Kejutan: Transformasi

Standard

Ada banyak kejutan-kejutan dalam hidup kita, bagiku, kejutan yang paling berarti adalah makna di balik kejutan itu.

Perlu waktu sangat lama sampai aku bisa memahami makna dari kejutan menghebohkan yang baru aku dapat.

Tahun 2011, sekitar Bulan Maret yang masih panas, aku merenungkan lagi tentang panggilanku di dunia pendidikan. Di bulan yang sepi tapi gerah itu, Tuhan membimbingku untuk bertekur dengan panggilan hidup yang lebih spesifik. Membaca buku berjudul “God’s Smuggler: Brother Andrew,” menyisakan kontemplasi akan panggilan Tuhan dalam hidupku. Brother Andrew adalah seorang “penyelundup” alkitab ke tempat-tempat di mana kekristenan adalah hal yang dilarang. Perjalanannya dari seorang yang “bingung” menjadi seorang misionaris yang tangguh diiringi banyak pertanyaan, kegelisahan, dan “kegagalan” (yang sebenarnya adalah pelatihan dan pemurnian panggilan).  Buku ini membuatku berpikir, apa sesungguhnya rupa panggilanku di dunia ini? Betulkah aku akan melayani Tuhan sebagai dosen Ilmu Komunikasi? Betulkah Tuhan memanggilku sebagai misionaris? Betulkah aku …

Dalam perenungan itu, aku mendapati bahwa selama ini aku terlalu banyak menyisipkan agenda-agenda pribadi dalam rencana Tuhan, kadang dengan penuh paksa seperti “Tuhan, plis, aku mau jadi dosen komunikasi … Tuhan, plis, aku mau ini, itu, dll … .”  Tapi indahNya hati Tuhan, ketika aku mereka-rekakan hal yang sesuhngguhnya buruk, Dia ubah menjadi hal yang baik pula. Di dalam doa dan puasa, aku menemukan bahwa meskipun aku bisa meraih banyak prestasi dalam bidang Ilmu Komunikasi, aku sedang tidak memenuhi panggilanku dengan maksimal. Paulus diutus Tuhan ke Roma untuk menyiapkan “Paulus-Paulus” yang baru, pernyataan inilah yang menjadi titik balik panggilanku. Selama mengajar di bidang komunikasi, aku saksikan banyak mahasiswa yang sukses dengan profesinya: sebagian menjadi entertainer, penyiar, kameramen, public relations, dan profesi di bidang komunikasi lainnya. Itu bagus, aku sangat bangga pada mereka. Aku menyaksikan bahwa anak-anak ini lahir dari tangan guru-guru (baca: dosen) yang handal, rekan kerjaku yang hebat, para senior yang takut akan Tuhan. Tapi, siapa yang kelak meneruskan mendidik guru-guru yang handal ini? Merenungi hal ini, mataku terbuka bahwa kerinduan sejatiku adalah mendidik mereka yang akan menjadi calon pendidik jua. Mungkinkah Tuhan panggil aku untuk hal ini? Sejak aku berkontemplasi dengan hal ini, konfirmasi demi konfirmasi Tuhan bukakan. Sampai kejutan ini muncul …

Awal April yang panas, di tahun 2010.

Pagi itu hening sekali. Belum ada satu orang pun di kantorku. Aku sengaja datang pagi supaya punya banyak waktu untuk merenung yang sekarang jadi hobiku. Tiba-tiba, seorang rekan dosen senior datang ke mejaku. Aku tak begitu mengenalnya, tapi aku tahu dia salah satu yang punya pengaruh di lingkungan kerjaku. Ini kata-katanya yang membuat bulu kuduku merinding jika mengingatnya, “Prima, saya tidak begitu kenal siapa kamu dan tidak tahu kamu sedang bergumul tentang apa, tetapi yang saya dapat dari Tuhan, saya harus mengajakmu untuk bergabung dalam tim untuk membangun Education Department di kampus ini.” Dia tidak banyak bicara hal lain, meskipun ada, hanya satu kalimat singkat dan tegas itulah yang bisa kuingat.

Tak kusangka, pernyataan mengejutkan itulah yang membawaku pada konfirmasi-konfirmasi Tuhan berikutnya atas panggilanNya padaku …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s