Saatnya Mengapung di Negri Sendiri

Standard

Impian bernama impian karena kita belum melihatnya. Hidup mengejar impian membutuhkan iman yang tidak tergoyahkan. 

Setelah kembali dari India tahun 2010, tanpa membawa gelar master, rasaya hari-hari yang kulalui sedikit berubah. Langit yang biasanya biru jadi abu-abu, air yang biasanya bening jadi keruh tak bersebab, dan daun yang biasanya hijau jadi semburat memerah. Agak berlebihan sih, tapi itulah yang kualami: hidup berubah menjadi lebih sepi dan murung. Waktu itu aku bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang menyebabkan kekeringan batin ini? Apakah peristiwa India itu? Seharusnya, dengan kematangan berpikir seperti yang kumiliki saat itu, hal sesepele itu tidak mungkin membuatku terpuruk, kan? Tapi itu terjadi lho.

Hari-hari itu, setiap mengajar di kelas, meskipun aku sudah mempersiapkannya dengan menggebu-gebu, rasanya kosong. Hari-hari kuisi dengan banyak kegiatan sampai kadang tidak bisa bernafas. Bayangkan, berangkat kerja di pagi hari, pulang di malam hari, koreksi, kegiatan komunitas, mempersiapkan materi, bangun pagi lagi, kerja lagi, dan begitu seterusnya. Saat itu, aku berharap ada orang yang bisa mengerti dan menawarkan persahabatan tanpa menginginkan pamrih, tapi semua yang kulakukan rasanya adalah pekerjaan di mana aku bekerja untuk seseorang dan seseorang mengupahku, dengan persahabatan salah satunya. Tidak perlu kusebut contohnya ya, cukup kudeskripsikan jiwaku yang super kering waktu itu.

Dengan sepeda motor bututku, aku melajui rute tetap setiap harinya. Di rute itu lah, acapkali aku bergumam, bertanya-tanya, menangis, lalu tertawa lagi di atas sepeda motor. Sendiri. Ini pertanyaan wajibku setiap hari, “Tuhan, kapan ya aku bisa sekolah lagi? Apa yang bisa kuberikan kepada mahasiswaku tiap hari? Rasanya sudah habis.”

Dan, aku selalu mendengar respon yang hampir sama dari orang-orang di sekitarku, “Jangan terlalu berambisi sekolah di luar negri. Sekolah saja di dalam negeri.” Tapi aku tidak tahu, impian untuk sekolah di luar negri itu semakin kuat, meskipun semakin buram aku melihatnya. Ah, pernyataan ini pun membuatku semakin lama mengapung di negri sendiri.

Bagi kalian yang sedang mengapung begini, yang melihat cita dan impian tampaknya sebuah kemustahilan, jangan pernah menyerah. Mengejar mimpi membutuhkan iman yang tidak tergoyahkan, sekalipun kita harus mengapung sedikit lama. Bersabarlah.

2 responses »

  1. Dream is there to be reached and owned…the effort seems impossible, the voices around you may cause you pain and tears. But, just hold on to it, cause your future is not decided by people, but by God.
    I had felt the same, but i try to see beyond what happened around me…i believed.

  2. Vidio,

    That is so true, Dream catcher. However, I found a dream beyond a dream I dreamt. And I feel, that is my true dream ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s