Ajaib dan Dahsyat Kejadianmu

Standard

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14).

Dahsyat dan ajaib. Demikianlah tagline retret di gereja saya beberapa waktu lalu. Saya sempat menulis sebuah lagu dari ayat ini (liriknya ada di bawah). Tagline yang singkat itu menjadi judul perjalanan kelahiran anak saya yang pertama. Dahsyat dan ajaib, dua kata yang mengekspresikan kekaguman saya terhadap rancangan Bapa dalam hidup tiap anakNya.

Setelah menikah, saya harus persiapan berangkat ke luar negeri; sementara suami saya akan ada di luar pulau untuk bekerja. Kerinduan kami untuk memiliki anak harus ditunda dahulu karenanya. Setelah saya berangkat sekolah dan suami saya menyusul tiga bulan kemudian, kami mulai berdoa untuk seorang anak. Saya ingat, malam itu, suamiku meletakkan tangannya di perut dan mendoakan, jika Tuhan berkenan, kami ingin memiliki seorang anak sembari saya belajar di negeri orang. Maklum, nanti kan bisa punya dua kewarganegaraan. Hahahaha … Itu agenda kami.

Sebulan berlalu, saya datang bulan juga. Dua bulan, tiga, enam, satu tahun berlalu, belum juga hadir yang dinanti-nanti. Oh, mungkin saya masih stress beradaptasi dengan iklim belajar yang baru. Banyak rekan-rekan yang mendoakan supaya saya segera hamil. Kami pun sudah sangat mendamba. Mulailah muncul orang-orang  dengan nasihat untuk melakukan ini itu supaya hamil; tidak jarang juga yang selalu menanyakan “Kapan punya anak”, sampai kami bingung mau menjawab apa lagi. Hahahahaha … Saya ingat, waktu itu, saya dan suami sepakat untuk tersenyum saja jika ada orang yang bertanya lagi.

Memasuki tahun ke dua, setelah Bapa banyak membawa kami dalam perjalanan iman sekaligus pertemuan dengan banyak orang yang menginspirasi, doa kami berubah. Saya ingat, malam itu, kami bilang, “Bapa, jika pun Tuhan tidak mengijinkan kami memiliki seorang anak, jika itu memuliakanMu, kami siap.” Bahkan, kami sudah mendiskusikan kemungkinan mengadopsi anak. Ditambah, beberapa kali saya mimpi menggendong banyak anak yang ditinggalkan orang tua mereka. Jadi, dengan sadar, saya mengakui bahwa doa itu bukan karena keputusasaan, tetapi saya merasakan damai sejahtera yang luar biasa ketika Bapa angkat beban “harus punya anak sendiri” itu dan menggantikannya dengan beban “menjadi seorang ibu” untuk siapa saja. Kami melalui hari-hari selanjutnya dengan sangat mantap.

Only by His Grace

Akhirnya test pack ke sekian puluh ini memunculkan dua garis🙂

April 2014, perjuangan saya menyelesaikan tesis selesai sudah. Di negeri orang, bukan pelajarannya yang sulit tetapi budaya, peraturan, dan ekspresi bahasa yang menjadi tantangan. Setelah berjibaku dengan tulis menulis yang selalu memerlukan waktu lebih karena harus direview oleh native selama dua tahun,  stress, tidak bisa tidur, susah makan, pala pusing, akhirnya tanggal 23 Mei 2014, saya akan diwisuda. Beberapa minggu sebelumnya, saya dan suami memutuskan untuk giat berolah raga. Kenapa? Supaya waktu foto wisuda jadi bagus. hahaha … dan supaya saat pulang ke Indonesia jadi keren. hahahaha …. Tetapi, segiat apa pun saya berolah raga, justru badan saya tidak enak. Sampai hari wisuda itu tiba. Rasanya capai sekali sekujur tubuh. Paginya, saya merasa sangat mual-mual dan pusing. Lalu, suami saya cepat-cepat pergi ke apotik dan membeli test pack. Keluar dari kamar mandi, saya menangis tidak tahan menanggung kejutan ini. Setelah puluhan test pack tahun lalu, tahun ini satu test pack menunjukkan kasih Tuhan yang sudah meletakkan benih kasih dalam rahim saya. Suami saya pun menangis bersama saya. Kami benar-benar tidak menyangka. Tidak ada persiapan. Saya hamil. Saya hamil. Saya hamil, tepat sehari setelah saya menuntaskan tanggung jawab saya sebagai seorang mahasiswa di negeri orang yang sangat menantang. Saya hamil, di saat semua urusan studi saya sudah selesai. Saya hamil, ketika kami bersiap untuk pulang ke Indonesia. Saya hamil, saat suami saya selesai mengikuti bible study untuk para ayah. Anugerah yang sangat indah di hari wisuda saya. Siapa yang merencanakan semua ini? Nak, demikianlah, kejadianmu dahsyat dan ajaib. Ibu percaya bahwa Bapa sudah merancang hari harimu dengan sangat detil bahkan sebelum kamu ada di perut ibu. Bertumbuhlah dewasa di dalam rancanganNya.

Ajaib dan Dahsyat

Oleh: Primasanti

Di tanganMulah kudicipta, Sang Penjunan yang baka

Kau bentuk hati dan pikiranku serupa gambaranMu

Sesering pun kujatuh dan bangun dalam kumengiringMu

MataMu tiada pernah luput melukiskan kisahku

Ajaib dan dahsyat kejadianku

Tiada satu pun yang terlewat dari rencanaMu

Walau kadang ku tak mengerti

Hidup penuh tanya, rasa tak bermakna

Ajari aku memahami lagi

Bahwasanya kaulah sendiri yang memberi arti

Dalam setiap detil hidupku

Kau jadikanku ajaib dan dahsyat bagiMu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s