Full and Bright

Standard

Masih cerita tentang perjalanan saya sebagai mahasiswa Fulbright.

Setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, akhirnya pada Juni 2012 saya berangkat untuk menjalani kesempatan dan kepercayaan sebagai mahasiswa penerima beasiswa Fulbright.

Pengalaman pertama terbang ke luar Benua Asia sungguh menggetarkan hati. Hal ini mengingatkan saya akan pengalaman terbang ke India dua tahun sebelumnya. Sekalipun sama-sama menerima beasiswa, kali ini hati saya penuh dengan sukacita karena saya percaya Bapa sendiri yang menuliskan agenda ini untuk saya.

Perjalanan berlangsung sangat mengesankan. Tibalah saya di sebuah airport yang sangat besar di Chicago. Karena belum punya pengalaman, saya kebingungan mencari toilet yang jaraknya dari tempat saya berdiri sama dengan jarak rumah saya  ke mall kota. Busyet, jauh amat. Setelah naik pesawat selama dua jam, sampailah saya di airport ke dua, yakni Columbus, di Ohio.

538718_10151420333263277_2059862089_n

Dua orang pelajar tampak membawa papan nama Fulbright menjemput saya, dan ternyata dengan beberapa orang lainnya. Sampailah kami di Ohio University, Athens. Kami tinggal di dorm dan menjalani kurang lebih tiga minggu masa pre academic dengan sangat menyenangkan.

269102_10151456484763277_1988755830_n

 

376271_10151085250232390_460663849_n 536238_10151456486698277_224833199_n 545632_10151456487123277_1640818497_n 555566_10151338884158277_1470926974_n 578844_10102409472235144_1017072584_n

Setelah melalui proses pre academic, sampailah saya di LA, California. Di sebuah kota kecil bernama La Mirada, saya dijemput oleh seorang hamba Tuhan, Pastor Leo Sumule dengan istri, dua anaknya, serta ibunya yang kebetulan bertandang ke Amerika (pengalaman bersama keluarga yang sangat baik ini akan saya ceritakan di chapter lain ya). Saya harus menginap di apartment mereka karena ternyata kunci apartment saya di Biola University masih dibawa petugasnya dan hari itu dia sedang libur.

Pengalaman belajar kurang lebih dua tahun di Biola University benar-benar membuat saya memahami sedikit lagi arti kasih karunia Tuhan. Semakin saya belajar, semakin banyak berdiskusi dan bertemu rekan-rekan Fulbright yang lain, semakin dalam mengenal hati para profesor di Biola, semakin saya merasa sesungguhnya saya tidak layak berada di tempat ini. Tuhan, kepercayaan ini terlampau besar. Saya tidak punya kompetensi apa-apa untuk menjalaninya.

Di lingkungan yang baru, saya belajar menganggalkan segala keberadaan yang lama dan belajar untuk menjadi rapuh. Ya, kata rapuh tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan kurikulum yang sedang saya ambil selama di Amerika. Kebetulan, waktu itu saya tengah merampungkan buku dari penulis favorit saya, Henry Nowen, tentang ketrampilan untuk menjadi rapuh. Di tempat ini, siapa yang tahu siapa saya, apa yang sudah saya kerjakan, apa tujuan dan impian saya, apa skill yang saya miliki? Tidak satu pun. Tidak ada. Kita menjadi nol. Kita menjadi rapuh. Tetapi, saya belajar, di dalam kerapuhan dan kenihilan itulah, kasih Tuhan menjadi sempurna. Ketika saya benar-benar down di tengah-tengah gemilang dan cerdasnya komunitas-komunitas di sekitar saya, saya selalu ingat perkataan Tuhan yang setiap hari meneduhkan saya: Be still and know that I am God. Dan sejak saat itulah saya memberikan diri saya untuk menjadi rapuh, diam, dan mengalami keajaiban kasihnNya.

 

IMG_0026

Setelah puas dengan masa bulan madu dengan negara dan budaya baru, tiba saatnya bersibuk mengurus kepindahan suami saya. Kami sama sama tahu bahwa berpisah jarak yang begitu jauh begini pasti sulit sekali dilalui. Kami terus berdoa dan mulai mengurus dokumen yang diperlukan. Saya ingat, bulan itu, saya lebih banyak menggunakan waktu untuk mengurus kepindahan suami saya dari pada mengurus kuliah saya. hehehehehe …. kekhawatiran, kejanggalan, penundaan, keheningan, kejengkelan, dan keterburu-buruan mewarnai proses itu. Capek sekali rasanya. Ingin sekali besok pagi waktu membuka mata, suami saya sudah ada di samping saya. Tetapi, proses itu harus dilalui, dan itu semua menolong kami untuk mengalami mata kuliah “kesabaran” dan “ketekunan”. Selang tiga bulan, dalam pertolongan Tuhan, yes, suami saya sudah sampai di Amerika, di La Mirada, kota kecil penuh kehangatan dan kenangan itu.

IMG_2585

Sebagai mahasiswa Fulbright, saya terhitung tidak banyak melakukan kegiatan bersama komunitas Fulbright. Kenapa? Karena di lingkungan saya tidak ada mahasiswa Fulbright. Saya banyak mengisi waktu saja dengan berkomunitas bersama international students dari kampus dan gereja (saya ceritakan di chapter lain ya). Saya berkomitmen untuk fokus pada kegiatan akademik. Meskipun kemampuan menulis saya dalam Bahasa Inggris tidak terlalu bagus, dan beberapa kali harus mendapatkan bimbingan pribadi, tetapi saya hanya mendapat 2 kali A- dalam perjalanan kuliah saya. Yang lain? malu ah…. Hihihihihihi. Kata orang, untuk penilaian, di luar negeri memang lebih fair dari pada di negeri sendiri. Katanya, para professor mengapresiasi usaha dan proses sama besarnya dengan hasil akhir belajarnya (nantinya saya mencoba mengaplikasikan ini kepada mahasiswa saya, tetapi belum berhasil juga. hihihihihi). Lalu, saya juga mendapat kesempatan untuk menjadi asisten penelitian professor saya yang juga adalah dekan School of Education di Biola University. Yang paling berkesan adalah ketika saya mengambil kuliah praktik di sekolah. Praktik pertama saya ambil di sebuah preschool di dekat kampus. Di sana, saya merasakan hancur hati yang sangat. Anak-anak kecil itu, sedari jam 6 pagi sampai jam 6 malam berada di preschool, bersama kami para guru, tanpa orang tua mereka. Dan inilah yang menguatkan kerinduan saya untuk mendalami pendidikan anak dan hubungan dengan orang tuanya.

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya saya lulus dan diwisuda sebagai Master of Arts in Education dengan predikat …… uhmmmm malu ah. Keesokan harinya, setelah prosesi wisuda, suami dan saya mendapati bahwa Tuhan sudah menaruh benih kasih di dalam rahim saya. Calon bayi yang adalah milik pusaka Tuhan sendiri. Kenapa waktunya bisa pas? Tentu karena Tuhan tahu yang terbaik untuk hambaNya (Jika membaca post perjalanan fulbright dari awal, saya terharu sendiri, betapa Bapa saya merancangkan masa depan saya dengan sangat detil dan sistematis). Oh, my, God. Seakan tidak percaya, chapter Fulbright di Amerika harus ditutup. Kesan saya? Pengalaman ini benar-benar full and bright. Terima kasih, Bapa. Terima kasih Fulbright. Terima kasih keluarga dan teman-teman. Terima kasih.

IMG_2434

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s