apa pada waktu itu. Aku menemui para alumni, dan mereka juga tidak tahu apa yang terjadi. Aku tanya sana sini, tidak ada penjelasan yang berarti. Di kala itu, rasanya semua orang mencibir dan menghina: “Yealaaaahhhh … kaga jadi pergi niyeeee … .” Malu ini mau ditaruh di mana? Aku menangis sejadi-jadinya. Kurasa, ini hal ke dua di dunia yang membuatku terpuruk sejadi-jadinya. Dan, di saat seperti ini, hanya ada aku dan kekasihku. Sama seperti ketika aku akan pergi, dia pun tidak berkata apa-apa meskipun hatinya pasti juga pedih. Kediaman, ketulusan, dan kesetiaannya mengantarku pulang pada rencana Bapa.

Berminggu-minggu aku hanya diam di tempat kosku tercinta. Dalam kediaman inilah, baru aku menjadari kalau aku tidak pernah melibatkan Tuhan dalam setiap proses yang aku mau jalani itu. Waktu aku mendaftar, ya, aku berdoa; waktu di tempat seleksi, ya aku berdoa; setelah itu … tidak, aku tidak melibatkan Bapaku, padalah Dia yang punya rencana.

Lama setelah kejadian itu, baru aku menjadari bahwa masa itu adalah musim di mana Tuhan mengajarku untuk tidak menggunakan agenda pribadiku lalu bermegah pada kemampuanku sendiri. Dia mau aku menghapus agenda pribadiku dan mempersilakan Dia mengisinya dengan proyekNya yang gemilang dalam hidupku. Kejadian ini benar-benar mengajarku untuk semakin dewasa dan mengenal siapa Bapaku yang merencanakan hidupku,  bahkan sebelum aku dilahirkan, bahkan sebelum bumi dijadikan. Setelah merenungkan ini bersamaNya, aku merasa Dia menjadikanku lebih dari pemenang. Siap untuk perlombaan selanjutnya, bersama penyertaanMu, Bapaku.

(sejak saat ini, aku merasa Bapa begitu kuat meletakkan rencanaNya untukku bersekolah di luar negri pada waktuNya. Bagi sebagian orang ini terdengar konyol. Tapi bagiku sungguh nyata. FirmanNya yang kudengar menyatakannya … aku tidak tahu kapan itu terwujud, dan untuk apa. Tetapi, aku percaya pada rencanaNya). 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s