Euforia Semu

Standard

(A Journey to the Fulbright Scholarship)

Tangisan dan tawa manusia di dunia ini, jika mau dimaknai lebih tajam, adalah residu dari proses pemurnian mereka.

 

“Saya tidak tahu” adalah jawaban yang paling sederhana yang bisa mewakili penjelasan  atas pertanyaan “Kapan mau sekolah lagi?” Sembari menjawabnya, aku balik bertanya, “Kenapa selalu pertanyaan itu yang muncul?” Akhirnya aku sadar bahwa pelabelan itu terjadi seumur hidup. Dalam lingkungan yang sempit, jika sedari kecil seseorang sudah dipatok–dengan standar masyarakat terntentu–untuk meraih sesuatu dalam ekspektasi mereka, maka hal itu seolah-olah menjadi “nubuat” yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan.  Imajinasiku mengatakan bahwa lingkungan keluarga, masyarakat, dan komunitas melabeli diriku dengan predikat “akan cepat bersekolah lagi” (entah bagaimana Anda mengintepretasi label ini). Demikian, dengan rupa-rupa kejadian seputar “sekolah lagi” yang pernah aku alami, tidak bisa mencopot label itu dari diriku.

Ketidaksempurnaanku tidak mengijinkanku sepenuhnya membiarkan Tuhan menulis agenda hidupku dengan tanganNya sendiri. Diam-diam, aku mengintip-intip sembari bertanya, “Apakah agenda Tuhan baik buatku?” Ketidakyakinanku ini membuatku terjerembab dalam euforia semua belaka, berkali-kali pula.

Sepulang dari negeri India, aku mendaftar lagi beasiswa ADS (Australian Development Scholarship), untuk bersekolah ke Australia. Setelah menanti berbulan-bulan, akhirnya, untuk ke sekian kali (kalau tidak salah ke-3 kali) aku mendapat panggilan wawancara dan test IELTS. Proses wawancara terkesan lancar, tak satu pun pertanyaan tak terjawab olehku. Waktu itu kami berbicara mengenai “identity” sebagai masalah utama krisis yang dialami dunia ini. Wuaaaaa….  Aku mendapat score IELTS yang lumayan untuk masuk ke universitas yang akan kutuju. Tetapi, aku tidak pernah berangkat ke sana, aku tidak diterima dalam seleksi akhir beasiswa itu.

Tidak terlalu sedih, mungkin karena sudah terbiasa. Tiba-tiba aku mendapat tawaran dari kampus untuk melanjutkan sekolah ke Australia juga. Dag dig dug luar biasa. Aku hubungi orang tua ku dan kekasih juga, memberitahukan kabar bahagia ini. Tetapi, aku tidak pernah berangkat jua ke Australia sana.

Tidak begitu sedih, hanya sedikit kecewa. Kekecewaan menjadi buah dari euforia semua yang kulalui beberapa kali karena orang-orang terdekat sudah mulai menyerah untuk mendukungku bersekolah di luar negri. Seorang kakak mengatakan, “Kamu terlalu berambisi. Sudahlah, sekolah di dalam negeri saya.” Lagi-lagi, saya tidak tahu harus menjawab apa, saya sendiri tidak mengerti untuk apa saya ingin sekolah ke luar negeri. Satu hal yang saya ingat, saya sudah menghapus agenda saya dan mempersilakan Bapa menuliskan agendanya. Pelabelan yang dibuat manusia untuk menerjemahkan siapa diri kita pun sebenarnya hanya semu belaka. Tuhan sudah melabeli kita dengan sebutan “My beloved,” jadi, jika pun ada tangis karena euforia semu, percayalah, itu bagian dari proses pemurnian impian-impian kita di dalamNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s