India: Mengapung di Semesta

Standard

(A Journey to Fulbright Scholarship)

 

Bagi orang yang tidak mengalami prosesnya, mendapat beasiswa tampak sangat menyenangkan dan rasanya membuat iri. Tapi, mereka ini tidak tahu bahwa prosesnya sangat menyakitkan. Bahkan, lebih dari yang bisa terekspresikan oleh tulisan ini. Jadi, ini hanya semburatnya saja … 

Setelah berkali-kali melamar beasiswa. Tahun 2010, akhirnya aku mendapat beasiswa ke India. Aku pergi tanpa persiapan yang matang karena pengumumannya enam hari sebelum keberangkatan. . Tapi karena tekad bajaku untuk sekolah di luar negeri dan menjadi peneliti komunikasi, segera, maka pergi daku meninggalkan tanah air tercinta. Aku pamit pada semua teman, rekan di kantor, dan keluargaku. Mereka senang dan bangga. Tapi, ada perasaan yang tidak wajar sejak aku mempersiapkan keberangkatan mendadak ini. Di pesawat, hatiku sangat sesak, tidak kuasa menahan tangis. Bersandar di jendela pesawat, aku bertanya, “Apa sih, sebab sesaknya hati ini? Bukankah seharusnya aku senang ya? Bukankah ini impianku?” Aku bingung. Sampai di Singapore, perasaan tidak enak semakin menyelubungi jiwa raga. Aku mondar-mandir sambil membunuh waktu di bandara yang perlente itu. “Apakah ini hanya ketergesaan dan upaya menghindari pertanyaan orang ‘dosen kok belum S2’?” Ah, aku mual.

Sendiri menaiki pesawat menuju India adalah hal yang waktu itu menjadi komitmen untuk tidak akan kuulangi lagi. Aku mencari tempat duduk dan membanting tubuhku tanpa alasan. Berupaya menyuguhkan sebongkah senyum pada penumpang lain di kiriku yang adalah keluarga dari India, tapi aku gagal. Lesu, letih, dan ingin pulang saja rasanya. Aku ingat wajah kekasihku yang selalu bilang, “Semangat ya, Dek!” Meskipun dia selalu ketar ketir menanti kekasihnya pergi ke luar negeri.

Satu jam berdiang, penumpang di kiri mulai mengajak ngobrol, dan pertanyaan ke duanya (pertanyaan pertama: mau apa ke India) adalah, “Kenapa mau sekolah di sana, saya saja menyekolahkan anak saya ke luar kok?” Aku diam dan hatiku membeku.

Sepanjang perjalanan, tidur pun tidak sanggup. Surealis. Mistis. What the heck is going on inside here? Enam jam mengarungi langit bebas rasanya enam ratus tahun tersesat di hutan belantara. Masih jelas terlukis di memoriku biru tua lautan di bawah dan biru muda awan-awan, rasanya aku mengapung di semesta. Biru. Biru. Biru sebiru hatiku. Tertidur sebentar, lalu bangun lagi dan menyesal.

Sampai di Bandara Chennai, India, aku tidak boleh keluar karena tidak punya alamat tujuan yang jelas. Di sana tidak bisa sembarangan memakai kartu telpon, harus mendaftar di dinas imingrasi dan bla bla bla … dan semua ini tidak kuketahui sebelum berangkat. Aku beraharap, instansi pemerintah yang akan menjemputku nanti bisa menjelaskan semua ini. Tapi dia tidak muncul juga. Aku keleleran di bandara itu. Masih biru.

Akhirnya, ada pengusaha dari Singapore yang menolongku. Dia membantuku keluar dari bandara itu dengan menerangkan bahwa aku adalah temannya. Dia memberi kartu nama padaku, dan ternyata dia adalah bos dari salah satu perusahaan elektronik terbesar di negara itu. Hmmmm …. (Ini sebagian kecil dari cara Tuhan menggendongku yang invisible).

Keluar dari bandara, tempatnya sangat gersang dan panas. Tidak ada orang berpakaian rapi, yang katanya utusan dari instansi pemberi beasiswa, yang akan menjemputku. Tiba-tiba seorang bapak tua membawa papan nama instansi tersebut. Aku hampiri dia dengan penuh rasa takut, gemetar, karena penampilannya tidak seperti utusan instansi (again, don’t judge a book by its cover, girl). Setelah bercakap, teman-baru kenal-dari Singapore-ku pesan kepada bapak itu supaya dia menjaga aku, kalau tidak nanti dia akan berurusan dengan teman ini (hihihihihi. saya jadi merasa penting. Rasa gemetar sedikit berkurang. Ini juga pertolongan Tuhan pasti). 

