Kejutan: Mendaftar Fulbright

Standard

Biasanya, setelah kita diajak memaknai suatu kejutan, kita akan berjumpa dengan kejutan-kejutan yang lebih dahsyat lagi. Acapkali, kelemahan kita tidak sanggup menerima kejutan itu …

 

Ajakan untuk bergabung dalam tim pendirian department pendidikan adalah konfirmasi awal dari panggilan untuk mendalami dunia pendidikan.

Masih di Bulan April yang gerah dan penuh kejutan, di sela ke-apatis-an ku mendaftar beasiswa, aku menantang diriku lagi. Aku berdoa: “Tuhan, jika Engkau benar panggil aku di dunia pendidikan ini, Kau pasti akan perlengkapi aku dengan caraMu. Kalau caraMu adalah denganku mendapat beasiswa Fulbright ke US ini, maka, aku pergi hanya jika Engkau utus.” Nah, sebagai catatan, beasiswa Fulbright ini adalah beasiswa yang cukup prestisius di Indonesia dan proses seleksinya sangat sulit. Aku belum pernah mencobanya kecuali sekali, iseng-iseng waktu masih jadi mahasiswa. Ya, jelas tidak diterima.
Tapi, kali ini dengan kesungguhan aku mendaftar. Aku tantang diriku untuk benar-benar bergantung pada Tuhan. Mungkin bagi orang awam mustahil karena aku mengambil jurusan yang sama sekali berbeda dengan S1-ku. Alih-alih mengambil bidang komunikasi, aku memilih untuk mengambil bidang pendidikan untuk anak-anak. Entah, tidak seperti ketika mendaftar beasiswa-beasiswa yang lalu, kali ini aku sedikit tenang. Aku tuliskan personal statement-ku dengan rapi. Aku bilang, untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia, perlu kita memahami kolaborasi antara media dan dunia pendidikan itu sendiri. Aku punya pengalaman di bidang media, sekarang saatnya aku mencari bekal dalam keilmuan pendidikan supaya bisa mengembangkan visi itu dengan maksimal, khususnya untuk anak-anak yang akses pendidikannya kurang. Yah, kira-kira begitulah singkatnya visiku.

 

Sembari menanti, aku mulai terlibat dalam rencana pendirian education department di kampusku. Pimpinanku mengajakku untuk berkeliling ke sekolah-sekolah di kota-kota besar untuk melihat bagaimana pendidikan dijalankan. Kurang lebih satu minggu aku pergi bersamanya. Kurasa, aku bisa menamainya perjalanan spiritual singkat. Percakapan-percakapan pribadi dengan rekan ini membuka mataku bahwa perjuangan di dunia pendidikan membutuhkan bukan saya otak, otot, tenaga, waktu, biaya, tetapi juga hati yang tegas nan lembut. Berjumpa dengan para pesohor pendidikan, para pemimpin sekolah-sekolah ternama, para dosen dan guru, serta mahasiswa-mahasiswi dari luar pulau, sungguh membuka mataku betapa masih banyak hati yang belum tersentuh dan pikiran yang belum terbuka di tanah air yang katanya sudah merdeka ini. Salah satu pimpinan dari sekolah yang ternama ini mengawali misinya dengan “blusukan” di pedalaman untuk sekadar mengajar ABC, 123, dan menjadi teman bagi anak-anak yang belum mendapat akses pendidikan. Aku jadi ingat, selama ini, Tuhan sebenarnya sudah menunjukkan padaku panggilan ini, hanya aku tidak menyadarinya jua, justru memilih bersenang-senang dengan keasyikanku sendiri. Aku cerita sedikit ya ….

 

Tahun 2005, sewaktu masih mahasiswa, aku bertemu seorang gembala dengan istrinya. Mereka melayani anak-anak jalanan di Jogja dengan komunitas mereka bernama Shine. Ada satu temanku yang mengenalkanku pada mereka, dia bilang, “Bapak ini ajaib lho, dia buka rumahnya seluas mungkin sehingga anak-anak jalanan bisa tinggal sama dia. Dia juga ijinkan siapa aja main komputernya.” Itu yang membuatku datang dan berkenalan dengannya dan komunitas itu. Di situ, aku banyak diajar tentang mendidik yang sejati. Bersama anak-anak jalanan, aku mengerti bahwa pendidikan bukan hanya milik orang yang bisa bayar, pendidikan itu bisa kita ciptakan dengan persahabatan dan cinta kasih. Aku tidak mengajar apa-apa untuk komunitas ini, tetapi aku diajarkan hal-hal yang kadang tak mampu kuselami, yakni bahwa mendidik adalah mentransformasi hati dan dilakukan dengan cinta yang tak terbatas. Trimakasih, Dreamhouse.

 

Tahun 2009, setelah pindah ke Surabaya. Aku bergabung dengan Shine Surabaya. Berbeda dengan Shine di Jogja, komunitas Shine di Surabaya belum punya banyak pekerja. Terhitung, hanya dua orang waktu itu: aku dan gembalaku. Awalnya, dia mengajakku untuk mengunjungi keluarga nelayan di Kenjeran. Kami sangat bersemangat sekali waktu itu. Bermain dengan anak-anak nelayan itu mengajar kami tentang kepolosan dan kemurnian hati. Setelah hampir tiga tahun mengunjungi mereka, ada banyak anak yang tertarik untuk belajar dengan kami. Tahun 2010 kami membuka sanggar belajar namanya Rumah Belajar. Ada sekitar 20-30 anak datang untuk belajar menari, menggambar, mewarnai, mendengar dongeng, bahasa inggris, dan ketrampilan lainnya. Sayang, karena ulah orang yang kurang bertanggung jawab, sekolah itu ditutup. Aku sempat sedih tak berkesudahan waktu itu. Tetapi aku sadar, perjuangan pendidikan bukan hanya ketika kita melihat buah, tetapi ketika kita menabur benih dengan air mata jua.

 

Kembali ke cerita tadi ya ….

Nah, setelah mengingat dan merenungkan pengalaman-pengalaman yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupku, aku baru sadar  bahwa sejak lama Tuhan telah menaruh visi itu di hati. Betapa bebal dan dungu aku ini, baru sekarang menyadarinya.

 

Sepulang dari perjalanan spiritual singkat itu, langkahku semakin mantap untuk berjalan bersama Tuhan. Aku berdoa, “Tuhan, transformasi diriku. Apa yang aku butuhkan untuk melayani Engkau melalui dunia pendidikan, penuhkanlah sesuai kekayaan kasih karuniaMu.” Sekitar Bulan Juni, aku mendapat email mengejutkan yang katanya”

“Dear Ms. Primasanti:

I am writing to inform you that you have been nominated as a candidate for a Fulbright-DIKTI Program scholarship to pursue study for a Master’s degree in the United States commencing with the Fall 2012 academic term.”

 

Aku tidak sanggup membacanya waktu itu, aku minta temanku membacakannya. Tuhan, begitu besar kejutan itu. Tatkala yang kulamar justru yang paling mustahil, Engkau memberikannya seturut kasihMu. Terimakasih untuk kejutan dan konfirmasi dariMu. Aku percaya, yang dari Tuhan itu tidak ada diskon.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s