Kami sampai di kantor, yang tidak mirip kantor. Lalu, bertemu dengan pimpinannya yang sangat baik. Sangat baik. Dia menyambut aku dan menerangkan seluruh prosedur beasiswa yang akan aku terima. Sejak dari sinilah, aku merasa menemukan ada yang janggal. Ternyata, mereka mau melakukan metode reimburse di mana aku harus bayar dengan uangku dahulu, nanti baru diganti. Ini hal pertama yang membuat aku lemas karena, sungguh, aku tidak membawa uang. Ke dua, universitas yang aku tuju ternyata tidak memiliki jurusan seperti yang tertera dalam surat lamaranku (hmmm, dan itu tidak di-expose/ di-update di website mereka). Satu lagi, teng tereng, kelasnya memakai papan tulis dan kapur, serta tidak ada komputer dan lab seperti yang kubayangkan.

Lalu, aku dikenalkan dengan seorang teman (satu dari lima yang ada di kota itu), kandidat doktor dari ITB yang sedang penelitian di Anna University. Dia menolongku dalam segala hal: memberi tempat berteduh meskipun kamarnya hanya bisa dipakai untuk satu orang; memberiku makan, meskipun dia bingung karena tak satu pun makanan mau masuk ke perutku; dan meminjamiku telpon dan internet. Dengan internet ini, akhirnya aku bisa menghubungi kekasihku di rumah. Aku menangis. Lagi. Tiga hari sudah aku tidak makan. Aku seperti berada di perut ikan, lari dari Kota Niniwe.

Satu hari itu, aku berdoa dengan sungguh. “Tuhan, aku minta ampun karena tidak terlebih dahulu bertanya pada Tuhan tentang perjalanan ini. Tapi aku tahu, kalau hal ini Engkau ijinkan terjadi, Engkau pasti sedang mau membentukku lagi. Aku terbuka, bawalah aku, Tuhan, ke mana Engkau pergi. Aku bertobat dari patuh terhadap agendaku sendiri.” Aku bersaat teduh pagi itu, dan kudapati sebuah pesan tertulis, “Ke mana pun engkau pergi, Aku akan menyertaimu. Jangan khawatirkan setiap langkahmu.” Aku, lagi-lagi, menangis.

Aku bertanya kepada temanku di situ, apakah aku harus mengambil beasiswa ini atau aku sebaiknya pulang saja (dengan segudang konsekuensi, tentunya: harus menukar biaya tiket 10 juta, harus menjelaskan kepada pimpinan universitas hal yang logis dan masuk akal, malu, malu, malu, malu, dan malu). Dia mengajakku bertemu dengan seorang profesor, yang ternyata dia adalah teman seorang ahli komunikasi yang kuidolakan (Dennis McQuail). Dia menanyaiku A sampai Z, dan setelah mengetahui visiku dan mempertimbangkan universitas ini, dia menyarankan supaya aku minta pindah universitas (yang ternyata tidak diperbolehkan oleh instansi pemberi beasiswa).

Ke dua, aku bertanya pada dekan di fakultas itu. Kami ngobrol sebagai teman, dan dia bilang, “Kartika, considering your transcripts and your vision that you shared, I think this is not the best place for you. Go back, find another scholarship, and reach your dream.” Orang bijak ini sungguh dipakai Tuhan untuk membawaku pulang.

Setelah menjadi gelandangan di India selama beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak bisa menjelaskan hal-hal ini secara detil pada pimpinan universitasku, teman-teman, atau pun keluargaku. Aku pulang. Bagaimana pulangnya? kan tidak punya uang? Itulah. Kekasihku yang tulus dan setia itu menggunakan tabungannya untuk membelikanku tiket pulang.

Masih di tahun 2010, aku pulang dari menempuh studi S2, tanpa membawa gelar master plus oleh-oleh malu, dan harus membayar ganti rugi yang sangat besar (entah gimana cara Tuhan, tapi semua terbayar juga). Gembalaku menyambutku dengan pelukan dan mengatakan satu hal, “Segala sesuatu yang kita mulai dengan terburu-buru, pasti hasilnya tidak baik. Tuhan mau kita cermat, bersabar, dan melibatkan Dia dalam rencanaNya.” Ya, itulah pelajaran besar yang kudapat dari master kehidupan, rencanaNya bukan rencanaku; dan rencanaMulah yang akan tergenapi di hidupku. Ketika sepertinya Dia membiarkan kita mengapung di semesta, sesungguhnya tangan kuatNyalah yang menopang kita dari ketertenggelaman. Aku semakin mengerti. Terima kasih Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s